Rencana Pembangunan Kawasan Industri Logam Di Kalimantan Dikecam Internasional

NIKEL.CO.ID – Indonesia dikabarkan akan mengembangkan smelter logam baru yang dibangun dengan raksasa baja dan nikel China.

Namun, kritik tidak berhenti mengalir untuk industri yang baru rencana itu.

Dilansir dari South China Morning Post, smelter nikel yang dibangun Indonesia bersama Tsingshan Holding Group itu akan dibangun di Kalimantan.

Smelter baru digadang-gadang akan menyediakan Indonesia dengan investasi yang memang diperlukan untuk mengembangkan industri baterai kendaraan elektrik (EV) di Indonesia.

Namun banyak pakar lingkungan memperingatkan proyek itu berbahaya.

Perlu penanganan yang hati-hati agar tidak merusak lingkungan dan komunitas sekitar.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Pandjaitan, mengatakan minggu lalu jika Indonesia berbicara dengan Tsingshan dan Fortescue Metals Group dari Australia untuk membangun estate industrial baru sebagai tempat peleburan bijih besi, bijih nikel dan tembaga.

Ketiga logam itu penting untuk menyediakan kebutuhan global untuk teknologi baru.

Smelter itu akan berada dekat pembangkit listrik hidropower 11 ribu megawatt di provinsi Kalimantan Utara, yang saat ini sedang dibangun oleh perusahaan konstruksi energi China PowerChina dan perusahaan Indonesia Kayan Hydro Energy.

Fase pertama proyek pembangkit listrik hidropower itu diharapkan selesai pada 2025 mendatang.

Namun tambang Australia Fortescue Metals, salah satu penyumbang penting bijih besi Australia ke China, menjelaskan mereka tidak bekerjasama dengan Tsingshan untuk membangun estate industri baru, terutama pabrik smelter.

Alih-alih membantu China, melalui anak perusahaannya, Fortescue Future Industries, mereka akan membantu pemerintah Indonesia membangun lebih banyak proyek energi hijau seperti hidropower negara dan sumber geothermal.

Sesuai kesepakatan yang disepakati kedua negara tahun lalu, Fortescue Future Industries mengatakan akan melakukan studi kecocokan untuk mengembangkan lebih banyak proyek hijau bebas karbon.

Perusahaan itu juga akan membangun pembangkit listrik geothermal 25 Gigawatt (GW) dan pembangkit listrik 60 GW di Papua dan Kalimantan Timur dan Utara.

Proyek-proyek ini akan menguntungkan lebih banyak bisnis lokal dan rantai suplai mereka serta mendulang ekspor Indonesia, klaim perusahaan Australia itu.

“FFI berupaya mengambil posisi pemimpin dalam energi hijau dan industri produk hijau, menguatkan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja saat kita berpindah dari bahan bakar fosil,” ujar CEO Fortescue Future Industries di This Week in Asia.

Menarik investor

Scott Ye, direktur PT Indonesia Weda Bay Industrial Park, mengatakan rencana membangun pabrik logam di Kalimantan masih “didiskusikan”.

Bijih nikel yang ditambang dari tambang itu sebagaimana yang ditambang dari tambang nikel lain, Tambang Industri Morowali, kini digunakan besar-besaran untuk produksi stainless steel.

Namun Indonesia akan menggunakannya untuk produksi baterai lithium-ion tahun 2024.

Membangun smelter dekat pembangkit listrik hidropower artinya Tsingshan bisa mencapai tujuannya mengoperasikan tambang nol-karbon.

Dengan ini, tuntutan untuk menjadi pembuat kendaraan elektrik global akan terpenuhi.

Tsingshan bulan lalu umumkan mereka akan membangun 2000 megawatt pembangkit listrik solar dan angin di Indonesia dalam 5 tahun ke depan.

Sampai saat ini, smelter nikel di Indonesia bergantung pada energi dari pembakaran batubara.

“Ada banyak permintaan (untuk nikel hijau) dari baik perusahaan EV China atau negara lain.

“Namun ada juga banyak tekanan dari pemerintah, contohnya China, untuk mengurangi emisi karbon dioksida,” ujar Ye saat webinar yang diprakarsai Klub Koresponden Luar Negeri Jakarta.

Elon Musk, CEO Tesla, tahun lalu mengatakan perusahaannya akan memberikan “kontrak raksasa” untuk pembuat baterai yang dapat menyediakannya dengan nikel ramah lingkungan.

Indonesia sudah menargetkan untuk mendapatkan kontrak itu.

Nikel kembali dicari berkat pasar EV tapi juga karena AS dan negara lain mencari cara mengamankan rantai suplai logam penting itu, mengurangi ketergantungan pada satu penyuplai saja.

Indonesia sendiri memiliki sumber daya nikel terbesar di dunia yang diharapkan bertahan lebih dari 30 tahun.

Indonesia dulunya adalah produsen nikel terbesar sampai mendapat larangan ekspor bijih nikel tahun lalu untuk mengembangkan rantai suplai yang lengkap.

Kini tantangan yang dimiliki Indonesia adalah kurangnya dana, kemampuan dan teknologi yang diperlukan untuk mengembangkan sektor nikel, ujar Lin Che Wei, pendiri firma peneliti di Indonesia, Independent Research and Advisory Indonesia.

Tantangan lainnya adalah ancaman kerusakan lingkungan, yang berarti pabrik logam nikel harus tidak memiliki dampak negatif terhadap komunitas lokal dan hutan di Kalimantan.

Sumber: Intisari Online

Read More

Benarkah Energi Terbarukan Bakal Bunuh Energi Fosil?

NIKEL.CO.ID – Energi terbarukan saat ini kian dilirik untuk menggantikan energi berbasis fosil yang kelak bakal habis. Namun benarkah energi terbarukan bakal menggusur energi fosil karena lebih unggul secara ekonomis dan ekologis? Belum tentu.

Penggunaan energi terbarukan memang terus bertumbuh seiring dengan nilai keekonomiannya yang terus meningkat, sebaliknya penggunaan energi fosil menurun menyusul pengurangan emisi gas karbon sebagaimana digariskan dalam Kesepakatan Paris mengenai perubahan iklim.

Menurut Renewable Energy Institute, penggunaan energi fosil untuk listrik tahun lalu turun 156 terawatt hours (TWh) dari posisi pada tahun 2018. Sebaliknya, penggunaan energi terbarukan naik 297 TWh, atau lebih tinggi dari tambahan total pembangkitan listrik yang sebesar 233 Twh.

“Ini adalah dorongan keekonomian mengingat listrik dari energi terbarukan yang lebih murah berhasil mengalahkan pembangkit listrik fosil dan nuklir,” tutur Tomas Kaberger, Kepala Dewan Eksekutif Renewable Energy Institute sebagaimana dikutip Reuters.

Sumber: Refinitiv
Sumber: Refinitiv

Penurunan pembangkitan listrik berbasis energi fosil pada 2019 itu merupakan yang kedua kali terjadi dalam sejarah, menurut BP’s Statistical Review of World Energy. Penurunan pertama terjadi pada 2009 akibat krisis finansial global yang memicu melambatnya pertumbuhan produksi listrik global.

Bertumbuhnya industri pembangkitan listrik berbasis energi terbarukan menjadi pemicunya, terutama di tengah gencarnya kampanye untuk meninggalkan energi fosil, khususnya batu bara. Beberapa negara mulai beralih ke energi terbarukan sesuai komitmen Paris Agreement.

Di Amerika Serikat (AS), sudah ada penutupan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis batu bara, dengan kapasitas mencapai 15,3 gigawatts (GW) pada 2019 saja. Pembangkitan listrik dari batu bara di India juga turun, menjadi penurunan pertama dalam 1 dekade terakhir.

Meski tren penggunaan energi terbarukan meningkat dengan pesat, tetapi porsinya masih sangat kecil jika dibandingkan dengan total konsumsi energi. Di AS, misalnya, sumber energi utama masih didominasi energi fosil, sebesar 80,2%. Porsi energi terbarukan hanya 11,5%.

w
Sumber: Pew

Kaberger menilai pertumbuhan penggunaan energi terbarukan terjadi karena meningkatnya penggunaan mobil listrik, yang mendapatkan daya listrik dari sumber energi terbarukan. Benarkah demikian? Tidak ada uraian lebih jauh mengenai itu.

Namun jika bicara jaringan listrik (grid), sulit menentukan sejauh mana mobil listrik mendapat daya dari sumber terbarukan dan bukan dari fosil. Pasalnya, mayoritas produksi listrik berasal dari energi fosil dan energi terbarukan yang saling bercampur.  Tak ada yang bisa mengubah itu, karena terkendala satu hal: baterai.

Dalam jaringan listrik nasional, kapasitas produksi listrik harus selalu di atas beban puncaknya, untuk mengantisipasi lonjakan konsumsi listrik di masyarakat. Ketika konsumsi turun, maka produksi pun diturunkan, secara real time atau bersamaan. Demikian juga sebaliknya.

Tidak (belum) ada konsep penyimpanan listrik ke dalam baterai, yang bakal dilepas ke pengguna ketika beban puncak terlampaui. Oleh karenanya, produksi listrik dalam skala nasional harus berlangsung terus-menerus secara real time.

Pada titik inilah energi terbarukan menemui kelemahannya, sehingga membuatnya berposisi sebagai pelengkap energi fosil. Energi berbasis dari sumber alam ini terkendala persoalan intermitensi (produksi naik turun mengikuti kondisi alam). Problem ini terutama dialami oleh energi surya dan angin, yang merupakan dua sumber energi terbarukan paling murah.

q
Sumber: BNEF

Bayangkan jika PLN memakai 100% energi listrik dari panel surya. Ketika cuaca mendung, maka kemampuan produksi listrik, sebagaimana temuan CleanTechnia, akan turun drastis hingga menjadi seperempat dari biasanya.

Jika itu terjadi, maka 3/4 pasokan listrik hilang. Maka terjadilah pemadaman berjamaah. Tidak usah dibayangkan bagaimana PLN memasok listrk pada malam hari ketika solar panel berhenti produksi. Demikian juga dengan pembangkit listrik dari bayu yang akan kehilanngan produksi ketika angin berhenti bertiup.

Oleh karenanya, kedua sumber energi terbarukan tersebut memerlukan baterai. Jika bicara baterai, maka kita akan bicara soal eksploitasi mineral dalam skala besar, yang memiliki dampak negatif secara ekologis, dan memiliki jejak karbon yang besar.

Ongkos memproduksi perangkat energi terbarukan memang kian murah, tetapi ongkos produksi baterai masih lebih mahal jika dibandingkan dengan ongkos produksi listrik dari fosil.

Mari kita ambil contoh Tesla yang memiliki pabrik baterai listrik yang terbesar di dunia, yang berlokasi di Nevada. Pada 2018, perseroan mencapai kapasitas produksi tahunan baterai setara dengan 20 gigawatthour (Gwh). Besar bukan?

Namun harap diingat, angka itu hanya setara dengan 6 menit permintaan listrik AS setahun. Menurut Energy Information Administration dalam laporan berjudul “Electric Power Annual 2018”, konsumsi listrik AS pada 2020 mencapai 4.222,5 terawatthour (TWh), atau 4,2 juta Gwh.

Dus, Tesla bakal perlu mendongkrak kapasitas produksinya 210.000 kali dari yang di Nevada, jika ingin memproduksi baterai yang cukup untuk memasok kebutuhan listrik AS, bersumber dari energi surya dan angin, mengenyahkan energi fosil. Dengan kapasitas sekarang, bakal perlu 210.000 tahun untuk mewujudkan itu.

Adakah negara yang memiliki baterai raksasa untuk menjaga pasokan listrik nasonal ketika terjadi kendala intermitensi itu terjadi? Menurut catatan Tim Riset CNBC Indonesia, tidak ada. Sejauh ini, hanya Jerman yang menjadi negara dengan persentase penggunaan listrik surya dan bayu terbesar, yakni sebesar 42%.

q
Sumber: Statista

Namun menurut World Energy Council (2018), Jerman menjadi negara dengan tarif listrik termahal dunia, yakni sebesar US$0,33 per kwh, atau empat kali lebih mahal dari tarif listrik di China yang pada periode sama mendapatkan 70,4% pasokan listriknya dari energi fosil.

Mengapa demikian? Jawabannya kembali pada biaya baterai. Saat ini, penghitungan ongkos pembangkitan listrik tersetarakan (levelized cost of energy/lcoe) energi terbarukan belum memasukkan biaya baterai.

Jika ingin energi terbarukan menggantikan energi fosil saat ini juga, maka diperlukan produksi baterai raksasa dalam skala besar, yang pada akhirnya berujung pada eksploitasi dan jejak karbon dalam skala yang sama besarnya dengan eksploitasi energi fosil.

Menurut HMS Bergbau AB, untuk memproduksi 50-100 kilogram (kg) bahan baku baterai (yakni lithium, tembaga, nikel kobalt, mineral tanah jarang, aluminium dan baja) perlu penambangan, pengangkutan, dan pemrosesan panjang. Tiap 1 kilogram baterai Tesla membutuhkan ketersediaan material tersebut hingga 25-50 ton.

“Setiap 540 kg baterai Tesla menyimpan listrik yang disimpan setiap 30 kg batu bara untuk pembakaran di pembangkt listrik. Tiap 30 kg batu bara yang ditambang sebanding dengan 25-50 ton bahan mentah yang diperlukan (untuk baterai),” tutur Lars Schernikau, Direktur Utama HMS Bergbau AB, emiten batu bara asal Jerman, kepada CNBC Indonesia.

Oleh karena itu, menurut Lars, ada dampak lingkungan yang besar ketika memproduksi baterai dalam skala masif untuk menggantikan seluruh mobil atau pembangkit listrik fosil. Dia juga mengingatkan dampak lingkungan daur ulang baterai yang juga harus diperhitungkan.

Singkat kata, membangun pembangkit listrik tenaga surya atau tenaga bayu secara mandiri menggantikan energi fosil adalah utopia, terutama untuk negara sebesar Indonesia. Kendala intermitensi pembangkit listrik dari energi terbarukan bisa teratasi oleh pembangkit listrik berbasis fosil.

Jadi mohon maaf, selama baterai masih menjadi kendala, energi terbarukan takkan bisa menggusur peran energi fosil secara total. Solusinya, kolaborasi antara fosil dan non-fosil.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Menanti Peta Jalan Pengembangan Baterai Lithium di Indonesia

Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan peta jalan pengembangan baterai lithium telah rampung dibahas. Target produksinya pada 2023.

NIKEL.CO.ID – Pemerintah berambisi menjadikan Indonesia sebagai produsen baterai lithium-ion terbesar di dunia. Hilirisasi bahan bakunya, yaitu nikel, terus digenjot. Begitu pula investasi untuk pembangunan pabriknya.

Peluang ini memang terbuka lebar mengingat saat ini industri otomotif sedang bertransisi ke kendaraan listrik. Cadangan nikel dalam negeri juga melimpah dan merupakan yang terbesar secara global.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat total produksi nikel di dunia pada tahun lalu berada di angka 2,6 juta ton. Sementara secara global, Indonesia merupakan produsen nikel terbesar di dunia dengan menghasilkan 800 ribu ton.

Puncak produksi olahan nikel terjadi pada tahun lalu. Kementerian ESDM mencatat produk olahannya mencapai hampir 2 ton. Angka ini melebihi target 860 ribu ton karena ada tambahan produksi dari pabrik pemurnian atau smelter PT Virtue Dragon di Konawe, Sulawesi Tenggara, yang menghasilkan 745 ribu ton.

Jumlah smelter nikel di Indonesia merupakan yang terbesar dibandingkan pabrik pemurnian mineral lainnya. Selain Virtue Dragon dari Tiongkok, pemilik smelter nikel lainnya adalah PT Aneka Tambang Tbk, PT Vale Indonesia, PT Fajar Bhakti, PT Sulawesi Mining Investment, PT Gabe, PT Cahaya Modern, PT Indoferro, PT Century Guang Ching, PT Titan, PT Bintang Timur, dan PT Megah Surya Pertiwi.

Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan peta jalan pengembangan baterai lithium telah rampung dibahas.

“Kami optimistis di 2023 sudah dapat memproduksinya dengan teknologi terkini,” katanya dalam The 9th Indonesia EBTKE Virtual Conference and Exhibition 2020, Rabu (25/11/2020).

Biaya produksi baterai dalam satu dekade terakhir terus menurun. Hal ini membuat harga produknya lebih murah. Dari US$ 1.160 per kilowatt hour (kWh) pada 2010 menjadi US$ 156 per kilowatt hour pada 2019.

Bahan bakunya yang banyak menggunakan bijih nikel, membuat negara ini dapat menjadi pemain global baterai lithium.

“Potensi nikel kita terbesar dan biayanya lebih rendah dari Australia,” ujar Luhut.

Dengan kondisi itu, pemerintah berkomitmen tak lagi membuka keran ekspor bijih nikel. Fokusnya sekarang adalah hilirisas dengan cara membangun pabrik baterai.

Regional Climate and Energy Campaign Coordinator Greenpeace Indonesia Tata Mustasya menilai saat ini baterai lithium merupakan kunci pemerintah untuk mengembangkan energi terbarukan secara masif, terutama untuk pembangkit listrik tenaga matahari atau PLTS.

Baterai juga merupakan kunci untuk desentralisasi energi dalam bentuk pemasangan solar panel di rumah tangga, kantor, dan industri. Proyeksi bisnis baterai ke depan cukup cerah. Kesadaran masyarakat dunia terkait pentingnya transisi dari energi fosil ke energi baru terbarukan (EBT) pun kian meningkat.

Peranan pemerintah dalam mendorong masyarakat untuk beralih menggunakan energi bersih memang masih cukup besar. Namun, pasar dalam negeri akan tercipta dengan sendirinya dalam satu dekade mendatang. Kondisi ini seiring turunnya biaya energi terbarukan dibandingkan fosil, terutama batu bara.

Industri Baterai Perlu Jaminan Akses Lithium

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menyampaikan pengembangan industri baterai perlu mendapat jaminan pasokan bahan baku utamanya. Indonesia merupakan penghasil nikel dan kobalt tapi tidak memiliki lithium.

“Negara terdekat yang memproduksinya adalah Australia,” ujarnya.

Pemerintah juga perlu menyiapkan industri kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) yang akan menyerap produksi baterai lithium. Penyerapannya tak cukup hanya untuk kendaraan berpenumpang roda empat, tapi juga bus dan kendaraan roda dua. Jaminan permintaan pasar ini akan memberi kepastian pada sektor hulu (tambang nikel) hingga hilirnya (pabrik baterai).

Tuntutan dunia internasional saat ini adalah melaksanakan bisnis yang ramah lingkungan. Karena itu, industri hulu dan seluruh rantai pasokan baterai lithium perlu mengedepankan praktik bisnis berkelanjutkan dan mengeluarkan emisi karbon serendah mungkin.

Standar-standar internasional itu harus terpenuhi apabila pemerintah ingin produk baterai dalam negeri masuk ke industri global. Sejalan dengan hal tersebut, angka bauran energi Indonesia juga perlu ditingkatkan untuk menunjukkan komitmen mengurangi emisi.

“Dengan demikian upaya dekarbonisasi energi negara ini dapat terwujud,” ucap Fabby.

Cadangan nikel yang besar dan maraknya pengembangan kendaraan listrik membuat prospek industri baterai lithium cerah. Apalagi saat ini terjadi tren pergeseran ke energi terbarukan di seluruh dunia.

“Ini jelas menjadi peluang yang besar. Tinggal bagaimana kemudahan dan kepastian berinvestasi bisa dijamin oleh pemerintah,” kata Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan.

Holding baterai yang akan mengelola industri baterai kendaraan listrik dalam negeri dari hulu hingga ke hilir melibatkan tiga badan usaha milik negara (BUMN) yang besar.

Ketiganya adalah PT Indonesia Asahan Aluminium (MIND ID), Pertamina, dan PLN. Rencana pembentukan holding PT Indonesia Baterai secara resmi ditargetkan kelar dalam waktu dekat.

Direktur Utama Indonesia Asahan Aluminum atau MIND ID Orias Petrus Moedak mengatakan prosesnya legalnya hampir selesai.

Dua perusahaan asing telah menyatakan minatnya bergabung dalam bisnis ini, yaitu Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL) asal Tiongkok dan LG Chem Ltd asal Korea. Keduanya termasuk produsen baterai kendaraan listrik (EV) terbesar di dunia.

Proyek Kendaraan Listrik Tak Sejalan dengan Transisi Energi

Tak hanya roadmap pengembangan baterai lithium di Indonesia, Kementerian ESDM juga tengah menggodok peta jalan untuk percepatan pengembangan kendaraan bermotor listrik beserta infrastruktur pendukungnya.

Salah satunya melalui skema stasiun penukaran baterai kendaraan listrik umum (SPBKLU) dan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU). Berdasarkan peta jalan itu, setidaknya dibutuhkan investasi sebesar Rp 309 miliar di tahun ini untuk pembangunan SPKLU.

Angkanya akan terus meningkat hingga Rp 12 triliun pada 2030 untuk membangun 7 ribu SPKLU. Masyarakat bisa mengisi ulang kendaraan bermotor listriknya di stasiun pengisian listrik ini. untuk penukaran baterai kendaraan bermotor listrik dapat melalui SPBKLU.

Skema bisnisnya telah diatur dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 13 Tahun 2020 yang merupakan aturan pelaksana dari Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 55 Tahun 2019 tentang percepatan program kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Dalam aturan tersebut, PLN juga ditugaskan untuk menyediakan infrastruktur SPKLU dan SPBKLU. Perusahaan setrum negara ini juga dapat menggandeng berbagai pihak untuk turut serta terjun dalam skema bisnis itu.

Tata Mustasya mengatakan peta jalan kendaraan listrik masih belum sejalan dengan kebijakan transisi energi.

“Ini hanya memindahkan dampak buruk dari sektor transportasi ke sektor kelistrikan karena masih terkunci pembangkit listrik tenaga uap atau PLTU batu bara,” ujarnya.

Langkah lebih konkret adalah mengubah bauran energi di Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021 hingga 2030. Di RUPTL terakhir (2019-2028) PLTU batu bara masih berkontribusi sebesar 48% pasokan listrik di Indonesia.

“Ini masih akan mengunci Indonesia dalam 30 hingga 40 tahun ke depan,” kata dia.

Artikel ini telah tayang di Katadata.co.id dengan judul “Menanti Peta Jalan Pengembangan Baterai Lithium di Indonesia

Read More

Presiden Jokowi Berkomitmen Membangun Ekonomi Indonesia Lebih Hijau dan Berkelanjutan

Geliat pemulihan ekonomi tidak boleh lagi mengabaikan perlindungan terhadap lingkungan.

“Pengesahan omnibus UU Cipta Kerja adalah langkah besar kami untuk mempermudah izin usaha dan memberikan kepastian hukum, serta memberikan insentif untuk menarik investasi, terutama untuk industri padat karya dan ekonomi digital,” lanjutnya.

Presiden menyebut, Indonesia terus berkomitmen untuk menuju ekonomi lebih hijau dan berkelanjutan. Menurutnya, geliat pemulihan ekonomi tidak boleh lagi mengabaikan perlindungan terhadap lingkungan.

“Perlindungan bagi hutan tropis tetap menjadi prioritas kami sebagai benteng pertahanan terhadap perubahan iklim,” tambahnya.

Indonesia sendiri telah melakukan beberapa terobosan, antara lain memanfaatkan biodiesel B-30, mengembangkan green diesel D100 dari bahan kelapa sawit yang menyerap 1 juta ton sawit produksi petani, memasang ratusan ribu Pembangkit Listrik Tenaga Surya di atap rumah tangga, serta mengolah biji nikel menjadi baterai litium yang dapat digunakan di ponsel dan mobil listrik.

“Semua upaya tersebut akan menciptakan puluhan ribu lapangan kerja baru yang sekaligus berkontribusi pada pengembangan energi masa depan,” ujarnya.

Tahun 2021 akan menjadi tahun yang penuh peluang bagi Indonesia untuk berpartisipasi dalam kebangkitan perekonomian dunia. Indonesia mendukung dunia dengan membangun ekosistem investasi yang jauh lebih baik dengan melakukan perbaikan ekosistem regulasi dan birokrasi secara besar-besaran, memberikan insentif bagi investasi yang sesuai dengan prioritas yang telah ditetapkan, serta menjamin kondisi sosial dan politik yang stabil.

“Saya mengundang masyarakat dunia untuk bergabung dan menanamkan investasi di Indonesia, untuk membangun ekonomi dunia yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan resilient,” tandasnya.

Sumber: PRESIDEN.GO.ID

Read More

Cybertruck Tesla Dan Empat Model Lainnya Sudah Bisa Dipesan Di Indonesia Dengan Uang Muka Rp100 Juta

NIKEL.CO.IDSetelah Tesla mengumumkan bakal membangun pabriknya di Indonesia beberapa waktu lalu, maka selangkah lagi Indonesia bisa menjadi raja mobil listrik dunia.

Perusahaan yang dirintis Elon Musk itu memang telah lama tertarik dengan Indonesia karena kaya akan nikel, yang merupakan salah satu bahan utama dalam pembuatan baterai mobil listrik.

Mobil listrik merupakan salah satu mobil yang masuk ke dalam unit mobil ramah lingkungan terbaik yang bisa menarik perhatian banyak orang.  Di Indonesia, mobil listrik sudah bisa kamu miliki dengan berbagai macam tipe hingga merek mobil listrik yang salah satunya adalah Tesla.

Berikut ini adalah tipe mobil listrik Tesla yang sudah masuk ke Indonesia yang dirangkum dari berbagai sumber.

Belakangan juga diketahui Mobil Listrik Tesla Model Y dan Cybertruck sudah bisa dipesan melalui importir umum (IU) seperti Prestige Motorcars.

Tesla Model S

Mobil yang satu ini hadir dengan model sedan dan desain yang sangat futuristik. Tesla Model S dilengkapi dengan tenaga dari baterai lithium-ion 100 kWh. Dengan kapasitas baterai yang terisi penuh maka mobil ini siap melaju hingga jarak 506 km.

Jarak tersebut mengindikasikan bawah mobil listrik satu ini begitu hemat. Mobil ini memiliki lima varian warna yang bisa kamu pilih, di antaranya pearl white, solid grey, red mica, grey metallic, dan blue metallic. Mobil ini dibanderol berkisar $ 71.990 atau Rp1 Miliar.

Tesla Model X

Mobil listrik Tesla Model X hadir dengan interior yang begitu mewah dan aneka fitur canggih lainnya. Bahkan terdapat sebuah layar berukuran besar yang bisa digunakan untuk mengatur berbagai macam hal, mulai dari mengatur jok mobil hingga mode berkendara.

Tesla Model X dilengkapi dengan sebuah baterai yang hanya membutuhkan waktu tujuh jam untuk proses charging hingga terisi penuh. Saat berkendara dengan kecepatan penuh, mobil ini mampu menempuh jarak hingga 474 km.  Di prestige Motorcars, mobil listrik Tesla Model X dibanderol seharga  Rp2 Miliar.

Tesla Model 3

Tesla Model 3 merupakan tipe yang paling terjangkau untuk dipasarkan di Tanah Air.  Meski nilai jual yang terbilang terjangkau dibanding dengan mobil listrik lainnya, tetap kesan premium dengan fitur canggih bisa ditemukan pada mobil tersebut.

Fitur yang dimiliki mencakup autopilot, autoparkauto lane change, adaptive cruise control, dan kamera 360 derajat. Dalam posisi baterai penuh, tenaga dan jangkaunya mampu bertualang sejauh 409 km untuk varian Standard Range Plus.  Tesla Model 3 ditawarkan mulai Rp 1 Miliaran.

Tesla Model Y

Elon Musk menciptakan Tesla Model Y untuk menjangkau konsumen menengah, di mana sebelumnya Model 3 yang jadi produk termurah Tesla. Model Y memiliki dimensi lebih besar ketimbang dari Model 3 yakni ruang kaki penumpang baris kedua dengan lebih lega. Sedangkan dari kecanggihan fitur mirip dengan yang dimiliki oleh Model 3 seperti kunci menggunakan antar-muka smartphone yang terhubung dengan aplikasi Tesla Mobil.

Fungsi untuk remote kunci yakni menyalakan dari jarak jauh, mencari lokasi mobil, Speed Limit Mode dan masih banyak fitur canggih lainnya yang terhubung dengan smartphone.

Mobil ini memiliki tiga varian yakni Longe Range penggerak roda belakang atau RWD yang dibanderol 43.700 dolar atau setara Rp 610,6 juta. Sedangkan tipe Long Range penggerak empat roda atau All Wheel Drive (AWD) berkisar 47.000 dolar atau Rp666,5 Juta. Terakhir tipe Performance AWD seharga 56.700 dolar atau Rp792,3 Juta.

Tesla Cybertruck

Bagi yang menantikan Tesla Cybertruck hadir di Indonesia, kini tinggal menunggu sebentar lagi. Pasalnya, Prestige Motorcars sudah mulai membuka pemesan untuk calon konsumen di Indonesia. Mobil listrik pikap ini memiliki desain futuristik yang memiliki Tesla Cybertruck tiga pilihan motor yakni Single Motor RWD dengan daya tempuh 402 km dan daya towing  3.401 kg, Dual Motor AWD dengan jarak tempuh 83 km dan daya towing 4.535 kg.

Cybertruck Tri Motor AWD dengan daya jelajah mencapai 800 km dengan kemampuan towing 6.350 dan mampu melesat dari titik 0 hingga 100 kpj hanya dalam waktu 2,9 detik saja. Prestige Motorcars menyediakan proses pre-order dengan DP Rp100 Jutaan dengan harga estimasi awalnya dari Rp1,8 Miliar.

Sumber: akurat.co

Read More

Tingginya Permintaan Listrik Untuk Smelter Nikel, Pemerintah Sedang Siapkan Kawasan Industri Dengan Energi Ramah Lingkungan

NIKEL.CO.ID – Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Septian Hario Seto mengatakan Indonesia punya peluang untuk fokus mengembangkan energi hijau untuk ikut menghidupi industri smelter.

Menurut Seto, peluang itu timbul lantaran saat ini banyak industri smelter yang lebih memilih membangun pembangkit sendiri untuk memenuhi kebutuhan pasokan listrik mereka.
“Saat ini dengan banyaknya kawasan industri yang fokus ke hilirisasi, industri bernilai tambah, mereka (industri) akan membangun sendiri pembangkit listrik. Hal itu juga dilakukan untuk menyediakan produk yang kompetitif,” katanya dalam webinar soal listrik untuk industri smelter di Jakarta, Kamis (12/11/2020).

Seto menuturkan dalam lima tahun ke belakang, terjadi tren pembangunan smelter di Indonesia, utamanya tersebar di wilayah timur. Dalam kalkulasinya, sekitar 13-14 miliar dolar AS sudah diinvestasikan pemodal untuk industri smelter sejak 2014 lalu. Dari investasi tersebut, ia menyebutkan ada sekitar 600 ribu-700 ribu ton konten nikel yang diproduksi berdasarkan kapasitas smelter yang ada.

Ke depan, Seto memprediksi masih akan ada terus peningkatan kapasitas smelter khususnya untuk memproduksi nickel pig iron (NPI) atau besi mentah yang jadi bahan baku baja tahan karat (stainless steel).

Hal itu lantaran hingga saat ini masih ada pembangunan fasilitas smelter nikel dengan kapasitas besar di sejumlah kawasan industri di Indonesia timur, termasuk penambahan kapasitas di Weda Bay dan Morowali Utara.

“Dengan ini tentu akan ada permintaan tinggi terhadap pasokan listrik untuk smelter nikel. Namun, kondisinya, kebanyakan smelter yang bisa memproduksi produk NPI yang efisien dan kompetitif itu mempunyai pembangkit listrik sendiri,” katanya.

Kendati demikian, di tengah maraknya persyaratan akan produk yang lebih “hijau” dan ramah lingkungan termasuk diantaranya kriteria jejak karbon rendah yang diminta perusahaan-perusahaan Eropa, Indonesia akan mengambil peluang tersebut dengan mengembangkan kawasan industri khusus yang akan dapat listrik utama dari tenaga air (hidro).

“Saat ini kami tengah berencana menyiapkan kawasan industri khusus yang akan dilistriki dari tenaga hidro. Kami tengah menyiapkan satu di Kalimantan Utara dan satu lagi di Papua,” imbuhnya.

Pengembangan pembangkit listrik tenaga hidro itu akan melibatkan pendiri Fortescue Metals Group Andrew Forrest yang telah melakukan sejumlah pendekatan ke pemerintah RI sejak beberapa waktu lalu.

“Andrew Forrest bersemangat sekali untuk membangun hydropower ini. Karena kalau bisa memproduksi stainless steel menggunakan hydropower, itu akan menambah nilai produk juga. Ini juga jadi peluang bagi investor dan penyedia teknologi untuk masuk area tersebut,” kata Seto.

Sumber: ANTARA

Read More