Beranda Berita Nasional Investasi dan Teknologi Jadi Kunci Transformasi Industri Hijau Nasional

Investasi dan Teknologi Jadi Kunci Transformasi Industri Hijau Nasional

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian RI, Setia Diarta (Foto: MNI/Uyun)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Transformasi menuju industri hijau membutuhkan dukungan investasi dan pengembangan teknologi untuk mendorong pelaku industri mengadopsi proses produksi rendah karbon. Besarnya biaya investasi awal menjadi salah satu tantangan utama dalam penerapan teknologi baru, termasuk pengembangan industri baterai.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian RI, Setia Diarta, mengatakan, kebijakan dan standardisasi harus berjalan beriringan dengan dukungan investasi agar proses transformasi dapat diterapkan secara optimal oleh pelaku industri.

“Investasi pada teknologi rendah karbon tidak selalu dapat dilakukan sekaligus. Setiap perusahaan memiliki kapasitas keuangan, kebutuhan produksi, serta karakteristik teknologi yang berbeda,” kata Setia di Jakarta, Jumat (30/10/2026).

Oleh karena itu, diperlukan ekosistem pembiayaan yang mampu menghubungkan kebutuhan industri dengan penyedia teknologi dan lembaga pembiayaan. Menurutnya, pemerintah juga memiliki berbagai instrumen untuk mendukung pengembangan industri hijau, baik melalui fasilitas fiskal maupun nonfiskal. Dukungan tersebut meliputi bantuan sertifikasi, pendampingan teknis, pelatihan, promosi, penilaian kinerja perusahaan, hingga pengembangan pembiayaan hijau.

“Transformasi industri hijau tidak dapat dilaksanakan oleh pemerintah saja, tetapi juga membutuhkan peran perusahaan untuk melakukan perubahan secara mandiri,” ujarnya.

Kolaborasi terintegrasi antara pemerintah, pelaku industri, penyedia energi, investor, akademisi, dan institusi riset, menurutnya, menjadi faktor penting dalam mempercepat transformasi tersebut. Selain itu, kerja sama lintas sektor diperlukan untuk menyelaraskan langkah dan memastikan seluruh pemangku kepentingan bergerak menuju tujuan yang sama.

Ia menyebutkan, penguatan pengukuran kebutuhan investasi secara agregat dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia juga menjadi hal penting dalam mendukung transformasi industri.

“Kepemimpinan dalam ekonomi hijau bukan hanya menetapkan komitmen jangka panjang, tetapi juga memastikan adanya pengukuran prioritas, alokasi sumber daya, dan evaluasi hasil secara bertanggung jawab,” ungkapnya.

Sementara itu, ada tiga pesan utama yang ia sampaikan untuk mendorong transformasi industri hijau. Pertama, industrialisasi hijau harus menjadi strategi untuk meningkatkan daya saing industri nasional. Kedua, investasi dan teknologi merupakan penggerak utama transformasi dengan tetap memperhatikan karakteristik masing-masing sektor industri. Ketiga, kepemimpinan dan kolaborasi harus mampu menghasilkan perubahan yang terukur.

“Marilah kita jadikan ekonomi hijau sebagai bagian dari strategi pembangunan industri yang bernilai tambah, tangguh, dan berdaya saing global,” pungkasnya.

Dia berharap, melalui langkah yang terukur dan kolaborasi yang kuat, Indonesia dapat mempercepat transformasi menuju industri generasi berikutnya sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi dan industrialisasi nasional. (Fi Yun)