Beranda Berita International ICM Forum 2026: Indonesia Membawa Mineral Kritis ke Panggung Dunia

ICM Forum 2026: Indonesia Membawa Mineral Kritis ke Panggung Dunia

113
0
The Royal Horseguards Hotel, tempat akan berlangsungnya Indonesia Critical Minerals (ICM) Forum 2026, 21 Oktober 2026 (Foto: Istimewa)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — The Royal Horseguards Hotel, sebuah hotel bersejarah di pusat London, tidak jauh dari Sungai Thames, sengaja dipilih menjadi salah satu titik penting bagi Indonesia untuk memperkuat posisi dalam peta industri mineral kritis global.

Ya, di hotel modern yang menjadi bagian dari kompleks bersejarah Whitehall Court ini pada Rabu, 21 Oktober 2026, akan berkumpul pemerintah, pelaku pertambangan, investor, lembaga keuangan, hingga analis komoditas dalam Indonesia Critical Minerals (ICM) Forum 2026. Mereka akan membahas peluang, tantangan, dan masa depan mineral kritis Indonesia di pasar internasional.

Sekretaris Umum Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Meidy Katrin Lengkey, mengungkapkan, Indonesia kini tidak lagi hanya berbicara mengenai cadangan dan produksi mineral.

(Desain: Aldi J. Gitung)

“Tetapi, ke tahap selanjutnya, membuka peluang menjadi bagian penting dari strategi ekonomi dan geopolitik global dan memperluas peran dari pemasok bahan mentah menjadi bagian penting dalam rantai pasok mineral dunia,” kata Meidy, kepada redaksi di Jakarta, Rabu (7/10/2026).

Momentum itu akan menjadi bahasan hangat dalam ICM Forum 2026 yang diselenggarakan oleh Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Indonesia Mining Association (IMA), London Metal Exchange (LME), Indonesia Investment Promotion Centre (IIPC) London, dan Equatorise.

Sejumlah pejabat pemerintah dan tokoh industri dijadwalkan tampil sebagai pembicara. Dari unsur pemerintah hadir Todotua Pasaribu (Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM), Dr. Desra Percaya, (Duta Besar RI untuk Inggris, Irlandia, dan IMO), Sherly Tjoanda (Gubernur Maluku Utara), Tri Winarno (Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral), serta Sarjito, Chief Executive Bursa Komoditas Mineral Strategis (BMKS).

Dari unsur industri dan penyelenggara, hadir Ketua Umum APNI Komjen Pol. (Purn.) Drs. Nanan Soekarna dan Sekretaris Umum APNI, Meidy Katrin Lengkey. Mereka akan berdampingan dengan Matthew Chamberlain (CEO LME), Luke Mahony (CEO Danantara Sumberdaya Indonesia/DSI); Aryo Djojohadikusumo (Presiden Direktur PT Arsari Tambang sekaligus Wakil Ketua Umum Bidang ESDM Kadin Indonesia), Rachmat Makkasau (CEO Amman Mineral sekaligus Ketua IMA), serta Tony Wenas, (CEO Freeport Indonesia dan Wakil Ketua Kadin Indonesia Bidang Industri Hilir).

Keterlibatan berbagai institusi menunjukkan bahwa pembahasan mineral kritis tidak lagi terbatas pada aktivitas pertambangan. Isu ini telah berkembang menjadi bagian dari pembicaraan mengenai investasi, industri hilir, perdagangan internasional, pembiayaan, teknologi, dan keamanan rantai pasok.

Perspektif internasional juga akan mengemuka dalam forum tersebut. Sejumlah pembicara berasal dari lembaga dan perusahaan yang memiliki keterkaitan langsung dengan pasar mineral global, antara lain Fikri Susanto (Kadin Indonesia Komite Bilateral UK dan Irlandia). Steven Marcelino (Vice Chair Kadin Indonesia Bilateral Committee for the UK & Ireland sekaligus Managing Partner dan CEO Equatorise), dan serta Ovan Tito (Head of Mineral Resources Kadin Indonesia Bilateral Committee for the UK & Ireland).

Dari sektor perdagangan dan analisis pasar, dijadwalkan hadir Rory Townsend (Head of Battery Metals Analyst Trafigura), Siti Tiefryani Fahlyah (Director of IIPC London), Jim Lennon (Managing Director Macquarie Group), Kamila Slupek (Secretary General International Nickel Study Group/INSG); Benjamin Katz (analis Responsible Mineral Supply Chains Organisation for Economic Co-operation and Development/OECD), Noah Law M.P. (Co-Chair All-Party Parliamentary Group/APPG); serta Rushanara Ali M.P. (Co-Chair APPG Indonesia).

Kehadiran para tokoh tersebut mencerminkan luasnya kepentingan yang melekat pada mineral kritis. Bagi Indonesia, forum di London menjadi kesempatan untuk memperkenalkan potensi sumber daya mineral sekaligus menjelaskan arah kebijakan pengembangan industri kepada komunitas bisnis dan investor internasional.

Lebih jauh, ICM Forum 2026 diharapkan menjadi ruang untuk memperkuat jejaring dan membuka peluang kerja sama baru. Dialog antara pemerintah, industri, investor, lembaga keuangan, dan pelaku pasar dapat menjadi fondasi untuk membangun rantai pasok mineral yang lebih terintegrasi dan kompetitif.

Tantangannya adalah memastikan kekayaan mineral tersebut menghasilkan nilai tambah yang lebih besar bagi Indonesia. Hilirisasi, investasi, keberlanjutan, tata kelola, serta penguatan industri dari hulu hingga hilir menjadi faktor penting agar Indonesia tidak berhenti sebagai pemasok bahan baku.

Dari London, Indonesia membawa pesan bahwa mineral kritis bukan sekadar komoditas tambang. Mineral tersebut merupakan bagian dari rantai industri masa depan. Karena itu, perebutan posisi dalam rantai pasok global akan ditentukan bukan hanya oleh besarnya cadangan, tetapi juga oleh kemampuan membangun industri, menarik investasi, menjaga keberlanjutan, dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri. (Rdj/Ist)