Beranda Nikel Nikel Saprolit Tinggal 6 Tahun, Perlu Keberlanjutan Cadangan

Nikel Saprolit Tinggal 6 Tahun, Perlu Keberlanjutan Cadangan

119
0
Komisaris Utama Antam, Prof. Dr. Ir. Irwandy Arif, M.Sc. (ketiga dari kanan) (Foto: MNI/Shiddiq)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Pasar nikel global diproyeksikan beralih dari surplus menjadi defisit mulai 2028. Di tengah prospek peningkatan permintaan, Indonesia perlu menjaga keberlanjutan cadangan sekaligus memperkuat hilirisasi dan adopsi teknologi rendah emisi di sektor pertambangan.

Komisaris Utama PT Aneka Tambang Tbk. (Antam), Prof. Dr. Ir. Irwandy Arif, M.Sc., mengatakan, permintaan nikel global diproyeksikan mencapai sekitar 5,7 juta ton pada 2040. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh kendaraan listrik dan sektor energi bersih.

“Surplus pasokan saat ini membatasi kenaikan harga dalam jangka pendek. Tapi, kemudian siklus defisit akan berubah pada 2028,” ujar Prof. Irwandy dalam Annual Business Meeting 2026, di J.W. Marriott Hotel, Jakarta, Senin (21/9/2026).

Menurut dia, perubahan keseimbangan pasar tersebut menjadi peluang sekaligus tantangan bagi Indonesia sebagai salah satu negara dengan sumber daya nikel besar. Peningkatan produksi harus diikuti pengelolaan cadangan dan pengembangan hilirisasi secara berkelanjutan.

“Hati-hati cadangannya akan habis,” ujarnya mewanti-wanti.

Ketua Dewan Pembina Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) itu juga mengingatkan, cadangan nikel Indonesia berpotensi menipis dalam waktu sekitar 10 tahun apabila tidak dikelola dengan baik. Peningkatan kapasitas produksi smelter turut mempercepat pemanfaatan cadangan nasional.

“Kemungkinan kalau kita tidak mengelola dengan baik, dalam 10 tahun cadangan nikel kita akan habis,” katanya kembali memberikan alarm.

Ia menjelaskan, pada tingkat produksi sekitar 735 juta ton, umur cadangan saprolit diperkirakan hanya sekitar enam tahun, sedangkan limonit sekitar 16 tahun.

Di sisi lain, Indonesia dinilai masih memiliki ruang untuk meningkatkan nilai tambah mineral melalui penguatan rantai industri. Ia menyebut, sebagian industri nasional masih berada pada tahap produk-antara (intermediate product) dan belum sepenuhnya masuk ke produk-akhir (end product), termasuk dalam rantai pasok baterai.

“Kita masih berada di tengah. Kita baru menuju ke industrialisasi. Jadi, kita masih belum mendapatkan nilai tambang yang maksimum,” ujarnya.

Menurut dia, pembangunan ekosistem industri perlu mencakup pemanfaatan tailing serta penguatan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (environment, social, governance/ESG). (Shiddiq)