RI Punya ‘Harta Karun’ Nikel Miliaran Ton, Segini Produksinya

NIKEL.CO.ID – Indonesia dikarunia ‘harta karun’ nikel yang sangat melimpah, bahkan cadangannya sampai miliaran ton. Melalui Holding BUMN Industri Baterai atau Indonesia Battery Corporation (IBC), Indonesia juga bercita-cita menjadi raja baterai.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan pun mengatakan bahwa Indonesia memiliki posisi daya tawar yang kuat untuk menggaet investor.

Hal ini terutama karena Indonesia dianugerahi sumber daya nikel hingga miliaran ton dan produksi bijih nikel hingga 21 juta ton per tahun, serta menjadi salah satu produsen nikel terbesar di dunia dalam bentuk Nickel Pig Iron (NPI).

“Dengan potensi (nikel) yang besar, kita lihat bahwa Indonesia punya bargaining position yang kuat,” ungkap Luhut dalam acara ‘Pembekalan Kunjungan Lapangan Isu Strategis Nasional Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) ke-61’ kemarin, seperti dikutip dari keterangan resmi Kementerian, Jumat (18/6/2021).

Oleh karena itu, lanjutnya, Indonesia memiliki hak untuk berkembang dan bekerja sama yang saling menguntungkan.

“Kita juga nggak boleh baik-baik amat. Kita harus mainkan peran kita,” sambungnya.

Lantas, dengan besaran cadangan miliaran ton, berapa besar produksi logam nikel RI?

Berdasarkan data dari Minerba One Data Indonesia (MODI) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang dikutip CNBC Indonesia, Jumat (18/06/2021), produksi Nickel Pig Iron (NPI) pada tahun ini ditargetkan mencapai 901.080 ton, naik tipis dari realisasi produksi pada 2020 yang mencapai 860.484,35 ton.

Hingga Mei 2021, tercatat produksi Nickel Pig Iron mencapai 327.387,86 ton. Artinya, baru sekitar 36% dari target produksi pada tahun ini.

Adapun rinciannya, yakni bulan Januari sebesar 68.928,02 ton, lalu naik di bulan Februari menjadi sebesar 74.801,70 ton, Maret kembali naik menjadi sebesar 77.923,55 ton, kemudian di bulan April turun menjadi 73.371,16 ton, dan kembali turun menjadi pada bulan Mei menjadi 32.363,43 ton.

Sedangkan untuk produksi feronikel pada 2021 ini ditargetkan mencapai 2,11 juta ton, melonjak 42% dari realisasi produksi pada 2020 yang sebesar 1,48 juta ton.

Sampai Mei 2021, produksi feronikel mencapai 645.251,36 ton atau sekitar 31% dari target tahun ini. Adapun rincian produksinya yaitu pada bulan Januari sebesar 138.167,76 ton, turun pada bulan Februari menjadi 124.247,79 ton. Kemudian naik pada bulan Maret menjadi 141.260,31 ton, kembali turun pada bulan April menjadi sebesar 133.470,11 ton, dan kembali turun pada bulan Mei menjadi 108.105,39 ton.

Untuk produksi nickel matte, pada tahun ini ditargetkan mencapai 78 ribu ton, turun dibandingkan realisasi produksi pada 2020 yang mencapai 91,70 ribu ton.

Sampai Mei 2021 tercatat produksi nickel matte sebesar 33.580,92 ton atau sekitar 43% dari target tahun ini. Rinciannya, pada Januari produksi sebesar 6.088,82 ton, lalu turun pada Februari menjadi sebesar 5.304,95 ton. Lalu Maret naik signifikan menjadi 7.703,24 ton, dan kembali turun pada April menjadi 6.826,61 ton, dan kembali naik pada bulan Mei menjadi 7.657,30 ton.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat total sumber daya logam nikel pada 2020 mencapai 214 juta ton logam nikel, meningkat dari 2019 yang tercatat sebesar 170 juta ton logam nikel.

Sementara jumlah cadangan logam nikel pada 2020 mencapai 41 juta ton logam nikel, lebih rendah dari 2019 yang mencapai 72 juta ton logam nikel.

Untuk bijih nikel, berdasarkan data Kementerian ESDM tahun 2020, total sumber daya bijih nikel mencapai 8,26 miliar ton dengan kadar 1%-2,5%, di mana kadar kurang dari 1,7% sebesar 4,33 miliar ton, dan kadar lebih dari 1,7% sebesar 3,93 miliar ton.

Adapun cadangan bijih nikel mencapai 3,65 miliar ton untuk kadar 1%-2,5%, di mana cadangan bijih nikel dengan kadar kurang dari 1,7% sebanyak 1,89 miliar ton dan bijih nikel dengan kadar di atas 1,7% sebesar 1,76 miliar ton.

Untuk rinciannya, cadangan bijih nikel kadar di atas 1,7% tereka sebesar 1,72 miliar ton, tertunjuk sebesar 1,26 miliar ton, terukur sebesar 954 juta ton, terkira sebesar 990 juta ton dan terbukti sebesar 772 juta ton.

Sementara untuk cadangan bijih nikel dengan kurang dari 1,7% tereka sebesar 2 miliar ton, tertunjuk 1,52 miliar ton, terukur sebesar 805 juta ton, terkira sebesar 1,30 miliar ton dan terbukti sebesar 589 juta ton.

Adapun nikel yang diperlukan untuk bahan baku baterai biasanya dengan kadar rendah di bawah 1,7%.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Komisi VII Dorong Percepatan Hilirisasi Nikel

NIKEL.CO.ID – Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Bambang Wuryanto mendorong percepatan hilirisasi nikel dalam negeri. Ia menilai PT Smelter Nikel Indonesia bisa menjadi role model bagi perusahaan sektor hilirisasi nikel kadar rendah, guna mendukung percepatan industri kendaraan listrik dalam negeri.

“Teknologinya diproduksi oleh anak bangsa sendiri, kita akan support ini karena bisa menjadi role model teknologi yang sangat sederhana dan murah,” kata Bambang Wuryanto usai memimpin peninjauan lapangan Tim Kunspek Panja Minerba Komisi VII DPR RI ke pabrik pengelolaan nikel milik PT Smelter Nikel Indonesia di Balaraja, Tangerang, Banten, Kamis (17/6/2021).

Ia mengatakan teknologi yang digunakan merupakan karya anak bangsa. Secara bisnis, teknologi Atmospheric Leaching sangat ekonomis, sehingga layak untuk dikembangkan dalam skala produksi yang lebih besar.

Dalam kunjungan tersebut, Anggota Panja Minerba juga mendalami permasalahan yang berkembang di sektor hilirisasi mineral, khususnya nikel. Termasuk kendala-kendala yang sedang dihadapi oleh PT Smelter Indonesia dalam membangun infrastruktur pengelolaan dan pemurnian saat ini.

Politisi PDI-Perjuangan ini menuturkan, kewajiban hilirisasi mineral nikel di dalam negeri mutlak dilakukan, agar mampu memberikan nilai tambah lebih dari produk bahan mentah, memperkuat struktur industri nasional, menyediakan lapangan kerja dan memberi peluang bagi tumbuhnya industri dalam negeri. Kewajiban hilirisasi juga sejalan dengan UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Minerba.

Berdasarkan data dari Dirjen Minerba Kementerian ESDM, pada Tahun 2021 terdapat beberapa smelter nikel akan selesai pembangunannya, salah satunya adalah smelter dari PT Smelter Nikel Indonesia (PT SNI) yang hingga saat ini progresnya telah mencapai 80,13 persen.

Namun dikarenakan pandemi Covid-19 yang berlangsung sejak awal Maret 2020, sedikit banyak memberi pengaruh terhadap target penyelesaian beberapa proyek pembangunan smelter di dalam negeri dikarenakan adanya investor yang melakukan penundaan investasi.

Smelter PT SNI direncanakan akan menggunakan teknologi hydro metalurgi atau smelter high pressure acid leaching (HPAL) dengan kapasitas input sebesar 2,4 juta ton pertahun dan kapasitas output sebesar 76.500 ton per tahun dalam bentuk mix hydroxide precipitate (MHP) sebagai produk akhir, yang mana komponen kandungan nikel kontennya sebesar rata-rata 35 persen yang merupakan bahan baku utama baterai listrik, baja khusus dan stainles steel.

“Kita tahu nikel kadar rendah jumlahnya banyak di dalam negeri dan merupakan bahan baku terbaik untuk memproduksi baterai lithium ion atau biasa disebut limonite. Diharapkan PT SNI mampu menyediakan bahan baku baterai guna mendorong percepatan industri kendaraan listrik dalam negeri kedepannya,” ujarnya.

Selain nikel kadar rendah, produk hasil ekstraksi teknologi Atmospheric Leaching PT SNI lainnya berupa Ferro Carbonate (FeCo3) atau produk yang digunakan dalam nutrisi/suplemen hewan guna meningkatkan kualitas pakan ternak, Kieserit adalah pupuk tanaman khususnya pada perkebunan besar baik kelapa sawit maupun perkebunan lainnya.

Selanjutnya, Gypsum yang dibutuhkan dalam industri semen, keramik, industri cat dan industri farmasi. Sementara, silica (SiO2) hasil pengelolahan dapat dimanfaatkan sebagai bata atau bahan komponen bangunan, lumpur pengeboran/mud drilling.

Sumber: RELEASE DPR RI

Read More

Beberkan Nikel RI Berlimpah, Luhut: Posisi Tawar Kuat!

NIKEL.CO.ID – Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan membeberkan produksi nikel Indonesia saat ini. Dengan jumlah produksi sebanyak 21 juta ton/tahun, Indonesia telah menjadi salah satu produsen nikel terbesar di dunia dunia dalam bentuk Nickel Pig Iron (NPI).

Pemerintah kini mendorong investasi pada hilirisasi produk turunan Nikel untuk memproduksi baterai listrik.

“Dengan ini (potensi Nikel) yang besar kita lihat bahwa Indonesia punya bargaining position yang kuat,” tegas Luhut saat memberikan ceramah dalam Pembekalan Kunjungan Lapangan Isu Strategis Nasional Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) ke-61, di Jakarta Kamis (17/6/2021), dikutip dari keterangan tertulis Kemenko Kemaritiman & Investasi.

Oleh sebab itu, menurut Luhut, Indonesia memiliki hak untuk berkembang dan bekerja sama yang saling menguntungkan.

“Kita juga nggak boleh baik-baik amat. Kita harus mainkan peran kita,” kata Luhut.

Dalam paparan yang disampaikan secara virtual, Luhut menyampaikan pada 2025 Indonesia diproyeksikan memasok 50 persen pasokan dunia, dibandingkan dengan 28 persen pada tahun 2020. Produksi nikel Indonesia akan meningkat dengan adanya smelter High Pressure Acid Leaching (HPAL) yang akan mulai beroperasi pada 2021 yang akan menghasilkan Mix Hydroxide Precipitate (MHP).

Peningkatan produksi bahan baku baterai lithium tersebut merupakan salah satu dari materi yang disampaikannya kepada para peserta pembekalan Lemhanas. Topik lain yang juga dijelaskan Menko Luhut antara lain soal implementasi Undang-Undang Omnibus Cipta Kerja, penanganan Covid 19, dan peningkatan investasi.

Khusus tentang penanganan COVID-19 dan penguatan investasi, Luhut menegaskan pemerintah berupaya untuk menangani dengan seimbang.

“Tapi penanganan COVID dan investasi is just like two sides of the coin, artinya kedua-duanya sama-sama penting. Jadi strategi pemerintah agar ekonomi tetap berjalan adalah dengan mempercepat proses vaksinasi,” tambahnya.

Membahas soal investasi, Luhut menjelaskan pemerintah saat ini fokus pada lima hal, yakni hilirisasi Sumber Daya Alam (SDA), pengembangan baterai lithium, sektor kesehatan, infrastruktur konektifitas maritim dan penurunan emisi karbon.

Luhut memaparkan beberapa kawasan industri yang mengembangkan produk turunan nikel dan bauksit. Ketujuh kawasan tersebut antara lain kawasan Galang Batang dengan nilai total investasi sebesar US$ 2,5 miliar (target operasi tahun 2021), kawasan industri Morowali Utara dengan nilai total investasi sebesar US$ 4.19 miliar (target operasi pada kuartal keempat tahun 2021), dan kawasan industri Tanah Kuning dengan nilai total investasi yang akan dikucurkan secara bertahap sebesar US$ 60 miliar (target operasi tahun 2022).

Selain kawasan-kawasan itu, Menko Luhut juga menyebutkan nilai investasi di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) dan Indonesia Weda Bay Industrial Park yang masing-masing sebesar US$ 10 miliar. Dengan membangun kawasan industri yang terintegrasi, menurutnya ongkos produksi menjadi semakin murah. “In the end, cost kita jadi sangat murah, otomatis harga jual nikel olahan kita jadi bersaing sehingga China menerapkan kebijakan dumping ke Indonesia,”bebernya.

Hal baru yang juga disampaikan oleh Menko Luhut kepada peserta kegiatan pembekalan Lemhanas adalah tindak lanjut dari pembicaraan via Zoom antara dirinya dengan Menteri Investasi Arab Saudi Khalid Al-Falih pada Hari Rabu (16-6-2021).

“Tanggal 24 (Juni) kami janjian akan zoom call dan fokus mendiskusikan mengenai investasi pada Sovreign Wealth Fund, pembangunan ibu kota baru, fokus penanaman 11 juta pohon di Aran Saudi, penanganan perubahan iklim dan investasi di sektor energi terbarukan,” katanya.

Terakhir, Luhut berpesan agar para peserta pembekalan yang terdiri dari 70-an orang tersebut dapat belajar dari pengalaman pemerintah.

“Dalam proses pengambilan keputusan di satuanmu jangan hanya lihat satu sisi saja, tapi harus mempertimbangkan dari berbagai angle (sudut), semua harus diselesaikan secara terintegrasi,”ingatnya.

Selain itu, sebagai pimpinan, Luhut juga mengatakan agar selalu mengecek implementasi kebijakan atau keputusan yang telah diambil dengan cara membentuk gugus tugas.

“Bikin task force (gugus tugas) untuk lihat ke bawah dengan time table yang jelas sehingga progres dapat dimonitor,”pintanya.

Kegiatan Pembekalan Studi lapangan mengenai industri Strategis Nasional Lemhanas ke-61 ini juga dihadiri oleh Wagub Lemhanas RI Wieko Syofyan, dan Deputi Bidang Pendidikan Pimpinan Tingkat Nasional Lemhanas.

Sumber: detik.com

Read More

Ada Apa Dibalik Pembentukan Indonesia Battery Corporation?

NIKEL.CO.ID – Diberkati dengan cadangan nikel yang melimpah, pemerintah Indonesia berharap negara bisa memosisikan diri sebagai pusat produksi kendaraan listrik global.

Pemerintah Indonesia telah memberlakukan serangkaian larangan ekspor bijih nikel mentah demi mendorong investasi miliaran dolar ke kapasitas kilang hilir. Nikel olahan merupakan input penting dalam pembuatan baterai lithium-ion, dan tujuan akhir pemerintah Indonesia adalah menjadi pusat global untuk produksi kendaraan listrik dan baterai yang menggerakkannya.

Saat ini, mata rantai yang hilang dalam rantai pasokan adalah produksi massal baterai kendaraan listrik dalam negeri. Hanya sedikit perusahaan di dunia yang membuat baterai ini. Bagaimana Indonesia meyakinkan mereka untuk membuka fasilitas produksi lokal yang dapat menghasilkan baterai dalam skala besar?

Para pemimpin industri global seperti CATL China dan LG Group dari Korea Selatan telah menandatangani perjanjian, di mana mereka bermaksud untuk menginvestasikan dana dalam pembuatan baterai di Indonesia, meskipun laporan media tidak merinci seberapa mengikat atau tegas komitmen ini.

Namun, berdasarkan pengalaman Indonesia di masa lalu dalam mengembangkan bisnis otomotifnya, dapat diketahui beberapa hal tentang apa yang mungkin membuat baterai buatan lokal menjadi pilihan yang menarik bagi perusahaan asing.

Hal utamanya adalah, meskipun industri ini memiliki keunggulan bawaan, yakni akses ke nikel yang dilebur secara lokal, dan deposit bijih nikel mentah yang besar, industri ini masih perlu bersaing secara global, catat James Guild di The Diplomat.

Dalam jangka panjang, CATL tidak akan mau memproduksi baterai secara lokal jika tidak berkualitas tinggi dan lebih mahal untuk dibuat di Indonesia daripada pusat produksi yang sebanding di negara lain.

Oleh karena itu, menurut Guild, pemerintah perlu memastikan adanya lingkungan peraturan yang kondusif, yang menciptakan insentif investasi yang menarik dan memungkinkan kebebasan produsen untuk mendapatkan input yang paling hemat biaya daripada memaksakan penggunaan konten lokal yang mungkin membuat produk jadi tidak efisien atau tidak kompetitif.

Pengalaman Indonesia dengan industri mobil juga menunjukkan bahwa perusahaan asing akan bersedia untuk mentransfer keterampilan dan teknologi penting jika mereka tidak harus tunduk pada aturan kepemilikan yang terbatas. Artinya, jika CATL mendirikan anak perusahaan untuk membuat baterai kendaraan listrik di Indonesia, mereka akan lebih bersedia untuk berbagi teknologi jika tidak dipaksa mengambil peran kepemilikan minoritas.

Namun kepemilikan asing, khususnya dalam industri yang begitu erat kaitannya dengan sumber daya alam, dapat menjadi ladang ranjau politik, Guild memperingatkan. Ada arus kuat nasionalisme ekonomi dan sumber daya di Indonesia yang merasa jika nikel untuk baterai itu keluar dari tanah Indonesia, maka keuntungan yang diperoleh dari sumber daya tersebut harus dimiliki oleh rakyat Indonesia.

Ini adalah kekuatan pendorong di balik Indonesia Battery Corporation (IBC) yang baru dibentuk. IBC adalah kemitraan empat BUMN: PLN, Pertamina, ANTAM, dan Inalum. Karena gagasan IBC masih sangat baru, peran pasti yang akan dimainkannya dalam pembuatan baterai belum jelas. Namun hal itu tentu menunjukkan negara ingin menegaskan dirinya dalam struktur kepemilikan industri dalam kapasitas tertentu.

Guild menerangkan, pembentukan Indonesia Battery Corporation harus dilihat dari sikap Indonesia yang semakin tegas terhadap nasionalisme sumber daya. Seperti yang diungkapkan oleh Eve Warburton dalam disertasinya, Indonesia akhir-akhir ini menekankan slogan “sumber daya kita, aturan kita”.

Dalam hal pengendalian bijih mentah, lebih mudah menggunakan instrumen tumpul seperti larangan ekspor untuk mendapatkan apa yang Anda inginkan. Hal ini terlihat dari cara pemerintah Indonesia baru-baru ini menggunakan pengaruhnya untuk menegosiasikan 20 persen kepemilikan saham di penambang nikel PT Vale.

Namun, seiring Anda bergerak lebih jauh ke atas rantai pasokan (misalnya ke dalam pembuatan baterai lithium-ion), pengaruh dari nasionalisme sumber daya saja menjadi kurang kuat, tulis Guild. Anda harus bergantung pada perusahaan luar, seperti CATL, untuk berbagi teknologi dan pengetahuan manufaktur mereka.

Namun mereka mungkin tidak terlalu ingin bermitra dengan perusahaan baterai milik negara yang peran pastinya dalam industri ini tidak jelas, dan yang belum pernah membuat baterai sebelumnya.

Semua ini berarti bahwa kondisi dasar telah tersedia bagi Indonesia untuk menjadi pusat produksi baterai lithium-ion dan kendaraan listrik, menurut Guild. Terwujudnya cita-cita tersebut akan sangat bergantung pada apakah pembuat kebijakan telah menginternalisasi pelajaran yang dipetik dari industri otomotif selama beberapa dekade terakhir. Peran yang pada akhirnya dimainkan oleh IBC dalam industri baterai Indonesia akan mengungkap itu.

Sumber: matamatapolitik.com

Read More

Cadangan Nikel RI Dapat Dukung Industri Baterai Selama 30 Tahun

Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia yang cukup untuk mendukung industri baterai selama 30 tahun ke depan.

NIKEL.CO.ID – Pemerintah Indonesia optimistis melihat prospek industri baterai kendaraan listrik. Indonesia pun memiliki sumber daya nikel yang melimpah untuk mendukung industri kendaraan listrik. Cadangan nikel RI disebut cukup untuk mendukung industri baterai listrik selama 30 tahun ke depan.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Tim Pengembangan Baterai Kendaraan Listrik Agus Tjahajana beberapa waktu lalu.

“Antam merupakan pemilik cadangan nikel yang akan digunakan dan sudah dihitung akan mampu hingga 30 tahun,” ujarnya dalam sebuah webinar, Senin (24/5/2021).

Seiring tren kendaraan listrik, masyarakat mulai beralih dari kendaraan berbahan bakar fosil menggunakan kendaraan ramah lingkungan seperti motor atau mobil listrik, kebutuhan akan baterai listrik diperkirakan terus meningkat.

Dalam laporan tim EV Battery BUMN, alam Indonesia mengandung 21 juta ton cadangan nikel. Angka tersebut sekaligus menjadi yang terbesar di kancah internasional. Tak hanya itu, Indonesia juga mempunyai sejumlah material baterai lainnya, seperti aluminium, tembaga, dan mangan.

Simak databoks berikut:

Seperti diketahui, pemerintah telah resmi mengumumkan pembentukan Indonesia Battery Corporation (IBC) pada 26 Maret 2021. IBC merupakan perusahaan patungan dari empat perusahaan, yakni Inalum, Antam, Pertamina, dan PLN dengan masing-masing kepemilikan saham sebesar 25%.

Korporasi pelat merah ini akan mengelola ekosistem industri baterai yang terintegrasi dari hulu hingga hilir untuk memperkuat ketahanan energi dan ekonomi nasional.

“Kami berharap semua mendukung IBC. Ini cita-cita kami untuk mendapatkan paling tidak US$ 30 miliar menyumbang produk domestik bruto (PDB) Indonesia,” kata Agus.

Dalam industri tambangan nikel di dalam negeri, jumlah bijih nikel kadar rendah dan nikel kadar tinggi tersedia cukup banyak karena porsi cadangan nikel Indonesia mencapai 24% dari total cadangan nikel dunia.

“Pengejawantahan hilirisasi tidak saja membangun industri tambang di hulu tetapi kami proses sampai menjadi baterai,” kata Agus.

Pada 2021, emiten tambang Antam berkode saham ANTM menganggarkan belanja modal senilai Rp 2,84 triliun dengan porsi terbesar untuk pengembangan usaha, salah satunya menyelesaikan proyek smelter feronikel di Halmahera Timur.

Proyek pembangunan smelter itu telah mencapai 98% dan ditargetkan rampung tahun ini agar bisa mengolah 40.500 ton nikel dalam bentuk feronikel. Secara keseluruhan, pemerintah telah menargetkan untuk membangun hingga 30 smelter nikel hingga 2030. Simak databoks berikut:

Antam menargetkan produksi bijih nikel dapat mencapai 8,44 juta metrik ton pada 2021, naik hampir dua kali lipat dari realisasi produksi sepanjang 2020 sebesar 4,67 metrik ton.

Sumber: katadata.co.id

Read More

Anggota Komisi VII DPR RI Desak Pemerintah Periksa Kualifikasi TKA Yang Bekerja di Pertambangan Nikel

NIKEL.CO.ID – Anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto mendesak pemerintah, dalam hal ini  Dirjen Minerba Kementerian ESDM melakukan pemeriksaan terhadap tenaga kerja asing (TKA) yang banyak bekerja di pertambangan nikel.

“Ini perlu dilakukan untuk memastikan dan menindaklanjuti laporan dari masyarakat bahwa banyak TKA yang bekerja di pertambangan nikel ditengarai tidak memiliki kualifikasi yang memadai,” kata Mulyanto, Rabu (16/6/2021).

Menurut Mulyanto, laporan aspirasi ini penting untuk ditindaklanjuti agar tidak menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Pemerintah jangan sungkan mengambil tindakan tegas, karena perbuatan ini jelas merugikan negara dari aspek ketenagakerjaan maupun pajak.

“Pemerintah harus memastikan bahwa tenaga kerja asing pada industri smelter nikel memenuhi kualifikasi yang dipersyaratkan, baik dari segi keahlian maupun dokumen keimigrasian yang dibawa,” kata Mulyanto yang juga menyuarakan itu saat Rapat Panitia Kerja (Panja) Minerba Komisi VII DPR RI dengan Dirjen Minerba Kementerian ESDM, Dirjen ILMATE, Kementerian Perindustrian dan Deputi Investasi dan Pertambangan Menkomarinves, Selasa (15/6/2021).

Dia juga merasa heran jika jika TKA yang datang pada industri smelter ini berkualifikasi pekerja kasar dan dengan visa kunjungan. Kalau ini benar, sudah pasti merugikan Indonesia. Agar tidak jadi isu liar, dia meminta pemerintah untuk  memastikannya.

Mulyanto mengusulkan kepada Ketua Komisi VII DPR RI agar isu kualifikasi TKA ini dijadikan fokus pembahasan saat kunjungan spesifik (kunsfik) Komisi VII ke industri smelter dalam waktu dekat ini.

Selain soal TKA tersebut, Mulyanto juga mendesak pemerintah untuk terus mengevaluasi pelaksanaan program hilirisasi nikel ini. Jangan sampai nilai tambah dan efek pengganda (multiflyer effect) yang konkret dari program ini jauh dari apa yang dijanjikan pemerintah.

“Hal ini dapat mengecewakan masyarakat, apalagi setelah adanya pelarangan ekspor bijih nikel dan soal harga jual bijih nikel (HPM) pada industri smelter, yang sempat bermasalah. Hilirisasi nikel ini adalah program yang bagus, agar kita tidak mengekspor bahan mentah, tetapi bahan jadi dengan nilai tambah tinggi.  Dengan demikian, penerimaan negara akan meningkat,” katanya.

Selain itu dengan pengoperasian industri smelter ini akan menyerap banyak tenaga kerja lokal. Serta manfaat sosial-ekonomi lainnya.  Namun, kalau prakteknya yang terjadi, bahwa produk yang dihasilkan hanyalah nikel setengah jadi dengan nilai tambah rendah serta maraknya TKA berkualifikasi kasar. Tentu ini tidak sesuai dengan harapan.

Untuk diketahui sebanyak 80% yang dihasilkan industri smelter nasional adalah bahan setengah jadi feronikel yang berkadar rendah (NPI). Hanya 20% hasilnya berupa stainless steel (SS). Karena itu nilai tambah industri smelter ini hanya mencapai 3-4 kali dari bahan mentahnya. Tidak sebesar 19 kali sebagaimana yang dijanjikan Pemerintah bila yang dihasilkan adalah bahan jadi hasil fabrikasi siap pakai.

Nikel setengah jadi inilah yang diekspor ke perusahaan induk untuk diolah menjadi barang jadi. Tidak heran kalau beberapa pihak menduga bahwa praktek program hilirisasi ini lebih menguntungakn pihak asing karena mereka mendapatkan jaminan pasokan konsentrat nikel dengan harga murah dan memperoleh nilai tambah tinggi dari proses fabrikasi nikel setengah jadi menjadi barang jadi.  Sementara masyarakat dilarang mengekspor nikel mental yang harganya tinggi di luar.

Sumber: harianhaluan.com

Read More

IWIP Mulai Bangun Konstruksi Pabrik Bahan Baterai Kendaraan Listrik

NIKEL.CO.ID – Industri baterai kendaraan listrik di Indonesia akan semakin berkembang dalam beberapa tahun mendatang. Salah satunya akan dikembangkan di Kawasan Industri Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) yang terletak di Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara.

Direktur External Relation PT IWIP Scott Ye, dalam keterangan tertulis yang diterima cermat, Rabu (16/6/2021) mengatakan, di Kawasan IWIP saat ini sudah memulai pembangunan pabrik pembuatan bahan mentah baterai kendaraan listrik sebagai tahap pertama proses perkembangan produsen baterai kendaraan listrik di Indonesia. Selanjutnya, ia memperkirakan dalam waktu dua tahun pabrik pembuatan bahan mentah baterai tersebut akan selesai.

“Tahap berikutnya barulah kita bergerak ke manufaktur baterai. Saat kita (Indonesia) telah memiliki bahan mentah yang menjadi fundamental industri baterai, artinya kita bisa berlanjut ke tahap berikutnya Kira-kira dalam 2 atau 3 tahun,” terang Scott dalam program Kabar Pasar yang disiarkan oleh TvOne, Kamis (10/6/2021).

Ia menjelaskan, Indonesia memiliki keuntungan besar sebagai produsen nikel terbesar di dunia yang menjadi komponen utama pembuatan baterai kendaraan listrik. Hal ini membuat Indonesia banyak dilirik investor dan memiliki potensi besar untuk mengembangkan industri baterai kendaraan listrik.

“Yang kedua, Indonesia juga memiliki keuntungan berupa sumber daya manusia yang mayoritas berusia muda. Sehingga memiliki tenaga kerja yang lebih bersaing dibandingkan negara lainnya,” terangnya.

Ketiga, lanjut Scott, Indonesia juga memiliki kebijakan yang mempermudah investasi seperti tax holiday dan kebijakan lainnya. Hal ini akan mendukung Indonesia menjadi produsen terbesar nikel dan turunannya.

PT IWIP sebagai perusahaan swasta juga telah banyak berkontribusi terhadap proyek strategis pemerintah Indonesia di bidang industri baterai kendaraan listrik. Sampai hari ini PT IWIP telah mempersiapkan segala fasilitas dan akomodasi di sekitar Kawasan Industri.

Fasilitas dan akomodasi tersebut mulai dari bandara, pelabuhan, serta fasilitas dan akomodasi penunjang lainnya, termasuk untuk kebutuhan industri seperti pembangkit listrik.

“Ini berarti kita bisa menarik lebih banyak investasi untuk datang. Kami juga telah memiliki 24 lini RKEF yang memproduksi feronikel. Artinya kami memiliki kapasitas 240.000 ton nikel matte. Nilai ekspornya mencapai sekitar 4 miliar dolar AS,” ungkapnya.

Sumber: KUMPARAN

Read More

Bahlil Tak Mau Ekspor Indonesia Tiru Zaman VOC

NIKEL.CO.ID – Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menuturkan pemerintah tengah mendorong hilirisasi sumber daya alam (SDA) sehingga bisa menciptakan nilai tambah pada produk ekspor. Ia mengatakan Indonesia harus menghindari ekspor bahan mentah seperti pada zaman Kongsi Dagang atau Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) dulu kala.

“Yang penting adalah tidak boleh lagi bahan baku kita dibawa keluar. Ini nilai tambahnya kita tidak dapat. Indonesia harus betul-betul dikenal dengan kemampuan hilirisasi pada SDA. Jangan ekspor sama seperti zaman VOC. Ini menurut kami tidak bagus ke depan,” ujarnya dalam acara Investor Lokal Anak Kandung yang Perlu Didukung, Selasa (15/6/2021).

Ia menambahkan agar ekspor tak seperti zaman VOC, pemerintah sudah melakukan banyak upaya. Salah satunya, melarang ekspor ore nikel supaya bahan tambang itu bisa diolah pada smelter dalam negeri dan memberikan nilai tambah baru diekspor.

Upaya ini juga sejalan dengan target pemerintah menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara produsen baterai listrik terbesar di dunia. Pasalnya, bahan baku utama pembuatan baterai listrik tersebut berada di Tanah Air yakni nikel itu sendiri.

Ia menuturkan 80 persen komponen baterai listrik adalah nikel. Sementara, sebesar 25 persen cadangan nikel dunia berada di tanah Indonesia.

“Bagaimana caranya kita harus jadi negara produsen terbesar baterai mobil listrik di dunia sekarang sudah kami dorong ore nikel tidak boleh ekspor,” ucapnya.

Sejalan dengan itu, pemerintah juga menggenjot pembangunan fasilitas pengolahan smelter di dalam negeri. Beriringan, pemerintah juga akan menarik investasi masuk pada industri baterai mobil listrik untuk mendukung target produksi baterai listrik.

Ia menuturkan sudah ada pemain global yang berkomitmen untuk menanamkan investasi di Indonesia yakni LG dengan nilai investasi US$9,8 miliar dan CATL sebesar US$5,2 miliar.

“Investasi sudah masuk di Batang (Kawasan Industri Batang) nanti pemain besar baterai itu kan LG sama CATL. LG sudah investasi nanti konsorsium dengan BUMN nilainya US$9,8 miliar atau Rp142 triliun. Itu investasi terbesar pasca reformasi dalam sejarah Indonesia tidak pernah kita sebesar itu,” katanya.

Sumber: CNN Indonesia

Read More

Menteri Bahlil Cerita Soal RI Jual Hasil Alam Mentah Karena Tergoda Dapat Uang Cepat

NIKEL.CO.ID – Menteri Investasi dan Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa kekayaan alam Indonesia sangat berlimpah. Mulai dari hutan, tambang hingga hasil laut. Namun sayangnya, Indonesia belum bisa melakukan hilirisasi. Tergoda mendapatkan uang dengan cepat, sehingga kekayaan alam dijual masih mentah tanpa diolah.

“Ini kita tergiur uang cepat, makanya jual saja bahan baku,” kata Bahlil, di Jakarta, Selasa (15/6/2021).

Bahlil menceritakan, dahulu Indonesia kaya akan kayu sehingga kayu yang tumbuh di Indonesia langsung diekspor ke Malaysia, China hingga Jepang. Indonesia sempat mengalami masa kejayaan tambang, namun karena tidak memiliki kemampuan mengelola sendiri, maka bekerja sama dengan Freeport.

“Freeport itu 90 persen cadangannya ada di Indonesia. Tidak ada industri yang seperti itu,” kata dia.

Pun dengan batu bara. Indonesia langsung menjual produk batu bara tanpa diolah terlebih dahulu. Ironisnya, kata Bahlil Indonesia mengimpor gas LPG setiap tahun dengan volume hingga 7 juta per tahun.

“Setiap tahun kita ekspor baru bara jutaan ton, tapi kita malah mengimpor gas 6 sampai 7 juta per tahun,” kata dia.

Produk Perikanan

Begitu juga dengan sektor perikanan. Indonesia sebagai negara maritim memiliki aset perikanan yang tidak berbatas. Namun, Indonesia tetap kalah dari Vietnam dan Thailand dalam hal efisiensi.

“Kita ini terlena dengan menangkap ikan lalu langsung kirim. Tapi kita kalah dari Vietnam dan Thailand dalam hal efisiensi,” kata Bahlil.

Saat ini kata Bahlil, Indonesia memiliki cadangan nikel yang besar di dunia. Tak mau mengulangi kesalahan yang sama, dalam pengelolaan nikel, pemerintah akan membangun industri dari hulu ke hilir.

Bahlil mengatakan semua produk nikel ore tidak boleh langsung di ekspor, tetapi harus diolah terlebih dulu di Indonesia. Dalam proyek ini pemerintah akan menggandeng produsen kelas kakap di masing-masing bidang untuk bekerja sama dengan Indonesia.

Sumber: merdeka.com

Read More

Mei 2021, Mayoritas Komoditas Ekspor Indonesia ke Tiongkok Anjlok

NIKEL.CO.ID – Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor Indonesia ke Tiongkok anjlok paling dalam secara bulanan pada Mei 2021. Padahal, harga komoditas global sedang melonjak cukup tinggi.

Kepala BPS Suhariyanto menyebutkan bahwa nilai ekspor ke Tiongkok turun US$ 460 juta dari US$ 4,11 miliar pada April 2021 menjadi US$ 3,71 miliar pada Mei 2021.

“Harga komoditas meningkat tetapi ada penurunan volume atau permintaan,” ujar Suhariyanto dalam Konferensi Pers Kinerja Ekspor Impor, Selasa (15/6/2021).

Berdasarkan data BPS yang diterima Katadata.co.id, hampir seluruh komoditas ekspor ke Tiongkok mengalami penurunan dari segi nilai.

Komoditas yang mengalami penurunan ekspor paling dalam, yakni biji, terak, dan abu logam sebesar 43,17% dari US$ 192,4 juta menjadi US$ 109,4 juta.

Disusul, ekspor karet dan barang dari karet yang turun 40,62% dari US$ 55,5 juta menjadi US$ 33 juta. Ekspor lemak dan minyak hewan/nabati terkontraksi 38,06% dari US$ 571,7 juta menjadi US$ 354,1 juta.

Ekspor berbagai produk kimia turun 31,4% dari US$ 148,1 juta menjadi US$ 101,6 juta. Ekspor besi dan baja turun 27,31% dari US$ 1,16 miliar menjadi US$ 842,5 juta.

Ekspor alas kaki menurun 23,69% dari US$ 70,8 juta menjadi US$ 54 juta. Ekspor barang lainnya terkontraksi 17,25% dari US$ 579 juta menjadi US$ 479,1 juta. Ekspor tembaga dan barang daripadanya minus 5,06% dari US$ 75,9 juta menjadi US$ 72 juta. Demikian pula ekspor kertas, karton, dan barang daripadanya juga yang turun 1,61% dari US$ 105,6 juta menjadi US$ 103, juta.

Sementara itu, ekspor bahan bakar mineral melesat 42,67%, diikuti migas yang naik 36,87%, dan pulp dari kayu 9,96%.

Suhariyanto menyebutkan bahwa harga beberapa komoditas menanjak pada Mei 2021. Jika dibandingkan dengan bulan April 2021, harga minyak mentah di pasar dunia naik 5,7% dari US$ 61,96 per barel menjadi US$ 65,49 per barel.

Kenaikan harga juga terjadi pada komoditas nonmigas, seperti batu bara, minyak kelapa sawit, timah, tembaga, nikel, dan emas. “Batu bara misalnya naik 16,07%, minyak kelapa sawit 7,9%, dan tembaga 8,98%,” ujar dia.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto optimistis lonjakan harga komoditas akan membantu percepatan pemulihan ekonomi domestik. “Lonjakan harga ini membantu kita pulih lebih cepat,” kata Airlangga dalam acara halalbihalal virtual bersama wartawan, pertengahan Mei 2021.

Ia menyebutkan, komoditas yang mengalami lonjakan harga di antaranya yakni nikel, minyak sawit mentah, karet, tembaga, dan emas. Kenaikan tersebut juga seiring meningkatnya permintaan global.

Airlangga pun berharap Indonesia dapat mengoptimalkan tingginya harga komoditas dengan hilirisasi. Indonesia sebelumnya cenderung hanya mengekspor bahan mentah ke luar negeri. Namun, dalam empat hingga lima tahun terakhir, pembangunan industri berbasis nikel di dalam negeri sudah masif sehingga tidak lagi mengekspor bahan baku.

Mantan Menteri Perindustrian tersebut menilai Indonesia mampu mengekspor hasil hilirisasi nikel dan baja senilai US$ 10 miliar.

“Tentu ini merupakan capaian yang sangat baik,” ujarnya.

Selain nikel dan baja, ia pun menyebutkan bahwa lonjakan harga batu bara dan alumunium harus dimanfaatkan dengan hilirisasi untuk mempercepat pemulihan ekonomi. Oleh karen itu, pembangunan smelter di Batang dan Kalimantan Barat terus dipercepat.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 16,6 miliar pada Mei 2021. Jumlah itu turun 10,25% dari April 2021, tetapi meningkat hingga 58,75% dibandingkan Mei 2020.
Sumber: katadata.co.id

Read More