

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Slag nikel dan red mud yang selama ini menjadi material sisa dari proses pengolahan mineral tengah dikaji untuk dimanfaatkan sebagai katalis dalam produksi biodiesel. Pemanfaatan tersebut dilakukan melalui proses transesterifikasi yang mengubah minyak nabati menjadi metil ester asam lemak fatty acid methyl ester (FAME).
Postdoktoral Pusat Riset Teknologi Mineral BRIN, Boy Attaurrazaq, mengatakan, slag nikel dan red mud dicobakan sebagai material katalis untuk membantu mempercepat reaksi antara trigliserida yang terdapat dalam minyak nabati dengan metanol.
“Slag nikel dan red mud ini dicobakan untuk mengkatalisis proses reaksi transesterifikasi yang memanfaatkan trigliserida sebagai komponen utama di minyak nabati dengan mereaksikannya dengan metanol,” kata Boy dalam Webinar Diseminasi Seri Ke-11 bertajuk “Diskusi Seputar Mineral Strategis Indonesia”, pekan lalu.

Ia menjelaskan, reaksi transesterifikasi pada dasarnya berlangsung relatif lambat sehingga diperlukan katalis untuk mempercepat proses dan menghasilkan FAME sebagai komponen utama biodiesel. Dalam pengujian tersebut, reaksi dilakukan pada temperatur 60 derajat Celsius selama tiga jam. Setelah reaksi berlangsung, produk yang dihasilkan kemudian menjalani sejumlah tahapan pemisahan dan pemurnian.
“Reaksi akan dilakukan di temperatur 60 derajat selama tiga jam. Kemudian dilakukan serangkaian proses separasi dan purifikasi, pemisahan dan pemurnian untuk mendapatkan metil ester asam lemak,” jelasnya.
Selain itu, dia mengungkapkan, slag nikel memiliki kestabilan tinggi akibat proses peleburan pada temperatur tinggi sehingga untuk pengolahannya periset menggunakan metode leaching (pelindian) dengan asam klorida dan hidrogen peroksida.

“Metode tersebut mengubah struktur stabil fosterit dan enstatit menjadi goetit dan silika sehingga memudahkan pemulihan unsur bernilai, seperti magnesium hidroksida dan nikel, dengan tingkat pemulihan yang tinggi” tuturnya.
Sementara itu, berdasarkan hasil pengujian, katalis berbahan red mud terbukti mampu mengonversi asam lemak dengan tingkat konversi yang mendekati 100%.
“Hasil tersebut menunjukkan potensi pemanfaatan limbah mineral sebagai katalis untuk mendukung pengembangan energi terbarukan dan transisi menuju industri rendah karbon di Indonesia,” ujarnya,

Ia menyebut capaian tersebut menunjukkan bahwa limbah mineral memiliki peluang untuk dimanfaatkan sebagai katalis dalam pengembangan energi terbarukan sekaligus mendukung transisi menuju industri rendah karbon di Indonesia.
Kebijakan hilirisasi pengolahan mineral berpotensi meningkatkan jumlah limbah yang dihasilkan. Secara global, akumulasi red mud diperkirakan hampir mencapai 5 miliar ton pada 2025. Limbah ini memiliki sifat sangat basa dengan tingkat pH 12–14 serta ukuran partikel yang sangat halus. Karakteristik tersebut membuat red mud tergolong sebagai limbah B3 yang membutuhkan penanganan khusus.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim peneliti BRIN memanfaatkan teknologi gelombang ultrasonik untuk melakukan depasivasi dan menetralkan red mud melalui proses injeksi gas karbon dioksida (CO₂) pada kondisi suhu dan tekanan kamar.

“Proses karbonasi ini tidak hanya mengubah fasa mineral menjadi lebih stabil dan menetralkan keasaman, tetapi juga mengikat CO₂ serta memulihkan oksida bernilai, seperti besi dalam bentuk hematit dan magnetit, serta garam karbonat,” pungkasnya.
Riset tersebut akan terus dikembangkan dengan mencakup life cycle assessment (LCA) dan analisis teknoekonomi untuk mengevaluasi efisiensi serta kelayakan hilirisasi pada skala industri. (Fi Yun)











































