

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Indonesia kembali menjadi pusat perhatian industri mineral dan logam kritis dunia. Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) bersama Fastmarkets akan menghadirkan International Critical Minerals and Metals Summit (ICMMS) Indonesia 2026 pada 27–30 September 2026 di Bali.
Konferensi tingkat tinggi (KTT) internasional ini digelar di tengah persaingan global untuk mengamankan pasokan mineral kritis yang semakin strategis bagi industri energi, baterai, manufaktur, dan teknologi.
Dengan tema dan agenda yang berfokus pada masa depan rantai pasok mineral global, ICMMS 2026 mempertemukan para pengambil keputusan senior dari sektor pertambangan, pengolahan, baterai, OEM, keuangan, kebijakan, hingga rantai pasok.

Dukungan pemerintah Indonesia kembali diberikan melalui Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, yang menjadi pendukung resmi penyelenggaraan KTT tersebut. Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, menegaskan posisi Indonesia dalam membangun industri mineral bernilai tambah.
“Indonesia bertekad untuk menjadi pusat global bagi industri bernilai tambah berbasis mineral penting, yang didukung oleh investasi yang kuat, inovasi, teknologi, dan kolaborasi internasional. Saya mengundang investor global, pemimpin industri, pembuat kebijakan, dan mitra untuk bergabung bersama kami di Bali,” ujar Rosan, sebagaimana dikutip pada Rabu (23/9/2026).
ICMMS 2026 hadir ketika posisi Indonesia semakin penting dalam rantai pasok mineral kritis global. Indonesia disebut menyumbang sekitar 54% produksi bijih nikel dunia dan sekitar 37% pasokan nikel olahan global.
Selain nikel, agenda KTT juga akan membahas perkembangan bauksit, aluminium, emas, timah, material baterai, serta arah investasi dan hilirisasi berikutnya.

Pembahasan nikel akan mencakup berbagai aspek, mulai dari kebijakan dan kuota, realitas biaya produksi, hingga jalur pemrosesan seperti NPI, nickel matte, HPAL, dan nikel kelas baterai.
Isu perdagangan dan keberlanjutan juga mendapat perhatian melalui pembahasan CBAM, Battery Passport, ESG, serta tuntutan kepatuhan yang semakin menentukan akses pasar global.
ICMMS 2026 akan berlangsung bersamaan dengan CT Asia 2026 di Intercontinental Bali Resort. Kolaborasi tersebut memungkinkan peserta dengan satu tiket untuk mengakses sesi dan jaringan dari kedua acara.
Program dimulai dengan lokakarya bersama pada 28 September, yang membahas energi dan transisi, termasuk biaya energi, batu bara captive, permintaan batu bara Asia, serta persinggungan antara batu bara, mineral kritis, dan modal.

Berlangsung pada 29–30 September 2026
Hari pertama akan berfokus pada nikel, kebijakan, kekuatan penetapan harga, disiplin pasokan, jalur pemrosesan, hingga ESG. Sementara hari kedua memperluas pembahasan ke bauksit, aluminium, emas, timah, material baterai, precursor dan cathode, pembiayaan hilirisasi, serta permintaan pasar akhir.
Selain sesi konferensi, peserta juga akan mendapatkan kesempatan mengikuti closed-door roundtable yang mempertemukan investor, bankir, pelaku industri, dan pemangku kepentingan strategis.
ICMMS 2026 menargetkan lebih dari 450 peserta, 75 pembicara, 150 perusahaan, dan delegasi dari lebih dari 30 negara, dengan sekitar 60 persen peserta berasal dari kalangan eksekutif senior.

Forum ini dirancang untuk membuka ruang dialog langsung antara investor, perusahaan eksplorasi, produsen, smelter, pengolah mineral, produsen baterai dan sel, OEM, lembaga keuangan, pemerintah, serta profesional rantai pasok.
Pengalaman peserta pada penyelenggaraan 2025 turut menggambarkan nilai strategis forum tersebut.
Janrico Sinaga, Head of Business and Operational Excellence PT PPA Finance, mengatakan, “Being part of the International Critical Minerals and Metals Summit: Indonesia 2025 not only gave me valuable industry insights, but also inspired me to think bigger about how Indonesia can contribute to the global transition.”
Sementara Nataneil Horansil, Mining and Mineral Expert pada National Economic Council Republik Indonesia, menilai forum tersebut menjadi ruang penting untuk membangun jejaring.

“The International Critical Minerals and Metals Summit: Indonesia is an exceptional opportunity to develop strategic networks in the global mineral business,” ungkap Nataneil.
Penyelenggaraan ICMMS 2026 menempatkan Bali bukan sekadar sebagai lokasi konferensi, tetapi sebagai titik temu bagi pelaku industri yang tengah membentuk masa depan rantai pasok mineral dan logam kritis.
Di tengah perubahan geopolitik, perdagangan, harga komoditas, dan percepatan transisi energi, keputusan yang dibuat dalam rantai nilai mineral Indonesia memiliki dampak yang semakin luas terhadap pasar global.
Dengan dukungan pemerintah, keterlibatan APNI, dan jaringan global Fastmarkets, ICMMS Indonesia 2026 menjadi forum yang mempertemukan kebijakan, investasi, teknologi, dan peluang bisnis dalam satu panggung di Bali. (Shiddiq)









































