

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) menjajaki peluang perluasan pasar nikel Indonesia ke industri paduan logam berkinerja tinggi (high-performance alloys) melalui pertemuan dengan VDM Metals, perusahaan asal Jerman yang menjadi pemimpin pasar global dalam produksi paduan khusus berkinerja tinggi, terutama paduan nikel, kobalt, zirkonium, dan baja nirkarat paduan tinggi.
Dalam pertemuan tersebut kedua pihak membahas kebutuhan bahan baku nikel, persyaratan mutu, ketertelusuran, serta regulasi keberlanjutan yang berlaku di pasar Eropa.
Sekretaris Umum APNI, Meidy Katrin Lengkey, mengatakan, keberhasilan hilirisasi nikel Indonesia perlu diikuti kemampuan memasok produk sesuai kebutuhan industri, membangun kepercayaan pembeli, serta menciptakan manfaat ekonomi yang berkelanjutan.

“Keberhasilan hilirisasi tidak hanya diukur dari peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga dari kemampuan memenuhi kebutuhan pengguna akhir, menjaga kepercayaan pembeli, dan memberikan nilai tambah berkelanjutan bagi Indonesia,” kata Meidy di Jakarta, Rabu (30/9/2026).
Ia menambahkan, VDM Metals menjelaskan nikel bersama kromium, molibdenum, kobalt, dan unsur lainnya merupakan salah satu bahan baku utama yang digunakan untuk produk perusahaan. Kebutuhan nikelnya terutama berupa nikel logam kelas 1 yang memenuhi spesifikasi internal perusahaan dan persyaratan pelanggan.

“Pemenuhan standar perdagangan di London Metal Exchange (LME) tidak secara otomatis menjadikan suatu produk dapat digunakan dalam proses produksi VDM Metals,” jelasnya.
Perusahaan yang sebelumnya bernama Vereinigte Deutsche Metallwerke ini menerapkan pengendalian ketat terhadap unsur pengotor, termasuk karbon, sulfur, timbal, bismut, dan arsenik. Persyaratan tersebut menjadi lebih ketat untuk proses peleburan vakum. Penggunaan nickel pig iron (NPI) maupun feronikel sangat terbatas karena komposisi material tersebut tidak selalu sesuai dengan kebutuhan produksi paduan logam berkinerja tinggi.

Selain itu, VDM Metals juga menekankan pentingnya diversifikasi sumber pasokan secara geografis untuk mengurangi risiko gangguan logistik, bencana alam, sanksi, dan perubahan kebijakan perdagangan.
“Diversifikasi sumber pasokan diperlukan untuk menjaga fleksibilitas dan keamanan pasokan, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap satu wilayah atau sumber tertentu,” ujarnya.

Dalam beberapa tahun belakangan ini korporasi yang berkantor pusat di Werdohl, Jerman, itu telah menambah pemasok yang memenuhi kualifikasi dan tetap membuka peluang pengembangan sumber pasokan tambahan. Bagi produsen Indonesia, kondisi itu membuka ruang penjajakan pasar. Namun, peluang tersebut tetap bergantung pada kesesuaian mutu, dokumentasi, harga, biaya pengiriman, serta kepastian pasokan.
Persyaratan pemasok VDM Metals dapat berasal dari ketentuan hukum, kebijakan internal perusahaan, maupun persyaratan kontraktual pelanggan. Dalam sejumlah kasus, pelanggan juga menetapkan pembatasan asal material atau ketentuan penggunaan bahan daur ulang.
Diketahui, pertemuan APNI dengan VDM Metals ini menjadi bagian dari upaya APNI memperluas hubungan dengan pengguna akhir (end user) sekaligus memperoleh pemahaman langsung mengenai standar dan kebutuhan industri pengolahan logam di Eropa. (Fi Yun)





































