
NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong penguatan riset terintegrasi untuk mendukung pengembangan industri hilir dan mempercepat transisi energi di Indonesia. Upaya tersebut dilakukan melalui pemanfaatan kapasitas organisasi riset dan pusat riset BRIN, serta kolaborasi dengan industri agar hasil penelitian dapat diterapkan dan dikomersialisasikan.
Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan BRIN, Prof. Dr. Ir. R. Nunung Nuryartono, menyampaikan bahwa BRIN memiliki 12 organisasi riset dan 85 pusat riset yang dapat menjadi bagian dari pengembangan teknologi untuk mendukung kebutuhan industri.
Hal tersebut disampaikannya dalam pembukaan Energy Leadership and Business Conference 2026 bertema Empowering Leaders, Enabling Zero Emission di Jakarta, Jumat (30/10/2026).
“Kita sudah memiliki peta jalan. Semuanya ini dimanfaatkan. Semuanya ini dilakukan oleh teman-teman riset-riset di 12 riset organisasi. Dan juga 85 pusat riset yang ada di BRIN,” ujar Nunung.
Menurutnya, peta jalan riset tersebut mencakup sejumlah bidang yang berkaitan dengan pengembangan industri energi. Di antaranya integrasi energi, hilirisasi industri energi, kedaulatan teknologi nasional, penguatan basis keilmuan, serta inovasi yang diarahkan pada kebutuhan tertentu.
Nunung menjelaskan, hasil penelitian tidak cukup berhenti pada tahap pengembangan teknologi. Riset perlu diarahkan agar dapat dimanfaatkan oleh pelaku industri dan memiliki kesiapan untuk dikomersialisasikan.
“Jadi kita sudah memiliki peta jalan. Semuanya ini dimanfaatkan. Semuanya ini dilakukan oleh teman-teman riset-riset di 12 riset organisasi. Dan juga 85 pusat riset yang ada di DRIP. Mungkin nanti pada kesempatan khusus kita bisa lebih intens untuk melihat teknologi-teknologi apa saja yang siap bersama-sama dengan DRIP ini untuk dimanfaatkan,” katanya.
Ia menambahkan, BRIN menjalankan sejumlah program untuk memperluas hubungan antara lembaga riset dengan berbagai pemangku kepentingan. Program tersebut antara lain BRIN Goes to Industry, BRIN Goes to Society, BRIN Goes to University, dan BRIN Goes to School.
Melalui program-program itu, BRIN berupaya membangun keterhubungan antara peneliti, perguruan tinggi, masyarakat, dan industri. Kolaborasi tersebut diperlukan agar hasil penelitian dapat menjawab kebutuhan pengguna teknologi.
Jembatani Riset dan Kebutuhan Industri
Dalam paparannya, Nunung juga menyoroti tantangan yang dikenal sebagai the valley of death, yakni kondisi ketika teknologi hasil penelitian telah dikembangkan, tetapi belum dapat diterapkan atau dimanfaatkan oleh industri.
“Jangan sampai kita masuk kepada the valley of death. Karena seringkali teknologi jalan. Tapi begitu mau digunakan oleh teman-teman, gak bisa,” tegasnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, ia menilai diperlukan dukungan pendanaan, kemitraan, serta peningkatan skala teknologi atau upscaling. Dengan demikian, hasil riset dan inovasi dari BRIN maupun perguruan tinggi dapat bergerak dari tahap prototipe menuju penerapan di pasar.
“Jadi bagaimana penemuan-penemuan, inovasi-inovasi riset yang sudah dihasilkan. Baik oleh teman-teman DRIP, perguruan tinggi. Itu kemudian masuk ke pasar. Masuk ke master,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, proses tersebut membutuhkan kerja bersama antara lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan mitra industri. Ketersediaan prototipe saja belum cukup apabila tidak disertai dukungan pembiayaan dan kemitraan untuk mengembangkan teknologi ke skala yang lebih besar.
Dalam konteks hilirisasi, penguatan riset dan inovasi juga berkaitan dengan upaya membangun kemandirian teknologi nasional. Nunung menekankan pentingnya pengembangan teknologi yang dihasilkan oleh peneliti Indonesia agar dapat menjadi bagian dari penguatan industri dalam negeri.
“Bagaimana energy integration ini? Ini directionnya ya. Kemudian energy industry downstreamingnya, Anda tadi juga sudah disinggung inovasinya. Bagaimana sovereignty dari teknologi, teknologi yang dihasilkan oleh anak-anak bangsa Indonesia. Itu juga harus menjadi kebanggaan kita,” tuturnya.
Inovasi Jadi Penggerak Transisi Energi
Lebih lanjut, Nunung mengatakan bahwa riset dan inovasi merupakan salah satu fondasi penting untuk mencapai target transisi energi dan net zero emission Indonesia pada 2060. Menurutnya, perubahan menuju sistem energi yang lebih bersih membutuhkan dukungan berbagai sektor, mulai dari investasi, pembiayaan, kebijakan, hingga kapasitas kelembagaan dan penerimaan masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa proses transisi energi tidak dapat dijalankan oleh satu lembaga saja. Seluruh pemangku kepentingan perlu bergerak secara terintegrasi karena perubahan pada satu bagian ekosistem akan memengaruhi bagian lainnya.
“Kita tidak bisa bergerak sendiri-sendiri. BRIN tidak bisa berjalan sendiri. ASB Bindo tidak bisa berjalan sendiri,” ujarnya.
Nunung juga menyoroti pentingnya peningkatan total factor productivity (TFP) atau produktivitas faktor total. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya mengandalkan modal, sumber daya alam, dan sumber daya manusia. Kemajuan teknologi, inovasi, serta perbaikan kelembagaan dan proses produksi juga menjadi faktor penting.
“Total faktor produktivitas itu mencerminkan kemajuan teknologi, inovasi, perbaikan di dalam proses kelembagaan, organisasi, produksi. Jadi inovasi sekali lagi tidak semata-mata teknologi, warna-warna, tetapi juga inovasi-inovasi kelembagaan,” jelasnya.
Ia menambahkan, pengembangan teknologi dan inovasi perlu disesuaikan dengan karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki potensi energi baru dan terbarukan di berbagai wilayah. Karena itu, strategi transisi energi Indonesia tidak dapat sepenuhnya meniru pengalaman negara lain.
Menutup paparannya, Nunung mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi dan mengubah pola pikir agar pembangunan energi dilakukan secara berkelanjutan. “Kita meyakini sepenuhnya bahwa Indonesia bisa, anak-anak Indonesia luar biasa, peneliti-peneliti luar biasa, peneliti-peneliti luar biasa yang tentu kita siap menyongsong soverniti energi kita. Soverniti dari energi kita,” pungkasnya. (Lili Handayani)






























