Beranda Nikel INPI 28 September: Harga Nikel Akhir September 2026 Mulai Beragam

INPI 28 September: Harga Nikel Akhir September 2026 Mulai Beragam

122
0

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Harga komoditas nikel Indonesia memasuki pekan terakhir September 2026 dengan pergerakan yang mulai beragam. Setelah seluruh komponen Indonesia Nickel Price Index (INPI) terkoreksi pada 21 September, harga bijih nikel pada 28 September mulai stabil, sementara sejumlah produk olahan masih bergerak berbeda arah.

Berdasarkan data INPI yang dirilis Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) bersama Shanghai Metals Market (SMM), harga rata-rata bijih nikel kadar 1,2% CIF pada 28 September 2026 bertahan di US$26,5 per metrik ton (mt). Harga bijih nikel kadar 1,6% CIF juga tidak berubah dan berada di US$63,4 per mt.

Stabilnya harga tersebut terjadi setelah kedua jenis bijih nikel mengalami penurunan pada pekan sebelumnya. Pada 21 September, harga bijih kadar 1,2% turun dari US$27 menjadi US$26,5 per mt, sedangkan bijih kadar 1,6% turun dari US$64,1 menjadi US$63,4 per mt.

Perbandingan Harga INPI 21 September 2026 dan 28 September 2026

PRODUK21 SEPTEMBER 202628 SEPTEMBER 2026KETERANGAN
Bijih Nikel 1,2% (CIF)US$26,5/mtUS$26,5/mtStabil
Bijih Nikel 1,6% (CIF)US$63,4/mtUS$63,4/mtStabil
NPI (FOB)US$135,07/mtUS$134,56/mtTurun US$0,51/mt
HGNM (FOB)US$14.977/mtUS$15.105/mtNaik US$128/mt
MHP (FOB)US$13.884/mtUS$13.678/mtTurun US$206/mt

Kondisi produk olahan pun demikian. Harga nickel pig iron (NPI) FOB kembali melemah dari US$135,07 menjadi US$134,56 per mt. Penurunan ini memperpanjang tren pelemahan NPI yang berlangsung sejak awal September. Jika dibandingkan dengan harga 14 September sebesar US$139,28 per mt, NPI telah turun US$4,72 per mt.

Sebaliknya, high-grade nickel matte (HGNM) FOB mulai menunjukkan pemulihan. Harga rata-ratanya naik dari US$14.977 menjadi US$15.105 per mt atau meningkat US$128 per mt dalam sepekan. Kenaikan tersebut membawa harga HGNM kembali menembus level US$15.000 per mt setelah terkoreksi cukup dalam.

Dalam pada itu, tekanan terhadap mixed hydroxide precipitate (MHP) FOB masih berlanjut. Harga rata-ratanya turun dari US$13.884 menjadi US$13.678 per mt, atau berkurang US$206 per mt dalam sepekan.

Jika dibandingkan dengan posisi 14 September yang masih mencapai US$14.597 per mt, harga MHP telah terkoreksi sekitar US$919 per mt. Dengan demikian, MHP menjadi salah satu produk yang mencatat tekanan paling konsisten sepanjang September.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap pasar nikel Indonesia pada akhir September tidak lagi terjadi secara merata. Harga bijih mulai stabil, HGNM berbalik menguat, sedangkan NPI dan MHP masih mengalami penurunan.

Perkembangan harga INPI tersebut berlangsung di tengah koreksi harga nikel global setelah penguatan pada paruh pertama 2026. Dalam laporan APNI September 2026, rata-rata harga London Metal Exchange (LME) sepanjang Januari–Agustus tercatat US$17.495,97 per ton.

Harga LME sempat mencapai US$18.805 per ton pada Mei, sebelum turun hingga US$16.657,39 per ton pada Juli. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa harga acuan nikel global telah mengalami penyesuaian setelah mencapai level tinggi pada pertengahan tahun.

Di sisi fundamental, pasar global justru diperkirakan bergerak menuju surplus yang semakin tipis. APNI memproyeksikan surplus nikel dunia turun dari sekitar 278 ribu ton Ni pada 2025 menjadi sekitar 21 ribu ton Ni pada 2026.

Meski demikian, pasar masih mencatat surplus sekitar 65 ribu ton Ni dalam delapan bulan pertama 2026. Artinya, penyempitan surplus tahunan belum serta-merta menghilangkan tekanan pasokan dalam jangka pendek. Kondisi persediaan dan keseimbangan pasokan-permintaan masih menjadi faktor penting dalam menentukan arah harga.

Indonesia tetap menjadi pemain utama dalam pasar nikel global. APNI mencatat Indonesia menyumbang sekitar 64,86% produksi tambang nikel dunia pada semester pertama 2026.

Di dalam negeri, pergerakan harga bijih nikel juga berlangsung bersamaan dengan perubahan kebijakan harga patokan. Kepmen ESDM No. 363 Tahun 2026 yang mulai berlaku pada 15 September 2026 memangkas HPM bijih nikel kadar 1,2% sebesar 45% menjadi US$24,89 per wet metric ton (wmt).

Sementara itu, HPM bijih nikel kadar 1,6% tidak mengalami perubahan karena faktor koreksinya tetap.

Perubahan HPM tersebut menjadi bagian penting dalam dinamika pasar domestik. Namun, HPM dan INPI memiliki basis serta fungsi yang berbeda sehingga pergerakannya tidak dapat dibandingkan secara langsung.

Memasuki penghujung September, pasar nikel Indonesia pun memperlihatkan gambaran yang lebih kompleks. Setelah pada 21 September seluruh komponen INPI mengalami penurunan, data 28 September menunjukkan adanya perbedaan arah antarproduk.

Bijih nikel relatif stabil, HGNM kembali menguat, sementara NPI dan MHP masih tertekan. Perkembangan ini menandakan tekanan harga belum sepenuhnya berakhir, tetapi mulai menunjukkan pola yang berbeda antara bahan baku dan produk olahan.

Ke depan, arah harga akan dipengaruhi oleh perkembangan harga nikel global, tingkat persediaan, keseimbangan pasokan dan permintaan, kondisi industri pengolahan, serta kebijakan harga bijih nikel di dalam negeri. Pergerakan INPI pada awal Oktober akan menjadi perkembangan berikutnya yang penting untuk dicermati. (Shiddiq)