Tujuh Fakta Menarik Nikel, Bahan Baku Baterai Mobil Listrik

NIKEL.CO.ID – Perusahaan mobil listrik asal Amerika Serikat, Tesla, dikabarkan meninggalkan Indonesia dan mencapai kesepakatan dengan perusahaan Australia untuk memasok nikel yang dipakai untuk pembuatan baterai.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan sumber daya bijih nikel yang melimpah. Menurut pemetaan Badan Geologi tahun 2020, Indonesia memiliki 11.887 juta ton bijih nikel dan 4.346 juta ton cadangan bijih.

Nikel adalah salah satu jenis logam yang memiliki warna putih keperakan. Logam ini merupakan hasil tambang yang berasal dari sisa makhluk hidup atau tubuhan yang telah terkubur di tanah dalam waktu yang sangat lama.

Selain fakta-fakta di atas, ternyata nikel memiliki beberapa fakta menarik yang lain. Melansir dari laman Livescience, berikut ini tujuh fakta menarik dari nikel:

1. Dinamai ‘iblis tembaga’

Penemu pertama bijih nikel adalah para penambang di Jerman pada tahun 1600-an. Mereka keliru mengira bijih nikel sebagai bijih tembaga jenis baru dan mencoba mengekstraksinya namun gagal. Karena frustasi, mereka menyebutnya sebagai menamai bijih tersebut dengan kupfernickel atau “setan tembaga” dalam mitologi Jerman.

Pada 1751, Baron Axel Fredrik Cronstedt mengganti nama kupfernickel menjadi nikel. Ia merupakan ahli kimia asal Swedia yang menemukan fakta bahwa nikel merupakan unsur baru dengan sifat yang berbeda dari tembaga.

2. Merupakan unsur terbanyak ke-2 di inti bumi

Nikel adalah unsur terbanyak ke-5 di kerak bumi. Nikel bisa ditemukan dengan konsentrasi 100 kali lipat di perut bumi. Oleh karena itulah, nikel diyakini sebagai unsur terbanyak ke-2 di inti bumi setelah besi.

3. Mempunyai peran penting dalam industri material

Nikel memiliki banyak manfaat. Umumnya digunakan sebagai lapisan luar untuk logam yang lebih lunak. Nikel banyak dijadikan pilihan dalam pembuatan super aloy (campuran logam super) karena mampu menahan suhu yang sangat tinggi.

Nikel dapat digunakan untuk memproduksi stainless steel, peralatan militer, koin, baterai, hingga komponen elektronik.

4. Terkandung dalam meteroit

Meteorit adalah batu luar angkasa yang jatuh ke bumi. Kebanyakan meteorit memiliki kandungan logam nikel-besi. Bangsa Mesir Kuno sering memanfaatkan batu meteorit kaya nikel ini untuk membuat alat-alat kecantikan. Hal tersebut dibuktikan dengan penemuan manik-manik dari meteroit pada sebuah makam berusia 5 ribu tahun di tepi barat Sungai Nil.

5. Satu dari empat unsur logam yang bersifat feromagnetik

Nikel memiliki sifat feromagnetik. Artinya, nikel dapat ditarik oleh magnet ataupun dibuat menjadi magnet. Magnet Alnico yang terbuat dari kombinasi aluminium (Al), nikel (Ni) dan kobalt (Co) adalah magnet permanen yang sangat kuat. Magnet ini mampu mempertahankan daya magnetnya bahkan ketika dipanaskan sampai bersinar merah.

6. Dapat menyebabkan alergi

Alergi nikel merupakan salah satu penyebab paling umum dari alergi kontak dermatitis. Bagi sebagian orang, bersentuhan langsung dengan logam nikel dapat mengakibatkan gatal-gatal atau ruam pada kulit. Alergi ini biasanya berkaitan dengan perhiasan yang terbuat dari emas putih.

7. Merupakan unsur penting yang diperlukan tanaman untuk hidup

Kita dapat menemukan unsur nikel dalam berbagai macam sayuran, buah-buahan, hingga kacang-kacangan. Hal ini lantaran nikel adalah unsur yang cukup penting bagi kesehatan tanaman.

Meski begitu, nikel bisa sangat berbahaya jika masuk ke dalam tubuh manusia dalam jumlah besar. Paparan nikel yang berlebihan dapat meningkatkan risiko kanker paru-paru, fibrosis dan penyakit lainnya.

Sumber: tempo.co

Read More

Indonesia di Jalur Untuk Mendominasi Pasokan Nikel Untuk Membuat Baterai

NIKEL.CO.ID – Indonesia sedang dalam perjalanan untuk menjadi ibu kota nikel dunia. Proyek-proyek baru dapat meningkatkan pangsa negara dari komponen baja tahan karat dan logam baterai yang penting hingga 60% dari produksi global akhir dekade ini.

Sebagian besar investasi yang direncanakan terkait dengan perusahaan China yang ingin memperkuat produksi baja tahan karat dan memenuhi permintaan baterai yang berkembang pesat, yang membutuhkan berbagai logam energi baru seperti nikel, litium, kobalt, dan tembaga.

Laju pertumbuhan sektor nikel Indonesia paling baik diukur dengan perkiraan oleh bank investasi bahwa negara tersebut dapat meningkatkan pangsa produksi nikel globalnya dari 28% menjadi 60% dalam delapan tahun ke depan.

Macquarie, bank Australia, menggambarkan rencana Indonesia Nickel sebagai banjir dengan sejumlah proyek “mega” yang sedang dibangun, diumumkan, atau dalam tahap perencanaan.

Pengembangan terbaru yang direncanakan oleh PT Huayou Nickel Cobalt, Indonesia menyangkut proyek di Teluk Weda di kabupaten Halmahera Maluku Utara yang berencana menginvestasikan $ 2,08 miliar dalam proyek yang akan menghasilkan 120.000 ton nikel per tahun ditambah 15.000 ton kobalt yang dihasilkan.

Besar dan murah

Macquarie menggambarkan proyek tersebut, yang melibatkan sejumlah perusahaan China, sebagai proyek besar dan sangat murah dalam hal pengeluaran modal.

“Database proyek high pressure, acid leach (nikel) kami di Indonesia untuk baterai sekarang mencakup delapan proyek yang diumumkan dengan kapasitas gabungan hampir 450.000 ton nikel dan 50.000 ton kobalt per tahun,” kata Macquarie.

Proyek-proyek baru ini melengkapi proyek-proyek yang akan memperluas produksi bahan kaya nikel lainnya yang disebut Nickel Pig Iron.

“Pada 2028, kami berharap produksi (nikel) Indonesia melebihi total produksi dunia pada 2020 sebesar 2,5 juta ton dan produksi Indonesia meningkat dari 28% produksi dunia menjadi hampir 60%,” kata Macquarie.

Kemenangan besar bagi pemerintah Indonesia

Bagi pemerintah Indonesia, membanjirnya nikel olahan dan sebagian diproses merupakan kemenangan signifikan yang dihasilkan dari paksaan perusahaan pertambangan untuk berhenti mengekspor bijih mentah dan berinvestasi dalam pengolahan bernilai tambah.

Tindakan keras pertama terhadap ekspor bijih pada tahun 2014 dilonggarkan pada tahun 2017 dan diperkenalkan kembali tahun lalu, memaksa investasi yang secara dramatis meningkatkan nilai ekspor nikel Indonesia.

“Meskipun volume nikel belum melampaui tertinggi tahun 2013, pendapatan ekspor kini meningkat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan tahun 2013 karena peningkatan ekspor dalam rantai nilai,” kata Macquarie.

Bank mengatakan kecepatan di mana kapasitas baru sedang dibangun adalah “mengejutkan”. Analisis terakhir menunjukkan bahwa kapasitas terpasang mencapai 1,788 juta ton nikel per tahun pada akhir tahun ini, dibandingkan dengan total produksi 600.000 ton logam tahun lalu.

Tetapi demam nikel Indonesia mungkin hanya apa yang dibutuhkan dunia karena pemerintah mendorong peralihan ke kendaraan listrik dengan baterai nikel-berat mereka.

“Yang tidak bisa kami tekankan adalah dunia membutuhkan tingkat produksi (Indonesia) ini,” kata bank tersebut.

Macquarie memperkirakan permintaan global untuk nikel pada tahun 2030 menjadi dua juta ton di atas permintaan tahun 2020, dengan lebih dari setengah peningkatan berasal dari sektor baterai.

Sumber: manadopedia.com

Read More

Indonesia Berpeluang Memimpin Masa Depan Hijau

Indonesia berpeluang besar dalam pembangunan masa depan hijau karena memiliki cadangan hutan tropis yang bisa berkontribusi dalam menjaga atmosfer dunia dan menyediakan mata pencaharian bagi jutaan orang.

NIKEL.CO.ID – Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk memimpin pembangunan yang lebih hijau dan berperspektif iklim. Selain keberadaan hutannya, Indonesia memiliki salah satu potensi energi baru terbarukan terbesar di dunia dan beberapa deposit nikel serta mineral lain terbesar yang dibutuhkan untuk pengembangan teknologi energi baru terbarukan.

Hal ini dikemukakan Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste Owen Jenkins dalam keterangan tertulis, Selasa (18/5/2021) malam. ”Kami berharap Indonesia, sebagai Presiden G20 mendatang, akan berdiri dan memimpin dunia dengan teladannya dalam membuat komitmen yang kuat untuk Net Zero dan menyelaraskan NDC-nya untuk diletakkan di jalur yang benar agar dapat dilaksanakan sehingga bisa memberi manfaat bagi Indonesia dan menyelamatkan planet kita,” kata Owen.

Menurut Owen, Indonesia berpeluang besar dalam pembangunan masa depan hijau karena sejumlah alasan, di antaranya memiliki cadangan hutan tropis yang bisa berkontribusi dalam menjaga atmosfer dunia dan menyediakan mata pencaharian berkelanjutan bagi jutaan orang Indonesia. Selain itu, Indonesia juga memiliki potensi energi baru terbarukan terbesar di dunia, serta beberapa deposit nikel dan mineral lain terbesar yang dibutuhkan untuk mendukung teknologi energi baru terbarukan.

Owen mengatakan, Inggris meminta semua negara untuk berkomitmen mencapai emisi nol bersih pada tahun 2050 dan maju dengan target ambisius 2030 yang sejalan dengan tujuan ini.  ”Melakukan lebih sedikit berarti kita berisiko gagal membatasi pemanasan hingga 1,5 derajat, dan jutaan orang akan menderita,” ujarnya.

Menurut Owen, semua negara, termasuk Indonesia, dapat mempercepat transisi emisi nol bersih sejak sekarang sambil menumbuhkan ekonomi mereka lebih cepat, menciptakan lebih banyak lapangan kerja, serta mendukung pengentasan kemiskinan dan kemakmuran. ”Dari pengalaman kami sendiri, pendanaan sektor publik dan swasta mengalir lebih cepat ke investasi hijau,” ujarnya.

Sekalipun memiliki potensi besar memimpin pembangunan yang lebih ramah iklim, kepemimpinan Indonesia kerap dikritik. Direktur Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Nur Hidayati, misalnya, menilai pidato Presiden Joko Widodo pada Leaders Summit on Climate bulan lalu tidak menunjukkan kesadaran terhadap krisis iklim.

Indonesia memiliki potensi besar untuk memimpin arah kebijakan global agar mendukung upaya adaptasi negara-negara terdampak. (Nur Hidayati)

Menurut Nur, dalam pidato tersebut, Presiden Jokowi tidak menyampaikan komitmen penurunan emisi yang agresif dalam pertemuan para pemimpin dunia. Padahal, sebagai salah satu negara yang terdampak krisis iklim, sekaligus salah satu penyumbang emisi besar, menurut Nur, Indonesia memiliki potensi besar untuk memimpin arah kebijakan global agar mendukung upaya adaptasi negara-negara terdampak.

”Sayangnya, dalam pertemuan ini Presiden justru melakukan business as usual, yaitu penanganan perubahan iklim berbasis proyek, yang dalam pengalaman-pengalaman sebelumnya terbukti tidak berhasil dan tidak berkelanjutan. Di tengah urgensi krisis iklim, Presiden justru tampil ambigu, alih-alih mengambil langkah kepemimpinan yang berani, yang bisa menginspirasi para pemimpin dunia lainnya,” kata Nur Hidayati.

Akhiri Penggunaan Batubara

Pidato Presiden terpilih COP26 (Conference of the Parties) tentang perubahan iklim, Alok Sarma, dalam pidatonya di Glasgow, kemarin, mengatakan, COP26 tahun ini yang akan diselenggarakan di Inggris menjadi peluang terbaik dunia untuk membangun masa depan yang lebih bersih dan lebih hijau.

COP26 akan mempertemukan para negosiator iklim dari 196 negara, pelaku bisnis, organisasi, para ahli, dan pemimpin dunia di SEC di Glasgow mulai tanggal 1 hingga 12 November 2021. ”Saya yakin bahwa para pemimpin dunia akan mempergunakan kesempatan ini dengan sebaik mungkin, dan bukan sekedar menunggu nasib,” ujar Sharma

Dalam mempersiapkan pidatonya, Sharma menanyakan kepada anak perempuannya tentang pesan apa yang harus dia berikan kepada para pemimpin dunia tentang prioritas mereka. ”Responsnya sederhana, yaitu, ’tolong beri tahu kepada mereka untuk memilih planet ini’.  Dan itulah pesan yang ingin saya sampaikan kepada Anda hari ini. Pesan dari putri saya. Pesan dari generasi mendatang. Inilah momen kita. Tidak ada kesempatan kedua. Ayo kita pilih planet ini,” sebut Sharma.

Menurut Sharma, apabila kita serius untuk mencegah kenaikan suhu global tidak lebih dari 1,5 derajat celsius, kita harus mengurangi separuh emisi global pada tahun 2030. ”Oleh karena itu, Glasgow harus menjadi KTT yang mengakhiri penggunaan batubara. Kita bekerja secara langsung dengan pemerintah dan melalui organisasi internasional, untuk mengakhiri pembiayaan batubara secara global,” tuturnya.

Menurut Sharma, hari-hari penggunaan batubara sebagai sumber energi termurah sudah lewat. ”Kita harus menjadikan COP26 sebagai momen penting untuk mengakhiri penggunaan batubara, sambil mendukung pekerja dan komunitas untuk melakukan transisi,” ujarnya.

Oleh karena itu, dia meminta negara-negara anggota G-7 memimpin transisi menuju ekonomi hijau dengan meninggalkan tenaga batubara. ”Kita juga harus bekerja dengan negara-negara berkembang untuk mendukung transisi mereka ke energi bersih,” jelas Sharma.

Menurut dia, Inggris telah menjadi contoh adanya transisi ini. Pada tahun 2012, 40 persen listrik Inggris berasal dari batubara, tetapi saat ini hanya tinggal kurang dari 2 persen. Dalam waktu kurang dari 20 tahun, Inggris mengembangkan sektor angin lepas pantai terbesar di dunia. Melalui komitmen untuk mengurangi emisi karbon hingga 78 persen pada tahun 2035, Inggris akan sepenuhnya menghentikan penggunaan tenaga batubara pada tahun 2024, serta mengakhiri penjualan kendaraan bensin dan diesel baru pada tahun 2030.

Sumber: KOMPAS.ID

Read More

Menko Luhut Apresiasi dan Dukung Inovasi Teknologi STAL Yang Dikembangkan PT Trinitan Metals & Minerals

NIKEL.CO.ID – Menteri Koordinator Maritim dan Investasi (Monko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengapresiasi inovasi pengembangan teknologi Step Temperature Acid Leaching (STAL) yang dikembangkan oleh PT Trinitan Metal and Minerals Tbk.

Hal tersebut disampaikan Luhut saat menggelar rapat koordinasi bersama Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi, Kementerian ESDM, Kementerian Investasi, Kementerian Perindustrian, BPPT, Prof. Zaki Mubarok dari ITB, dan PT Trinitan Metal and Minerals, Tbk di Jakarta pada Kamis, (29/4/2021)

Pengembangan teknologi STAL pada nickel ore yang diproses dengan tekanan atmosfir (atmospheric pressure) dan mampu menghasilkan recovery nikel di atas 90 persen. Dengan Teknologi STAL , limbah yang dihasilkan juga lebih ramah lingkungan dan dapat dikelola kembali menjadi produk yang bernilai dibandingkan dengan menggunakan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL).

Limbah STAL menghasilkan residu Fe (besi) dan Al (aluminium) yang bisa diolah menjadi Iron Ore dan produk lainnya. Selain itu, STAL juga dinilai akan  menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah dibandingkan teknologi pengolahan nikel lainnya.

Dalam rapat koordinasi tersebut, Menko Luhut mendorong penerapan teknologi hasil karya anak bangsa,

“Ini ada pengembangan teknologi baru dari anak bangsa, kita dukunglah. Saya ingin produk-produk dalam negeri terus maju,” ungkap Menko Luhut sebagaimana siaran pers yang diterima nikel.co.id.

Menko Luhut juga berpesan kepada semua pihak agar teknologi STAL ini dapat dikembangkan terus dan diharapkan semua pihak dapat bekerja sama dengan baik. Terkait dengan investasi di bidang ini, Luhut juga berharap Indonesia dapat menarik investor yang sesuai untuk pengembangan teknologi ini.

“Kita tidak mau main-main. Jadi makanya sekarang orang bicara soal green, jadi jangan ditipu lagi dengan data-data yang tidak benar,” tandas Luhut.

Pengembangan teknologi STAL yang menggunakan metode hidrometalurgi ini, dipandang sebagai sebuah terobosan untuk aplikasi teknologi pengolahan nikel dalam skala lebih kecil dibandingkan dengan jenis-jenis teknologi yang digunakan pada industri pengolahan logam dasar.

Teknologi tersebut dapat berbentuk secara modular dan dipandang cocok untuk diterapkan pada lokasi-lokasi yang dekat dengan wilayah pertambangan nikel (mine mouth). Dengan teknologi modular ini, dinilai besaran (modal) yang dibutuhkan akan bisa dijangkau oleh industri pertambangan pada skala yang lebih kecil dan yang banyak terdapat di Indonesia.

Desain teknologi STAL yang dikembangkan ini akan membutuhkan bijih nikel sebesar 170 ribu ton bijih nikel pertahun-nya atau 600 ton perhari untuk setiap modular STAL.

STAL dapat mengolah Nickel Ore dengan kadar rendah sampai 1.1%. Kemudian listrik yang dibutuhkan dalam menggunakan teknologi ini, yakni 1,3 mega watt hour untuk menghasilkan 1800 ton nikel.

Teknologi STAL ini akan mengembangkan aplikasi cloud monitoring dan sistem kontrol untuk semua proses manufaktur dan dapat memberikan informasi yang dapat dipercaya kepada semua pihak. (Admin)

Read More

Menimbang Potensi Besar Nikel Indonesia

Konsekuensi apakah yang penting dicermati Indonesia sebagai negara produsen nikel bijih nikel terbesar dunia?

NIKEL.CO.IDSebagai negara dengan kekayaan bahan tambang nikel terbesar di dunia, Indonesia memegang kunci penting bagi kelangsungan produksi kendaraan listrik di masa depan.

Berdasarkan data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral tahun 2019, produksi bijih nikel Indonesia sekitar 800.000 ton. Nominal ini menduduki peringkat satu dunia yang terpaut hampir 400.000 ton dari produsen kedua dunia yang diduduki oleh Filipina.

Jika dibandingkan dengan produsen ketiga dunia yang diduduki Rusia lebih jauh lagi selisihnya. Negara beruang merah itu hanya mampu memproduksi sekitar 270.000 ton setahun.

Dari segi cadangan nikelnya, Indonesia diperkirakan memiliki deposit 72 juta ton. Berdasarkan data United State Geological Survey (USGS) dan Badan Geologi Kementerian Ekonomi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), cadangan ini menempati posisi pertama di dunia.

Proporsi cadangan nikel Indonesia mencapai 52 persen dari total cadangan dunia saat ini yang sebesar 139 juta ton. Posisi selanjutnya ditempati Australia dengan porporsi cadangan nikel lebih kurang 15 persen dan Rusia sekitar 5 persen dari total cadangan nikel global.

Cadangan sekitar 72 juta ton di Indonesia itu berada di wilayah tambang yang sudah memiliki izin usaha produksi operasi pertambangan (IUP OP) dan smelter. Padahal, masih ada potensi cadangan lainnya di luar wilayah IUP atau kontrak karya (KK) yang jumlahnya sangat besar.

Berdasarkan laporan Kementerian ESDM tahun 2020, daerah yang memiliki potensi cadangan nikel di luar wilayah operasi pertambangan di Indonesia itu jumlahnya 4,5 miliar ton. Jumlah ini sangatlah besar karena lebih dari 30 kali lipatnya cadangan nikel dunia saat ini.

Berumur panjang

Dengan cadangan sebesar itu, Indonesia memiliki usia produksi nikel hingga beberapa dekade mendatang. Seberapa panjangkah usia produksi nikel Indonesia?

Hal tersebut bergantung pada pemilihan proses ekstraksi bijih nikel. Apabila bijih nikel dipisahkan dengan proses pyrometallurgy atau pemisahan logam dari bijihnya dengan cara pemanasan pada temperatur tinggi, diperkirakan umur cadangannya mampu diproduksi hingga sekitar 27 tahun ke depan.

Namun, jika ekstraksi bijih nikel menggunakan proses hydrometallurgy atau menggunakan reagen pelarut yang dilakukan pada temperatur relatif rendah, diperkirakan cadangan nikel Indonesia mampu berproduksi hingga 73 tahun ke depan hingga kisaran tahun 2093.

Perbedaan proses ekstaksi bijih nikel pada endapan laterit tersebut menghasilkan output produksi yang berbeda. Pada rencana industri hilir nikel di Indonesia, proses pyrometallurgy akan menghasilkan anekan produk stainless steel.

Proses hydrometallurgy akan menghasilkan sejumlah produk, seperti campuran logam berbasis nikel, pelapisan logam, dan baterai. Dari rencana industri hilir ini dapat diindikasi bahwa proses ekstraksi hydrometallurgy adalah yang memiliki daya saing yang tinggi di kancah internasional.

Dengan proses hydrometallurgy, Indonesia berpeluang besar untuk menghasilkan bahan baku utama pembuatan baterai kendaraan. Artinya, Indonesia berpeluang menjadi produsen terbesar baterai kendaraan listrik di dunia di masa mendatang. Peluang itu terutama ada pada baterai Lithium tipe Nickel Cobalt Aluminum Oxide (NCA) dan Nickel Manganese Cobalt Oxide (NMC) yang mengutamakan penggunaan material nikel.

Kebijakan akseleratif

Melihat besarnya potensi sumber daya nikel tersebut mendorong pemerintah membangun kebijakan yang revolusioner. Pada Agustus 2019, pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan.

Dengan terbitnya kebijakan ini, pemerintah berupaya akseleratif secepat mungkin agar mampu memproduksi baterai kendaraan listrik dan juga merakit unit kendaraan berbasis baterai listrik (KBL) di Indonesia. Pemerintah pun segera membentuk konsorsium BUMN untuk menangani proyek hilirisasi nikel menjadi baterai.

Konsorsium ini terdiri dari PT Aneka Tambang yang merupakan anak perusahaan MIND ID berkolaborasi dengan PT Pertamina dan PT PLN. Ketiga perusahaan ini selanjutnya membentuk perusahaan holding  PT Indonesia Battery agar lebih leluasa dalam mengembangkan usaha dan juga menggandeng mitra-mitra investornya.

Untuk sementara, ada dua investor yang berkomitmen untuk membangun industri baterai di Indonesia, mulai dari hulu hingga hilir. Perusahaan tersebut adalah LG Energy Solution dari Korea Selatan dan China’s Contemporary Amperex Technology (CATL) dari Tiongkok. Investasi yang digelontorkan kedua perusahaan itu mencapai Rp 174 triliun.

Meskipun investasi dari kedua perusahaan asing itu besar, pemerintah tetap berkomitmen untuk optimalisasi produksi di dalam negeri. Pemerintah memastikan jika perusahaan tersebut diwajibkan mengolah 60 persen nikel yang akan digunakan untuk memproduksi baterai listrik, harus diproses di Indonesia.

Daya saing

Hanya saja, keunggulan komoditas nikel tersebut harus mampu meningkatkan daya saing Indonesia secara luas. Artinya, jangan sampai potensi besar nikel itu hanya menjadi komoditas yang memberikan keuntungan besar bagi pemodal asing yang memiliki kemampuan teknologi pengolahan mutakhir. Produsen dalam negeri juga harus dilibatkan dan diberikan stimulan agar mampu bersinergi dengan para investor asing dan konsorsium baterai Indonesia.

Program percepatan program KBL berbasis baterai untuk transportasi yang diamanatkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) No 55/2019 tersebut bisa sangat menguntungkan investor besar. Dalam perpes itu disebutkan ada lima program KBL berbasis baterai untuk transportasi.

Program itu mencakup percepatan pengembangan industri KBL berbasis baterai dalam negeri, pemberian insentif, dan penyediaan infrastruktur pengisian listrik dan pengaturan tarif tenaga listrik untuk KBL berbasis baterai. Selain itu, ada juga program pemenuhan terhadap ketentuan teknis KBL berbasis baterai dan perlindungan terhadap lingkungan hidup.

Melalui program tersebut ada harapan besar bagi Indonesia untuk tumbuh menjadi produsen baterai listrik ataupun industri perakitan kendaraan listrik. Hanya saja, jika dicermati dari langkah-langkah kebijakannya, ternyata sangat besar peluangnya bagi industri luar negeri untuk dapat terlibat dalam kegiatan hulu hingga hilirnya.

Dalam program percepatan pengembangan industri KBL berbasis listrik ada sejumlah butir yang berpotensi menguntungkan investor besar. Salah satunya adalah tentang ”Industri kendaraan dan industri komponen kendaraan bermotor yang telah memiliki izin usaha industri dan fasilitas manufaktur dan perakitan dapat mengikuti program percepatan KBL berbasis baterai untuk transportasi jalan”.

Aturan ini berpeluang sangat menguntungkan investor besar manufakturing kendaraan di Indonesia yang notabene milik prinsipal asing. Perusahaan-perusahan ini hampir bisa dipastikan dapat mengikuti progam KBL berbasis baterai ini tanpa memiliki kendala yang berarti.

Berbeda halnya dengan industri di dalam negeri yang relatif sangat jauh tertinggal dari sisi teknologi ataupun permodalan. Jadi, perlu peranan pemerintah agar industri di dalam negeri dapat terlibat dalam percepatan pengembangan industri KBL berbasis baterai tersebut.

Dalam konteks tersebut, bagian lain dari isi Perpres No 55/2019 yang menekankan penguatan industri domestik menjadi kunci. Dalam perpres itu disebutkan bahwa ”perusahaan industri komponen kendaraan bermotor dan/atau perusahaan industri komponen KBL berbasis baterai dalam negeri wajib mendukung dan melakukan kerja sama dengan industri KBL berbasis baterai dalam negeri”.

Artinya, segala sesuatu yang berhubungan dengan industri kendaraan ataupun komponen kendaraan listrik berbasis baterai harus melibatkan industri domestik dalam proses rantai supply chain-nya. Hal ini harus menjadi pemicu bagi semua pemangku kepentingan di dalam negeri untuk bersama-sama menangkap kesempatan besar ini. (LITBANG KOMPAS)

Sumber: KOMPAS.ID

Read More

Melirik Potensi Tambang Nikel Untuk Mewujudkan Industri Baterai Nasional

oleh: Dwi Suryo Abdullah *)

NIKEL.CO.ID – Nikel adalah elemen logam dengan nomor atom: 28 dan berat atom: 58.6934 berwarna putih keperakan dengan dasar bersinar/berkilau yang diekstraksi dari dua bijih – sulfida magmatik dan laterit pada umumnya terbentuk secara alami yang merupakan elemen paling umum kelima di bumi dan muncul secara luas di kerak dan inti bumi. Nikel juga disebut sebagai logam pilihan untuk membuat superalloy – kombo logam yang dikenal memiliki kekuatan dan ketahanan yang tinggi terhadap panas, korosi, dan oksidasi, sehingga nikel sering digunakan sebagai lapisan luar pelindung untuk logam yang lebih lunak karena mempunyai kemampuan untuk menahan suhu yang sangat tinggi.

Mayoritas nikel yang ditambang saat ini sekitar 60 persen digunakan untuk membuat baja campuran nikel (baja nikel) seperti baja tahan karat, kuat dan tahan korosi. Nikel sering dicampur dengan besi dan logam lain untuk membuat magnet yang kuat yang dikenal sebagai magnet Alnico, merupakan bahan campuran dari aluminium, nikel, kobalt, dan besi. Campuran nikel lainnya digunakan pada poros baling-baling kapal dan sudu turbin gas, kubah, suku cadang mesin, pipa yang digunakan di pabrik desalinasi merupakan campuran nikel dengan tembaga , sering juga digunakan untuk pelapis produk kran air sehingga memberikan efek yang kilap /kemilau.

Selain Itu nikel juga digunakan untuk bahan utama baterai, uang koin, senar gitar, dan pelat baja. Sebagai contoh banyak baterai berbasis nikel dapat diisi ulang seperti baterai NiCad (nickel cadmium) dan baterai NiMH (nickel-metal hydride) yang digunakan pada kendaraan hibrida. Bahkan dikembangkan sebagai material pembuat chip, pada tahun 1881 nikel murni digunakan untuk koin di Swiss meskipun uang koin di AS pertama kali menggunakan nikel yang dicampur dengan tembaga pada tahun 1857.

Beberapa sifat nikel adalah sebagai logam yang keras namun mudah dibentuk dan ulet serta menjadi konduktor panas dan listrik yang baik. Disamping Itu nikel disebut bivalen yaitu memiliki valensi dua, merupakan logam yang larut perlahan dalam asam encer dengan titik leleh pada temperatur 1.453 ° C dan titik didih 2.913 °C. Nikel memiliki sifat fisik dan kimia yang luar biasa, dapat menjadikan banyak produk yang meningkat valuenya apabila dicampurkan dengan nikel seperti berbagi jenis baterai kendaraan listrik dengan bahan utama dari Nikel termasuk pelapis baling-baling kapal, mesin jet maupun sudu turbin gas bahkan juga sering dijumpai pada ribuan produk lainnya.

Nikel bersama dengan besi juga merupakan elemen umum dalam meteorit sehingga banyak dijumpai namun tidak banyak ditemukan pada tumbuhan, hewan dan air laut. Sehingga banyak ilmuwan meiyakini bahwa deposit besar bijih nikel ini adalah hasil dari tabrakan meteor purba, karena itulah Nikel merupakan logam yang keras dan tahan korosi.

Negara yang merupakan penghasil tambang nikel terbesar antara lain : Indonesia, Filipina, Rusia, Kanada, Brazil, Australia dan Kaledonia Baru dengan cadangan lebih dari 50 % sumber daya nikel global yang saat ini hampir mencapai 300 juta ton dengan deposit terbesar nikel di wilayah Sudbury di Ontario, Kanada .

Cadangan nikel di Kanada diperkirakan berasal dari meteorit raksasa yang jatuh ke bumi ribuan tahun yang lalu, selama ini sebagian besar nikel diperoleh dari mineral pentlandite (NiS · 2FeS), yang konsentrasi ekonomis nikel terjadi di sulfida dan di deposit bijih tipe laterit. Produsen nikel terbesar sàat ini adalah Rusia sedangkan Cina memimpin dalam hal penggunaan karena hampir 60 persen konsumsinya dikaitkan dengan produksi baja tahan karat.

Konsumsi nikel terbesar beberapa tahun ini adalah untuk campuran baja, baterai dan uang koin.

Seiring dengan penemuan batarai lithium ion oleh tiga ilmuwan kimia yaitu John B. Goodenough, M. Stanley Whittingham dan Akira Yoshino peraih nobel tahun 2019 menjadikan nikel sebagai logam yang paling banyak untuk digunakan dalam Industri baterai terutama untuk baterai kendaraan listrik, baterai surya, gadget, laptop, tablet dan banyak perkakas portable yang membutuhkan baterai sebagai penggerak motor listrik .

Tentunya ini akan mendongkrak konsumsi nikel global apalagi kendaraan listrik dan baterai surya menjadi backbone menurunkan emisi gas karbon dioksida (efek rumah kaca). Banyak mata pengusaha dan penguasa negara berusaha mengamankan cadangan nikel yang dimiliki agar dapat di ekplorasi untuk kemajuan negara sehingga membawa kemakmuran bagi rakyatnya,seperti Indonesia dengan menyiapkan Industri Baterai Nasional yang diinisiai oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara melalui Indonesia Battery Corporation yang merupakan konsorsium dari PT Pertamina (Persero) , PT PLN (Persero) , PT Inalum dan PT Aneka Tambang.

*) Dwi Suryo Abdullah adalah Pemerhati Kelistrikan

Sumber: ruangenergi.com

Read More

Jalan Indonesia Kuasai Industri Baterai Listrik Dunia

Pembentukan IBC menjadi pintu masuk Indonesia menjadi pemain utama baterai listrik

NIKEL.CO.ID – Indonesia memiliki sumber daya memadai untuk menjadi pemain utama baterai listrik pada level global. Apalagi, masa depan dan kompetisi industri otomotif dunia kini beralih pada kendaraan listrik.

Semua berbondong-bondong ingin memajukan industri kendaraan listrik. Indonesia pun tidak mau berada di gerbong paling belakang dalam persaingan ini, apalagi sampai ketinggalan gerbong.

“Indonesia harus menjadi pemain utama dalam industri kendaraan listrik,” kata Presiden Joko Widodo, beberapa waktu lalu.

Karena itu, Menteri BUMN Erick Thohir membentuk perusahaan baterai listrik bernama Indonesian Batery Company (IBC) pada Jumat (26/3).

IBC didirikan sebagai holding untuk mengelola ekosistem industri baterai kendaraan bermotor listrik (electric vehicle battery/EV) yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Pembentukan IBC ditandai dengan penandatanganan perjanjian pemegang saham oleh holding industri pertambangan atau MIND ID, Antam, Pertamina, dan PLN dengan komposisi saham masing-masing 25 persen pada 16 Maret lalu.

Menteri Erick Thohir mengatakan pembentukan IBC merupakan strategi pemerintah, khususnya Kementerian BUMN, untuk memaksimalkan potensi sumber daya mineral di Indonesia yang melimpah dan besar.

“Kita ingin menciptakan nilai tambah ekonomi dalam industri pertambangan dan energi, terutama nikel yang menjadi bahan utama baterai EV, mengembangkan ekosistem industri kendaraan listrik, dan memberikan kontribusi terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan,” kata Erick Thohir.

Selain itu, investasi skala besar seperti ini akan membuka banyak lapangan kerja, khususnya generasi muda.

Sejalan dengan IBC yang akan mengelola ekosistem industri baterai kendaraan bermotor listrik, perusahaan juga akan melakukan kerja sama dengan pihak ketiga yang menguasai teknologi dan pasar global.

Tujuannya, untuk membentuk entitas patungan di sepanjang rantai nilai industri EV battery mulai dari pengolahan nikel, material precursor dan katoda, hingga battery cell, pack, energy storage system (ESS), dan recycling.

Hingga saat ini telah dilakukan penjajakan kepada beberapa perusahaan global yang bergerak di industri baterai EV, seperti dari China, Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Eropa.

Erick menegaskan IBC terbuka untuk bekerja sama dengan siapapun. Hanya saja, harus memenuhi tiga kriteria, yakni mendatangkan investasi pada sepanjang rantai nilai, membawa teknologi, dan pasar regional atau global.

Tiga syarat itu penting agar seluruh rantai nilai di industri EV battery ini dapat dibangun secara terintegrasi melalui sinergi yang strategis.

Erick menilai Indonesia memiliki potensi yang signifikan untuk mengembangkan ekosistem industri kendaraan bermotor listrik dan baterai listrik.

Di sektor hulu, ungkap Erick, Indonesia memiliki cadangan dan produksi nikel terbesar di dunia dengan porsi cadangan sebesar 24 persen dari total cadangan nikel dunia.

Di hilir, Indonesia berpotensi memiliki pangsa pasar produksi dan penjualan kendaraan jenis bermotor roda dua dan empat yang sangat besar dengan potensi 8,8 juta unit untuk kendaraan roda dua dan 2 juta unit untuk kendaraan roda empat pada 2025.

“Dengan keunggulan rantai pasokan yang kompetitif, setidaknya 35 persen komponen EV bisa berasal dari lokal,” kata Erick penuh optimistis.

Kemitraan IBC, CATL, dan LG Chem

Erick Thohir mengatakan kemitraan IBC dengan dua pemain baterai listrik dunia, CATL dan LG Chem, akan memberikan keuntungan bagi Indonesia.

Erick menyampaikan BUMN yang tergabung dalam IBC akan terlibat dalam seluruh proses pengembangan industri baterai listrik dari hulu hingga ke hilir sesuai dengan perjanjian dengan CATL dan LG Chem.

Indonesia ingin alih teknologi ini tidak hanya pada baterai listrik untuk mobil tapi juga untuk motor.

Erick menilai potensi baterai listrik untuk motor sangat potensial bagi Indonesia yang dikenal sebagai salah satu pasar kendaraan roda terbesar di dunia.

Selain baterai listrik untuk mobil dan motor, lanjut Erick, perjanjian kerja sama juga mengatur tentang pengembangan baterai stabilisator yang penting dalam energi baru terbarukan atau kebutuhan power listrik ke depan.

Indonesia, kata Erick, dalam posisi cenderung mengalah dalam baterai listrik untuk mobil mengingat (kualitas) kemampuan pemain global. Kendati begitu, Erick menyebut IBC tetap mengunci sektor hilirisasi agar Indonesia tak sekadar menjadi pasar.

Erick menilai Indonesia tidak perlu merasa malu harus bermitra lantaran mitra yang digandeng merupakan pemain listrik nomor satu dan dua di dunia.

Oleh karenanya, Erick sejak awal mendorong Pertamina dan PLN yang merupakan raksasa terbesar energi dalam negeri untuk bergaung dengan IBC dan bergabung dengan raksasa pertambangan MIND ID.

“Kita ingin jadi global player juga dengan alih teknologi dan penguasaan pasar ke depan sehingga tidak jadi market saja,” ungkap Erick.

Masa Depan Kendaraan Listrik

Proyek pengembangan baterai kendaraan listrik terintegrasi senilai 9,8 miliar dolar AS atau setara Rp 142 triliun di Indonesia segera dimulai. Hal itu setelah ditandatanganinya nota kesepahaman (MoU) antara konsorsium BUMN dengan LG Energy Solution Ltd yang merupakan anak perusahaan konglomerasi LG Group.

Sebelumnya, pabrikan baterai litium terbesar dunia asal China, Contemporary Amperex Technology Limited (CATL), sudah menanamkam modalnya terlebih dahulu untuk membangun pabrik baterai yang terintegrasi. CATL menyiapkan modal 5,1 miliar dolar AS atau Rp 72 triliun untuk pembangunan pabrik itu.

Indonesia menjadi pusat pengembangan dan produksi baterai litium ketiga CATL setelah di Tiongkok dan Jerman. Di Indonesia, CATL berencana mengembangkan pertambangan nikel, pabrik pengolahan nikel, pabrik material baterai litium, sampai dengan pabrik mobil listrik.

Ambisi Indonesia untuk menjadi pemain utama dalam industri mobil listrik bukan tanpa dasar. Salah satu modal yang penting, kata Menteri BUMN Erick Thohir, sumber daya alam Indonesia sangat mendukung.

Indonesia menjadi salah satu negara dengan sumber daya nikel yang terbesar di dunia. Nikel merupakan bahan dasar untuk pembuatan baterai mobil listrik, lithium-ion.

Erick mengatakan baterai merupakan komponen utama dalam produksi kendaraan listrik. Sampai 85 persen dari material baterai litium itu bisa didapatkan di Indonesia.

Produksi baterai litium ini bisa diwujudkan pada akhir 2023 atau 2024. Hilirisasi sektor mineral pun menjadi pentig sehingga nikel tidak diekspor mentah.

Indonesia memang dikenal raja nikel dunia. Predikat itu tersandang sejak 2018, setelah merebutnya dari tangan Filipina.

Pada 2019 ekspor nikel Indonesia mencapai 1,7 miliar dolar AS atau 37,2 persen dari nilai ekspor dunia. Filipina terperosok ke posisi ketiga dengan pangsa pasar 13 persen, disalip Zimbabwe dengan penguasaan pasar 16 persen.

Namun, sampai saat ini, Indonesia belum memanfaatkan nikel ore itu untuk produksi baterai lithium-ion. Lima pemain besar produsen baterai litium ini adalah Australia sebesar 52,9 persen dari produksi global, Cile (21,5 persen), China (9,7 persen), Argentina (8,3 persen), dan Zimbabwe (2,1 persen).

Potensi Hilirisasi Nikel Capai 34 Miliar Dolar AS

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan memperkirakan potensi hilirisasi nikel sampai dengan 2024 dapat mencapai 34 miliar dolar AS. Potensi tersebut dapat dicapai melalui pengolahan nikel di dalam negeri menjadi baterai lithium dan daur ulang lithium.

Saat ini, Luhut menyebutkan, Indonesia baru mengekspor berupa bahan baku mentah ke Cina. Sektiar 98 persen dari total produksi nikel dalam negeri itu langsung dikirim ke luar negeri tanpa diolah terlebih dahulu.

Padahal, apabila diolah sendiri, ekspor tersebut akan mendorong  penerimaan negara yang lebih besar. Sebab, akan ada nilai tambah yang bisa didapatkan ke industri manufaktur dan tenaga kerja Indonesia.

Luhut mencatat besaran nilai ekspor nikel saat ini sudah di angka 10 miliar dolar AS. Artinya, masih ada 24 miliar dolar AS yang dapat dioptimalkan. Tidak menutup kemungkinan nilai tersebut dapat meningkat apabila bahan baku nikel diolah di dalam negeri.

Luhut menambahkan upaya hilirisasi nikel dapat menjadi daya tarik tambahan bagi para investor yang berminat ke Indonesia. Khususnya untuk melakukan investasi langsung atau foreign direct investment (FDI). Dengan begitu, isu defisit neraca dagang yang selalu jadi permasalahan di Indonesia dapat membaik.

Tidak hanya nikel, pemerintah juga berupaya melakukan hilirisasi timah dan bauksit setelah 2024. Upaya ini sejalan dengan program prioritas pemerintah untuk mengembangkan industri manufaktur mobil listrik.

Ia mengakui melakukan hilirisasi memang tidaklah mudah. Indonesia harus keluar dari zona nyaman yang selama ini terlena mengekspor bahan mentah saja. Dampaknya, nilai tambah yang didapatkan di Indonesia cenderung minim.

Untuk memaksimalkan hilirisasi, pemerintah berupaya mencari FDI. Sampai saat ini, pemerintah sudah melakukan pendekatan terhadap sejumlah investor untuk memaksimalkan hilirisasi bauksit di dalam negeri. Di antaranya dengan Cina dan Jepang.

Sumber: Republika.co.id

Read More

Tak Cuma Nikel, Produk Tambang Ini Bisa Dukung Mobil Listrik

NIKEL.CO.ID – Indonesia dianugerahi cadangan mineral berupa nikel yang menjadi bahan baku pembuatan baterai lithium untuk kendaraan listrik. Tidak hanya nikel, ada komoditas mineral lain yang dimiliki Indonesia juga bisa mendukung mobil listrik.

Deputi Investasi dan Pertambangan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Septian Hario Seto mengatakan, tembaga juga menjadi komoditas yang permintaannya akan meningkat seperti nikel. Menurutnya, kebutuhan tembaga untuk mobil listrik bisa mencapai empat sampai lima kali lipat dibandingkan mobil biasa.

“Kalau mobil biasa 20 ton (tembaga) setiap satu mobilnya, untuk mobil listrik itu bisa sampai 80 sampai 100 ton,” tuturnya.

Belum lagi kebutuhan tembaga untuk komponen stasiun pengisian daya (charging station) yang membutuhkan kabel dan lainnya. Dengan demikian, diperkirakan permintaan tembaga ini juga akan meningkat cukup signifikan.

“Apalagi kalau kita kemudian nanti komponen charging station butuh wiring (kabel) segala macamnya, akan lebih besar,” ujarnya.

Komoditas mineral lain yang juga menjadi primadona di masa depan adalah bauksit. Bauksit menurutnya juga akan dimanfaatkan untuk campuran pembuatan kerangka mobil listrik.

Bauksit ini akan diproses menjadi aluminium untuk membuat kerangka mobil listrik menjadi lebih ringan. Namun kekuatannya menurutnya juga tidak kalah dibandingkan dengan mineral lainnya. Dengan beban lebih ringan dan kapasitas baterai yang sama, maka mobil listrik ini menurutnya bisa melaju lebih jauh.

“Tembaga kita tahu sumber cadangan ada di Freeport, kemudian ada di Amman Mineral, ada kemudian di Banyuwangi yang Tumpang Pitu, kita lihat yang sedang dilakukan eksplorasi saat ini juga ada di Sumbawa,” tuturnya.

Indonesia memiliki cadangan besar di tiga komoditas mineral unggulan ini, dan relatif tinggi terhadap cadangan dunia. Maka dari itu, imbuhnya, dengan melakukan eksplorasi lebih lanjut, maka ini akan memperkuat posisi cadangan tiga komoditas unggulan tersebut.

“Eksplorasi lebih lanjut untuk meningkatkan cadangan ini, memperkuat posisi tidak hanya ketahanan energi kita tapi juga ketahanan ekonomi Indonesia ke depannya,” tegasnya.

Berdasarkan data Badan Geologi status Juli 2020, sumber daya nikel Indonesia mencapai 11,9 miliar ton dan cadangan 4,35 miliar ton, sumber daya tembaga 14,8 miliar ton dan cadangannya 2,6 miliar ton, serta sumber daya bauksit mencapai 5,1 miliar ton dan cadangannya 2,8 miliar ton.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Data Cadangan Nikel Diragukan, Badan Geologi Buka Suara

Badan Geologi menyebut dari 301 sampai 302 pemegang izin usaha pertambangan dan kontrak karya nikel, baru 199 perusahaan yang melaporkan datanya.

NIKEL.CO.ID – Data cadangan nikel di Indonesia disebut tak sebesar pemaparan pemerintah. Kepala Bidang Mineral Pusat Sumber Daya Mineral Batu Bara dan Panas Bumi Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Moehamad Awaludin pun buka suara.

Cadangan nikel setiap tahunnya selalu dipublikasikan. Data yang disusun Badan Geologi sebagian besar bersumber dari laporan kegiatan perusahaan. Dengan begitu, sumber datanya dapat dipertanggungjawabkan.

“Kami ada verifikasi data. Kalau angkanya tidak masuk akal, kami tidak ambil,” kata dia kepada Katadata.co.id, Senin (22/3/2021).

Isi laporan itu adalah data eksplorasi, laporan studi kelayakan, serta laporan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) yang telah disetujui pemerintah pusat dan daerah.

Awaludin menyebut terdapat 301 hingga 302 pemegang izin usaha pertambangan (IUP), izin usaha pertambangan khusus (IUPK), dan kontrak karya (KK) nikel. Dari angka itu, hanya 199 perusahaan yang melaporkan datanya.

Hanya saja, dari semua pelaporan tersebut tidak semua menggunakan competent person. Padahal perannya cukup strategis dalam memvalidasi neraca cadangan pada suatu wilayah izin usaha pertambangan.

“Baru 60% yang menggunakan competent person,” kata dia.

Persoalannya, semua pelaporan yang masuk telah disetujui pemerintah, baik pemda maupun Direktorat Jenderal Minerba. Apabila tidak disetujui karena tidak kompeten, seharusnya tidak menjadi laporan yang bisa diambil oleh Badan Geologi dan dijadikan sumber data.

“Kami mengacunya di situ kalau data sudah detail,” ujarnya.
Dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor (ESDM) 1806 K/30/MEM/2018, perusahaan tambang wajib mendapatkan pengesahan dari competent person Indonesia alias CPI untuk jumlah cadangan di lokasi izin usaha pertambangan atau IUP. Tanpa itu, pemerintah tidak akan mengesahkan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) perusahaan.

Melansir dari situs Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), ada lima syarat untuk menjadi competent person. Pertama, anggota Perhapi, Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), atau Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia (MGEI).

Kedua, lulusan teknik pertambangan atau geologi dari perguruan tinggi yang terakreditasi. Ketiga, memiliki pengalaman kerja yang cukup dalam industri pertambangan mineral dan batu bara (minerba). Termasuk, minimal lima tahun di bidang yang relevan.

Keempat, telah melalui verifikasi yang diselenggarakan oleh komite (khusus) impelementasi CPI. Terakhir, memenuhi kewajiban administrasi sebagai CPI.

Data Cadangan Nikel

Direktur Center for Indonesian Resources Strategic Studies (Cirrus) Budi Santoso berpendapat cadangan nikel Indonesia selama ini memang tidak sebesar dengan apa yang dipaparkan pemerintah.

Pasalnya, cadangan yang disebutkan selama ini belum semuanya memenuhi ketentuan dan diverifikasi sesuai dengan Komite Cadangan Mineral Indonesia (KCMI) 2017 dan standar nasional Indonesia (SNI) 2019.

Hal tersebut terjadi karena biaya eksplorasi yang mahal.

“Tanpa cadangan yang sesuai dengan KCMI atau SNI, maka desain smelter-nya pakai asumsi dan tentu saja tidak bankable,” kata dia.
Smelter merupakan pabrik pengolahan dan pemurnian barang tambang menjadi produk jadi. Pemerintah sedang mendorong perusahaan tambang melakukan nilai tambah tersebut. Kewajibannya pun tertulis pada Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 atau UU Minerba pasal 102 ayat 1.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Meidy Katrin Lengkey sebelumnya juga membeberkan mengenai beberapa sengkarut yang terjadi pada tata niaga nikel di Indonesia. Salah satunya yakni tidak tersedianya detail data cadangan deposit nikel.

Sejauh ini hanya PT Vale Indonesia Tbk dan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) yang sudah melakukan kegiatan eksplorasi menyeluruh.

“Karena besarnya biaya eksplorasi sehingga sulit untuk mengukur berapa detail cadangan nikel Indonesia,” ujarnya.

Pemerintah kerap menyebut Indonesia sebagai pemilik cadangan nikel terbesar di dunia. Angkanya mencapai 21 juta ton, seperti terlihat pada grafik Databoks di bawah ini.

Dengan cadangan tersebut, pemerintah percaya diri masuk ke bisnis baterai, terutama untuk kendaraan listrik. Nikel merupakan salah satu bahan baku utama pembuatan baterai lithium ion.

Dengan memakai nikel pada kutub positifnya (katoda), energi dalam baterai menjadi lebih padat. Kendaraan listrik dapat menempuh jarak lebih jauh.

Sejak 1 Januari 2020, pemerintah telah melarang ekspor bijih nikel. Perusahaan tambang wajib mengolahnya di dalam negeri.

Artikel ini telah tayang di Katadata.co.id dengan judul “Data Cadangan Nikel Diragukan, Badan Geologi Buka Suara

Read More

Tesla, Nikel, & Mengapa RI Strategis di Industri Mobil Listrik

Indonesia merupakan negara pemilik cadangan nikel terbesar dunia. Kebijakan nikel Indonesia, berperan besar untuk menentukan harga.

NIKEL.CO.ID – Industri otomotif sedang memulai perubahan besarnya. Mobil-mobil listrik mulai digemari, sementara mobil-mobil berbahan bakar fosil secara perlahan mulai ditinggalkan. Evolusinya mungkin belum terlalu terasa saat ini, akan tetapi dalam beberapa tahun ke depan diperkirakan terjadi perubahan besar-besaran.

Tesla adalah salah satu yang mempelopori peralihan industri ini. Perusahaan besutan Elon Musk ini bahkan telah menjadi bintang baru di Wall Street. Kinerjanya moncer sehingga mengerek Elon Musk menjadi orang terkaya di dunia. Selama 2020, Tesla memproduksi mencapai 509.737 unit, dengan jumlah yang dikirim mencapai 499.550. Tesla memperkirakan pengiriman kendaraannya bisa tumbuh rata-rata 50% per tahun.

Mobil listrik memang bukan satu-satunya bisnis, akan tetapi ia memberikan peran besar dalam pertumbuhan kinerja Tesla. Selama kuartal terakhir tahun 2020, harga saham naik hingga 3 kali lipat sehingga membawa kapitalisasi pasar di atas USD 800 miliar. Tesla naik ke peringkat ke-5 dalam daftar “Most Valuable Company”.

Selain Tesla, sejumlah produsen otomotif besar juga sudah merilis dan mengembangkan mobil listrik. Ini karena mereka harus menangkap peluang mobil listrik di masa depan.

Data dari International Energy Agency (IEA) menunjukkan tren kenaikan penjualan penjualan mobil listrik. Jika pada tahun 2010, penjualan mobil listrik secara global hanya 17.000 unit, angkanya melonjak menjadi 2,1 juta unit pada 2019 sehingga total mobil listrik yang mengaspal di jalanan mencapai 7,2 juta unit. Sayangnya, 90% penjualan masih terkonsentrasi di Cina, Eropa, dan Amerika Serikat.

Riset JP Morgan memperkirakan ada lonjakan penjualan mobil listrik baik electric vehicles (EVs) dan hybrid electric vehicles (HEVs), sehingga pada 2025 mobil listrik diproyeksikan akan menguasai 30% dari seluruh penjualan kendaraan. Ini merupakan sebuah loncatan dibandingkan tahun 2016 yang hanya 1 juta unit atau 1% dari total penjualan gloal.

Permintaan Meningkat, Harga Merayap Naik
Kenaikan penjualan mobil listrik berperan besar dalam peningkatan permintaan nikel dunia dan akan mengubah pula komposisi konsumsi nikel. Saat ini, konsumsi terbesar nikel adalah untuk bahan stainless steel atau baja tahan karat. Menurut riset DBS bertajuk “Nickel and Battery, A Paradigm Shift”, sebanyak 70% permintaan nikel dunia pada tahun 2019 adalah untuk bahan baku stainless steel. Namun, porsinya diperkirakan menciut menjadi hanya 52 persen pada 2030.

Di sisi lain, permintaan nikel untuk produk baterai diperkirakan meningkat pesat, dengan pertumbuhan compound annual growth rate (CAGR) 32% selama tahun 2019-2030, menurut riset DBS. Hal itu mendorong konsumsi nikel untuk baterai yang bisa diisi ulang (rechargeable battery) naik jadi 24% per tahun menjadi 1,27 juta ton pada 2030. Kontribusi konsumsi rechargeable batteries terhadap total konsumsi nikel pun meningkat dari 5% pada 2019 menjadi 30% pada 2030.

Bandingkan permintaan nikel untuk stainless steel yang diperkirakan hanya tumbuh 2,25 per tahun hingga 2030, sejalan dengan pertumbuhan produksinya sebesar 2,7%.

Pertumbuhan produksi stainless steel yang kuat didorong oleh ekspansi kapasitas yang kuat di Cina dan Indonesia. Namun turunnya konsumsi stainles dengan CAGR 2,7% pada 2019-2030 (dari sebelumnya 6% pada 2010-2019) mengindikasikan potensi pertumbuhannya mulai terbatas jika dibandingkan dengan booming mobil listrik.

Secara total, DBS memperkirakan permintaan nikel akan tumbuh dengan CAGR 4,15% dan 5% pada 2025 dan 2030.

Dari sisi produksi, DBS memperkirakan produksi nikel murni global tumbuh dengan CAGR 3,7% (yoy) pada rentang 2019-2025, terutama didukung oleh ekspansi proyek nikel di Indonesia. Sementara produksi nikel mentah diperkirakan tumbuh dengan CAGR 3% pada rentang 2019-2025. Khusus untuk tahun 2020, sehubungan dengan pandemi, produksi untuk tambang nikel akan turun 1,6% dan nikel pemurnian turun 9% secara yoy.

Pada tahun 2019, produksi tambang nikel global tercatat sebesar 2,593 juta ton. Tahun 2020, diperkirakan turun menjadi 2,359 juta ton. Indonesia yang merupakan penghasil utama nikel juga menghadapi penurunan, dari 917,5 ribu ton pada 2019, menjadi 693 ribu ton pada 2020.

Untuk nikel murni, tahun 2019 diperkirakan produksi globalnya mencapai 2,410 juta ton. Namun, tahun 2020 turun menjadi 2,372 juta ton. Khusus untuk Indonesia, produksi nikel murni tahun 2019 mencapai 360,8 ribu ton, naik menjadi 545 ribu ton pada 2020, berdasarkan riset DBS.

Menurut WBMS yang dikutip dalam riset DBS, ekspor nikel mentah dan konsentrat Indonesia anjlok dari 12,3 juta ton pada semester I-2019 menjadi nol karena kebijakan larangan ekspor Indonesia. DBS memperkirakan suplai tambang nikel Indonesia akan tumbuh dengan CAGR 4,9%. Kontribusi pada suplai global akan meningkat menjadi 39% pada 2025, dibandingkan 35% pada 2019.

Produksi & Larangan Ekspor Indonesia

Permintaan meningkat, sementara suplai tergantung pada beberapa negara produsen besar, salah satunya Indonesia. Sebagai pemilik cadangan sekaligus produsen nikel terbesar dunia, Indonesia memang memainkan peran kunci. Pemerintah Indonesia menyadari itu.

Dengan potensi yang sedemikian besar, pemerintah berniat untuk mengambil potensi ekonomi sebesar-besarnya. Salah satunya dengan mengeluarkan larangan ekspor. Dengan aturan ini, harapannya nikel yang keluar dari Indonesia tidak sekadar barang mentah, tetapi sudah dalam bentuk yang memiliki nilai tambah. Pengolahan dari mineral mentah menjadi nikel yang sudah murni melalui pengolahan dalam negeri, diharapkan bisa menciptakan keuntungan ekonomi bagi negara.

Larangan ekspor mineral mentah tertuang dalam Pasal 103 ayat (1) UU No.4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Penerapannya sempat beberapa kali tertunda karena belum siapnya smelter dalam negeri. Hingga akhirnya keluar Permen ESDM No. 11 Tahun 2019 tentang Pengusahaan Pertambangan Mineral dan Batubara, tenggat waktu pelarangan ekspor bijih berlaku mulai 1 Januari 2020. Namun, Kepala BKPM Bahlil Lahadalia yang baru dilantik ketika itu, mempercepatnya dua bulan. Kapal yang sudah bertolak untuk ekspor diminta untuk pulang, dan nikelnya diserap oleh perusahaan tambang lokal.

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, larangan ekspor dipercepat karena terdapat lonjakan volume ekspor nikel hingga 100-130 kapal per bulan dari biasanya hanya 30 kapal per bulan. Setelah berlaku, ekspor nikel mentah Indonesia nyaris turun ke angka nol.

Sayangnya, aturan ini menuai protes dari negara-negara Eropa. Uni Eropa bahkan melayangkan gugatan ke WTO. Pada Januari 2021, gugatan ini bahkan sudah memasuki tahap pembentukan panel World Trade Organization (WTO). Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengungkapkan kekecewaannya karena tidak adanya penyelesaian setelah konsultasi bilateral, yang biasanya dilakukan untuk penyelesaian sengketa tanpa melalui sidang resmi WTO. Dengan pembentukan panel, masalah ini lanjut ke tahap ajudikasi yang memungkinkan WTO menjatuhkan putusan mengikat bagi Indonesia dan Uni Eropa.

Dalam gugatannya, Komisi Eropa yang mengoordinasikan kebijakan perdagangan untuk 27 negara Uni Eropa menyatakan, larangan ekspor nikel mentah dan kewajiban pengolahan dalam negeri sebagai kebijakan ilegal dan tidak adil untuk produsen baja Uni Eropa.

Menurut Komisi Eropa, seperti dilansir Reuters, produksi industri stainless steel Uni Eropa turun ke titik terendahnya dalam 10 tahun, sementara Indonesia menjadi produsen terbesar kedua setelah Cina, berkat kebijakan tersebut. Kebijakan Indonesia dianggap sangat memengaruhi industri baja Uni Eropa yang bernilai 20 miliar euro, dengan jumlah tenaga kerja langsung 30.000 orang.

Produk nikel mentah Indonesia sendiri sebenarnya tidak pernah dikirim ke Uni Eropa. Sebelum larangan berlaku, ekspor nikel mentah Indonesia pada tahun 2019 menurut data BPS mencapai 1,097 miliar dolar AS. Dari jumlah itu, sebesar 1,051 miliar dolar meluncur ke Cina. Sisanya ke Jepang dan Ukraina. Tahun 2020, nilai ekspor sangat kecil hanya 116 ribu dolar, yang menuju ke Australia.

Namun, Uni Eropa beralasan kebijakan Indonesia membuat harga nikel di pasar internasional bergejolak. Sebagai negara produsen nikel terbesar dunia, kebijakan itu dianggap mengganggu tatanan harga di pasar global.

Seperti dikutip dari Al Jazeera Asosiasi Baja Eropa atau Eurofer mengatakan kebijakan Indonesia bisa mendorong harga nikel. Pada saat yang sama, Indonesia bisa memberikan harga yang murah kepada produsen stainless steel lokal. Padahal, nikel merupakan komponen terpenting dalam produksi stainless steel.

“Karena nikel mencakup sebagian besar biaya [produksi] stainless steel, (kebijakan larangan ekspor) membuat eksportir stainless steel Indonesia memiliki keuntungan daya saing yang signifikan dan tidak adil pada produk ini–dan Indonesia tiba-tiba membangun kapasitas yang besar–untuk masuk ke pasar ekspor,” ujar juru bicara Euroger, Charles de Lusignan, seperti dilansir Al Jazeera.

Pada larangan ekspor kali ini, Indonesia memang sudah lebih siap dibandingkan tahun 2014-206 lalu, karena sudah memiliki lebih banyak smelter untuk pengolahan nikel mentah. Dengan demikian, seluruh produksi bisa terserap oleh smelter yang ada. Menurut laporan DBS, produksi nikel olahan melonjak hingga 7 kali lipat menjadi 361 ribu ton pada 2019, dibandingkan 47.000 ton pada 2015. Sementara produksi stainless steel Indonesia juga melonjak menjadi 2,3 juta ton.

Harga nikel mentah cenderung turun mulai Desember 2019 atau setelah Indonesia memberlakukan larangan ekspor. Menurut Business Insider, harga nikel yang pada Desember 2018 hanya USD 10.870 per MT melonjak menjadi USD 17.295. Namun, setelah itu harga cenderung turun dan mencapai titik terendahnya pada Maret 2020 di USD 11.235. Harga secara perlahan naik dan pada Desember 2020 sudah menembus lagi USD 17.342. Meski demikian, harga itu jauh dibandingkan pada April 2007 atau saat booming harga komoditas. Saat itu, harga nikel sempat mencapai USD 50.765.

Indonesia untuk sementara waktu bisa mengamankan pasokan nikelnya, selama belum ada keputusan dari WTO. Dengan cadangan nikel yang sedemikian besar, Indonesia berprospek cerah untuk industri-industri yang mengandalkan nikel, termasuk baterai untuk mobil listrik. Namun, investasi untuk mobil ramah lingkungan tidak melulu soal pasokan nikel. Ada faktor-faktor lain yang dipertimbangkan oleh para produsen, termasuk Tesla. Terbaru, Elon Musk menawarkan kontrak jangka panjang dan bernilai fantastis bagi perusahaan yang mampu menambang nikel dengan syarat, “peka pada aspek lingkungan”. Tentu saja bukan hal yang mudah untuk dipenuhi oleh perusahaan-perusahaan nikel Indonesia yang masih banyak terbelit masalah lingkungan.

Sumber: tirto.id

Read More