


NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Industri mineral kritis Indonesia kini memasuki babak baru. Setelah investasi masif diarahkan pada pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian, kini fokus industri mulai beralih pada sejumlah faktor yang semakin menentukan daya saing, mulai dari struktur pasokan, keekonomian proses pengolahan, dinamika harga, pembiayaan proyek, kualitas produk hilir, hingga kesiapan Indonesia memenuhi standar rantai pasok global.
Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanam Modal (Kementerian Investasi/BKPM), Heldy Satrya Putera, mengatakan, Kementerian Investasi/BKPM sudah menyusun peta jalan (roadmap) pengembangan industri hilir yang mencakup 28 komoditas strategis. Estimasi kebutuhan investasinya mencapai US$618,1 miliar hingga 2040 dan sektor mineral dan batu bara (Minerba) menjadi salah satu peluang terbesar dalam peta jalan ini.
“Pengembangan hilirisasi Indonesia saat ini bergerak melalui tiga tahapan strategis. Selama ini, kita telah membangun fondasi pengolahan mineral melalui smelter dan fasilitas pemurnian. Saat ini, prioritas kita memasuki tahap dua, yaitu memperluas pengembangan ke industri baterai kendaraan listrik, battery energy storage system (BESS), serta manufaktur bernilai tambah tinggi lainnya,” ungkap Heldy Satrya Putera, dalam keterangannya, dikutip Rabu (30/9/2026).
Perubahan tersebut terjadi saat investasi hilirisasi Indonesia semakin besar. Pada semester I 2026, realisasi investasi hilirisasi meningkat 6,9% dibandingkan periode pada tahun sebelumnya mencapai Rp 300,1 triliun atau setara 29,7%. Nilai tersebut mencakup penanaman modal asing mencapai Rp212,8 triliun atau 70,9%, sedangkan penanaman modal dalam negeri sebesar Rp87,3 triliun atau 29,1%.

Berdasarkan capain tersebut terlihat jika Indonesia telah mencatatkan kemajuan yang signifikan dalam mengembangkan industri hilirnya serta memiliki peluang luar biasa untuk memperkuat posisinya dalam rantai nilai mineral kritis global.
Kemudian, tahapan selanjutnya yaitu melanjutkan capaian tersebut dengan mendukung pasar yang kompetitif, menarik investasi jangka panjang, dan memastikan produk-produk Indonesia dapat memenuhi kebutuhan pembeli global yang terus berkembang.
Capaian Indonesia dan potensi besar yang dimilikinya, menurut Managing Director Fastmarkets, Catherine Oates, Indonesia membutuhkan kolaborasi yang tepat.
“Kolaborasi yang solid antara pemerintah, industri, dan komunitas investor akan sangat penting untuk mewujudkan potensi tersebut, dan ICMMS 2026 menyediakan forum strategis guna menyatukan berbagai perspektif ini,” ujar Catherine Oates.

Besarnya investasi yang telah mengalir ke sektor hilirisasi membuat fokus pembahasan tidak lagi sebatas pembangunan fasilitas pengolahan. Perhatian kini mulai diarahkan pada kemampuan industri menghasilkan produk yang berdaya saing sekaligus terintegrasi dengan pasar global. Dalam industri mineral kritis, tantangan tersebut mencakup ketersediaan dan sumber bahan baku, biaya pengolahan, pembentukan harga, kepastian pembeli, hingga pemenuhan berbagai standar yang menjadi prasyarat untuk menembus pasar internasional.
Sejumlah isu seperti kebijakan nikel, dinamika harga, pengelolaan pasokan, serta regulasi perdagangan menjadi bagian penting dalam agenda International Critical Minerals and Metals Summit (ICMMS 2026), di Intercontinental Bali Resort, Jimbaran, Bali, Indonesia, 27-30 September 2026.
Di sektor pengolahan, pembahasan juga mencakup keekonomian high pressure acid leach (HPAL) dan daya saing asam sulfat. Pertumbuhan kapasitas HPAL di Indonesia tidak terlepas dari perkembangan industri nikel dan bahan baku baterai di tingkat global. Karena itu, ICMMS 2026 turut mengulas struktur biaya HPAL dan asam sulfat, termasuk berbagai pilihan teknologi yang dapat digunakan dalam pengolahan nikel.

Tantangan semakin kompleks ketika memasuki tahap hilir, khususnya dalam pengembangan prekursor dan katoda. Pengembangan produk tersebut tidak cukup hanya ditopang oleh ketersediaan bahan baku, tetapi juga membutuhkan dukungan teknologi, konsistensi kualitas, kepastian pasar, serta keekonomian proyek. Atas dasar itu, pembahasan material baterai dalam ICMMS 2026 tidak hanya berfokus pada kapasitas produksi, tetapi juga mempertanyakan jenis produk hilir yang memiliki prospek pasar dan mampu bersaing dalam rantai pasok kendaraan listrik global.
Di sisi lain, perkembangan standar perdagangan internasional turut mempengaruhi operasional industri mineral. Aspek environmental, social, and governance (ESG), keterlacakan rantai pasok, carbon border adjustment mechanism (CBAM), serta human rights due diligence (HRDD) semakin memiliki keterkaitan dengan akses pasar dan keputusan pembelian. Bagi industri mineral Indonesia, pemenuhan standar tersebut tidak lagi semata-mata menjadi persoalan kepatuhan, melainkan bagian dari strategi menjaga daya saing. Isu-isu tersebut dan perkembangan regulasi perdagangan pun menjadi bagian dari agenda utama ICMMS 2026.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa persaingan dalam industri mineral kritis ke depan tidak hanya ditentukan oleh penguasaan sumber daya alam. Daya saing juga akan bergantung pada kemampuan membangun rantai nilai yang efisien, menghasilkan produk sesuai kebutuhan pasar, mendapatkan akses pembiayaan, mengendalikan biaya produksi, serta memenuhi standar yang ditetapkan oleh pembeli maupun negara tujuan. (Fi Yun)




































