Tembaga London Melorot, Terbebani Penguatan Dolar, Nikel Anjlok 2 Persen

NIKEL.CO.ID – Harga tembaga London melemah, Rabu, karena dolar yang lebih kuat-di tengah kekhawatiran seputar meningkatnya kasus Covid-19 secara global-mengurangi daya tarik logam tersebut.

Harga tembaga untuk kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange turun 0,6% menjadi USD9.277 per ton pada pukul 13.06 WIB, demikian laporan  Reuters,  di Hanoi, Rabu (21/7/2021).

Kontrak tembaga Agustus yang paling aktif diperdagangkan di Shanghai Futures Exchange mengikuti kenaikan di bursa berjangka London, menguat 0,2% menjadi 68.030 yuan (USD10.505,75) per ton.

Dolar bertahan di dekat level tertinggi (year-to-date) terbaru, karena kekhawatiran seputar lonjakan infeksi menopang kenaikan yang dibangun di atas ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi, dengan investor menunggu Bank Sentral Eropa untuk isyarat mereka berikutnya.

Dolar yang kuat membuat logam yang dihargakan dalam  greenback  menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Namun, ketika harga tembaga jatuh di bawah tekanan dolar, minat beli di sektor hilir China muncul karena biaya yang lebih murah untuk membeli logam tersebut, sehingga mencegah harga dari penurunan tajam, kata Huatai Futures dalam sebuah catatan.

Premi tembaga Yangshan naik menjadi USD40 per ton, level tertinggi sejak 7 Mei, menunjukkan penguatan permintaan logam impor ke China.

Nikel LME anjlok 2% menjadi USD18.310 per ton, aluminium merosot 1,2% menjadi USD2.435,50 per ton dan timah turun 0,9% menjadi USD33.200 per ton.

Nikel ShFE menyusut 1,6% menjadi 136.670 yuan per ton dan seng melorot 1,5% menjadi 22.150 yuan per ton. Timbal melonjak 1,3% menjadi 15.820 yuan per ton.

Pasar seng global kekurangan pasokan sebesar 17.900 ton pada Mei menyusul defisit 13.800 ton pada bulan sebelumnya, data dari Kelompok Studi Timbal dan Seng Internasional menunjukkan.

Sumber: IPOTNEWS

Read More

Ini Faktor Penyebab Naiknya Harga Nikel Dunia

NIKEL.CO.ID – Harga komoditas nikel dipercaya masih akan terus menunjukkan tren positif yang disebabkan oleh beberapa sentimen yang mendukungnya. Salah satu sentimen itu adalah produksi baja stainless steel di Cina yang meningkat, sehingga kebutuhan akan nikel juga akan mengalami penguatan.

Produksi baja stainless Cina telah naik sampai dengan 2,3 juta ton pada bulan Mei, dibandingkan pada bulan Februari yang jumlah produksinya masih di kisara 1,9 juta ton. Hal ini menyebabkan persediaan nikel di London Metal Exchange (LME) berkurang sampai dengan 12,4 persen jadi 228.000 wet metric ton. Harganya pun menjadi naik sebanyak 14,9 persen di angka USD18.769 per ton.

Sementara itu, jumlah produksi nikel pig iron Cina mengalami penurunan cukup tajam sejak bulan September tahun lalu, sebesar 38.900 ton. Adapun penyebab penurunan itu adalah karena kebijakan pemerintah Indonesia yang melarang ekspor bijih nikel ke luar negeri dan juga pemerintah Filipina yang memutuskan untuk menutup tambang nikel mereka. Diperkirakan defisit atas komoditas nikel pig iron sekitar 56.100 ton sampai 67.300 ton sampai dengan tahun depan.

Di sisi lain, Rusia yang merupakan penyumbang 10 persen cadangan nikel dunia juga akan menerapkan kebijakan baru soal pajak ekspor nikel. Diketahui peningkatan pajak ekspor nikel tersebut sebesar 15 persen yang bertujuan untuk menstabilkan harga nikel di pasar domestik.

Dari sejumlah kebijakan pemerintah Indonesia, Filipina dan Rusia, serta adanya aksi mogok massal di tambang Vale Sudbury, akan mampu mengerek harga nikel dunia semakin tajam untuk jangka pendek. Harga nikel rata-rata sampai dengan tahun depan akan berada di kisaran USD17 ribu per ton sampai USD18 ribu per ton.

Sumber: duniatambang.co.id

Read More

Begini Prospek Sejumlah Komoditas Mineral Tahun Ini

NIKEL.CO.ID – Sejumlah komoditas mineral masih menunjukkan harga yang solid sepanjang tahun ini. Namun, pergerakan harga sejumlah komoditas diproyeksikan tidak akan seagresif tahun lalu.

Salah satunya adalah emas. Analis Samuel Sekuritas Indonesia Dessy Lapagu mengatakan, potensi kenaikan tingkat suku bunga Amerika Serikat (AS) yang lebih cepat dari rencana awal, yaitu dari 2024 menjadi 2023, menjadi penekan utama harga emas global saat ini. Terlebih lagi, diskusi akan kebijakan tapering juga telah dimulai.

Sementara itu, kekhawatiran atas kenaikan kasus Covid-19 lebih terjadi di pasar domestik, sehingga tidak mempengaruhi  pasar emas global secara signifikan. “Dengan demikian, belum bisa menjadi katalis pendorong harga emas,” terang Dessy kepada Kontan.co.id, Senin (12/7/2021).

Samuel Sekuritas Indonesia memproyeksikan harga emas pada 2021-2022 akan berada pada level US$ 1.800 per ons troi-US$ 2.000 per ons troi.

Untuk komoditas nikel, Head of Research Maybank Kim Eng Sekuritas Isnaputra Iskandar menggunakan asumsi harga nikel sebesar US$ 15.500 per ton untuk tahun 2021. Adapun sejumlah faktor yang bisa mempengaruhi harga nikel antara lain pemulihan ekonomi global, perkembangan teknologi baterai listrik, serta kebijakan pemerintah dari negara-negara utama di industri nikel seperti Indonesia, China, dan Filipina.

Lebih lanjut, permintaan mobil listrik yang meningkat akan menjadi katalis utama untuk harga nikel. Saat ini, permintaan nikel dari sektor baterai kurang dari 5% dari total permintaan nikel.

“Diperkirakan dalam lima tahun ke depan, angka ini dapat meningkat menjadi 15%-20% dari total permintaan,” terang Isnaputra kepada Kontan.co.id, baru-baru ini.

Sementara itu, prospek harga komoditas tembaga diproyeksikan masih cukup cerah. Analis Panin Sekuritas Juan Oktavianus melihat, tren produksi tembaga masih akan lemah, seiring dengan penurunan dari produksi tembaga segmen hulu akibat dari disrupsi operasional pandemi Covid-19.

Suplai tembaga juga masih melemah seiring masih lemahnya aktivitas produksi yang berkaitan dengan aksi mogok kerja di tambang tembaga Escondida. Potensi implementasi peningkatan pajak royalti juga mempengaruhi produksi tembaga.

Namun, dari sisi permintaan, Juan melihat adanya potensi peningkatan seiring dengan meningkatnya aktivitas industri khususnya di China, yang bermuara pada peningkatan permintaan dari smelter tembaga di Negeri Tirai Bambu tersebut. Berdasarkan hal ini, Panin Sekuritas memperkirakan rerata harga tembaga akan  berada di level US$ 9,0 per ton, atau tumbuh 46,4% bila dibandingkan dengan periode 2020.

Seiring dengan kebijakan pemerintah untuk menetapkan transisi energi dari energi  fosil menjadi energi terbarukan, komoditas tembaga bisa mendapatkan peluang dari  sentimen ini. Salah satunya karena tembaga merupakan konduktor listrik dan panas yang saat ini paling efisien.

Adapun penggunaan tembaga pada teknologi energi terbarukan  lebih besar 4 kali sampai 6 kali daripada teknologi bahan bakar fosil atau teknologi nuklir. Dus, perkembangan positif dari industri mobil listrik akan berdampak pada peningkatan permintaan akan tembaga ke depan. “Hal ini didasari pada kebutuhan tembaga yang tinggi pada mobil listrik dibandingkan dengan mobil konvensional,” tulis Juan dalam riset, Kamis (1/7/2021).

Sumber: KONTAN

Read More

Kenaikan Harga Komoditas Diprediksi Hingga Akhir 2021

NIKEL.CO.ID – Lonjakan harga komoditas diprediksi bisa terus berlanjut hingga akhir tahun 2021. Kenaikan harga komoditas dipicu oleh tingginya permintaan negara-negara yang ekonominya mulai pulih, terutama Tiongkok dan Amerika Serikat. Sejumlah komoditas yang harganya masih berpotensi menguat di antaranya minyak mentah, batu bara, mineral logam seperti nikel, timah, aluminium, dan tembaga, serta komoditas pertanian seperti minyak sawit (crudepalm oil/CPO).

Seiring tingginya permintaan, beberapa harga komoditas sudah kembali ke level harga di Januari 2020 atau saat WHO menyatakan Covid-19 sebagai pandemi. Komoditas timah mencatatkan kenaikan 89% sejak Januari 2020 hingga akhir Mei 2021, disusul tembaga (69%), kedelai (66%), batu bara (54%), CPO (44%), aluminium (37%), biji coklat (31%), nikel (30%), dan emas (19%).

Sementara itu, harga minyak mentah Indonesia atau ICP mencatatkan kenaikan sebesar 155% per akhir Mei 2021 dibandingkan periode sama tahun lalu (year on year/yoy) dan naik 37% sepanjang 2021 (year to date/ytd). Lalu, harga minyak WTI naik sebesar 128% yoy dan naik 39% ytd, dan minyak mentah Brent naik 119% yoy dan 36% ytd.

Komoditas lain yang juga mencatatkan kenaikan di atas 100% secara yoy adalah timah (109%), lalu disusul batu bara (104%), dan CPO (102%). Adapun sepanjang tahun ini hingga akhir Mei 2021 (ytd), harga timah naik 63%, disusul minyak mentah WTI sebesar 39%, dan minyak mentah ICP sebesar 37%.

Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal mengatakan, tren kenaikan harga berbagai komoditas, antara lain minyak mentah, batu bara, CPO, dan nikel, dipacu oleh pemulihan ekonomi yang lebih cepat di luar negeri dan global daripada kondisi Indonesia dan sebagian negara lain yang masih bertarung melawan pandemi Covid-19.

Menurut dia, kenaikan harga komoditas di pasar global yang diperkirakan terus berlanjut hingga akhir tahun 2021 terutama di-trigger oleh negara Tiongkok yang ekonominya sudah kembali bangkit terdepan. Negara raksasa ekonomi dunia ini sekarang membutuhkan banyak komoditas tersebut untuk menopang industrinya yang kembali menggeliat.

“Tren harga komoditas itu akan terus naik setidaknya sampai akhir tahun 2021 karena pemulihan ekonomi dunia, terutama dipicu oleh Tiongkok yang paling pertama berhasil mengatasi pandemi Covid-19.

Harga komoditas global semakin naik signifikan dan sudah di atas harga sebelum pandemi karena pasokannya, di antaranya Indonesia, masih terganggu karena pandemi,” ujar Faisal.

Selain itu, kenaikan harga komoditas ditopang oleh impor Amerika Serikat (AS) yang terus meningkat di tengah keyakinan ekonomi warganya yang semakin membaik Walaupun belum sepenuhnya berhasil mengatasi pandemi Covid-19, AS dinilai pada jalur yang benar untuk memenanginya karena tren vaksinasi Covid-19 paling progresif dan cepat di dunia.

Jika Tiongkok banyak mengimpor komoditas sebagai bahan baku, AS banyak mengimpor barang setengah jadi dan produk jadi. Tindakan AS tersebut dinilai ikut menjadi sentimen positif mendorong kenaikan harga komoditas dunia sebagai penopang dari industri pengolahan produk setengah/jadi.

“Harga komoditas kemungkinan hanya akan menguat hingga akhir tahun 2021 ini dan akan mulai turun pada 2022 seiring dengan prediksi melandainya pandemi dan kembali normalnya pasokan komoditas,” imbuhnya.

Karena itu, Faisal pun mengingatkan pemerintah Indonesia untuk terus menggalakkan hilirasasi komoditas menjadi produk setengah/jadi, terutama pada sektor tambang dan perkebunan. Tujuannya agar nilai tambah jual ekspor komoditas Indonesia meningkat dan menciptakan lapangan kerja baru di Tanah Air.

Dia pun menyebut keberhasilan program hilirasi nikel menjadi bahan baku setengah jadi, sehingga mulai berkontribusi terhadap nilai jual ekspor di tengah pandemi Covid-19.

Pamerintah pun didorongnya terus menjadikan nikel sebagai produk jadi, seperti baterai dan mobil listrik yang memiliki nilai tambah/jual lebih tinggi lagi.

“Saat ini, kontribusi komoditas kita Indonesia terhadap ekspor masih tinggi berkisar 40-60%, sehingga sangat terpengaruh oleh fluktuasi harga. Jika berhasil melakukan hilirarasi, ke depan, fluktuasi harga komoditas pengaruhnya ke nilai ekspor bisa kita tekan,” tutur Faisal.

Sementara itu, CORE Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2021 berkisar 4-5%, lebih rendah dari proyeksi pemerintah yang optimistis 7-8%. Sementara itu, sepanjang tahun 2021, CORE Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi 3-4%.

Pertumbuhannya ditopang oleh nilai ekspor yang trennya meningkat sejak pandemi Covid-19 tahun 2020 yang juga didukung tren kenaikan harga komoditas tahun 2021.

Selanjutnya, pertumbuhan juga ditopang oleh membaiknya konsumsi rumah tangga di dalam negeri, serta investasi dan belanja pemerintah.

“Kontribusi terbesar kepada pertumbuhan ekonomi kalau untuk Indonesia tetap dari konsumsi rumah tangga yang terus membaik tahun ini. Tapi, kalau dari kontribusi pertumbuhan terbesar ada pada ekspor karena di antaranya tertolong oleh harga komoditas global, selain tentu saja, investasi membaik dan ditunjang belanja pemerintah,” pungkas Faisal.

Senada,Ekonom dan Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, harga komoditas sedang dalam tren naik sepanjang 2021 karena didorong oleh peningkatan permintaan di negara- negara yang ekonominya sudah pulih.

Menurut dia, pemulihan ekonomi bisa dilihat dari indeks keyakinan konsumen dan Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur terutama Tiongkok dan Amerika Serikat yang membaik, bahkan di Tiongkok saat ini dalam posisi ekspansi.

Harga komoditas yang masih berpotensi naik, lanjut Bhima, yakni minyak bumi, batu bara, CPO, dan mineral logam seperti nikel dan timah. Permintaan nikel dan timah akan masih tinggi karena dibutuhkan untuk bahan baku industri baterai mobil listrik.

“Apakah kenaikan harga komoditas bisa sampai tahun 2022? Masih ada sejumlah tantangan yang mesti diantisipasi. Salah satunya adalah kebijakan rebalancing (keseimbangan kembali) ekonomi Tiongkok,” ujar dia.

Selain itu, dia menyebut tantangan lainnya adalah hubungan dagang Tiongkok dengan AS yang memanas lagi juga perlu diantisipasi.

“Kita juga harus antisipasi sekarang ini banyak negara seperti Tiongkok dan AS sedang menggalakkan energy baru terbarukan (EBT) yang ramah lingkungan, sehingga para pelaku usaha komoditas kita perlu mendiversifikasi produknya,” katanya.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro juga mengatakan saat ini hampir semua komoditas mengalami kenaikan harga. Hal ini tak hanya di Indonesia namun juga di sejumlah negara seperti India, Amerika Serikat, bahkan di Eropa. Menurut dia, harga akan terus merangkak naik hingga akhir tahun. Apalagi, kata dia, jika penanganan pandemi Covid-19 berlangsung baik.

“Secara perlahan harga akan naik terus hingga akhir tahun, bahkan kemungkinan akan terus berlanjut ke 2022,” kata Komaidi.

Untuk minyak dunia, dia memperkirakan bakal berada di kisaran US$ 75-80 per barel, sementara batu bara bisa mencapai US$ 105 per ton hingga akhir 2021.

Namun demikian, Komaidi mengingatkan kenaikan harga terutama minyak mentah, perlu disikapi hati- hati. Hal ini karena kenaikan harga akan berdampak pada meningkatnya subsidi yang harus dikeluarkan pemerintah.

“Ini terjadi karena produksi minyak kita jauh lebih rendah dibanding konsumsi, sehingga kenaikan harga minyak mentah otomatis akan meningkatkan jumlah subsidi yang harus dikeluarkan pemerintah, jika memang pemerintah memutuskan untuk tidak menaikkan harga BBM,” paparnya.

Hal yang sama juga terjadi pada komoditas batu bara yang akan berdampak pada biaya produksi listrik.

Dia mengakui bahwa pemerintah telah mematok harga batu bara untuk PLN sebesar US$ 70 per ton, namun tentunya pelaku usaha batu bara akan meminta insentif kepada pemerintah dalam bentuk lain.

“Utang PLN saja sudah Rp 500 triliun saat harga komoditas masih rendah. Apalagi kalau harga meningkat. Ini juga harus disikapi secara bijaksana,” kata Komaidi.

Secara terpisah, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengungkapkan, pergerakan harga batu bara sulit diprediksi terus menguat hingga akhir tahun. Namun dia berharap harga terus membaik hingga penghujung 2021.

“Wah kalau proyeksi ke depan tentu saja sulit. Tapi kalau ditanya harapannya, ya berharap kondisi harga terus bertahan hingga akhir tahun,” ujarnya.

Hendra mengungkapkan kondisi perekonomian saat ini hampir mirip seperti tahun 2008-2009. Kala itu dunia tengah menghadapi resesi ekonomi. Namun Indonesia mampu bertahan seiring membaiknya harga komoditas antara lain batu bara.

“Batu bara dapat membantu neraca perdagangan dan current account,” ujarnya.

Head of Corporate Communication Adaro Energy Febrianti Nadira menuturkan, pergerakan harga batu bara sulit dikontrol. Oleh sebab itu, pihaknya lebih fokus terhadap keunggulan operasional bisnis inti, meningkatkan efisiensi dan produktivitas operasi, menjaga kas dan mempertahankan posisi keuangan yang solid di tengah situasi sulit yang berdampak terhadap sebagian besar dunia usaha.

“Adaro akan terus mengikuti perkembangan pasar dengan tetap menjalankan kegiatan operasi sesuai rencana di tambang-tambang milik perusahaan dengan terus berfokus untuk mempertahankan marjin yang sehat dan kontinuitas pasokan ke pelanggan,” ujarnya.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi sebelumnya mengatakan, Harga Batu Bara Acuan (HBA) Juni 2021 naik US$ 10,59 per ton dibandingkan bulvan sebelumnya yang berada di posisi US$ 89,74 per ton. HBA Juni ditetapkan sebesar US$ 100,33 per ton.

Agung mengungkapkan tren kenaikan harga batu bara dalam dua bulan terakhir ini utamanya didorong oleh peningkatan permintaan dari Tiongkok akibat periode musim hujan di negara tersebut, serta semakin tingginya harga domestik batu bara setempat.

“Kenaikan permintaan (Tiongkok) untuk keperluan pembangkit listrik yang melampaui kapasitas pasokan batu bara domestik,” ujarnya.

Harga batu bara pada Juni ini merupakan tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Tercatat pada November 2018 HBA mencapai US$ 97,90/ton.

Sumber: investor.id

Read More

Harga Nikel di Shanghai dan LME Turun Dipicu Lemahnya Permintaan dari China

NIKEL.CO.ID – Harga tembaga di bursa Shanghai turun pada Selasa (8/6). Tertekan kekhawatiran pengetatan kebijakan moneter di Amerika Serikat (AS) dan lemahnya permintaan konsumen utama China.

Melansir Reuters pukul 12.14 WIB, harga kontrak tembaga Juli yang paling banyak diperdagangkan di Shanghai Futures Exchange turun 0,3% menjadi 71.450 yuan ($11.176.81) per metrik ton pada 0449 GMT. Sementara tembaga kontrak tiga bulan di London Metal Exchange naik tipis 0,1% menjadi US$ 9.910.50 per metrik ton.

Menteri Keuangan AS Janet Yellen mengatakan, rencana anggaran baru Presiden Joe Biden senilai US$ 4 triliun akan baik bahkan jika itu berkontribusi pada kenaikan inflasi dan menghasilkan suku bunga yang lebih tinggi, Bloomberg News melaporkan.

“Data di Amerika Serikat mulai mengarah ke inflasi dan Janet Yellen telah membuat komentar … yang terdengar seperti kasus melunakkan semua orang untuk apa yang berpotensi datang,” kata Malcolm Freeman, direktur broker Kingdom Futures di sebuah catatan.

Suku bunga yang lebih tinggi dapat mengurangi jumlah uang beredar dan berpotensi mendorong investor untuk menarik diri dari aset berisiko seperti logam.

Sementara itu, premi tembaga Yangshan terakhir berada di US$ 28 per ton, berada di sekitar level terendah sejak Februari 2016 dan turun 75% dibandingkan Mei 2020, menunjukkan melemahnya permintaan impor logam ke China.

Impor tembaga China turun 8% di bulan Mei dari bulan sebelumnya, rekor harga tertinggi semakin mengikis minat beli di negara tersebut.

Di tempat lain, harga nikel LME turun 0,3% menjadi US $17.835 per metrik ton, seng naik 0,2% menjadi US$ 3.005,50 per ton dan timah naik 1,3% menjadi US$ 30.935 per metrik ton.

Harga aluminium ShFE turun 0,7% menjadi 18.340 yuan per metrik ton, nikel turun 1% menjadi 130.320 yuan per metrik ton dan timbal naik 0,4% menjadi 15.045 yuan per metrik ton.

Sumber: KONTAN

Read More

Harga Nikel Melonjak, Pembangunan Smelter Bergairah Lagi

NIKEL.CO.ID – Harga komoditas tambang tengah menghadapi super siklus di mana harganya tengah membubung dan diperkirakan bertahan dalam waktu lama. Salah satu komoditas yang harganya naik adalah nikel.

Naiknya harga nikel membuat investor kembali bergairah mengembangkan proyek hilir atau dalam hal ini pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter).

Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Meidy Katrin Lengkey.

Kepada CNBC Indonesia, Kamis (20/05/2021), dia mengatakan ada beberapa perusahaan yang kembali aktif melakukan kegiatan di sektor hilir, mulai dari proses penetapan lokasi smelter dan perizinan.

“Ada beberapa perusahaan melakukan kegiatan, baik proses penempatan lokasi smelter, perizinan. Kalau pembangunan, ada beberapa perusahaan yang sudah melakukan kegiatan pembangunan pabrik,” kata Meidy.

Semakin meningkatnya investasi di sektor hilir, imbuhnya, maka ke depan diperkirakan akan terjadi lonjakan permintaan bijih nikel.

Dia mengatakan, jumlah perusahaan yang sedang melakukan proses perizinan dan konstruksi sebanyak 10-15 perusahaan.

“Ke depan nikel akan ada over demand karena dengan banyak pabrik, kebutuhan bahan baku meningkat,” ujarnya.

Dia mengatakan, smelter yang ada saat ini hanya menyerap bijih nikel kadar tinggi di atas 1,8%. Dengan banyaknya investasi baru, pihaknya berharap agar smelter baru nanti juga bisa menyerap bijih nikel kadar rendah 1,6%.

“Kita harapkan smelter baru nanti apakah bisa gunakan bijih nikel kadar rendah yang selama ini terbuang. Smelter yang ada saat ini hanya konsumsi bijih nikel di atas 1,8%, smelter baru kita harapkan bisa akomodir 1,6%,” harapnya.

Sebelumnya, Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Tata Kelola Mineral dan Batu Bara Irwandy Arif mengatakan, pandemi Covid-19 sejak tahun lalu mengakibatkan sejumlah proyek pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) tertunda.

Tak hanya proyek smelter katoda tembaga yang dibangun PT Freeport Indonesia, puluhan smelter mineral lainnya juga disebutkan tertunda dan terhenti proses pembangunannya akibat pandemi Covid-19 ini.

Progress pembangunan smelter sedang banyak yang berhenti karena suplai bahan baku dan tenaga kerja juga berhenti karena negara yang punya teknologi ini sedang lockdown,” ungkapnya dalam sebuah diskusi bertema ‘Prospek Sektor Tambang di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global’ secara virtual, Selasa (10/11/2020).

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan, tahun 2021 ini total smelter yang beroperasi ditargetkan sebanyak 23 smelter dari 19 smelter di 2020, atau hanya bertambah empat smelter dari tahun lalu.

“Total realisasi fasilitas pemurnian mineral sampai dengan 2020 sebanyak 19 smelter dan 2021 sebanyak 23 smelter,” ungkapnya saat konferensi pers ‘Capaian Kinerja Sektor ESDM Tahun 2020 Dan Rencana Kerja Tahun 2021’, Kamis (07/01/2021).

Berdasarkan data yang dipaparkannya, smelter baru yang beroperasi pada 2020 hanya sebanyak dua smelter nikel. Dengan demikian, total smelter nikel yang beroperasi hingga 2020 mencapai 13 smelter.

Sementara smelter untuk komoditas lainnya yakni tembaga tetap tidak berubah dari 2019, yakni hanya dua smelter, bauksit dua smelter, besi satu smelter, dan mangan satu smelter. Dengan demikian, pada 2020 terdapat 19 smelter yang telah beroperasi.

Sementara pada 2021, dari total target 23 smelter beroperasi, di antaranya 16 smelter nikel, dua smelter tembaga, dua smelter bauksit, satu smelter besi, satu smelter mangan, dan satu smelter timbal dan seng.

Sampai dengan 2024 mendatang, pemerintah menargetkan sebanyak 53 smelter beroperasi. Artinya, dibutuhkan 34 smelter baru selama empat tahun mendatang.

Dia merinci, jumlah smelter yang ditargetkan beroperasi hingga 2024 tersebut antara lain 23 smelter pada 2021, lalu naik menjadi 28 smelter pada 2022, lalu pada 2023-2024 diperkirakan melesat menjadi 53 smelter.

Pada 2024 smelter yang ditargetkan telah beroperasi yakni empat smelter tembaga, 30 smelter nikel, 11 smelter bauksit, empat smelter besi, dua smelter mangan, serta dua smelter timbal dan seng.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Harga Nikel-Tembaga Membubung, Pengusaha Tak Genjot Produksi

NIKEL.CO.ID – Harga sejumlah komoditas tambang sedang membubung tinggi atau mengalami tren super siklus, mulai dari batu bara, emas, nikel, hingga tembaga. Meski harga sedang naik tinggi, namun ternyata tak lantas membuat pengusaha bakal menaikkan produksinya.

Hal tersebut disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Indonesia (Indonesia Mining Association/IMA) Djoko Widajatno Soewanto.

Menurutnya, sangat sulit menaikkan produksi dalam waktu dekat karena beberapa alasan.

Pertama, pengusaha pertambangan bekerja atas dasar Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) di mana RKAB harus mendapatkan persetujuan dari pemerintah.

“Kedua, operasi produksi direncanakan atas dasar cadangan yang tersedia,” ungkapnya kepada CNBC Indonesia, Rabu (19/05/2021).

Kemudian, faktor ketiga adalah mengubah teknik penambangan berarti mengubah rencana kerja jangka pendek dan jangka panjang. Setiap perubahan, imbuhnya, harus terlebih dahulu mengajukan uji kelayakan (Feasibility Study/ FS) dan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Menurutnya, butuh waktu lama untuk bisa mendapatkan persetujuan perubahan tersebut.

“Pada umumnya, akan sangat sukar menambah jumlah peralatan tambang, karena dari proses pemesanannya sampai alat tiba, harga sudah berubah lagi,” ujarnya.

Dan faktor terakhir menurutnya yaitu faktor keekonomian dan teknis harus menjamin tingkat keselamatan yang tinggi dan juga memenuhi persyaratan lingkungan.

Seperti diketahui, harga sejumlah komoditas mineral kini sedang membubung tinggi. Nikel misalnya, Harga nikel sejak akhir tahun lalu hingga kini terus menanjak naik di atas US$ 16.000 per ton. Di awal 2021 harga nikel di London Metal Exchange sebesar US$ 17.344 per ton, lalu terus menanjak hingga akhirnya menembus rekor tertinggi pada 22 Februari 2021 yang mencapai US$ 19.689 per ton.

Meski setelahnya turun kembali, namun rata-rata masih berkisar US$ 16.000-an per ton dan pada Mei ini menunjukkan adanya perbaikan kembali. Pada perdagangan kemarin, Selasa (18/05/2021), harga nikel menyentuh US$ 18.142 per ton, meningkat dari sehari sebelumnya, Senin (17/05/2021) yang sebesar US$ 17.723 per ton.

Begitu juga dengan tembaga, Di awal Mei 2021, tepatnya tanggal 6 Mei 2021, harga tembaga di London Metal Exchange (LME) tembus di level US$ 10.025 per metrik ton (MT).

Tak berhenti di situ, harga tembaga terus saja naik, bahkan pada tanggal 10 Mei pekan lalu sempat menyentuh US$ 10.724,5 per MT, meski pada 14 Mei harus turun ke level US$ 10.212 per MT. Pada perdagangan kemarin, Selasa (18/05/2021), harga tembaga kembali naik menjadi US$ 10.465 per ton.

Dalam jangka panjang harga tembaga digadang-gadang masih akan terus menunjukkan tren positif. Harganya berpotensi menyentuh US$ 20.000 per MT di 2025. Proyeksi ini berdasarkan analisis Bank of America (BofA), seperti dilansir dari CNBC International.

Begitu pun dengan emas, di mana pada perdagangan kemarin, Selasa (18/05/2021), harga emas di LME menyentuh US$ 1.867,5 per troy ons.

Momen kenaikan harga semestinya bisa dimanfaatkan perusahaan untuk berinvestasi di proyek hilirisasi, seperti smelter untuk komoditas mineral, sejalan dengan program hilirisasi pemerintah. Namun nyatanya, hal ini tak langsung dilakukan pengusaha, kenapa?

Saat ditanya apakah ini waktu yang tepat untuk berinvestasi di sisi hilir di tengah kenaikan harga, Djoko mengatakan, ini tidak bisa serta merta dilakukan. Dia beralasan, adanya pendemi Covid-19 sejak 2020 lalu, banyak pengeluaran terkait dengan protokol kesehatan di lapangan.

“Belum dapat diprediksi, sehubungan dengan pandemic Covid-19 banyak pengeluaran untuk protokol kesehatan operasi di lapangan untuk tahun 2020, rata-rata ekstra berkisar 40 million, ini kesempatan untuk menutupi pengeluaran tersebut,” paparnya.

Memang, naiknya harga komoditas tambang menjadi kesempatan bagi RI untuk mendapatkan cuan besar-besaran di sektor tambang. Bagaimana tidak, ratusan juta ton batu bara, jutaan logam nikel, ratusan ribu ton katoda tembaga dan puluhan ton emas ditargetkan diproduksi setiap tahunnya. Bahkan, kebanyakan komoditas tambang tersebut masih diekspor.

Tahun ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan penerimaan negara dari sektor pertambangan mineral dan batu bara mencapai Rp 39,01 triliun, naik tipis dari realisasi penerimaan negara pada 2020 yang sebesar Rp 34,65 triliun.

Dengan terus membubungnya harga hampir di semua komoditas tambang, baik batu bara, emas, nikel, dan tembaga membuat realisasi penerimaan negara hingga awal Mei ini tercatat sudah mencapai separuh dari target, tepatnya Rp 19,15 triliun atau 48,97% dari target satu tahun ini.

Namun, untuk jangka panjang, keuntungan yang diperoleh dari kenaikan harga saat ini lebih baik jika dioptimalkan untuk berinvestasi hilirisasi, sehingga ketika harga komoditas semakin membubung, nilai tambah dari produk tambang yang dijual juga semakin berlipat-lipat dan tentunya akan memiliki efek berganda bagi perekonomian sekitar tambang dan nasional.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Harga Nikel Meroket, Harga ANTM Dkk ‘Ngamuk’ di Bursa RI

NIKEL.CO.ID – Saham-saham emiten nikel kompak menguat di zona hijau pada awal perdagangan sesi I hari ini, Senin (3/5/2021). Kenaikan mayoritas harga saham nikel seiring terkereknya harga nikel dalam sepekan belakangan.

Menurut data London Metal Exchange (LME), harga nikel kontrak 3 bulan terus naik hingga 8,12% selama sepekan terakhir. Adapun pada Jumat (30/4), harga nikel kontrak bulan terkerek 0,31% ke US$ 17.512/ton dari penutupan hari sebelumnya.

Berikut harga saham nikel, mengacu pada data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 10.34 WIB.

  1. Trinitan Metals and Minerals (PURE), saham +1,68%, ke Rp 121, transaksi Rp 300 juta
  2. Pelat Timah Nusantara (NIKL), +1,45%, ke Rp 1.050, transaksi Rp 969 juta
  3. Aneka Tambang (ANTM), +1,20%, ke Rp 2.520, transaksi Rp 255 M
  4. Vale Indonesia (INCO) +0,43%, ke Rp 4.630, transaksi Rp 42 M
  5. Timah (TINS), +0,29%, ke Rp 1.735, transaksi Rp 56 M
  6. Central Omega Resources (DKFT), 0,00%, ke Rp 170, transaksi Rp 676,38 juta

Menurut daftar di atas, saham emiten pengolahan nikel, PURE, menjadi yang paling terapresiasi, yakni sebesar 1,68% ke Rp 121/saham. Nilai transaksi saham ini sebesar Rp 300 juta.

Dengan ini, saham PURE melanjutkan reli penguatan sejak dua hari lalu, setelah empat hari sebelumnya terjerumus ke zona merah.

Di posisi kedua, ada saham NIKL yang naik 1,45% ke Rp 1.050/saham dengan nilai transaksi Rp 969 juta. NIKL berhasil mengalami rebound pagi ini, pascaambles 2,82% ke Rp 1.035/saham pada Jumat (30/4/2021) pekan lalu.

Sementara, saham emiten pelat merah, ANTM terangkat 1,20% ke Rp 2.520/saham. Saham ANTM menjadi saham yang paling banyak ditransaksikan di bursa dengan jumlah Rp 263,7 miliar.

Pagi ini, saham ANTM berhasil memantul kembali ke atas setelah pada Jumat terkoreksi 0,80% di Rp 2.490/saham.

Keempat, ada saham INCO yang menguat 0,43% ke Rp 4.630/saham. Nilai transaksi INCO sebesar Rp 42 miliar. Sama seperti saham ANTM, saham INCO juga berhasil menguat kembali, setelah Jumat pekan lalu turun 0,86% di Rp 4.610/saham.

Namun, sepanjang 26-29 April saham ini melaju di zona hijau selama 4 hari beruntun.

Kabar teranyar, Vale Indonesia membagikan dividen untuk tahun buku yang berakhir tahun 2020. Perseroan tercatat terakhir kali membagikan dividen pada 2014.

Pemegang saham Vale menyetujui pembagian dividen sebesar 40% dari perolehan laba bersih tahun 2020 sebesar US$ 82,82 juta.

“Terakhir, Vale membayar dividen tahun buku 2014. Rapat menyetujui pembagian 40% dari laba bersih tahun 2020 atau sebesar US$ 33 juta sebagai dividen,” kata Chief Financial Officer Vale Indonesia, Berdardus Irmanto, dalam konferensi pers secara virtual, Kamis (29/4/2021).

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Harga Nikel di Shanghai dan London Kompak Naik

NIKEL.CO.ID – Logam nonferrous di SHFE turun sebagian besar pada hari Rabu (28/04/2021) pagi, sementara rekan-rekan LME mereka semua meluncur lebih rendah, karena investor menunggu keputusan kebijakan oleh Federal Reserve AS pada hari Rabu.

Dalam perdagangan semalam, logam dasar Shanghai naik sebagian besar. Seng naik 0,38%, nikel naik 1,5%, timbal bertambah 0,45% dan timah naik 0,37%, sementara tembaga menumpahkan 0,4% dan aluminium melemah 0,24%.

Kompleks LME, kecuali aluminium, semua ditutup lebih tinggi pada hari Selasa (27/4/2021). Tembaga naik 1,03%, seng naik 0,05%, nikel naik 1,74%, timbal naik 0,75% dan timah bertambah 0,13%, sedangkan aluminium turun 0,27%.

Tembaga: Tembaga LME tiga bulan naik 1,03% menjadi ditutup pada $ 9.878,5 / mt pada hari Selasa, (27/4/2021) sementara kontrak tembaga SHFE 2106 yang paling banyak diperdagangkan turun 0,4% menjadi berakhir pada 72.190 yuan / mt dalam perdagangan semalam. Indeks kepercayaan konsumen AS pada April melonjak ke level tertinggi sejak merebaknya pandemi. Investor tetap positif di atas pemulihan ekonomi global karena peluncuran vaksinasi yang efisien dan paket stimulus ekonomi. Tembaga LME diperkirakan diperdagangkan antara $ 9.800-9.880 / mt hari ini, dan tembaga SHFE antara 71.800-72.300 yuan / mt, sementara tembaga spot akan diperdagangkan antara diskon 280-190 yuan / mt.

Aluminium: Aluminium LME tiga bulan turun 0,27% lebih rendah pada $ 2.392,5 / mt pada hari Selasa, dan diperkirakan akan diperdagangkan antara $ 2.380-2.400 / mt hari ini.

Kontrak aluminium SHFE 06 yang paling aktif melemah 0,24% menjadi ditutup pada 18.480 yuan / mt dalam perdagangan semalam. Permintaan restocking sebelum hari libur akan mendukung harga aluminium. Aluminium SHFE kemungkinan akan berfluktuasi antara 18.300-18.500 yuan / mt hari ini.

Seng: Seng LME tiga bulan naik tipis 0,05% menjadi berakhir pada $ 2.928,5 / mt pada hari Selasa, dengan bunga terbuka menambahkan 1.766 lot menjadi 248.000 lot. Stok seng di gudang yang terdaftar di LME turun 1.325 mt menjadi 291.950 mt. Seng LME kemungkinan akan bergerak antara $ 2.890-2.940 / mt hari ini.

Kontrak seng SHFE 2106 yang paling likuid naik 0,38% menjadi 22.290 yuan / mt dalam perdagangan semalam, membukukan kemenangan beruntun tiga hari, dengan bunga terbuka naik 4.714 lot menjadi 104.921 lot. Kontrak Juni kemungkinan akan bergerak antara 21900-22400 yuan / mt hari ini, sementara diskon spot untuk domestik 0 # Shuangyan akan terlihat pada 40-50 yuan / mt terhadap kontrak Mei.

Nikel: Kontrak nikel SHFE 2106 yang paling banyak diperdagangkan naik 1,5% menjadi ditutup pada 126.860 yuan / mt dalam perdagangan semalam, dengan open interest kehilangan 3.072 lot menjadi 154.000 lot.

Timbal: Timbal LME tiga bulan naik 0,75% menjadi berakhir pada $ 2.093,5 / mt pada hari Selasa. Saham utama LME menyusut lebih dari 1.000 mt, yang mendukung harga timah. Apakah kontrak bisa tembus di atas angka 2.100 hari ini akan dipantau.

Kontrak utama SHFE 2106 yang paling aktif diselesaikan 0,45% lebih tinggi pada 15.510 yuan / mt dalam perdagangan semalam, dan apakah kontrak tersebut dapat stabil di atas angka 15.500 hari ini akan diawasi.

Timah: Timah LME tiga bulan bertambah 0,13% menjadi ditutup pada $ 27.185 / mt pada hari Selasa, dengan open interest menambahkan 107 lot menjadi 11.737 lot. Stok timah LME menyusut 255 mt menjadi 1.290 mt. Timah LME diperkirakan akan bergerak antara $ 26.500-27.500 / mt hari ini.

Kontrak timah SHFE 2106 yang paling likuid naik 0,37% menjadi berakhir pada 186.820 yuan / mt dalam perdagangan semalam, dengan open interest kehilangan 179 lot menjadi 21.608 lot. Diperkirakan akan berfluktuasi antara 183.000-188.000 yuan / mt hari ini.

Sumber: SMM News

Read More

Harga Nikel Diproyeksi Bakal Naik Hingga Akhir Tahun

NIKEL.CO.ID – Prospek kenaikan harga nikel dunia membuat perusahaan pertambangan nikel menjadi primadona. Adapun beberapa sentimen tersebut karena naiknya kenaikan permintaan baterai dan baja tahan karat yang berbahan dasar nikel.

Hal ini terjadi karena pengembangan mobil listrik atau electric vehicle (EV) dari sejumlah negara di dunia. Nikel memegang peran penting dalam pembuatan baterai lithium, yang menjadi bahan utama pengembangan mobil listrik.

Direktur Utama Nice Nickel Indonesia (NNI), Rusman, mengatakan kinerja perusahaan akan mendapatkan sentimen positif karena kenaikan ini. Hingga saat ini pihaknya telah mengantongi perjanjian penjualan nikel dalam jumlah besar dengan pihak smelter.

“Kami akan merilis dalam waktu dekat saat pengiriman diawal bulan (Mei),” ujar Rusman di Jakarta, Senin (26/4/2021).

Pada kesempatan yang sama Direktur Keuangan Tri Safri Family, Hendri Vertiwel mengatakan pihaknya optimis dengan kenaikan harga Nikel dalam beberapa waktu mendatang akan berkontribusi positif terhadap kinerja perusahaan.

“Permintaan yang datang pada kami sejauh ini cukup tinggi. Dalam proyeksi kami, kenaikan harga akan berlangsung konsisten hingga akhir tahun,” jelasnya pada wartawan.

Adapun Tri Safri Family merupakan perusahaan nikel berbasis di Buton Utara, Sulawesi Tenggara, yang merupakan anak perusahaan Nice Nickel Indonesia.

Sementara itu, Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengutarakan hal yang sama. Menurutnya pemulihan ekonomi nasional dan global serta masifnya produksi mobil listrik membuat harga nikel cenderung bergerak naik. Ia memprediksi perusahaan nikel akan meningkatkan kapasitas produksi.

“Secara jangka pendek karena ada kenaikan pasokan membuat harga bergerak fluktuatif, namun ini hanya efek sementara,” jelasnya.

Indonesia berkontribusi sekitar 30 persen dari produksi nikel dunia dan 22 persen dari cadangan global. Pada 2020 Indonesia memproduksi 760 ribu ton nikel dengan cadangan sekitar 21 juta ton. Pada Januari 2020, pemerintah Indonesia melarang ekspor bijih nikel yang belum diolah. Hal ini mendorong investasi smelter dalam negeri yang membuat kapasitas produksi nikel tetap stabil.

Hendri Vertiwel mengatakan, sebagai perusahaan yang menerapkan asas Good Corporate Governance (GCG) pihaknya mendukung kebijakan pemerintah yang akan mengembangkan industri baterai lithium dan mobil listrik, dan pada akhirnya memiliki efek positif ke industri nikel.

Sumber: fin.co.id

Read More