

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) mendorong peningkatan likuiditas pasar komoditas sebagai salah satu langkah untuk membangun tata kelola perdagangan yang transparan dan aman, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam membentuk acuan harga (price reference) komoditas secara mandiri di tingkat global.
Kepala Bappebti, Tirta Karma Senjaya, mengatakan, peningkatan jumlah pelaku usaha dan masyarakat yang melakukan transaksi di pasar berjangka akan berkontribusi terhadap peningkatan likuiditas perdagangan.
Menurut dia, likuiditas yang semakin kuat akan mendukung proses price discovery atau pembentukan harga yang lebih representatif. Dengan demikian, Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk membangun price reference atas komoditas yang diperdagangkan.

“Walaupun bursa komoditinya ini adalah derivatif, kita pastikan selalu menciptakan likuiditas pasar yang baik. Semakin banyak pelaku usaha atau masyarakat yang bertransaksi atau trading di bursa ataupun di pedagang berjangka, itu akan semakin meningkatkan likuiditas,” kata Tirta, kepada Media Nikel Indonesia (www.nikel.co.id) saat dijumpai di sela acara Bulan Literasi Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) Tahun 2026, di Hotel Bidakara, Kamis (8/10/2016).
Peningkatan likuiditas, lanjutnya, akan memperkuat proses price discovery. Ketika proses pembentukan harga semakin lengkap dan ditopang likuiditas pasar yang baik, acuan harga komoditas juga dinilai akan lebih cepat terbentuk.

Bappebti, sambungnya lagi, juga akan berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk mengembangkan komoditas-komoditas baru yang dapat diperdagangkan melalui bursa.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menggali potensi komoditas yang selama ini belum dikembangkan secara optimal melalui mekanisme perdagangan berjangka.

“Kita harus move on, bagaimana menetapkan komoditi-komoditi baru yang selama ini mungkin belum digali dan sebenarnya bisa memberikan keuntungan bagi pemerintah dan negara dari sisi perekonomian,” ujar lelaki kelahiran Bandung, tahun 1975 itu.
Ia menambahkan, pengembangan komoditas baru di bursa diharapkan tidak hanya memperluas pilihan instrumen perdagangan, tetapi juga dapat memperkuat ekosistem pasar komoditas Indonesia. Dengan meningkatnya aktivitas transaksi, likuiditas, dan kualitas pembentukan harga, Indonesia diharapkan dapat memiliki acuan harga komoditas yang semakin kuat dan mampu menjadi rujukan di pasar global. (Li Han)












































