Evaluasi Total Program Hilirisasi Nikel di Indonesia

NIKEL.CO.ID – Program hilirasasi nikel yang dicanangkan oleh Pemerintah Indonesia kini menjadi sorotan luas. Pasalnya, program itu dinilai hanya menguntungkan investor asing terutama China dan tidak memberikan manfaat signifikan bagi rakyat Indonesia.

Dengan kondisi itu, anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto mendesak Pemerintah Indonesia melakukan evaluasi komprehensif terhadap program hilirisasi nikel nasional.

“Program hilirasasi nikel ini sudah waktunya dievaluasi secara menyeluruh karena manfaat dari seluruh rantai nilai program hilirisasi nikel yang berjalan sekarang tidak adil dan hanya menguntungkan investor asing terutama China,” tegas Mulyanto melalui keterangan tertulisnya Minggu (01/08/2021).

Padahal kata Mulyanto, Pemerintah dari awal berjanji akan memaksimalkan pendapatan negara dari kerjasama hilirisasi nikel ini.

“Namun berdasarkan hitung-hitungan ekonom Faisal Basri dari seluruh rantai nilai proyek hilirisasi nikel ini, Indonesia hanya mendapat keuntungan maksimal 10 persen. Sementara sisanya 90 persen dinikmati oleh investor asing,” ujarnya.

Dikatakan, dalam jangka pendek belum terasa manisnya program hilirisasi nikel ini bagi masyarakat.  Yang terasa masih pahitnya saja. Misalnya masyarakat tidak bisa menikmati harga nikel internasional yang tinggi, serta datangnya Tenaga Kerja Asing (TKA) yang ditengarai adalah para pekerja kasar dengan visa turis bukan visa pekerja. Belum lagi pencemaran lingkungan dari pembuangan limbah proses pengolahan.

Padahal kata dia, amanat konstitusi sangat jelas, bahwa Negara melindungi seluruh tumpah darah Indonesia dan kekayaan alamnya untuk kemajuan dan kesejahteraan Rakyat Indonesia.

“Prinsip ini juga harus dilaksanakan oleh Pemerintah saat bermitra dengan China termasuk yang terkait dengan hilirisasi nikel ini,” tegas Mulyanto.

Wakil Ketua FPKS DPR RI Bidang Industri dan Pembangunan ini menilai sebenarnya hilirisasi nikel ini adalah program sangat bagus. Harapannya Indonesia dapat mengekspor barang jadi dengan nilai tambah tinggi. Dengan demikian, penerimaan Negara akan meningkat. Selain itu dengan pengoperasian industri smelter ini dapat diserap banyak tenaga kerja lokal.

Namun kenyataan hilirisasi yang terjadi masih menghasilkan nilai tambah yang rendah. Sebanyak 80 persen produk yang dihasilkan industri smelter nasional baru sebatas bahan setengah jadi berupa feronikel yang berkadar rendah (NPI). Sementara hasil pengolahan berupa stainless steel (SS) hanya 20 persen.

“Sampai sekarang bahan nikel murni untuk industri baterai belum ada. Karena itu nilai tambah industri smelter ini hanya mencapai 3-4 kali dari bahan mentahnya. Tidak sebesar 19 kali sebagaimana yang dijanjikan Pemerintah.

“Tadinya kita berharap Tesla memilih tambang di Indonesia untuk industri baterai mereka, karena cadangan nikel kita yang besar dan harga yang relatif murah. Namun faktanya, berdasarkan hitung-hitungan bisnis riil, mereka lebih memilih mitra tambang nikel di Australia ketimbang kita,” ujar Mulyanto.

Mantan Sekretaris Kemenristek era Presiden SBY ini melihat saat ini yang aktif bicara hilirisasi nikel hanyalah Menteri ESDM dan Menko Marinves. Sementara Menteri Perindustrian malah tidak menonjol perannya. Padahal isu hilirisasi ini terkait erat dengan industrialisasi.

“Pemerintah kurang kompak dalam program ini. Namanya saja hilirisasi nikel, namun prakteknya masih tidak terlalu jauh dari hulu.  Pemerintah perlu melakukan evaluasi komprehensif soal ini,” jelasnya.

“Kalau format hilirisasinya seperti ini, saya setuju dengan apa yang dikatakan ekonom Faisal Basri bahwa Indonesia hanya sekedar menjadi ekstensi proyek industrialisasi di China.

Mereka yang menikmati nilai tambah yang tinggi, karena harga nikel yang jauh lebih murah dari harga internasional; berbagai insentif dan kemudahan investasi termasuk soal TKA; serta akhirnya menerima bahan setengah jadi dengan harga murah dan terjamin sebagai bahan baku proyek industrialisasi mereka. Ini kan mengenaskan”, tandasnya.

Sumber: asiatiday.id

Read More

Luhut Buka-bukaan Soal Isu Masuknya Jutaan TKA dari China ke RI

NIKEL.CO.ID – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menkomarinvest) Luhut Binsar Pandjaitan buka-bukaan soal isu masuknya jutaan tenaga kerja asing (TKA) asal China ke Indonesia.

Dia menegaskan tidak benar data tenaga kerja asing (TKA) dari China berjumlah jutaan yang masuk ke Indonesia. Lebih lanjut, Menko Luhut mengatakan bahwa jumlah TKA di Indonesia berkisar 30 ribu. Sementara, TKA dari China hanyalah belasan ribu.

“Saya pengin undang orang itu [yang mengatakan jutaan TKA dari China] datang ke saya baik-baik nanti saya ajak lihat, nanti tunjukin saya di mana itu [jutaan TKA dari China]. Karena itu kan pembohongan luar biasa,” kata Menko Luhut di acara Kick Andy Double Cek yang ditayangkan di Youtube seperti dikutip, Jumat (30/7/2021).

Dalam kesempatan itu, Menko Luhut menyampaikan Indonesia yang sedang melakukan hilirisasi industri. Dia menjelaskan bahwa bahan mentah atau raw material Indonesia, seperti nikel, nantinya dapat menjadi barang turunan untuk mendapatkan nilai tambah.

Salah satu produk yang diproduksi atau lithium baterai untuk mobil listrik.

“Sampai nanti pada lithium baterai dan bisa kita recycle, sehingga kita gunakan lagi,” ungkapnya.

Luhut mengaku telah melakukan survei di beberapa negara untuk menciptakan hilirisasi tersebut. Namun, dia mengklaim hanya pemerintah China yang bisa melakukan itu.

Menurutnya, industri China saat ini memiliki teknologi yang tinggi dan sudah maju.

“Hanya Tiongkok [China] yang bisa, dan ternyata teknologi mereka sudah bagus, sangat hebat sudah,” ucapnya.

Luhut mengatakan bahwa Indonesia termasuk negara yang beruntung dapat melakukan hilirisasi dengan China.

Pasalnya, Indonesia menjalin kerja sama ketika industrialisasi China berkembang pesat. Luhut melanjutkan saat ini sebanyak 70 persen ekonomi Indonesia hanya berada di wilayah Sumatera. Sementara itu, sisanya 30 persen berada di Indonesia Timur.

“Sekarang 3 (daerah) Indonesia ekonomi yang surplus. Itu semua di Indonesia Timur. Morowali mungkin 7 persen, di Halmahera itu mungkin beberapa belas persen karena industri tadi,” sambungnya.

Di sisi lain, Ekonom senior dari Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri mengatakan, bahwa Indonesia hanya mendapatkan manfaat 10 persen dari industri pengolahan bijih nikel di Morowali dan Konawe. Sementara itu, sebagian besar lainnya yaitu 90 persen menjadi keuntungan bagi investor China yang membangun smelter di sana.

“Dari seluruh nilai yang diciptakan, dari proses olah bijih sampai produk-produk smelter, maksimum yang tinggal di Indonesia 10 persen. Indonesia hanya dijadikan ekstensi dari China untuk dukung industrialiasi China,” ungkapnya dikutip dari YouTube Refly Harun, Selasa (27/7/2021).

Sumber: bisnis.com

Read More

MoU dengan Hyundai, Menteri Investasi: Rencana Proyek Baterai Kendaraan Listrik Rp141,9 Triliun

NIKEL.CO.ID – Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menandatangani Memorandum of Understanding dengan Konsorsium Hyundai dan PT Industri Baterai Indonesia (IBI).

Penandatangan dilakukan CEO Hyundai Mobis Co. Ltd. Sung Hwan Cho dan CEO LG Energy Solution (LGES) Jonghyun Kim, serta Direktur Utama PT Industri Baterai Indonesia Toto.

Konsorsium Hyundai, yang terdiri atas Hyundai Motor Company, KIA Corporation, Hyundai Mobis, dan LG Energy Solution bekerja sama dengan PT Industri Baterai Indonesia, atau yang dikenal juga dengan nama Indonesia Battery Corporation (IBC), akan membangun pabrik sel baterai kendaraan listrik dengan total nilai investasi kurang lebih USD1,1 miliar dengan rencana penyerapan tenaga kerja sekitar 1.000 orang.

Bahlil mengungkapkan apresiasinya kepada pihak Hyundai, LG maupun PT Industri Baterai Indonesia atas terlaksananya kerjasama ini. Bahlil mengakui bahwa perjanjian kerjasama terealisasi dengan proses dan negosiasi yang panjang sehingga dapat menguntungkan semua pihak.

“Kerjasama investasi ini merupakan salah satu tahap dari keseluruhan rencana proyek baterai kendaraan listrik terintegrasi senilai USD9,8 miliar (setara Rp141,9 triliun, kurs Rp14.482/USD),” kata Bahlil di Jakarta, Kamis (29/7/2021).

Bahlil juga mengingatkan kembali agar dalam implementasi kerja sama ini, perusahaan wajib menggandeng pengusaha dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal. Hal ini merupakan amanat dari Undang-Undang No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (UU CK).

“Penandatanganan yang akan disaksikan bersama-sama ini, izinkan saya sampaikan agar dalam implementasinya, sesuai dengan undang-undang, berkolaborasi dengan pengusaha nasional dan UMKM. Hal ini menjadi perhatian khusus bagi pemerintah saat ini. Kami akan kawal dari awal sampai akhir investasi untuk baterai sel ini,” tegas Bahlil dalam sambutannya.

Proyek investasi sel baterai kerja sama Konsorsium Hyundai-LG dan PT Industri Baterai Indonesia ini merupakan salah satu langkah pemerintah untuk mendorong pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia secara keseluruhan dari hulu sampai dengan hilir.

Dalam kesempatan ini, Duta Besar Republik Korea untuk Indonesia Park Taesung memberikan apresiasi kepada Pemerintah Indonesia, khususnya Menteri Investasi dan Menteri BUMN atas terwujudnya kerja sama ini. Park menambahkan bahwa kerja sama investasi mobil listrik dan baterai ini akan menjadi kontributor yang secara inovatif menjalankan perekonomian yang lebih berorientasi pada lingkungan, teknologi, dan ekspor.

“Saya sebagai Duta Besar Republik Korea untuk Indonesia akan menggerakkan segala dukungan agar kerja sama ini menjadi salah satu kerja sama yang sukses dan terbaik antara Korea dan Indonesia,” ungkap Park.

Sumber: okezone.com

Read More

Soal TKA Cina Masuk RI, Faisal Basri: Bukan Hanya Tenaga Ahli, Japi Juga Buruh

NIKEL CO.ID – Ekonom senior dari Universitas Indonesia, Faisal Basri, mengungkapkan ribuan tenaga kerja asing atau TKA China masuk ke Indonesia untuk proyek nikel di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. Jumlah tenaga asing itu lebih besar ketimbang yang dilaporkan oleh pemerintah sebesar 3.500 orang.

Faisal Basri menyebut, para tenaga asing dari China bukan hanya berlatar belakang sebagai tenaga ahli. Mereka juga termasuk buruh untuk pekerjaan lapangan.

“Orang datang bukan hanya tenaga ahli, tapi juga  sopir, tukang kebun, satpam,” kata Faisal dalam tayangan YouTube milik pengamat politik, Refly Harun, yang diunggah pada Selasa, 27 Juli 201.

Bahkan menurut Faisal, berdasarkan data yang ia kantongi, jumlah pekerja China masuk ke Indonesia sekitar seribu orang per bulan.  Sebagian pekerja, tutur dia, tidak menggunakan visa pekerja, tapi visa kunjungan.

Dengan demikian, pemberi kerja tidak membayarkan Dana Kompensasi Penggunaan Tenaga Kerja Asing (DKP-TKA) sebesar US$ 100 dolar sebagai penerimaan negara bukan pajak (PNBP) atau penerimaan daerah.

Menurut Faisal, data masuknya pekerja China yang ia dapat dari sumber tepercaya sudah ia sampaikan kepada staf khusus Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan serta Menteri Investasi Bahlil Lahadalia. Data itu dihimpun hingga Mei 2021.

“Datanya ada semua. Sumber saya banyak dari data sendiri,  ada yang dari China,” kata Faisal.

Faisal melanjutkan, para pekerja dari Cina datang sebelum adanya larangan dari pemerintah. Pemerintah melalui Kementerian Hukum dan HAM telah mengatur TKA, termasuk untuk proyek strategis nasional, dilarang memasuki wilayah Indonesia selama pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat dan PPKM Level 4.

Pada Mei lalu, Luhut mengatakan pemerintah akan berupaya mengurangi TKA asal China di Indonesia. Luhut mengklaim jumlah tenaga kerja China di kawasan industri Morowali saat ini jauh lebih sedikit ketimbang tenaga kerja Indonesia. Dari total 50 ribu pekerja, 3.500 di antaranya berkewarganegaraan China. Sedangkan sisanya adalah pekerja lokal.

Menurut Luhut, tenaga kerja China masih dibutuhkan lantaran negara tersebut menanamkan modal di berbagai kawasan industri di Indonesia. Dengan begitu, tenaga kerja asing akan bertugas melakukan transfer teknologi dan mengawasi jalannya investasi.

“Kalau teman-teman tanya kenapa yang kita pakai itu tenaga Tiongkok (China), saya bukan orang bodoh memberikan itu (tenaga kerja) banyak kepada mereka. Saya pasti atur bagaimana supaya mereka dikurangi sebanyak mungkin,” ujar Luhut.

Sumber: tempo.co

Read More

Faisal Basri: Jual Bijih Nikel Di Indonesia Harus Melalui Calo

NIKEL.CO.ID – Pakar Ekonomi Faisal Basri mempertanyakan kebijakan pemerintah yang mewajibkan pembelian Nikel di Indonesia harus lewat Trader (calo) atau pihak ketiga.

Menurut Faisal, pembelian Nikel seharusnya bisa dilakukan kepada para penambang tanpa harus lewat perantara calo.

“Kemudian (Nikel) tidak boleh jual langsung (ke Smelter), harus lewat Trader. Jadi para penambang nggak boleh jual langsung (Nikel) ke pembeli,” kata Faisal Basri dalam kanal YouTube Refly Harun dikutip media ini Kamis, 29 Juli 2021.

Tak sampai disitu, kata Faisal Basri, kaki tangan atau calo untuk pembeli Nikel itu adalah orang Indonesia sendiri.

“Yang penting sekarang kenapa harus pake calo, kaki tangannya (Trader) di dalam negeri lah. Saya tidak bisa tunjukan, tapi itulah kaki tangannya di dalam negeri. Karena dia (calo) tak bisa beroperasi sendiri di Indonesia,” ungkap Faisal.

Bahkan jika pembelian Nikel tak disetujui menggunakan Calo, Faisal Basri menegaskan, China selaku pembeli utama Nikel di Indonesia mengancam memindahkan pabriknya ke Filiphina.

“Dengan ngancem-ngancem pindah ke Filiphina. Karena disana banyak Nikel. Mereka juga dapat bebas pajak keuntungan jika investasinya mencapai angka tertentu, bisa sampai 20-25 tahun, Tax Holiday,” tegas Faisal Basri.

Tak sampai disitu, Faisal Basri menuturkan, jika keuntungan para calo Nikel di Indonesia itu menaruh pundi-pundinya di luar negeri.

“Jadi untungnya mereka bawa pulang (ke China). Kemudian, dari smelter ini ekspor Indonesia naik, tapi tidak se-sen (Rupiah) balik ke Indonesia. Mereka (calo) taruh uangnya di luar negeri,” tutup Faisal Basri.

Sumber: Jurnal Medan (Pikiran Rakyat)

Read More

Profesor LIPI Buat Teknologi Ekstraksi Titanium dan Nikel

NIKEL.CO.ID – Profesor Riset Rudi Subagja dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengembangkan teknologi proses ekstraksi titanium, nikel dan tembaga. Teknologi ini bisa mendukung kemandirian industri nasional.

“Telah dikembangkan teknologi proses untuk memanfaatkan dan meningkatkan nilai tambah bijih ilmenit, nikel laterit kadar rendah, serta bijih tembaga malasit yang dimiliki Indonesia,” kata Rudi, Selasa (27/7/2021).

Rudi membacakan naskah orasi profesor risetnya berjudul “Pengembangan Teknologi Proses Ekstraksi Titanium, Nikel, dan Tembaga untuk Kemandirian Industri Nasional”. Rudi menuturkan Indonesia memiliki sumber daya mineral yang tersebar di beberapa daerah.

Mineral itu mempunyai peranan penting untuk memenuhi hajat hidup orang banyak. Namun, sumber daya mineral tersebut belum dimanfaatkan secara optimal karena masih terbatasnya kemampuan teknologi.

Untuk mengatasi permasalahan itu, Rudi mengembangkan teknologi proses ekstraksi untuk dapat memanfaatkan sumber daya mineral Indonesia. Khususnya bijih ilmenit, nikel laterit kadar rendah dan malasit.

Dari penelitian metalurgi ekstraksi yang dilakukan, Rudi mampu menghasilkan teknologi untuk membuat Titanium dioksida (TiO2) dari ilmenit Indonesia dan meningkatkan kandungan nikel dalam bijih nikel laterit kadar rendah Indonesia. Dia juga berhasil membuat logam nikel dengan kemurnian 99,7 persen, dan membuat logam tembaga dari bijih malasit.

“Teknologi proses pengolahan mineral yang dihasilkan menjadi modal dasar untuk menciptakan kemandirian industri nasional guna memanfaatkan dan meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral Indonesia, melengkapi mata rantai industri nasional, serta mengurangi ketergantungan impor TiO2, logam nikel dan tembaga,” ujar Rudi.

Rudi mengatakan penelitian tersebut dapat dijadikan rekomendasi untuk secara bersama-mengembangkan beberapa industri. Industri tersebut yakni pembuatan TiO2 dari ilmenit Indonesia dengan menggunakan teknologi proses dekomposisi ilmenit dengan Natrium hidroksida (NaOH).

Selain itu, juga rekomendasi industri pengolahan bijih nikel laterit kadar rendah menjadi konsentrat nikel dengan menggunakan teknologi thermal upgrading. Hasil penelitian itu juga bisa dimanfaatkan untuk pengembangan industri pengolahan malasit menjadi logam tembaga dengan proses pelarutan asam sulfat, dilanjutkan dengan proses pemurnian larutan, dan electrowinning untuk mendapatkan logam tembaga.

Sumber: REPUBLIKA

Read More

Faisal Basri: Nikel Indonesia 90 Persen Dinikmati China

NIKEL.CO.ID – Ekonom Faisal Basri menyatakan Indonesia hanya menikmati 10 persen keuntungan dari nikel sementara 90 persen diangkut ke China.

“Dari proses pengolahan dari biji nikel hingga produk smelter, maksimum yang tinggal di wilayah Republik Indonesia ini hanya 10 persen. Sementara 90 persen dinikmati China,” kata Faisal Basri dalam perbincangan di Channel Refly Harun, Selasa (27/7/2021).

Menurut pengajar Universitas Indonesia ini, Indonesia menjadi ektensi Pemerintah China untuk mendukung industrialisasi di Tiongkok.

“Harusnya sebagian besar (keuntungan) ke kita. Kalau hitungan korporasi hitungannya berapa modal yang disetor. Kita punya biji timah, kita punya tanah, kita punya tenaga kerja,” ujarnya.

“Kalau misalnya di kasus minyak di masa lalu, itu bagi hasilnya 85 persen untuk Pemerintah dan 15 persen untuk kontraktor setelah segala biaya ditanggung oleh Pemerintah. Namanya cost recovery,” kata Faisal Basri.

“Seluruh ongkos dihitung dulu dan ditangung Pemerintah kemudian 85 persen masuk ke Pemerintah,” jelasnya. “Memang cost revovery-nya naik terus karena semakin lama minyaknya semakin dalam dan makin sulit didapat. Yang penting tambahan pendapatn kita lebih besar dari ongkos,” tambahnya.

Baterei Mobil Listrik

Sejumlah pembangunan smelter di Morowali atau Konawe, kata Faisal Basri mengusung tema sama sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) atasnama membangun baterei untuk mobil listrik. Padahal, sambung Faisal Basri, sampai saat ini belum ada perusahaan yang membangun baterei mbil listrik di Indonesia.

“Yang mereka lakukan adalah mengolah biji timah menjadi sebagian besar NPI (Nickel Pig Iron),” ujarnya. “Kira-kira sudah diolah 20-25 persen,” sambungnya.

“Jadi ini masih di hulu nih belum di hilir. Katanya hilirisasai,” ujar Faisal Basri. Sebagian besar Pig Iron diekspor ke China untuk diolah lebih lanjut di China.

“Mereka bisa membeli biji nikel dengan harga sepertiga atau seperempat harga internasional. Makanya mereka berbondong-bondong datang ke sini. Karena kalau pabriknya tetap di China mereka membeli dengan harga 100 misalnya per ton atau per kilogram kalau mereka pindahkan pabriknya ke Indonesia mereka bisa dapatkan harga 25-35 saja,” papar Faisal Basri.

Kenapa bisa begitu? Menurut Faisal Basri karena ekspor biji nikel dilarang. Akibatnya harga turun. Ditambah lagi kadar nikel juga dicek. Dan surveyornya bukan dari Indonesia atau Sucofindo melainkan mereka ditunjuk oleh pembeli atau trader yang menjadi kaki tangan China di Indonesia.

“Petambang biji nikel tidak boleh jual langsung melainkan harus lewat trader. Intinya kenapa harus pakai calo. Mereka ini kaki tangan (China) di dalam negeri,” ujarnya.

“Kalau surveyor menyebutkan kadar nikel itu di bawah ketentuan, mereka kasih penalti. Turunkan lagi harganya. Mereka tidak mengikuti harga pokok yang ditentukan pemerintah. Mereka ngancam-ngancam, mereka akan pindah ke Filipina. Karena di Filipina juga banyak nikel,” ujarnya.

Nikel yang diekspor ke China, kata Faisal Basri diolah menjadi sendok, garpu, pisau, jadi lembaran baja tahan karat high quality dan kemudian kita impor lagi,” jelas ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) ini.

Faisal Basri menyatakan telah memberikan data yang ditemukannya itu ke Menteri Koordinator Investasi dan Maritim Luhut Binsar Pandjaitan dan juga kepada Menteri BKPM Bahlil Lahadalia. Faisal Basri mengaku mendapat data tersebut secara pribadi dari China dan juga di dalam negeri.

“Saya dapatkan sendiri data dari China dan dalam negeri. Saya dapatkan sendiri, sekretaris pun tidak tahu,” ujarnya.

Sumber: elangnews.com

Read More

Luhut Bantah Tudingan Soal TKA dari China yang Tak Kompeten Masuk RI

NIKEL.CO.ID – Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan (LBP) membantah tudingan soal penggunaan tenaga kerja asing (TKA) asal China yang dinilai tak berkompeten namun leluasa masuk ke Indonesia.

LBP juga membantah bahwa ada jutaan TKA asal China yang masuk ke Indonesia.

Ia menegaskan hanya ada kisaran 30 ribu TKA di Indonesia, namun hanya berkisar belasan ribu TKA yang berasal dari China.

“Saya mau undang baik-baik orang (yang mengatakan ada jutaan TKA asal China di RI) itu baik-baik supaya ditunjukkan dimana. Karena itu kan pembohongan,” kata Menko Marves saat di wawancara presenter Andy F Noya di acara TV, Minggu (25/7/2021).

Menteri Luhut menjelaskan pemerintah ingin mengekspor row material seperti nikel menjadi barang turunan untuk mendapatkan nilai tambah.

Contohnya dalam bentuk lithium baterai, selain itu barang turunan tersebut juga bisa kembali di daur ulang.

Setelah ia melakukan survei, hanya negara China yang bisa melakukan itu. Dia juga menilai bahwa China juga memiliki teknologi yang maju dan bersedia melakukan transfer ilmu dan teknologi kepada Indonesia.

“Indonesia beruntung, pas teknologi mereka (China) sudah naik, kita datang dan mereka pas butuh. Sekarang ada 7 integrated industri di Indonesia Timur yang membuat teknologi industri Timur jadi naik, yang dulu 70 persen ekonomi Indonesia hanya di Jawa dan Sumatera,” kata Luhut.

“Sekarang 3 ekonomi Indonesia yang surplus itu semua di Indonesia Timur. Morowali mungkin 7 persen, di Halmahera sekian belas persen. Karena industri tadi,” lanjutnya.

Luhut mengatakan ingin melihat ada lompatan besar di industri nikel, namun menurutnya investasi yang menguntungkan tersebut malah yang dihebohkan oleh masyarakat.

Padahal ia berharap teknologi riset produk turunan nikel juga ada di Indonesia, dimana China siap melakukan investasi dan transfer ilmu maupun teknologi itu serta tanpa menambah beban hutang.

Tidak seperti Amerika, China menurutnya merupakan negara yang mudah diajak investasi dan tanpa mengajukan syarat yang rumit.

Sedangkan negara seperti Amerika misalnya, kerap mengajukan syarat yang rumit dan ujung-ujungnya tidak jadi melakukan investasi.

“Negara yang mau diajak investasi dan gak minta macam-macam cuma China,” ujar Luhut.

Ia mengklaim bahwa TKA asal China yang datang ke Indonesia adalah tenaga kerja ahli yang melakukan transfer ilmu dan menyiapkan tenaga kerja yang dapat memimpin di industri kedepannya.

Luhut juga membantah TKA asal China yang masuk di Indonesia merupakan tentara ataupun intel yang mau mengambil alih kekuasaan di Indonesia.

“Saya tidak percaya kalau ada orang menjajah negara kepulauan seperti Indonesia (sekarang ini). Yang saya percaya hanya 2, dia menjajah secara ekonomi dan secara teknologi. Itu sebabnya saya mau ada teknologi transfer. Presiden sama pemikirannya,” ujar Luhut.

“Uni Eropa membawa kita ke WTO agar barang row material kita dibawa ke sana. Saya bilang, kapan kami menyelesaikan masalah kemiskinan kami kalau kami tidak punya nilai tambah itu,” pungkasnya.

Sumber: tribunnews.com

Read More

Tesla Putuskan Beli Nikel Dari Perusahaan Australia

NIKEL.CO.ID – Tesla telah menyepakati pembelian nikel, bahan baku utama baterai mobil listrik mereka, dari BHP, penambang nikel terbesar di dunia yang berada di Australia.
Langkah Tesla ini merupakan strategi memastikan suplai nikel dari produsen yang tidak dikontrol China, seperti di Indonesia.

Kerja sama dengan BHP merupakan kesepakatan ketiga yang dilakukan Tesla pada tahun ini, setelah Vale dan Goro.

Menurut Financial Times, Elon Musk, CEO Tesla, mengatakan pada Juli tahun lalu bahwa dia akan menawarkan ‘kontrak besar dalam jangka waktu lama’ pada perusahaan yang menambang nikel secara ‘efisien dan sensitif pada lingkungan’.

Tesla akan membeli nikel dari pabrik BHP, Nickel West, di Australia, yang merupakan salah satu produsen logam baterai dengan emisi karbon terendah.

Nikel merupakan material kunci buat Tesla menciptakan mobil listrik yang mampu menempuh jarak perjalanan lebih jauh. Nikel membuat baterai bisa memiliki lebih banyak kerapatan energi.

Setiap mobil listrik membutuhkan setidaknya 40 kg di dalam baterai.

Reuters menjelaskan produsen otomotif dunia saat ini mencari penyuplai alternatif agar mengurangi ketergantungan dari China.

Indonesia adalah salah satu penyuplai besar nikel, kira-kira mewakili 30 persen di dunia menurut Nickel Study Group, dominasinya juga diperkirakan bakal mencapai 50 persen pada 2025. Meski begitu sebagian besar produksi nikel di Indonesia menggunakan batu bara dan produsennya dikontrol China.

Pemerintah Indonesia sudah mempromosikan kerja sama dengan Tesla sejak 2019. Pada Februari lalu Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi mengklaim telah mengantongi proposal dari Tesla.

Kementerian Perindustrian pada pekan lalu menyatakan Indonesia telah siap menjadi produsen baterai kendaraan listrik, salah satunya didukung cadangan nikel yang terbesar di dunia.

Menurut Kemenperin saat ini sudah ada lima perusahaan pemasok bahan baku baterai di Indonesia, yakni Huayue Nickel Cobalt, QMB New Energy Material, Weda Bay Nickel, Halmahera Persada Lygend, dan Smelter Nikel Indonesia.

Selain itu sudah ada empat produsen baterai di dalam negeri, yaitu International Chemical Industry, ABC Everbright, Panasonic Gobel, dan Energizer.

Steve Brown, konsultan independen di Australia, mengatakan kepada Reuters, strategi Tesla menggaet BHP logis, sebab peluang mendapatkan nikel di dunia saat ini tidak banyak.

Jejak karbon di pabrik Nickel West dikatakan setengah dari para produsen nikel top di Indonesia, yang menggunakan teknologi berenergi besar untuk mengekstraksi nikel dari bijih laterit. Praktek pembuangan limbah di pabrik itu juga dikatakan berisiko lebih rendah.

“Tesla akan mendapatkan ketersediaan nikel dari produsen mapan dengan kredensial operasional yang kuat sebanyak mungkin,” kata dia.

Sumber: CNN Indonesia

Read More

Prospek Trinitan Metals and Minerals (PURE) Bisa Terangkat Pengembangan Baterai Kendaraan Listrik

NIKEL.CO.ID – PT Trinitan Metals and Minerals (PURE) melihat potensi bisnis yang besar dari pengembangan ekosistem mobil listrik di Indonesia. Saat ini PURE sedang mengembangkan teknologi pengembangan baterai Litium.

Direktur Utama Trinitan Metals and Minerals Widodo Sucipto mengatakan, pada Agustus 2020, PURE mendirikan entitas anak  bernama PT Hydrotech Metal Indonesia (HMI) yang berfungsi sebagai pusat penelitian dan pengembangan teknologi khususnya pengolahan logam dan mineral.

HMI bertanggung jawab atas pengembangan teknologi Step Temperature Acid Leach (STAL), yang merupakan teknologi i pengolahan bijih laterit kadar rendah yang telah dipatenkan untuk mengekstrak nikel dari berbagai laterite ore. Teknologi ini dikembangkan khusus menyesuaikan kondisi tambang nikel di Indonesia dengan kebutuhan modal dan biaya operasional yang kompetitif.

Tidak hanya itu, HMI juga mengembangkan teknologi hilirisasi nikel serta mengoptimalkan nilai dari produk sampingan yang terkandung dalam laterite Ore.

“Ke depannya HMI sebagai motor penggerak pengembangan dalam rantai nilai baterai berbasis nikel,” ujar Widodo dalam paparan publik secara virtual, Kamis (22/7/2021).

Widodo menyebutkan, kontribusi HMI terhadap penyediaan baterai kendaraan listrik akan sangat besar karena pihaknya akan menyediakan bahan baku seperti nikel, kobalt, dan lainnya yang dibutuhkan dalam pembuatan battery lithium ion.

“Adapun target perusahaan terhadap HMI ke depannya adalah bisa membantu kinerja PURE dengan mendapatkan investor-investor pembangunan yang akan menggunakan teknologi STAL. Ini merupakan salah satu upaya kami memperbaiki finansial di tahun ini,” ujarnya.

Asal tahu saja, kinerja PURE di 2020 terkontraksi karena imbas pandemi Covid-19. Tercatat pendapatan PURE turun hingga 70% yoy dari yang sebelumnya Rp 452,12 miliar menjadi Rp 136,31 miliar di 2020. Seiring penurunan penjualan, PURE mencatatkan rugi bersih senilai Rp 98,74 miliar.

Widodo mengatakan, di tahun lalu bisnis PURE terdampak pandemi Covid-19 karena adanya pembatasan dalam memperoleh bahan baku dan penjualan. “Lockdown dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sangat merugikan perusahaan,” ujarnya.

Selain itu, pandemi juga berdampak pada harga bahan baku serta kurs. Faktor modal kerja juga tergerus akibat kerugian sehingga pihaknya mencari alternatif fasilitas lain dalam  mendapatkan tambahan modal kerja.

Pada kuartal I 2021 penjualan PURE juga belum begitu membaik. Di akhir Maret 2021 PURE mencatatkan penjualan senilai Rp 7,83 miliar, perolehannya jauh lebih kecil dibandingkan penjualan pada Maret 2020 yang senilai Rp 86,4 miliar. Adapun PURE juga mencatatkan rugi bersih senilai Rp 6,34 miliar.

Sumber: KONTAN

Read More