Beranda Nikel Muchtazar: Keberlanjutan Jadi Syarat Penting dalam Rantai Pasok Nikel Global

Muchtazar: Keberlanjutan Jadi Syarat Penting dalam Rantai Pasok Nikel Global

94
0
Head of Sustainability Nickel Industries Limited, Muchtazar (kedua dari kiri) pada panel bersama David Purba (WRI Indonesia), Pierre Derieux (Nickel Institute), Rezki Syahrir (Indonesian Initiative for Sustainable Mining), dipandu Tom Fairlie (Cobalt Institute) (Foto: MNI/Li Han)

NIKEL.CO.ID, BALI – Industri nikel Indonesia menghadapi tuntutan yang semakin tinggi untuk memenuhi standar keberlanjutan seiring meningkatnya persyaratan dari pasar global. Aspek environmental, social, dan governance (ESG), keterlacakan rantai pasok, hingga pengelolaan emisi kini semakin menjadi bagian penting dalam menentukan daya saing komoditas nikel.

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam International Critical Minerals & Metals Summit (ICMMS) Indonesia 2026 yang diselenggarakan Fastmarkets di InterContinental Resort Bali, Jimbaran, Bali, pada 27–30 September 2026.

Salah satu pembicara dalam forum tersebut adalah Head of Sustainability Nickel Industries Limited, Muchtazar. Ia bergabung dalam panel bersama David Purba dari World Resources Institute (WRI) Indonesia, Pierre Derieux dari Nickel Institute, dan Rezki Syahrir, Ph.D. dari Indonesian Initiative for Sustainable Mining.

Diskusi yang dimoderatori Tom Fairlie dari Cobalt Institute tersebut mengangkat tema “Is Sustainability Compliance a Commercial Constraint?” atau “Apakah Kepatuhan terhadap Keberlanjutan Menjadi Kendala Komersial?”

Muchtazar menjelaskan, perubahan tuntutan terhadap industri pertambangan dan logam tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan regulasi. Pelaku industri juga dituntut mampu memberikan bukti yang kredibel mengenai bagaimana risiko lingkungan dan sosial dikelola.

Diskusi tersebut, katanya memaparkan, membahas bagaimana berbagai persyaratan yang terus berkembang, seperti uji tuntas rantai pasok, pengadaan yang bertanggung jawab, keterlacakan, pengungkapan iklim, serta ekspektasi terhadap penghormatan hak asasi manusia, turut membentuk daya saing masa depan sektor pertambangan dan logam.

“Kami membahas apakah keberlanjutan kini mulai menjadi keunggulan komersial yang nyata, menjadi pintu masuk terhadap pembiayaan dan akses pasar, atau justru semakin menjadi prasyarat untuk dapat berpartisipasi dalam rantai pasok global,” tambahnya.

Menurut dia, perubahan tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan semakin terintegrasi dengan aspek komersial industri. Pelanggan, investor, dan regulator tidak hanya melihat laporan keberlanjutan, tetapi juga mengharapkan bukti atas penerapan praktik pengelolaan risiko lingkungan dan sosial.

“Salah satu poin penting yang mengemuka dalam sesi tersebut adalah keberlanjutan tidak lagi sekadar persoalan pelaporan. Pelanggan, investor, dan regulator semakin mengharapkan adanya bukti yang kredibel bahwa risiko lingkungan dan sosial dikelola secara aktif,” terangnya.

Pada saat yang sama industri harus terus memastikan bahwa meningkatnya ekspektasi tersebut diiringi dengan jalur implementasi yang praktis serta insentif yang dapat mendukung perbaikan secara berkelanjutan.

Persyaratan keberlanjutan tersebut menjadi semakin relevan bagi Indonesia yang memiliki posisi penting dalam rantai pasok mineral kritis dunia. Perkembangan industri nikel dan material baterai membuat isu keterlacakan, pengelolaan emisi, serta pemenuhan standar lingkungan dan sosial semakin mendapat perhatian.

ICMMS Indonesia 2026 sendiri mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam industri mineral kritis dan logam, mulai dari pembuat kebijakan, investor, produsen, asosiasi industri hingga praktisi keberlanjutan.

Forum tersebut membahas sejumlah isu strategis, termasuk perkembangan kebijakan nikel, teknologi dan jalur pemrosesan high pressure acid leach (HPAL), rantai pasok material baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV), serta perkembangan regulasi hijau dan perdagangan global.

Bagi industri nikel Indonesia, meningkatnya tuntutan keberlanjutan juga berkaitan dengan upaya mempertahankan akses terhadap pasar dan pembiayaan internasional.

Ia menilai, dialog lintas pemangku kepentingan diperlukan agar tuntutan keberlanjutan dapat diterapkan secara realistis sekaligus mendorong peningkatan kinerja industri.

Posisi Indonesia dalam rantai pasok mineral kritis global membuat forum dialog seperti ICMMS memiliki arti penting. Perkembangan industri mineral Indonesia akan berhubungan dengan kebutuhan pasar global terhadap bahan baku strategis, khususnya untuk transisi energi dan industri kendaraan listrik.

“Indonesia terus memainkan peran penting dalam membentuk rantai pasok mineral kritis global, dan forum seperti ICMMS menjadi platform penting untuk membangun dialog konstruktif antara seluruh pemangku kepentingan, seiring dengan terus berkembangnya sektor ini,” jelasnya. (Li Han)