Beranda Berita Nasional Peneliti Austria Kembangkan Katalis Nikel untuk Hidrogen Hijau

Peneliti Austria Kembangkan Katalis Nikel untuk Hidrogen Hijau

44
0
Dok. Tangkapan layar BRIN, foto: Peneliti senior Austria Institute of Technology (AIT), Dr. Rachmat Adhi Wibowo, Kamis (15/10/2026)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Peneliti senior Austria Institute of Technology (AIT), Dr. Rachmat Adhi Wibowo, mengkaji pemanfaatan nikel sebagai bahan katalis untuk mendukung produksi hidrogen hijau. Riset ini membuka peluang pemanfaatan sumber daya nikel Indonesia dalam pengembangan teknologi energi rendah karbon.

Dalam paparannya mengenai sintesis paduan nikel untuk katalisis produksi hidrogen hijau, Rachmat menjelaskan bahwa salah satu teknologi yang dikembangkan adalah elektrolisis air, yakni proses pemisahan air menjadi hidrogen dan oksigen dengan bantuan listrik.

Menurut dia, teknologi tersebut semakin relevan dalam upaya mengembangkan sumber energi alternatif, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, serta mendukung penyimpanan energi untuk kebutuhan masa depan.

“Konsep yang ingin saya bagikan adalah bagaimana kita mengatasi produksi hidrogen hijau dengan menggunakan bahan-bahan yang sebenarnya banyak di Indonesia, yaitu nikel dan paduannya,” ujar Rachmat dalam pemaparannya secara daring yang diselenggarakan oleh BRIN, Kamis (15/10/2026). 

Ia menjelaskan, penelitian di AIT mencakup pengembangan material dan katalis untuk mendukung berbagai proses konversi energi, termasuk produksi hidrogen, reduksi karbon dioksida (CO₂), serta pemanfaatan CO₂ menjadi bahan kimia bernilai tambah.

Dalam pengembangan hidrogen hijau, katalis berperan penting dalam membantu reaksi elektrokimia. Karena itu, sintesis paduan nikel menjadi salah satu bidang penelitian yang berpotensi mendukung pengembangan material untuk teknologi elektrolisis air.

Rachmat yang bekerja di sektor energi AIT mengatakan, kelompok risetnya berfokus pada pengembangan material dan teknologi yang dapat berkontribusi terhadap ketahanan energi serta penurunan emisi karbon.

Selain elektrolisis air, timnya juga mengembangkan teknologi pemisahan air melalui proses fotoelektrokimia. Teknologi ini memanfaatkan energi cahaya untuk mendorong reaksi yang menghasilkan hidrogen dan oksigen.

Menurut Rachmat, pengembangan teknologi energi rendah karbon menjadi semakin penting di tengah tantangan krisis energi, dinamika geopolitik, dan kebutuhan untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil.

Pemanfaatan nikel sebagai material katalis tersebut menjadi salah satu peluang bagi Indonesia untuk memperluas penggunaan komoditas mineralnya, tidak hanya sebagai bahan baku industri, tetapi juga sebagai bagian dari pengembangan teknologi energi bersih.

Meski demikian, penerapan teknologi ini secara luas masih memerlukan pengembangan material, pengujian kinerja katalis, serta kajian efisiensi dan keekonomian produksi hidrogen. (Shiddiq)