Beranda Asosiasi Pertambangan APNI Soroti Tantangan Industri Nikel di T50 Summit

APNI Soroti Tantangan Industri Nikel di T50 Summit

106
0
Pengurus DPP APNI Bidang CPI, Rizal Kasli (Foto: MNI/Uyun)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Industri nikel dinilai menjadi penggerak utama naiknya permintaan alat berat di Indonesia. Peningkatan kebutuhan alat berat sejalan dengan ekspansi kegiatan pertambangan, pembangunan smelter, kawasan industri, hingga perkembangan industri baterai kendaraan listrik.

Hal tersebut diungkapkan pengurus Dewan Pengurus Pusat (DPP) Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Bidang Competent Person Independent, Ir. Rizal Kasli, S.T., I.P.U., ASEAN Eng., saat mewakili APNI pada T50 Summit of World Construction Machinery Industry Indonesia Forum, yang berlangsung di Hotel Shangri-La, Jakarta, Senin (21/9/2026).

Pada kegiatan yang mempertemukan sejumlah pelaku industri alat berat, perusahaan pertambangan, produsen teknologi, dan perusahaan jasa pendukung itu dibahas prospek pasar alat berat Indonesia dan kebutuhan sektor pertambangan.

Rizal menyampaikan, perkembangan industri nikel nasional menjadi salah satu penggerak utama permintaan alat berat di Indonesia.

“Indonesia memiliki sekitar 415 Izin Usaha Pertambangan (IUP) nikel dan 79 fasilitas pengolahan atau smelter. Produksi bijih nikel hingga Agustus 2026 mencapai sekitar 163,85 juta wmt,” ungkapnya.

Di sisi lain, ia menyoroti sejumlah tantangan yang cukup berat yang dihadapi industri nikel. Tantangan itu mencakup penurunan kualitas bijih, kebutuhan peningkatan infrastruktur logistik, ketersediaan energi dan reagen, serta tuntutan pengelolaan lingkungan yang semakin ketat.

“Produksi nikel terus meningkat, tetapi kualitas bijih semakin menurun,” ujarnya.

Oleh karenanya, ia menekankan pentingnya penguatan tata kelola perdagangan mineral, seperti peningkatan transparansi perdagangan mineral dan implementasi sistem pelaporan terpadu.

“APNI mendukung peningkatan transparansi perdagangan mineral, implementasi sistem pelaporan terpadu, serta pengembangan Indonesia Commodity Exchange (Icomex) atau Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) yang direncanakan mulai Januari 2027,” tuturnya.

Pada acara tersebut perkembangan teknologi alat berat juga menjadi salah satu fokus. Industri alat berat mulai bergerak menuju elektrifikasi, penggunaan teknologi hibrida (hybrid), digitalisasi pengelolaan armada, sistem monitoring jarak jauh, serta predictive maintenance berbasis data dan artificial intelligence (AI).

Perkembangan alat berat listrik dinilai memiliki peluang untuk diterapkan pada sektor pertambangan dan industri hilirisasi karena dapat mendukung efisiensi operasional sekaligus target pengurangan emisi. Pengembangan kapabilitas industri lokal melalui transfer teknologi, pengembangan pemasok lokal, peningkatan kompetensi operator dan teknisi, sertifikasi tenaga kerja, serta penguatan ekosistem industri pendukung pun turut mendapat penekanan. (Fi Yun)