Beranda Berita Nasional Bambang Patijaya: Seiring Perkembangan Pasar, Nikel Limonit Kini Diburu

Bambang Patijaya: Seiring Perkembangan Pasar, Nikel Limonit Kini Diburu

Ketua Komisi Xll DPR RI, Bambang Patijaya. (Foto: MNI/Shiddiq)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Perkembangan pasar mineral mendorong perubahan minat terhadap komoditas tambang, termasuk nikel limonit yang sebelumnya kurang diminati. Perubahan ini turut menggambarkan perkembangan hilirisasi nikel di Indonesia, seiring terbukanya peluang pemanfaatan mineral untuk industri lanjutan.

Anggota Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya mengatakan, nikel limonit kini mulai dicari pasar, berbeda dengan kondisi sekitar 10 tahun lalu ketika mineral tersebut belum banyak diminati.

“Hari ini tiba-tiba nikel limonit, 10 tahun lalu enggak dilirik, enggak minat, sekarang dicari karena pasarnya sedang berkembang,” ujar Bambang dalam acara Coffee Morning CNBC Indonesia bertajuk “Hilirisasi Melaju, Industri Tambang Makin Kuat?”, sebagaimana dikutip dari CNBC Indonesia, Jumat (30/10/2026).

Bambang menjelaskan, hilirisasi nikel tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fasilitas peleburan (smelter). Pengembangan industri lanjutan juga diperlukan agar mineral yang telah diolah dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan produk bernilai tambah lebih tinggi, termasuk bahan baku baterai.

“Hilirisasi lanjutan, misalkan nikel, tidak semata-mata berkembang di sektor smelting, tapi yang lain juga berkembang. Saat mereka berkembang, bisa dikembangkan untuk baterai, itulah game changer,” katanya.

Ia menilai pengembangan industri baterai membuka peluang pemanfaatan nikel pada tahap pengolahan lebih lanjut. Karena itu, hilirisasi perlu didukung pertumbuhan berbagai industri turunan agar pengembangan nikel tidak hanya berpusat pada kegiatan peleburan di smelter.

Bambang juga menyoroti perkembangan hilirisasi tahap awal di sektor pertambangan, terutama melalui smelter berbasis Izin Usaha Pertambangan (IUP). Ia menyebut peningkatan kadar mineral menjadi bagian dari proses pengolahan sebelum hasil tambang dipasarkan.

“Hilirisasi tahap pertama dari sektor pertambangan, smelter berbasis IUP (Izin Usaha Pertambangan) sudah mulai. Dirjen Minerba dapat nilai 9 dari 10, karena tidak ada mineral yang dijual begitu saja, minimal ada peningkatan kadar,” jelasnya.

Selain nikel, Bambang menyebut sejumlah mineral lain, seperti zirkon dan monasit, masih menghadapi dinamika dalam pengembangannya. Ia mengatakan peningkatan kadar mineral menjadi bagian dari upaya pengolahan hasil pertambangan sebelum dijual.

“Sekarang ini mineral yang masih banyak dinamika seperti zirkon, monasit, tapi zirkon ini dinamika masih tinggi, dan sudah ditingkatkan kadarnya. Jadi apapun hasil pertambangan tidak kita jual begitu saja,” ucapnya.

Secara keseluruhan, legislator dari Fraksi Golkar itu menyatakan hilirisasi telah berjalan di berbagai sektor, mulai dari pertambangan hingga energi dan agro. Khusus di sektor pertambangan, pengembangan industri lanjutan, termasuk industri baterai, menjadi salah satu arah untuk memperluas pemanfaatan mineral di dalam negeri.

“Secara keseluruhan hilirisasi berjalan, mau energi, agro, dan macam-macam, semua jalan hilirisasinya. Transisi energi sangat ingin kita lakukan, terkait BBM kita sudah maju jauh, menuju E5 (pencampuran bioetanol 5%). Tambang juga bagus, terutama terkait baterai, sudah kita lakukan,” pungkasnya. (Tubagus)