Harga Nikel di Shanghai dan London Kompak Naik

NIKEL.CO.ID – Logam nonferrous di SHFE turun sebagian besar pada hari Rabu (28/04/2021) pagi, sementara rekan-rekan LME mereka semua meluncur lebih rendah, karena investor menunggu keputusan kebijakan oleh Federal Reserve AS pada hari Rabu.

Dalam perdagangan semalam, logam dasar Shanghai naik sebagian besar. Seng naik 0,38%, nikel naik 1,5%, timbal bertambah 0,45% dan timah naik 0,37%, sementara tembaga menumpahkan 0,4% dan aluminium melemah 0,24%.

Kompleks LME, kecuali aluminium, semua ditutup lebih tinggi pada hari Selasa (27/4/2021). Tembaga naik 1,03%, seng naik 0,05%, nikel naik 1,74%, timbal naik 0,75% dan timah bertambah 0,13%, sedangkan aluminium turun 0,27%.

Tembaga: Tembaga LME tiga bulan naik 1,03% menjadi ditutup pada $ 9.878,5 / mt pada hari Selasa, (27/4/2021) sementara kontrak tembaga SHFE 2106 yang paling banyak diperdagangkan turun 0,4% menjadi berakhir pada 72.190 yuan / mt dalam perdagangan semalam. Indeks kepercayaan konsumen AS pada April melonjak ke level tertinggi sejak merebaknya pandemi. Investor tetap positif di atas pemulihan ekonomi global karena peluncuran vaksinasi yang efisien dan paket stimulus ekonomi. Tembaga LME diperkirakan diperdagangkan antara $ 9.800-9.880 / mt hari ini, dan tembaga SHFE antara 71.800-72.300 yuan / mt, sementara tembaga spot akan diperdagangkan antara diskon 280-190 yuan / mt.

Aluminium: Aluminium LME tiga bulan turun 0,27% lebih rendah pada $ 2.392,5 / mt pada hari Selasa, dan diperkirakan akan diperdagangkan antara $ 2.380-2.400 / mt hari ini.

Kontrak aluminium SHFE 06 yang paling aktif melemah 0,24% menjadi ditutup pada 18.480 yuan / mt dalam perdagangan semalam. Permintaan restocking sebelum hari libur akan mendukung harga aluminium. Aluminium SHFE kemungkinan akan berfluktuasi antara 18.300-18.500 yuan / mt hari ini.

Seng: Seng LME tiga bulan naik tipis 0,05% menjadi berakhir pada $ 2.928,5 / mt pada hari Selasa, dengan bunga terbuka menambahkan 1.766 lot menjadi 248.000 lot. Stok seng di gudang yang terdaftar di LME turun 1.325 mt menjadi 291.950 mt. Seng LME kemungkinan akan bergerak antara $ 2.890-2.940 / mt hari ini.

Kontrak seng SHFE 2106 yang paling likuid naik 0,38% menjadi 22.290 yuan / mt dalam perdagangan semalam, membukukan kemenangan beruntun tiga hari, dengan bunga terbuka naik 4.714 lot menjadi 104.921 lot. Kontrak Juni kemungkinan akan bergerak antara 21900-22400 yuan / mt hari ini, sementara diskon spot untuk domestik 0 # Shuangyan akan terlihat pada 40-50 yuan / mt terhadap kontrak Mei.

Nikel: Kontrak nikel SHFE 2106 yang paling banyak diperdagangkan naik 1,5% menjadi ditutup pada 126.860 yuan / mt dalam perdagangan semalam, dengan open interest kehilangan 3.072 lot menjadi 154.000 lot.

Timbal: Timbal LME tiga bulan naik 0,75% menjadi berakhir pada $ 2.093,5 / mt pada hari Selasa. Saham utama LME menyusut lebih dari 1.000 mt, yang mendukung harga timah. Apakah kontrak bisa tembus di atas angka 2.100 hari ini akan dipantau.

Kontrak utama SHFE 2106 yang paling aktif diselesaikan 0,45% lebih tinggi pada 15.510 yuan / mt dalam perdagangan semalam, dan apakah kontrak tersebut dapat stabil di atas angka 15.500 hari ini akan diawasi.

Timah: Timah LME tiga bulan bertambah 0,13% menjadi ditutup pada $ 27.185 / mt pada hari Selasa, dengan open interest menambahkan 107 lot menjadi 11.737 lot. Stok timah LME menyusut 255 mt menjadi 1.290 mt. Timah LME diperkirakan akan bergerak antara $ 26.500-27.500 / mt hari ini.

Kontrak timah SHFE 2106 yang paling likuid naik 0,37% menjadi berakhir pada 186.820 yuan / mt dalam perdagangan semalam, dengan open interest kehilangan 179 lot menjadi 21.608 lot. Diperkirakan akan berfluktuasi antara 183.000-188.000 yuan / mt hari ini.

Sumber: SMM News

Read More

Kapal Kargo Angkut Bijih Nikel Kandas Dihantam Topan Surigae, 4 Kru Tewas 9 Hilang

NIKEL.CO.ID – Empat kru kapal kargo LCT Cebu Great Ocean yang kandas di perairan Filipina pada Senin (19/4/2021) lalu ditemukan tewas dan sembilan orang lainnya hilang. Tujuh orang diselamatkan dalam insiden tersebut.

Penjaga Pantai Filipina (PCG), seperti dikutip dari Reuters, Rabu (21/4/2021), menyatakan para kru meninggalkan kapal menuju pantai, sebelum kapal yang mengangku bijih nikel dan 2.000 liter solar itu benar-benar kandas di perairan Provinsi Surigao del Norte.

Seorang pejabat PGC Gelly Rosales mengatakan, empat jenazah kru ditemukan terdampar di pantai, sementara tujuh orang lainnya diselamatkan setelah berhasil mencapai daratan tersebar di beberapa lokasi.

Rosales mengatakan, kapal kargo itu berlindung dari laut yang ganas namun jangkar rusak, menyebabkan kapal hanyut dan kandas.

Filipina bagian timur dihantam Topan Surigae yang membawa angin berkecepatan 195 km per jam.

Akibat topan itu, tiga orang tewas, satu hilang, dan 10 lainnya luka-luka. Sementara itu puluhan ribu warga mengungsi di pusat-pusat evakuasi.

Artikel ini telah tayang di www.inews.id dengan judul ” Kapal Kargo Angkut Bijih Nikel Kandas Dihantam Topan Surigae, 4 Kru Tewas 9 Hilang “.

Read More

Harga Tembaga Melaju Dekati US$9.500, Sedangkan Nikel Masih Melemah

NIKEL.CO.ID – Harga tembaga terus melanjutkan tren positifnya dan kembali mendekati level harga tertinggi dalam sembilan tahun. Reli harga ditopang oleh lonjakan permintaan dan prospek kenaikan inflasi seiring dengan pemulihan ekonomi.

Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa (20/4/2021), harga tembaga pada London Metal Exchange (LME) sempat hingga ke level US$9.436 per ton sebelum kembali ke level US$9.376 atau naik 1,79 persen.

Adapun, pada akhir Februari lalu, harga tembaga mencetak rekor tertinggi dalam sembilan tahun setelah menyentuh US$9.617 per ton. Lonjakan tersebut didorong oleh potensi permintaan dari industri energi terbarukan dan kendaraan listrik.

Pada Maret lalu, harga tembaga mengakhiri rekor kenaikan yang telah berjalan selama 11 bulan beruntun. Komoditas yang dijadikan kompas perekonomian global tersebut terkoreksi seiring dengan musim permintaan yang rendah serta kenaikan imbal hasil obligasi AS.

Senior Commodities Strategist ING Bank NV, Wenyu Yao dalam laporannya menjelaskan, konsolidasi harga yang terjadi sepanjang Maret lalu kini telah berbalik menjadi pergerakan bullish. Menurutnya, kondisi inflasi saat ini dan suku bunga riil yang negatif menjadi katalis positif untuk harga komoditas.

“Lonjakan harga tembaga saat ini terjadi berkat kondisi fundamental komoditas tersebut yang mendukung,” jelasnya dikutip dari Bloomberg.

Sementara itu, harga nikel anjlok hingga 2,2 persen ke level US$16.010 per metrik ton seiring dengan sikap investor yang mempertimbangkan potensi penambahan pasokan dari Filipina.

Salah satu katalis negatif untuk pergerakan harga nikel adalah penghapusan moratorium untuk kontrak pertambangan nikel baru. Kebijakan ini disahkan oleh Presiden Filipina, Rodrigo Duterte guna menambah pemasukan negara.

Kebijakan moratorium tersebut diberlakukan oleh pendahulu Duterte, Benigno Aquino pada 2012 lalu. Kini, pemerintah Filipina dapat memberikan izin untuk kontraktor-kontraktor yang tertarik untuk melakukan penambangan nikel di negara tersebut.

Filipina merupakan salah satu negara eksportir bijih nikel utama untuk China. Hal ini terjadi ditengah terbatasnya pasokan akibat terhentinya kegiatan pada sejumlah tambang nikel karena pembatasan terkait dampak lingkungan.

Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “Harga Tembaga Kembali Melaju Dekati US$9.500“.

Read More

Harga Nikel di Shanghai dan London Melemah

NIKEL.CO.ID – Logam dasar Shanghai ditetapkan beragam pada sesi awal perdagangan Selasa (20/04/2021) pagi.

China pada Selasa (20/04/2021)  telah menetapkan untuk mempertahankan suku bunga utama pinjaman satu tahun (LPR) tidak berubah di 3,85% dan LPR lima tahun di 4,65%.

Logam dasar Shanghai turun sebagian besar dalam perdagangan semalam. Tembaga menumpahkan 0,79%, seng melemah 0,64%, nikel turun 0,8% dan timah turun 1,29%, sedangkan aluminium bertambah 0,42% dan timbal naik 1,06%.

Kompleks LME ditutup beragam pada hari Senin (19/04/2021) . Tembaga naik 1,52%, timbal naik 1,08% dan timah bertambah 0,11%, aluminium luruh 0,39%, seng turun 0,16% dan nikel turun 0,37%.

Tembaga: Tembaga LME tiga bulan naik 1,52% menjadi ditutup pada $ 9,322 / mt pada hari Senin, Sementara kontrak tembaga SHFE 2106 yang paling banyak diperdagangkan berakhir 0,79% lebih rendah pada 69.110 yuan / mt dalam perdagangan semalam. Dolar merosot ke level terendah enam minggu terhadap mata uang utama pada hari Senin, dengan imbal hasil Treasury mendekati level terendah dalam lima minggu, setelah Federal Reserve AS menegaskan kembali pandangannya bahwa setiap lonjakan inflasi kemungkinan bersifat sementara. Tembaga LME diperkirakan diperdagangkan antara $ 9.320-9.400 / mt hari ini, dan tembaga SHFE antara 69.000-69.500 yuan / mt, sementara tembaga spot akan diperdagangkan antara diskon 160-60 yuan / mt.

Aluminium: Aluminium LME tiga bulan turun 0,39% menjadi $ 2,330 / mt pada hari Senin. Aluminium LME kemungkinan akan bergerak antara $ 2.300-2.350 / mt hari ini.

Kontrak aluminium SHFE 06 paling aktif ditutup 0,42% lebih kuat pada 18.140 yuan / mt dalam perdagangan semalam, dan kemungkinan akan diperdagangkan antara 17.900-18.200 yuan / mt hari ini.

Seng: Seng LME tiga bulan melemah 0,16% berakhir pada $ 2.853,5 / mt pada hari Senin, dengan bunga terbuka kehilangan 433 lot menjadi 250.000 lot. Stok seng di gudang yang terdaftar di LME menyusut 775 mt atau 0,26% menjadi 294.025 mt. Seng LME diperkirakan akan berfluktuasi antara $ 2.840-2.890 / mt hari ini.

Kontrak seng SHFE 2106 yang paling likuid turun 0,64% menjadi 21.740 yuan / mt dalam perdagangan semalam, dengan open interest menambahkan 2.633 lot menjadi 62.507 lot. Kontrak bulan Juni kemungkinan akan bergerak antara 21.500-22.000 yuan / mt hari ini, sementara diskon spot untuk domestik 0 # Shuangyan akan terlihat pada 20-30 yuan / mt terhadap kontrak Mei.

Nikel: Nikel LME tiga bulan tergelincir 0,37% menjadi berakhir pada $ 16.120 / mt pada hari Senin, dengan open interest kehilangan 318 lot menjadi 219.000 lot.

Kontrak nikel SHFE 2106 yang paling banyak diperdagangkan turun 0,8% menjadi ditutup pada 120.990 yuan / mt dalam perdagangan semalam, dengan open interest naik 3.993 lot menjadi 171.000 lot.

Timbal: Timbal LME tiga bulan naik 1,08% menjadi $ 2.058 / mt pada hari Senin , mencatatkan kenaikan enam hari berturut-turut, dan apakah kontrak dapat stabil di atas rata-rata pergerakan 60 hari hari ini akan dipantau.

Kontrak utama SHFE 2105 yang paling likuid naik 1,06% menjadi ditutup pada 15.225 yuan / mt dalam perdagangan semalam. Pemeliharaan di seluruh pabrik peleburan timbal primer dan inspeksi lingkungan pada peleburan timbal sekunder akan memberikan dukungan kepada timbal SHFE. Apakah kontrak bisa stabil di atas angka 15.200 akan diawasi.

Timah: Timah LME tiga bulan bertambah 0,11% menjadi $ 26.600 / mt pada hari Senin, dengan open interest kehilangan 73 lot menjadi 12.502 lot. Timah LME diperkirakan akan bergerak antara $ 26.000-27.000 / mt hari ini.

Kontrak timah SHFE 2106 yang paling aktif ditutup melemah 1,29% menjadi 182.820 yuan / mt dalam perdagangan semalam, dengan open interest menambahkan 305 lot menjadi 35.170 lot. Diperkirakan akan berfluktuasi antara 180.000-188.000 yuan / mt hari ini.

Sumber: SMM News

Read More

Dibayangi Potensi Penambahan Pasokan, Harga Nikel Terus Terkoreksi

Peluang kenaikan harga komoditas ini masih cukup terbuka sepanjang tahun meskipun dibayangi sejumlah sentimen negatif yang dapat memicu koreksi signifikan

NIKEL.CO.ID – Harga nikel terkoreksi ke level terendahnya dalam lebih dari dua pekan menyusul sikap investor yang mempertimbangkan potensi penambahan pasokan dari Filipina.

Peluang kenaikan harga komoditas ini masih cukup terbuka sepanjang tahun meskipun dibayangi sejumlah sentimen negatif yang dapat memicu koreksi signifikan.

Dilansir dari Bloomberg pada Senin (19/4/2021) harga nikel pada bursa Shanghai, China sempat terkoreksi hingga 2,2 persen ke US$16.010 per metrik ton. Catatan tersebut merupakan posisi terendah nikel sejak 1 April lalu.

Sementara itu, harga nikel pada London Metal Exchange (LME) terpantau turun tipis 0,01 persen ke level US$16.363 per metrik ton. Secara year to date (ytd), harga komoditas ini telah terkoreksi sebesar 1,50 persen.

Salah satu katalis negatif untuk pergerakan harga nikel adalah penghapusan moratorium untuk kontrak pertambangan nikel baru. Kebijakan ini disahkan oleh Presiden Filipina, Rodrigo Duterte guna menambah pemasukan negara.

Kebijakan moratorium tersebut diberlakukan oleh pendahulu Duterte, Benigno Aquino pada 2021 lalu. Kini, pemerintah Filipina dapat memberikan izin untuk kontraktor-kontraktor yang tertarik untuk melakukan penambangan nikel di negara tersebut.

Filipina merupakan salah satu negara eksportir bijih nikel utama untuk China. Hal ini terjadi ditengah terbatasnya pasokan akibat terhentinya kegiatan pada sejumlah tambang nikel karena pembatasan terkait dampak lingkungan.

Di sisi lain, Analis Antaike Information Development Co. Ltd., Chen Ruirui menyebutkan diangkatnya moratorium di Filipina tidak akan mempengaruhi pasokan nikel dunia secara signifikan. Menurutnya, potensi pertumbuhan produksi untuk tambang yang sudah atau ataupun yang baru cenderung terbatas.

“Nikel dari Filipina juga kurang menarik dibandingkan nikel produksi Indonesia, yang memiliki kualitas lebih baik dan rantai industri yang lebih optimal,” jelasnya dikutip dari Bloomberg.

Founder Traderindo.com Wahyu Laksono mengatakan, koreksi harga yang tengah dialami menjadikan nikel sebagai salah satu komoditas dengan kinerja paling lemah sejauh ini. Menurutnya, salah satu sentimen utama yang mempengaruhi harga nikel saat ini adalah kekhawatiran China terhadap lonjakan harga komoditas.

Sebelumnya, Perdana Menteri China, Li Keqiang menekankan pentingnya perbaikan regulasi pada pasar bahan mentah. Hal ini dilakukan guna menekan biaya yang ditanggung perusahaan ditengah reli harga komoditas.

Wakil Perdana Menteri China Liu He yang mengepalai Komisi Pengembangan dan Stabilitas Finansial mengatakan hal serupa beberapa waktu lalu. Liu He mengingatkan pentingnya menjaga level harga setelah producer price inflation naik 4 persen, atau laju inflasi tercepat dalam hampir tiga tahun terakhir.

“Selain itu, kabar dari Filipina terkait moratorium nikel juga dapat memicu penambahan pasokan. Hal ini akan memperberat pergerakan harga,” katanya saat dihubungi, Senin (19/4/2021).

Ia menjelaskan, sejumlah sentimen seperti reflationary trade, isu vaksin virus corona, dan stimulus dari pemerintah AS telah diperhitungkan (priced-in) oleh pasar. Harga nikel yang sebelumnya menguat didorong oleh berbagai ekspektasi yang telah berlangsung sejak kuartal II/2020 lalu.

“Saat ini, pergerakan harga nikel sedang berada pada fase tarik-menarik antar sentimen. Pada satu sisi, penguatan dolar AS yang didukung oleh prospek pemulihan ekonomi serta kekhawatiran terkait naiknya inflasi. Di sisi lain, pemulihan ekonomi global akan memicu pemulihan permintaan nikel,” jelasnya.

Wahyu menuturkan, peluang penguatan harga nikel sepanjang 2021 masih cukup terbuka. Meski demikian, level harga nikel yang terbilang tinggi dan sentimen pasar yang didera kecemasan inflasi berpotensi memicu koreksi yang cukup dalam.

Sepanjang semester I/2021, Wahyu memprediksi harga nikel berada di level US$14.000 hingga US$18.000 per ton. Sementara, untuk tahun 2021, rentang harga komoditas ini berada di US$13.000 hingga US$21.000 per ton.

Sementara itu, laporan dari BMO mengatakan, komentar Liu He dan Li Keqiang merupakan indikasi kekhawatiran kenaikan inflasi telah menjadi perhatian pemerintah China. Hal tersebut terutama setelah kenaikan terjadi pada konsumen di sisi hilir.

Laporan tersebut menjelaskan, pemerintah China kemungkinan akan meningkatkan kemampuan swasembada logam-logam dasar. Pengembangan ini juga mencakup akuisisi nikel dari luar negeri pada harga yang lebih rendah.

“Pemerintah China kemungkinan tidak akan melepas cadangan logamnya secara signifikan. Namun, sentimen ini diprediksi tetap bergaung untuk mengirimkan sinyal ke pasar,” demikian kutipan laporan tersebut.

Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “Dibayangi Potensi Penambahan Pasokan, Harga Nikel Terus Terkoreksi“.

Read More

Pacu Pertumbuhan Ekonomi, Filipina Cabut Moratorium Pertambangan

Presiden Filipina Rodrigo Duterte pada Rabu (13/4/2021) menandatangani EO 130, yang menyatakan bahwa moratorium perjanjian mineral di bawah perintah Aquino “dengan ini dicabut.”

NIKEL.CO.ID – Presiden Rodrigo Duterte telah mencabut moratorium hampir 9 tahun pada perjanjian pertambangan baru, yang menurutnya dapat mendukung pertumbuhan ekonomi dan penggerak infrastruktur multimiliar peso pemerintah.

Pendahulu Duterte yakni Benigno Aquino III pada 2012 mengeluarkan Perintah Eksekutif (Executive Order/EO) 79 yang menangguhkan aplikasi kontrak mineral di kawasan lindung, lahan pertanian utama, kawasan pengembangan pariwisata, dan tempat-tempat penting lainnya seperti ekosistem pulau.

Duterte pada Rabu (13/4/2021) menandatangani EO 130, yang menyatakan bahwa moratorium perjanjian mineral di bawah perintah Aquino “dengan ini dicabut.”

“Pemerintah dapat mengadakan perjanjian mineral baru, tunduk pada kepatuhan terhadap Undang-Undang Pertambangan Filipina tahun 1995 dan hukum, aturan, dan regulasi lain yang berlaku,” seperti tertera pada EO Duterte seperti dikutip dari news.abs-cbn.com, Kamis (15/4/2021).

“Kementerian Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam [Department of Environment and Natural Resources/DENR] dapat terus memberikan dan menerbitkan Izin Eksplorasi,” tambah Presiden.

Dia mengarahkan badan tersebut untuk “merumuskan syarat dan ketentuan dalam perjanjian mineral baru yang akan memaksimalkan pendapatan pemerintah dan bagian dari produksi, termasuk kemungkinan mendeklarasikan daerah ini sebagai cadangan mineral untuk mendapatkan royalti yang sesuai.”

“DENR juga akan melakukan peninjauan kontrak pertambangan yang ada dan kesepakatan untuk kemungkinan negosiasi ulang,” katanya.

Negara itu telah memanfaatkan “kurang dari 5 persen dari sumber daya mineralnya sampai saat ini,” kata Duterte. Duterte mengatakan bahwa undang-undang reformasi perpajakan yang dia tandatangani pada 2017 melipatgandakan pajak atas mineral, produksi mineral, dan sumber daya penggalian menjadi 4 persen dari 2 persen.

“Selain mendatangkan manfaat ekonomi yang signifikan dalam negeri, industri pertambangan dapat mendukung berbagai proyek pemerintah, seperti program Bangun, Bangun, Bangun, dengan menyediakan bahan baku … dan Program Balik Probinsya, Bagong Pag-asa dengan meningkatkan peluang kerja di pedesaan yang ada peluang pertambangan, “kata Presiden.

Pada 2018, Duterte mencabut moratorium 2 tahun untuk menyetujui izin eksplorasi pertambangan untuk membantu menentukan potensi beberapa prospek di Filipina, eksportir bijih nikel nomor 2 dunia.

Penambangan tetap menjadi masalah kontroversial di negara ini karena contoh kesalahan pengelolaan lingkungan pada masa lalu, dan hanya 3 persen dari 9 juta hektare yang diidentifikasi oleh negara sebagai lahan memiliki cadangan mineral yang tinggi yang ditambang.

Filipina adalah pemasok bijih nikel terbesar kedua ke China, setelah Indonesia, yang digunakan China untuk memproduksi baja tahan karat.

Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “Pacu Pertumbuhan Ekonomi, Filipina Cabut Moratorium Pertambangan“.

Read More

China Kendalikan Inflasi Komoditas, Harga Nikel Terkoreksi

Salah satu penyebab penurunan harga nikel adalah rencana China untuk menekan inflasi komoditas. Perdana Menteri China, Li Keqiang menekankan pentingnya perbaikan regulasi pada pasar bahan mentah.

NIKEL.CO.ID – Harga nikel kembali melemah menyusul prospek penambahan pasokan dan upaya China untuk menekan inflasi komoditas.

Dilansir dari Bloomberg pada Selasa (13/4/2021) harga nikel sempat terkoreksi hingga 3,1 persen ke posisi US$16.087 per ton pada London Metal Exchange (LME). Dalam lima hari perdagangan terakhir, harga komoditas ini masih terkoreksi sebesar 0,49 persen.

Sementara itu, harga nikel kontrak bulan Juni 2021 di bursa Shanghai terkoreksi 3,6 persen pada level US$18.658 per ton. Koreksi harga ini terjadi setelah nikel sempat mendekati kisaran US$20.000 per ton di akhir Februari lalu.

Salah satu penyebab penurunan harga nikel adalah rencana China untuk menekan inflasi komoditas. Perdana Menteri China, Li Keqiang menekankan pentingnya perbaikan regulasi pada pasar bahan mentah. Hal ini dilakukan guna menekan biaya yang ditanggung perusahaan ditengah reli harga komoditas.

Broker Komoditas Anna Stablum menjelaskan, komentar dari Li Keqiang memunculkan tekanan tambahan bagi harga nikel. Komentar tersebut merupakan ungkapan terkait pengendalian biaya dari pemerintah China yang kedua.

Wakil Perdana Menteri China Liu He yang mengepalai Komisi Pengembangan dan Stabilitas Finansial mengatakan hal serupa pada pekan lalu. Liu He mengingatkan pentingnya menjaga level harga setelah producer price inflation naik 4 persen, atau laju inflasi tercepat dalam hampir tiga tahun terakhir.

Sementara itu, laporan dari BMO mengatakan, komentar Liu He merupakan indikasi kekhawatiran kenaikan inflasi telah menjadi perhatian pemerintah China. Hal tersebut terutama setelah kenaikan terjadi pada konsumen di sisi hilir.

Laporan tersebut menjelaskan, pemerintah China kemungkinan akan meningkatkan kemampuan swasembada logam-logam dasar. Pengembangan ini juga mncakup akuisisi nikel dari luar negeri pada harga yang lebih rendah.

“Pemerintah China kemungkinan tidak akan melepas cadangan logamnya secara signifikan. Namun, sentimen ini diprediksi tetap bergaung untuk mengirimkan sinyal ke pasar,” demikian kutipan laporan tersebut.

Sentimen lain yang menekan harga nikel adalah prospek pemulihan produksi dari MMC Norilsk Nickel PJSC atau Nornickel. Perusahaan asal Rusia tersebut melaporkan kegiatan produksi di tambang Oktyabrsky telah berjalan normal setelah sempat terhambat akibat banjir.

Manajemen Nornickel menjelaskan, jumlah output tambang Oktyabrsky akan pulih ke level normal pada bulan April 2021. Sementara itu, tambang lain yang terdampak masalah banjir, Taimyrsky, akan beroperasi penuh pada Juni mendatang.

“Kapasitas tambang d Oktyabrsky saat ini sudah mencapai 60 persen dari target,” demikian pernyataan manajemen Nornickel dikutip dari Bloomberg.

Pada tahun lalu, Nornickel juga menghadapi masalah pada tambangnya. Nornickel yang merupakan penghasil palladium dan nikel terbesar di dunia harus membayar kompensasi US$2 miliar akibat tumpahan diesel pada salah satu tangki bahan bakarnya di wilayah Arktik.

Bulan lalu, tiga orang pekerja terbunuh akibat atap dari salah satu fasilitas pemrosesan milik perusahaan runtuh saat sedang diperbaiki.

Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “China Kendalikan Inflasi Komoditas, Harga Nikel Terkoreksi“.

Read More

Stimulus Infrastruktur AS Dapat Jadi Katalis Positif Untuk Nikel

Dilansir dari Bloomberg pada Selasa (13/4/2021) harga nikel sempat terkoreksi hingga 3,1 persen ke posisi US$16.087 per ton pada London Metal Exchange (LME). Dalam lima hari perdagangan terakhir, harga komoditas ini masih terkoreksi sebesar 0,49 persen.

NIKEL.CO.ID – Harga nikel diyakini dapat kembali menguat seiring dengan prospek tambahan stimulus dari Amerika Serikat.

Dilansir dari Bloomberg pada Selasa (13/4/2021) harga nikel sempat terkoreksi hingga 3,1 persen ke posisi US$16.087 per ton pada London Metal Exchange (LME). Dalam lima hari perdagangan terakhir, harga komoditas ini masih terkoreksi sebesar 0,49 persen.

Sementara itu, harga nikel kontrak bulan Juni 2021 di bursa Shanghai terkoreksi 3,6 persen pada level US$18.658 per ton. Koreksi harga ini terjadi setelah nikel sempat mendekati kisaran US$20.000 per ton di akhir Februari lalu.

Terkait hal tersebut, Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, melemahnya harga nikel dipicu oleh tren positif yang dinikmati dolar AS seiring dengan laju pemulihan ekonomi Negeri Paman Sam yang berada diatas ekspektasi.

Selain itu, penguatan imbal hasil US Treasury juga ikut menekan pergerakan harga komoditas, termasuk nikel. Hal ini membuat daya tarik komoditas sebagai lawan dari mata uang dolar AS menurun di mata para investor.

“Sentimen perbaikan ekonomi AS pasca stimulus sebesar US$1,9 triliun dimanfaatkan oleh pelaku pasar untuk melakukan profit taking,” jelasnya saat dihubungi pada Selasa (13/4/2021).

Ibrahim memaparkan, tren koreksi yang terjadi pada nikel saat ini terbilang wajar. Dia menjelaskan, level harga nikel saat ini dinilai sudah terlalu tinggi, sehingga koreksi harga akan terjadi agar pasar dapat mengambil posisi beli pada harga yang lebih rendah.

Menurut Ibrahim, harga nikel masih akan mengalami pelemahan selama beberapa pekan ke depan. Harga nikel berpotensi menyentuh level US$15.600 per ton dengan level tertinggi pada kisaran US$17.000 per ton.

Kendati tengah menurun, Ibrahim meyakini peluang penguatan harga nikel kedepannya masih terbuka. Hal ini seiring dengan rencana paket stimulus sektor infrastruktur yang tengah dibahas di AS.

Adapun, perdebatan terkait stimulus Biden ini telah berlangsung antara Partai Demokrat dan Partai Republik. Partai Republik menolak rencana kenaikan pajak korporasi yang tercantum pada stimulus tersebut.

Sementara itu, Biden bersedia memangkas jumlah stimulus yang saat ini diperkirakan bernilai US$2,25 triliun. Paket stimulus tersebut mencakup sejumlah rencana, mulai dari pembangunan infrastruktur, investasi pada energi terbarukan, hingga pajak korporasi.

“Apabila stimulus infrastruktur ini berhasil direalisasi, harga nikel berpotensi kembali menguat. Saat ini pasar nikel memang belum memiliki sentimen positif yang signifikan,” jelasnya.

Faktor pendukung prospek harga nikel lainnya adalah kenaikan permintaan baterai dan baja tahan karat yang berbahan dasar nikel. Permintaan ini seiring dengan pengembangan mobil listrik dari sejumlah negara di dunia.

Ibrahim memprediksi, harga nikel akan bergerak di kisaran US$13.000 hingga US$19.000 per ton hingga paruh pertama tahun 2021.

Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “Stimulus Infrastruktur AS Dapat Jadi Katalis Positif Untuk Nikel“.

Read More

Harga Nikel Di Shanghai dan LME Kompak Turun

NIKEL.CO.ID – Logam dasar Shanghai sebagian besar melemah pada Selasa (13/04/2021) pagi, dan rekan-rekan LME mereka juga mengalami penurunan yang luas.

Ke depan, data perdagangan China untuk bulan Maret diperkirakan akan keluar sekitar pukul 11 ​​pagi HK / SIN.

Logam dasar Shanghai semuanya ditutup lebih rendah dalam perdagangan semalam. Gudang tembaga 0,23%, aluminium turun 0,17%, seng turun 2,12%, nikel turun 2,02%, timbal melemah 0,44% dan timah turun 0,8%.

Kompleks LME, kecuali timbal, bergerak lebih rendah pada hari Senin (12/04/2021). Tembaga turun 0,64%, aluminium turun tipis 0,09%, seng dan nikel turun 2,7% dan timah turun 0,33%, sementara timbal naik 0,41%.

Tembaga: Tembaga LME tiga bulan turun 0,64% menjadi ditutup pada $ 8,872 / mt pada hari Senin, sementara kontrak tembaga SHFE 2105 yang paling banyak diperdagangkan melemah 0,23% menjadi berakhir pada 65.910 yuan / mt dalam perdagangan semalam. Tembaga LME diperkirakan diperdagangkan antara $ 8.810-8.890 / mt hari ini, dan tembaga SHFE antara 65.500-66.000 yuan / mt, sementara premi spot akan terlihat pada 30-1010 yuan / mt.

Aluminium: Aluminium LME tiga bulan turun tipis 0,09% menjadi $ 2.267 / mt pada hari Senin dan diperkirakan akan bergerak antara $ 2.250-2.280 / mt hari ini.

Kontrak aluminium SHFE 2105 yang paling aktif melemah 0,17% menjadi ditutup pada 17.385 yuan / mt dalam perdagangan semalam, dengan open interest naik 1.819 lot menjadi 180.000 lot, dan kemungkinan akan berfluktuasi antara 17.300-17.500 yuan / mt hari ini.

Seng: Seng LME tiga bulan turun 2,7% menjadi $ 2.759,5 / mt, dengan bunga terbuka menambahkan 8.236 lot menjadi 243.000 lot. Stok seng di gudang yang terdaftar di LME melonjak 14.275 mt atau 5,33% menjadi 281.925 mt. Rencana stimulus $ 1,9 triliun menyebabkan lonjakan defisit anggaran federal AS sebesar 454% tahun-ke-tahun di bulan Maret. Investor khawatir rencana infrastruktur baru Biden dapat memicu inflasi tinggi. Seng LME kemungkinan akan bergerak antara $ 2.750-2.800 / mt hari ini.

Kontrak seng SHFE 2105 yang paling likuid ditutup 2,12% lebih rendah pada 21.285 / mt dalam perdagangan semalam, membukukan penurunan beruntun hari pohon, dengan bunga terbuka naik 2.591 lot menjadi 71.406 lot. Kontrak Mei kemungkinan akan bergerak antara 21.200-21.700 yuan / mt hari ini, sementara diskon spot untuk domestik 0 # Shuangyan akan terlihat pada 10 yuan / mt terhadap kontrak.

Nikel: Kontrak nikel SHFE 2106 yang paling banyak diperdagangkan turun 2,02% menjadi ditutup pada 121.980 yuan / mt dalam perdagangan semalam, dengan open interest menambahkan 785 lot menjadi 159.000 lot.

Timbal: Timbal LME tiga bulan bertambah 0,41% menjadi berakhir pada $ 1.980 / mt pada hari Senin.

Kontrak utama SHFE 2105 yang paling aktif turun 0,44% menjadi menetap di 14.735 yuan / mt dalam perdagangan semalam.

Timah: Timah LME tiga bulan ditutup 0,33% lebih rendah pada $ 25.620 / mt pada hari Senin. Investor khawatir China, konsumen logam besar, akan mengekang harga komoditas untuk mencegah potensi inflasi, dan ini, ditambah dengan kekhawatiran melemahnya permintaan dan meningkatnya persediaan, membebani harga timah. Timah LME diperkirakan akan bergerak antara $ 25.000-26.000 / mt hari ini.

Kontrak timah SHFE 2106 yang paling likuid ditutup 0,8% lebih rendah pada 177.470 yuan / mt dalam perdagangan semalam, dengan open interest menambahkan 393 lot menjadi 31.723 lot. Kemungkinan akan berfluktuasi antara 177.000-181.000 yuan / mt hari ini.

Sumber: SMM News

Read More

Berjatuhan Dari Level Tertinggi, Begini Pergerakan Harga Nikel, Timah, dan Tembaga

NIKEL.CO.ID – Harga komoditas logam industri seperti timah, tembaga, dan nikel naik signifikan di kuartal pertama 2021. Harga nikel mencapai level tertinggi sejak September 2014 pada Februari lalu. Tapi, harga mulai menurun. Penurunan harga nikel terlihat paling tajam di antara logam industri lainnya.

Menjelang akhir Februari 2021, harga nikel kontrak tiga bulan di London Metal Exchange (LME) mencapai US$ 19.709 per metrik ton. Akhir pekan lalu, harga nikel sudah turun ke US$ 16.628 per metrik ton.

Harga timah kontrak tiga bulan di LME pun mencapai level US$ 26.840 per metrik ton pada Februari lalu. Ini adalah level tertinggi harga timah sejak Agustus 2011. Pada akhir pekan lalu, harga timah sudah turun ke US$ 25.755 per metrik ton.

Harga tembaga kontrak tiga bulan di LME juga bergerak serupa dengan angka tertinggi tahun ini US$ 9.412 pada 25 Februari lalu. Ini adalah harga tertinggi tembaga sejak Agustus 2011. Pada akhir pekan lalu, harga tembaga sudah turun ke US$ 8.926 per metrik ton.

Menurut Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuabi, pergerakan harga komoditas industri timah, tembaga, dan nikel mencapai level puncak di kuartal pertama, yang disebabkan oleh sentimen mobil listrik.

Harga nikel melejit karena sentimen larangan ekspor dan Uni Eropa (UE) yang melakukan perlawanan melalui WTO. Hal ini menyebabkan harga nikel kembali terbang. “Ketiganya adalah bahan dasar untuk pembuatan mobil listrik,” kata Ibrahim.

Founder Traderindo.com Wahyu Laksono mengatakan bahwa apa yang terjadi saat ini merupakan buah dari banyak faktor yang berbulan-bulan sebelumnya, seperti tren pergerakan komoditas utama, reflationary trade, dan isu pilpres di AS. Sehingga harga yang terjadi saat ini merupakan harga yang sudah diantisipasi pasar karena kenaikan di berbagai aset didorong oleh ekspektasi yang sudah berlangsung.

Ibrahim menambahkan bahwa kemungkinan besar pada saat perekonomian kembali membaik, harga pun kembali normal. Dia menilai kondisi harga saham ini sudah terlalu tinggi. Untuk kuartal kedua, ekonomi AS diperkirakan akan lebih baik, pertumbuhan ekonomi lebih cepat sehingga menurut Ibrahim hal tersebut akan menyebabkan harga komoditas berguguran.

“Berguguran karena menguatnya indeks dolar, sehingga harga komoditas seperti timah nikel dan tembaga akan kembali di harga yang sebelumnya,” kata Ibrahim.

Menurut Wahyu kondisi saat ini masih belum tentu terjadi supercycle, karena yang terjadi adalah tsunami cash Fundamental untuk pertumbuhan masih kurang meyakinkan sehingga akan terancam krisis baru.

“Jadi komoditas tidak secara kompak mengalami kenaikan atau penurunan,” kata dia.

Wahyu memperkirakan harga tembaga akan berada di kisaran US$ 8.000 per metrik ton-US$ 9.700 per metrik ton. Harga timah berada di kisaran US$ 23.000 per metrik ton-US$ 28.000 per metrik ton. Sedangkan harga nikel berada di kisaran US$ 14.000 per metrik ton-US$ 18.000 per metrik ton.

Sumber: KONTAN

Read More