

Industri pengolahan kini tidak hanya menjadi penyumbang terbesar ekspor, tetapi juga menjadi motor pertumbuhan perdagangan luar negeri Indonesia.
NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Kinerja ekspor nikel dan barang dari nikel Indonesia mencatatkan pertumbuhan signifikan sepanjang Januari–Agustus 2026. Komoditas dengan kode HS 75 tersebut tumbuh 50,12% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (cumulative-to-cumulative/CtC).
Kenaikan ekspor nikel menjadi salah satu indikator kuat semakin berkembangnya industri pengolahan mineral di dalam negeri. Pertumbuhan tersebut juga terjadi di tengah kinerja ekspor industri pengolahan yang menjadi penopang utama ekspor nasional.
Kementerian Perdagangan mencatat, total ekspor Indonesia sepanjang Januari–Agustus 2026 mencapai US$193,64 miliar, tumbuh 4,74% dibandingkan periode yang sama pada 2025. Dari jumlah tersebut, ekspor nonmigas mencapai US$185,63 miliar, meningkat 5,48% secara tahunan. Sementara ekspor migas tercatat US$8,01 miliar atau mengalami kontraksi 9,98%.

Secara sektoral, industri pengolahan menjadi motor utama pertumbuhan ekspor nasional. Nilai ekspor sektor ini mencapai US$159,55 miliar, dengan kontribusi sekitar 82,40% terhadap total ekspor Indonesia.
Ekspor industri pengolahan juga tumbuh 7,87% sepanjang Januari–Agustus 2026. Selain nikel dan barang daripadanya yang meningkat 50,12%, ekspor aluminium dan barang daripadanya (HS 76) melonjak 102,25%, sedangkan tembaga dan barang daripadanya (HS 74) tumbuh 47,13%.
Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menilai, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kebijakan hilirisasi telah mendorong perubahan struktur ekspor Indonesia menuju produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
“Capaian ekspor Indonesia merupakan buah manis dari hilirisasi. Kebijakan ini membuktikan transformasi ekonomi Indonesia menuju produk bernilai tambah tinggi telah berjalan sukses dan makin memperkokoh struktur ekspor di kancah global,” kata Budi di Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Menurut dia, industri pengolahan kini tidak hanya menjadi penyumbang terbesar ekspor, tetapi juga menjadi motor pertumbuhan perdagangan luar negeri Indonesia.

“Keberhasilan hilirisasi industri kini terbukti menjadi penopang utama dan motor pertumbuhan ekspor nasional. Dengan kontribusi yang mencapai 82,40% dari pangsa ekspor dan nilai ekspor yang menembus US$159,55 miliar pada Januari–Agustus 2026, sektor industri pengolahan menunjukkan bahwa produk-produk manufaktur buatan Indonesia makin kokoh, berdaya saing, dan menjadi andalan di pasar internasional,” ujarnya.
Nikel Perkuat Struktur Ekspor Industri Pengolahan
Pertumbuhan ekspor nikel sebesar 50,12% menjadi sorotan karena menunjukkan semakin besarnya peran produk olahan nikel dalam struktur perdagangan Indonesia. Kinerja tersebut sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang mendorong pengolahan mineral di dalam negeri sebelum produk diekspor. Dengan demikian, ekspor tidak hanya bertumpu pada komoditas mentah, tetapi semakin diarahkan kepada produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Pertumbuhan ekspor nikel juga menjadi bagian dari tren positif sejumlah komoditas mineral hasil industri pengolahan. Selain nikel, ekspor aluminium meningkat lebih dari dua kali lipat, sedangkan ekspor tembaga juga mencatat pertumbuhan hampir 50%. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa mineral menjadi salah satu bagian penting dalam perkembangan industri pengolahan nasional dan peningkatan nilai ekspor Indonesia.

Di tengah penguatan ekspor produk industri pengolahan, neraca perdagangan Indonesia juga mencatat surplus yang cukup besar. Pada Agustus 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus US$3,55 miliar, meningkat tajam dibandingkan surplus Juli 2026 yang hanya US$0,12 miliar. Surplus Agustus terutama ditopang oleh sektor nonmigas yang mencatat surplus US$6,09 miliar, sementara sektor migas mengalami defisit US$2,54 miliar. Secara kumulatif, surplus perdagangan Januari–Agustus 2026 mencapai US$7,25 miliar, terdiri atas surplus nonmigas sebesar US$28,54 miliar dan defisit migas US$21,29 miliar.
Pada Agustus 2026 sendiri, ekspor Indonesia mencapai US$26,61 miliar atau tumbuh 1,51% dibandingkan Juli 2026 dan meningkat 6,72% dibandingkan Agustus 2025. Kinerja tersebut turut ditopang oleh ekspor industri pengolahan yang tumbuh 2,46% secara bulanan.
Hilirisasi Jadi Penopang Ekspor
Peningkatan ekspor nikel dan sejumlah mineral olahan menunjukkan bahwa hilirisasi semakin memiliki posisi strategis dalam perdagangan Indonesia. Dengan nilai ekspor industri pengolahan yang mencapai US$159,55 miliar sepanjang delapan bulan pertama 2026, produk manufaktur dan hasil pengolahan mineral semakin berperan dalam memperkuat struktur ekspor nasional.

Bagi industri nikel, pertumbuhan ekspor sebesar 50,12% menjadi sinyal bahwa pengembangan industri pengolahan di dalam negeri mulai memberikan kontribusi nyata terhadap kinerja perdagangan. Perkembangan tersebut sekaligus memperkuat posisi nikel sebagai salah satu komoditas strategis dalam transformasi ekonomi Indonesia dari eksportir bahan mentah menuju produsen produk bernilai tambah.
Di sisi lain, kebutuhan industri terhadap bahan baku dan barang modal juga masih tinggi. Secara kumulatif, impor Januari–Agustus 2026 mencapai US$186,39 miliar, tumbuh 19,84% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan impor bahan baku dan penolong sebesar 20,67% serta barang modal 18,82% mencerminkan aktivitas manufaktur yang terus berkembang.
Bagi industri hilirisasi nikel, perkembangan tersebut menjadi bagian dari ekosistem industri yang lebih luas, mulai dari pengolahan mineral, kebutuhan bahan baku, pembangunan fasilitas produksi hingga pengembangan produk turunan dengan nilai tambah lebih tinggi. (Li Han)







































