NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Harga Mineral Acuan (HMA) nikel Indonesia kembali mengalami penurunan pada Oktober 2026. Berdasarkan data Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), HMA nikel periode II Oktober 2026 ditetapkan sebesar US$15.847,67 per wet metric ton (wmt), lebih rendah dibandingkan periode I Oktober yang mencapai US$16.322,67 per wmt.
Penurunan tersebut melanjutkan pelemahan dari periode II September 2026, ketika HMA nikel tercatat sebesar US$16.698,00 per wmt. Dengan demikian, harga acuan nikel telah turun dalam dua penetapan berturut-turut, yakni pada awal dan pertengahan Oktober.
Secara nominal, HMA periode II Oktober turun US$475,00 per wmt dibandingkan periode I Oktober. Sementara itu, jika dibandingkan dengan periode II September, penurunannya mencapai US$850,33 per wmt.
Perubahan HMA tersebut turut diikuti penyesuaian harga patokan nikel berdasarkan kadar kandungan nikel serta moisture content (MC) atau kadar air bijih, masing-masing sebesar 30% dan 35%, dengan satuan harga dalam dolar AS per wmt.
HMA Nikel Turun 5,09% dari September P2
Jika dibandingkan dengan HMA periode II September 2026 sebesar US$16.698,00 per dmt, harga acuan nikel periode II Oktober mengalami penurunan US$850,33 per dmt atau sekitar 5,09%.
Sementara itu, penurunan dari periode I ke periode II Oktober mencapai US$475,00 per dmt atau sekitar 2,91%. Data terbaru yang dipublikasikan Shanghai Metals Market (SMM) pada 15 Oktober 2026 juga mengonfirmasi penurunan HMA nikel periode II Oktober ke level US$15.847,67 per ton.
HMA nikel periode I Oktober sebelumnya ditetapkan melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 384.K/MB.01/MEM.B/2026. Penetapan harga acuan tersebut menjadi salah satu dasar dalam perhitungan Harga Patokan Mineral (HPM) bijih nikel.
Perbandingan HPM Bijih Nikel MC 30% (FOB/wmt)
Berdasarkan tabel APNI, harga bijih nikel kategori moisture content (MC) 30% mengalami penurunan pada seluruh kadar, mulai dari 1,1% hingga 1,8%.
Pada kadar Ni 1,1%, harga turun US$0,81 per wmt dari US$25,32 menjadi US$24,51. Adapun pada kadar Ni 1,8%, penurunannya mencapai US$2,35 per wmt, dari US$76,66 menjadi US$74,31.
Berikut perbandingan HPM bijih nikel MC 30% periode I dan II Oktober 2026.
| Kadar Ni | CF | Okt P1 (US$/wmt) | Okt P2 (US$/wmt) | Perubahan |
| 1,1% | 13% | 25,32 | 24,51 | -0,81 |
| 1,2% | 14% | 28,17 | 27,28 | -0,89 |
| 1,3% | 27% | 50,95 | 49,35 | -1,60 |
| 1,4% | 28% | 55,64 | 53,90 | -1,74 |
| 1,5% | 29% | 60,55 | 58,67 | -1,88 |
| 1,6% | 30% | 65,69 | 63,66 | -2,03 |
| 1,7% | 31% | 71,06 | 68,88 | -2,18 |
| 1,8% | 32% | 76,66 | 74,31 | -2,35 |
Sumber: APNI.
Harga FOB dalam US$/wmt. Perubahan dihitung dari Oktober P2 dikurangi Oktober P1.
Penurunan nominal semakin besar seiring meningkatnya kadar nikel. Pola tersebut terlihat pada seluruh rentang kadar yang tercantum dalam tabel, dengan koreksi terbesar terjadi pada bijih berkadar 1,8%.
Perbandingan HPM Bijih Nikel MC 35% (FOB/wmt)
Koreksi harga juga terjadi pada bijih nikel kategori MC 35%. Seluruh kadar dalam tabel mencatat penurunan dibandingkan periode I Oktober.
Pada kadar Ni 1,1%, harga turun US$0,75 per wmt dari US$23,51 menjadi US$22,76. Sementara itu, kadar Ni 1,8% turun US$2,18 per wmt menjadi US$69,00 dari sebelumnya US$71,18 per wmt.
Berikut rincian perbandingan harga HPM bijih nikel MC 35%.
| Kadar Ni | CF | Okt P1 (US$/wmt) | Okt P2 (US$/wmt) | Perubahan |
| 1,1% | 13% | 23,51 | 22,76 | -0,75 |
| 1,2% | 14% | 26,16 | 25,33 | -0,83 |
| 1,3% | 27% | 47,31 | 45,83 | -1,48 |
| 1,4% | 28% | 51,66 | 50,05 | -1,61 |
| 1,5% | 29% | 56,22 | 54,48 | -1,74 |
| 1,6% | 30% | 61,00 | 59,12 | -1,88 |
| 1,7% | 31% | 65,98 | 63,96 | -2,02 |
| 1,8% | 32% | 71,18 | 69,00 | -2,18 |
Sumber: APNI. Harga FOB dalam US$/wmt. Perubahan dihitung dari Oktober P2 dikurangi Oktober P1.
Perbandingan kedua kategori tersebut memperlihatkan bahwa MC 30% memiliki nilai HPM lebih tinggi dibandingkan MC 35% pada kadar nikel yang sama. Namun, arah perubahan harganya seragam, yakni melemah pada seluruh kadar dalam penetapan periode II Oktober.
Formula HPM Mengacu pada Ketentuan ESDM
Dalam publikasi APNI, perhitungan HPM menggunakan formula sesuai Keputusan Menteri ESDM Nomor 363.K/MB.01/MEM.B/2026. Sementara itu, pengolahan HPM periode II Oktober mengacu pada Kepmen ESDM Nomor 401.K/MB.01/MEM.B/2026, sebagaimana tercantum pada tabel harga acuan yang dirilis APNI.
Perubahan formula dan penetapan harga acuan menjadi bagian penting dalam perhitungan nilai bijih nikel domestik. HMA menjadi salah satu komponen utama dalam pembentukan HPM, sedangkan kadar nikel dan kategori MC turut membedakan nilai harga yang tercantum pada masing-masing kelompok bijih.
Harga Bijih dan Produk Hilir Bergerak Berbeda
Perkembangan HMA dan HPM tersebut berlangsung di tengah pergerakan harga komoditas nikel yang belum seragam. Berdasarkan data Indonesia Nickel Price Index (INPI) APNI bersama SMM pada 5 Oktober 2026, harga rata-rata bijih nikel kadar 1,2% CIF turun menjadi US$25,5 per metrik ton dari US$26,5 per metrik ton pada 28 September. Bijih kadar 1,6% CIF juga melemah menjadi US$59 per metrik ton dari US$63,4 per metrik ton.
Di sisi lain, harga nickel pig iron (NPI) FOB justru naik tipis menjadi US$134,65 per metrik ton, sedangkan high-grade nickel matte (HGNM) turun menjadi US$15.055 per metrik ton dan mixed hydroxide precipitate (MHP) melemah menjadi US$13.632 per metrik ton.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga tidak hanya terlihat pada bijih nikel, tetapi juga pada sejumlah produk hilir. Meski demikian, arah perubahan setiap produk tidak sepenuhnya sama, sehingga dinamika harga perlu dilihat berdasarkan jenis komoditas dan segmen rantai pasoknya.
Dengan HMA periode II Oktober 2026 sebesar US$15.847,67 per dmt dan seluruh kadar HPM dalam tabel mengalami koreksi, pelaku pertambangan nikel perlu mencermati perubahan harga acuan tersebut dalam perencanaan produksi dan transaksi bijih. (Lili)










































