

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Hilirisasi industri di Indonesia mulai diarahkan untuk memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intellegence/AI) guna meningkatkan efisiensi proses produksi, mengoptimalkan penggunaan sumber daya, serta menghasilkan produk bernilai tambah lebih tinggi.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan, hal itu dianggap penting agar aktivitas hilirisasi akan semakin efisien dan meningkatkan produktivitas.
“Ke depan, hilirisasi juga harus semakin berbasis teknologi dengan memanfaatkan AI,” kata Airlangga, Selasa (6/10/2026).

Sebagai contoh, ia menyebutkan PT Vale Indonesia yang telah mengimplementasikan AI pada wilayah yang tidak ramah bagi pekerja manusia (human friendly).
“Di mana kepatuhannya meningkat dari 89% menjadi 95% dan meningkatkan produksi tambahan 182 ton nikel per tahun. Jadi, ini hanya bisa dilakukan oleh AI,” ujarnya.
Selain itu, pemanfaatan teknologi juga dilakukan di sektor manufaktur dengan menggunakan machine-to-machine learning dengan Internet of Things (IOT) dan industri 4.0

“Sekarang pabrik mati lampu pun bisa jalan karena mereka sudah menggunakan otomatisasi,” ucapnya.
Pemerintah, katanya, juga terus memperkuat program vokasi dan kolaborasi dengan dunia usaha, termasuk pengembangan talenta AI dan semikonduktor. Selain itu, transformasi ekonomi Indonesia perlu dilanjutkan dari pertanian menuju industri, kemudian menuju digitalisasi dan jasa bernilai tambah tinggi.
Sementara itu, menurutnya, penguatan hilirisasi, industrialisasi, energi hijau, dan digitalisasi menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing nasional serta membuka peluang mencapai pertumbuhan ekonomi 8%.

“Jadi inilah kesempatan-kesempatan yang terus didorong. Pemerintah terus memperkuat koordinasi lintas sektor dan mengajak dunia usaha untuk bersama-sama membangun kesempatan yang ada,” pungkasnya.
Ia menilai, AI akan menjadi game changer sekaligus mendirikan industri baru, yaitu industri data center, yang didukung oleh potensi Indonesia dari sisi lahan, energi, air, dan pasar domestik. Pengembangan ekonomi digital perlu diiringi dengan ketersediaan data yang berkualitas dan penguatan sumber daya manusia (SDM). (Fi Yun)












































