
NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Dewan Energi Nasional (DEN) RI memandang nikel memiliki peran strategis dalam mendukung transisi energi Indonesia. Komoditas ini dinilai dapat memperkuat pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT), terutama melalui pemanfaatan teknologi baterai sebagai sistem penyimpanan energi.
Anggota Pemangku Kepentingan Industri (Koordinator) DEN RI, Satya Widya Yudha, mengatakan Indonesia telah menetapkan arah transisi menuju pemanfaatan energi baru dan energi terbarukan.
“Kan di dalam transisi kita clear betul, kita akan menuju ke energi baru dan juga energi terbarukan ke depan,” ujar Satya kepada nikel.co.id usai menghadiri Energy Leadership and Business Conference 2026 bertema Empowering Leaders, Enabling Zero Emission di Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Menurutnya, pengembangan energi terbarukan menghadapi tantangan karena sebagian besar sumber energinya bersifat intermittent atau tidak tersedia secara terus-menerus.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh faktor alam. Pasokan energi surya bergantung pada sinar matahari, energi air dipengaruhi kondisi aliran dan pasang surut, sedangkan energi angin bergantung pada ketersediaan angin.
“Di dalam energi terbarukan yang rata-rata itu adalah intermittent. Berarti intermittent itu karena kena matahari yang kadang terbit, tenggelam, air yang kadang pasang surut, terus angin yang ada pasangnya, ada surutnya. Maka teknologi baterai menjadi kunci di dalam transisi kita menuju energi terbarukan,” jelasnya.
Satya mengatakan, teknologi baterai dibutuhkan untuk menyimpan energi dari sumber terbarukan. Dengan demikian, pasokan energi dapat dimanfaatkan ketika produksi listrik dari sumber tersebut mengalami perubahan.
Ia juga menyoroti target porsi energi terbarukan dalam skema energi nasional pada 2060 yang diperkirakan mencapai 70–72%. Target tersebut membutuhkan dukungan sistem penyimpanan energi atau battery storage system.
“Jadi dalam skema kita di mana energi terbarukan itu porsinya 70-72% di tahun 2060, itu kan gede sekali. Dan mereka membutuhkan baterai storage system,” katanya.
Karena itu, Satya mendorong agar nikel menjadi bagian dari penguatan ekosistem energi baru dan terbarukan. Salah satu pemanfaatannya adalah untuk mendukung pengembangan teknologi baterai yang dapat mengatasi karakteristik pasokan energi terbarukan yang tidak stabil.
“Nah kalau saya tetap mendorong agar nikel itu menjadi bagian daripada penguatan energi baru dan terbarukan dalam menanggulangi masalah intermittent melalui teknologi baterai,” ungkapnya. (Lili Handayani)






























