

NIKEL.CO.ID, TANGERANG SELATAN — Ketersediaan cadangan nikel menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan industri hilirisasi nikel di Indonesia. Pengembangan fasilitas pengolahan dan pemurnian perlu diimbangi dengan penguatan cadangan agar industri dapat beroperasi dalam jangka panjang.
Dewan Pengurus Pusat (DPP) Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Bidang Competent Person Independent, Ir. Rizal Kasli, S.T., I.P.U., ASEAN Eng., mengungkap, hilirisasi tidak dapat dilepaskan dari ketersediaan cadangan nikel yang kuat dan berkelanjutan. Tanpa dukungan cadangan tersebut, pengembangan industri hilirisasi dinilai hanya dapat berlangsung dalam waktu yang sangat pendek.

“Nah ini yang kami pesan utama adalah memang hilirisasi tidak bisa dilepaskan dari cadangan yang kita miliki. Mengapa? Karena, kalau kita melaksanakan hilirisasi, menggembangkan industri hilirisasi tanpa cadangan yang kuat dan sustainable, maka akan berlangsung dalam waktu yang sangat pendek,” ujar Rizal, dalam diskusi kelompok terfokus atau focus group discussion (FGD) bertajuk “Pemetaan Pohon Industri dan Strategi Hilirisasi, serta Valuasi Riset dan Inovasi Terkait Industri Nikel di Indonesia”, yang digelar BRIN, di Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (30/9/2026).
Ia menjelaskan, cadangan nikel Indonesia saat ini berada di kisaran 5,3 miliar ton, yang terdiri dari high grade ore atau saprolit dan low grade ore atau limonit. Di sisi lain, sumber daya nikel Indonesia masih mencapai sekitar 17,4 miliar ton.
“Memang masih ada sumber daya sekitar 17,4 miliar ton, yang ini perlu usaha lebih lanjut dengan kegiatan eksplorasi untuk bisa kita tingkatkan menjadi cadangan. Jadi, rasio cadangan terhadap sumber daya itu sekitar 30%. Ini yang perlu kita tingkatkan,” paparnya.

Kondisi tersebut, katanya menggarisbawahi, menunjukkan perlunya kegiatan eksplorasi lebih lanjut untuk meningkatkan sumber daya menjadi cadangan. Pemerintah melalui Badan Geologi dan perusahaan swasta dinilai memiliki peran dalam mendorong kegiatan eksplorasi tersebut.
“Mungkin nanti pemerintah bisa membahas Badan Geologi dan perusahaan-perusahaan swasta yang memang berkewajiban untuk melakukan kegiatan eksplorasi dan hutan. Itu ada di undang-undang, sehingga kita bisa tingkatkan cadangan,” ucapnya.
Selain itu, ia mengungkapkan, Sulawesi Tenggara menjadi wilayah dengan cadangan nikel terbesar, sekitar 2 miliar ton. Cadangan tersebut juga tersebar di Maluku Utara, Sulawesi tengah, dan Sulawesi Selatan, sedangkan Papua masih memiliki prospek untuk kegiatan eksplorasi lebih lanjut.

Ia menilai Papua masih memiliki peluang untuk dikembangkan, meski terdapat sejumlah faktor yang perlu diperhatikan, salah satunya terkait keamanan. Potensi tersebut, menurutnya, dapat menjadi salah satu prospek untuk mempertahankan industri nikel dalam jangka waktu yang lebih lama.
“Cuma memang ada faktor-faktor lain, seperti faktor keamanan ya. Perusahaan tidak nyaman dan tidak aman untuk bergerak di sana. Tapi, itu salah satu prospek future kita untuk bisa mempertahankan industri nikel dalam jangka waktu yang lebih lama,” pungkasnya. (Tubagus)







































