
NIKEL.CO.ID, JAKARTA – World Resources Institute (WRI) Indonesia mendorong peningkatan efisiensi energi sebagai langkah awal untuk menekan emisi karbon industri smelter nikel. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui optimalisasi proses produksi, pemanfaatan recovery, serta penggantian bahan reduktor.
Climate Manager WRI Indonesia, Egi Suarga, mengatakan pengurangan emisi industri nikel membutuhkan berbagai pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi operasional smelter. Dalam jangka pendek, perusahaan dapat memprioritaskan perbaikan proses produksi untuk menekan emisi yang dihasilkan dari kegiatan pengolahan.
“Hal itu sebenarnya sudah ada dalam roadmap. Jadi, tidak bisa hanya mengandalkan satu solusi untuk mengurangi emisi. Langkah yang paling dekat dan paling mudah dilakukan adalah mengurangi emisi dari proses produksi. Misalnya, dengan meningkatkan efisiensi energi, kemudian memanfaatkan recovery dalam proses produksi serta mengganti bahan reduktor,” ujar Egi dalam diskusi panel “Powering Nickel Industry in a Decarbonizing World” di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (4/11/2026).
Peningkatan efisiensi energi menjadi salah satu aspek penting dalam operasional smelter. Optimalisasi penggunaan energi pada proses pengolahan diharapkan dapat membantu mengurangi emisi dari aktivitas produksi. Selain itu, pemanfaatan recovery dan penggantian bahan reduktor juga menjadi bagian dari upaya mengurangi emisi yang bersumber dari proses produksi.
Di sisi lain, dekarbonisasi industri nikel juga menghadapi tantangan dalam penggunaan sumber energi. Ketergantungan terhadap pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara masih menjadi persoalan, terutama karena industri smelter membutuhkan pasokan listrik dalam kapasitas besar untuk menjalankan kegiatan operasionalnya.
Egi menjelaskan, penggantian PLTU tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Besarnya kapasitas pembangkit yang menopang kebutuhan energi industri, bahkan hingga skala gigawatt, membuat proses peralihan menuju sumber energi lain membutuhkan tahapan dan persiapan.
“Namun, mengapa hal ini kita tempatkan sebagai target jangka panjang? Karena sulit, bahkan mungkin mustahil, untuk mengganti PLTU dalam waktu singkat. Kita menyadari bahwa mengganti PLTU dengan kapasitas yang sangat besar, hingga gigawatt, bukanlah hal yang mudah. Energi terbarukan juga belum tentu mampu menggantikan seluruh kebutuhan tersebut,” katanya.
Keterbatasan tersebut membuat pemanfaatan energi terbarukan perlu disesuaikan dengan kebutuhan pasokan listrik industri. Pengurangan ketergantungan terhadap batu bara tidak dapat dilakukan secara mendadak apabila belum tersedia sumber energi alternatif yang mampu memenuhi kebutuhan operasional smelter.
Karena itu, perbaikan efisiensi proses produksi dalam jangka pendek perlu berjalan beriringan dengan perencanaan transisi energi dalam jangka panjang. Pengurangan kapasitas PLTU secara bertahap menjadi salah satu upaya untuk membuka ruang bagi peningkatan pemanfaatan energi terbarukan di sektor industri nikel.
Egi mengatakan, pengurangan kapasitas pembangkit berbasis batu bara secara bertahap dapat memberikan peluang bagi energi terbarukan untuk mulai melengkapi kebutuhan energi industri. Dengan pendekatan tersebut, proses dekarbonisasi dapat dilakukan tanpa mengabaikan kebutuhan pasokan listrik untuk kegiatan pengolahan nikel.
“Karena itu, upaya tersebut dilakukan secara bertahap. Nanti, ketika kapasitas PLTU mulai dikurangi, mungkin akan ada kesempatan untuk mulai melengkapi kebutuhan energi dengan energi terbarukan,” pungkasnya. (Tubagus)
Perkembangan cerita ini
Liputan Khusus Hilirisasi & Smelter Nikel →
- Efisiensi Energi Smelter sebagai Langkah Awal Dekarbonisasi Industri Nikel sedang Anda baca
- Pemerintah Perlu Lindungi Smelter yang Sudah Beroperasi, Bukan Dorong Tambah Kapasitas Produksi
- APNI Soroti Kepastian Pasokan Bahan Baku Nikel Untuk Smelter
- Irwandy Arif: Kuota Bijih Nikel Harus Sesuai Kebutuhan Smelter
- Ceria Minta Pemerintah Jamin Pasokan Bijih Nikel Untuk Smelter
- Wisnu Salman: Smelter Harus Serap Bijih Nikel Kadar Rendah
Agenda industri terdekat
- 4NovKonferensi & Pameran The 5th Nickel Producers, Processors & Buyers Conference4–5 November 2026 · Shangri-La Hotel, Jakarta
- 4NovKonferensi & Pameran SEMINAR APNI – HEATECH INDONESIA 20264 November 2026 · JIExpo Kemayoran, Hall A2, Conference Room 2
- 10Nov






























