Beranda Berita Nasional ASPEBINDO: Hilirisasi dan Transisi Energi Harus Dibuktikan dengan Investasi dan Proyek Nyata

ASPEBINDO: Hilirisasi dan Transisi Energi Harus Dibuktikan dengan Investasi dan Proyek Nyata

Ketua Umum ASPEBINDO, Anggawira saat membuka Energy Leadership and Business Conference (ELBC) 2026 di Jakarta, Jumat (30/10/2026). (Foto: MNI/Lili Handayani)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Asosiasi Pemasok Energi dan Batubara Indonesia (ASPEBINDO) mendorong percepatan implementasi hilirisasi dan transisi energi nasional melalui penguatan investasi, pengembangan industri, serta realisasi proyek-proyek strategis. 

Kebijakan dan berbagai gagasan yang telah dibangun dinilai harus diterjemahkan menjadi kegiatan bisnis konkret agar mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional.

Ketua Umum ASPEBINDO, Anggawira mengatakan penguatan sektor energi dan sumber daya alam tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan maupun dialog antarpemangku kepentingan. Diperlukan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, perguruan tinggi, dan pengembang inovasi agar berbagai agenda tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk investasi dan proyek nyata.

Menurutnya, ASPEBINDO berupaya mengambil peran sebagai kolaborator yang menghubungkan agenda kedaulatan energi, peningkatan investasi industri, dan pengembangan inovasi. Ketiga aspek tersebut harus berjalan beriringan untuk memperkuat industri nasional.

“ASPEBINDO harus menjadi kolaborator, menggerakkan kedaulatan energi, menghubungkan peningkatan investasi industri dan inovasi. Ketiganya harus bisa berjalan beriringan, tidak bisa berjalan sendiri-sendiri,” ujar Anggawira saat membuka Energy Leadership and Business Conference (ELBC) 2026 di Jakarta, Jumat (30/10/2026).

Ia menilai, salah satu tantangan dalam pengembangan industri energi dan hilirisasi adalah memastikan berbagai konsep serta inovasi yang telah dihasilkan tidak berhenti pada tahap perencanaan. 

Gagasan tersebut harus mendapatkan dukungan ekosistem bisnis, akses pasar, pembiayaan, dan kolaborasi agar dapat berkembang menjadi aktivitas ekonomi produktif.

Anggawira menegaskan, inovasi yang muncul dari berbagai pihak membutuhkan dukungan lintas sektor. Menurutnya, pengembangan inovasi harus diarahkan pada implementasi sehingga dapat memberikan manfaat bagi industri dan masyarakat.

“Jangan sampai inovasinya terhenti, hanya jadi proposal. Harus tumbuh terus menjadi aktivitas bisnis,” tegasnya.

Dalam paparannya, Anggawira juga menyinggung sejumlah agenda pemerintah yang dinilai membuka peluang pengembangan industri energi dan sumber daya alam nasional.

Salah satunya adalah penguatan hilirisasi dan peningkatan nilai tambah. Menurutnya, pengembangan industri tidak boleh hanya berorientasi pada pemanfaatan sumber daya alam, tetapi juga harus mampu memperkuat kapasitas industri dalam negeri dan menciptakan rantai ekonomi yang lebih luas.

Ia mengapresiasi upaya pemerintah dalam mendorong hilirisasi serta peningkatan nilai tambah di sektor mineral dan sumber daya alam. Namun, implementasinya tetap membutuhkan pengawalan agar agenda tersebut dapat berjalan sesuai tujuan.

Selain hilirisasi, Anggawira menyoroti peluang pengembangan energi berbasis bioenergi, termasuk pemanfaatan bahan bakar nabati melalui pengembangan campuran E5 dan E10.

Menurutnya, pengembangan sektor tersebut dapat membuka peluang bisnis baru bagi pelaku usaha, termasuk generasi muda, sekaligus mendukung upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi.

“Impor energi kita besar. Kalau kita lakukan substitusi, ini menjadi salah satu potensi yang bisa dikembangkan,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti pentingnya penguatan konektivitas dan ketahanan pasokan gas nasional. Pengembangan jaringan gas dinilai menjadi bagian penting dalam membangun infrastruktur energi yang terintegrasi serta memperkuat pemanfaatan sumber daya domestik.

Menurut Anggawira, penguatan infrastruktur energi, hilirisasi, dan pengembangan energi alternatif perlu didukung investasi yang memadai. Dengan demikian, kebijakan pemerintah dapat diterjemahkan menjadi proyek yang memberikan dampak langsung terhadap pertumbuhan industri.

Untuk mendukung agenda tersebut, ASPEBINDO menjalankan sejumlah program yang berfokus pada advokasi dan pendidikan, pembukaan akses pasar dan peluang bisnis, penguatan rantai pasok, serta pengembangan inovasi.

Anggawira menjelaskan, pembukaan akses pasar dan penguatan jaringan bisnis dilakukan melalui kolaborasi di dalam maupun luar negeri. Sejumlah agenda penjajakan kerja sama telah dilakukan dengan mitra dari Rusia, Korea Selatan, hingga Kanada.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas peluang bisnis anggota sekaligus memperkuat keterhubungan pelaku industri energi Indonesia dengan jaringan usaha internasional.

Di sisi lain, ASPEBINDO juga berupaya mempertemukan pelaku usaha dengan perguruan tinggi dan pemerintah melalui forum dialog serta kegiatan kolaboratif.

Anggawira menilai, keberadaan lembaga penghubung atau inkubator diperlukan untuk menjembatani dunia usaha, akademisi, dan pemerintah. Dengan adanya jembatan tersebut, hasil penelitian dan inovasi dari perguruan tinggi diharapkan dapat dikembangkan menjadi produk maupun proyek yang memiliki nilai ekonomi.

“Jangan sampai apa yang telah kita bicarakan hanya menjadi wacana. Kita harus bisa mengakselerasi konsep-konsep yang ada, kemudian mengimplementasikannya menjadi proyek-proyek strategis yang konkret. Dari dialog menuju aksi nyata,” katanya.

Ia menambahkan, penguatan dialog kebijakan juga menjadi salah satu fokus ASPEBINDO. Menurutnya, komunikasi antara pemerintah dan pelaku industri perlu terus diperkuat agar berbagai persoalan dan kebutuhan sektor energi dapat dibahas secara lebih terarah. ASPEBINDO, lanjutnya, juga berupaya membangun kanal komunikasi yang secara khusus membahas isu energi, investasi, dan inovasi, sehingga diskusi mengenai sektor strategis tersebut memperoleh ruang yang lebih luas. (Lili Handayani)