Beranda Asosiasi Pertambangan APNI dan Kaledonia Baru Buka Peluang Kolaborasi Industri Nikel

APNI dan Kaledonia Baru Buka Peluang Kolaborasi Industri Nikel

119
0
Delegasi pelaku usaha nikel Kaledonia Baru bersama APNI 9Foto: MNI/Fi Yun)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) menjajaki peluang kerja sama dengan pelaku industri nikel di Kaledonia Baru (New Caledonia), khususnya dalam pengembangan bisnis, pertukaran pengalaman, serta peningkatan praktik industri nikel yang berkelanjutan.

Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk membahas potensi kolaborasi antara perusahaan nikel di Kaledonia Baru dan Indonesia, di tengah posisi kedua negara sebagai bagian penting dalam rantai pasok nikel global.

Member of the Government of New Caledonia in Charge of Mines and Energy, mantan President of the Government of New Caledonia, Alcide Ponga, mengatakan, salah satu tujuan pertemuan dengan APNI adalah memahami bagaimana industri nikel di Kaledonia Baru dapat membangun hubungan dan kerja sama dengan pemerintah maupun pelaku usaha di Indonesia.

“Kami ingin mengetahui bagaimana perusahaan nikel di sini bekerja dengan pemerintah Indonesia dan membicarakan kemungkinan kerja sama antara perusahaan nikel di Kaledonia Baru atau smelter di Kaledonia Baru dengan perusahaan-perusahaan Indonesia,” kata Ponga kepada Media Nikel Indonesia (www.nikel.co.id), Kamis (8/10/2026).

Indonesia, katanya meneruskan, kerap dipandang sebagai kompetitor kuat bagi industri nikel Kaledonia Baru. Tetapi, ia melihat terdapat peluang untuk mengubah perspektif tersebut dengan membangun kemitraan yang dapat memberikan dampak lebih besar terhadap pasar nikel global.

“Kami berpikir bahwa Indonesia bukan hanya kompetitor, tetapi juga dapat menjadi mitra dalam bisnis nikel,” ujarnya.

Selain itu, menurutnya, kedua pihak juga dapat saling berbagi pengalaman mengenai pengelolaan bisnis nikel, pelatihan tenaga kerja, serta upaya meningkatkan kualitas kehidupan sosial masyarakat yang terkait dengan aktivitas industri. Tetapi, peluang bisnis antara Indonesia dan Kaledonia Baru tetap menjadi salah satu tujuan utama dari keterlibatan tersebut.

“Kita memiliki beberapa area dan topik lain yang bisa dibagikan. Saya pikir kita harus bekerja bersama untuk membuat bisnis kita menjadi lebih baik dan terus berkembang sehingga dapat memberikan jawaban yang baik terhadap berbagai persoalan di pasar nikel,” ungkap mantan Presiden Kaledonia Baru itu.

Sementara itu, BPOK/Humas Eropa & Rusia DPP APNI, Olfriady Letunggamu, menyebutkan, kerja sama keduanya rencananya akan dituangkan dalam nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MOU) antara pihak Kaledonia Baru dan Indonesia.

Dalam kerja sama tersebut, Osco—begitu Olfriady Letunggamu disapa—APNI membuka peluang bagi sejumlah pengusaha nikel asal Kaledonia Baru untuk masuk dan berpartisipasi dalam ekosistem pertambangan nikel di Indonesia. Selain membuka peluang investasi, kerja sama juga akan diarahkan pada pertukaran pengetahuan dan pengalaman melalui lokakarya (workshop) serta program pelatihan bagi pelaku usaha pertambangan dari kedua negara.

Melalui program tersebut, para pelaku usaha Kaledonia Baru akan mendapatkan pemahaman mengenai regulasi dan tata kelola pertambangan nikel di Indonesia. Sebaliknya, pelaku usaha Indonesia juga dapat mempelajari pengalaman dan praktik pertambangan yang telah berkembang di Kaledonia Baru.

“Kita memberikan juga mereka workshop bareng dan beberapa pelatihan, training dari para penambang kita dan penambang mereka, sehingga mereka tahu tentang bagaimana regulasi-regulasi di Indonesia,” pungkasnya.

Kerja sama tidak hanya terbatas pada sektor pertambangan di bagian hulu. Pelaku usaha dari Kaledonia Baru juga menunjukkan ketertarikan pada perkembangan industri dan pengolahan nikel di Indonesia.

Pertemuan tersebut juga diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat komunikasi antara pelaku industri nikel Indonesia dan Kaledonia Baru, sekaligus membuka peluang kolaborasi dalam menghadapi dinamika pasar nikel global. (Fi Yun)