


NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Penurunan kualitas bijih nikel menjadi salah satu tantangan utama dalam kegiatan operasional pertambangan dan pengolahan nikel. Kondisi tersebut mendorong pelaku industri untuk meningkatkan efisiensi mulai dari proses penambangan, pengangkutan, hingga pengelolaan fasilitas pengolahan.
Dewan Pengurus Pusat (DPP) Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Bidang Competent Person Independent, Ir. Rizal Kasli, S.T., I.P.U., ASEAN Eng., mengatakan, kadar bijih nikel yang sebelumnya berada di kisaran 1,8% kini mengalami penurunan. Bijih saprolit yang diproses melalui jalur pirometalurgi saat ini memiliki sekitar 1,6% kadar nikel. Kemudian, bijih limonit atau bijih berkadar rendah yang diolah melalui teknologi hidrometalurgi memiliki kadar sekitar 1,2%, bahkan terdapat material dengan kadar di bawah level tersebut.
“Kalau dulu kita memproses kadar nikel sekitar 1,8%, sekarang untuk saprolit sudah turun menjadi sekitar 1,6%, sedangkan limonit atau low grade yang diproses melalui hidrometalurgi sudah sekitar 1,2%, bahkan di bawah 1,2%,” kata Rizal kembali menegaskan, di Jakarta, pekan lalu.

Penurunan kadar bijih tersebut membuat efisiensi operasional menjadi semakin penting. Selain kualitas material, sejumlah faktor lain turut menentukan kelancaran pasokan bijih ke smelter, termasuk kondisi jalan angkut, fasilitas dermaga, pengendalian lingkungan, hingga kebutuhan energi dan bahan pendukung produksi.
“Jalan angkut, ini juga merupakan satu hal yang perlu kita perhatikan terutama untuk menjamin bahwa terjadi kecukupan suplai nickel ore ke smelter,” ujarnya.
Kemudian, pengendalian lingkungan juga menjadi bagian dari operasional yang harus dijaga. Pengelolaan air dan sedimen perlu dilakukan secara baik untuk mencegah terjadinya pencemaran lingkungan. Menghadapi tantangan tersebut, pengembangan teknologi dan peningkatan efisiensi operasional dinilai perlu dilakukan secara menyeluruh. Upaya tersebut mencakup penambangan selektif, pemilihan moda transportasi yang lebih efisien, peningkatan kualitas jalan tambang, serta penguatan layanan dan ketersediaan suku cadang alat berat.
“Pengendalian, termasuk dari sisi lingkungan, yang pengolahan air dan sedimennya harus dikontrol dengan baik sehingga tidak menimbulkan pencemaran lingkungan. Pertama adalah di bagian tugas operasional, nah ini kita bisa melakukan dengan penambang selektif kemudian pengangkutan dengan pemilihan modal transportasi yang lebih efisien dan hemat kemudian juga kualitas jalan juga servis dan suku cadang spare part ini sangat akan menentukan,” jelasnya.

Dalam kegiatan penambangan, dukungan terhadap kapasitas angkut, pengendalian kadar, dan kontrol penggalian di area tambang menjadi faktor penting untuk meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga nilai material sejak dari sumbernya.
“Kapabilitas pentingnya adalah yang pertama adalah dukungan payload kadar dan kontrol penggalian di muka tambang sehingga lebih efisien kemudian juga nilai terlindungi sejak dari sumber,” tuturnya.
Pengangkutan juga perlu didukung dengan pengelolaan siklus kerja alat yang baik. Integrasi antara aktivitas penggalian, pemuatan, dan pengangkutan dapat membantu menekan biaya operasional per ton serta meningkatkan produktivitas.
“Pengangkutan interaksi penggalian tembagaan dan data siklus kemudian biaya hasil-hasilnya biaya per ton yang lebih murah dan lebih efisien,” ujarnya.

Sementara itu, kondisi jalan tambang turut memengaruhi kinerja alat berat. Peningkatan kualitas jalan, termasuk pengaturan kemiringan dan perawatan jalan berdasarkan kondisi aktual, diperlukan untuk menjaga produktivitas sekaligus memperpanjang usia komponen alat berat.
“Untuk kualitas jalan, perlu diperhatikan upgrading kemiringan dan pergelaran jalan berbasis kondisi untuk menjamin produktivitas dan meningkatkan umur komponen alat berat yang digunakan,” pungkasnya.
Selain infrastruktur, ketersediaan layanan teknis dan suku cadang juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan operasi. Sistem diagnostik, ketersediaan stok suku cadang di tingkat regional, serta dukungan teknisi lokal diperlukan untuk mengantisipasi gangguan operasional.
Pendekatan berbasis risiko juga dapat digunakan untuk mengurangi potensi downtime alat. Dengan demikian, kegiatan produksi dapat berjalan lebih konsisten di tengah tantangan penurunan kadar bijih dan meningkatnya kebutuhan efisiensi dalam industri nikel.
Upaya tersebut pada akhirnya diarahkan untuk menekan biaya per ton, meningkatkan produktivitas alat, menjaga kesinambungan pasokan bijih ke smelter, serta mempertahankan efisiensi rantai operasional pertambangan dan pengolahan nikel. (Fi Yun)






































