Beranda Berita Nasional Transisi Energi Perkuat Ketahanan Energi dan Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Transisi Energi Perkuat Ketahanan Energi dan Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno (Foto: MNI/Lili)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, menilai transisi energi menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. Upaya tersebut perlu diiringi dengan pengurangan emisi dan pengembangan industri hijau di dalam negeri.

Eddy mengatakan, pertumbuhan ekonomi nasional yang ditargetkan mencapai 8% harus tetap memperhatikan aspek dekarbonisasi.

“Kita bisa mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi 8%, tetapi harus memperhatikan juga aspek-aspek dekarbonisasi, bahwa kita bertumbuh secara berkualitas,” kata Eddy kepada awak media, di Jakarta, Jumat (30/10/2026).

Ia menjelaskan, percepatan transisi energi perlu dilakukan dengan mengoptimalkan potensi sumber energi terbarukan yang dimiliki Indonesia. Langkah ini penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, terutama komoditas energi yang masih bergantung pada impor.

“Satu, transisi energi harus berjalan. Bagaimana kita benar-benar mencoba ketahanan energi kita, kita harus memanfaatkan sumber-sumber energi terbarukan yang besar dan banyak yang kita miliki saat ini, untuk mengurangi ketergantungan kita terhadap fosil dan fosil yang kita impor,” ujarnya.

Selain itu, ia juga menyoroti pemanfaatan teknologi untuk menghasilkan sumber energi alternatif. Ia mendorong peningkatan pemanfaatan bahan bakar nabati melalui pengembangan biodiesel dan bioetanol. Menurutnya, peningkatan produksi etanol dapat mendukung pencampuran etanol ke dalam BBM sehingga menghasilkan bahan bakar yang lebih bersih sekaligus menekan impor.

“Kita juga akan melakukan itu dengan meningkatkan etanol, produksi etanol kita, untuk kemudian kita campur ke dalam BBM kita, untuk menghasilkan BBM yang lebih bersih, tapi juga mengurangi ketergantungan kita pada BBM impor,” ungkapnya.

Eddy mengakui percepatan transisi energi masih menghadapi sejumlah tantangan. Dua persoalan utama yang perlu diperhatikan adalah kebutuhan biaya investasi dan keterbatasan infrastruktur energi.

Pengembangan energi terbarukan, menurutnya, membutuhkan pembiayaan yang tidak sedikit. Selain itu, sebagian besar potensi energi terbarukan Indonesia berada di wilayah terpencil yang belum memiliki infrastruktur dan akses memadai.

“Pertama, tantangannya adalah biaya. Biayanya juga tidak kecil untuk melakukan transisi energi ini,” jelasnya.

Ia menambahkan, pembangunan jaringan transmisi menjadi salah satu kebutuhan mendesak agar potensi energi terbarukan di daerah dapat disalurkan menuju wilayah yang membutuhkan pasokan energi, termasuk Pulau Jawa dan Sumatera.

“Pengembangan infrastruktur energi juga menjadi suatu hal yang sangat penting, terutama dari aspek transmisi energi,” tuturnya.

Namun, Eddy memandang berbagai tantangan tersebut sebagai peluang untuk mengembangkan industri nasional. Menurutnya, kebutuhan komponen dan teknologi dalam pengembangan energi terbarukan dapat mendorong peningkatan kapasitas manufaktur di dalam negeri.

Lebih lanjut, ia menilai pengembangan industri hijau akan memberikan dampak positif terhadap penciptaan lapangan kerja baru atau green jobs.

“Green industries ini juga akan menyerap tenaga kerja, green jobs. Jadi, saya kira tantangan ini justru menjadi peluang besar bagi kita semua,” pungkasnya. (Uyun)