Arcandra Tahar Beri Alasan Tesla Pilih Beli Nikel dari Australia

NIKEL.CO.ID – Mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar memberikan analisisnya terkait penandatanganan perjanjian pembelian nikel oleh Tesla dari perusahaan pertambangan Australia BHP.

Menurut dia, selain mensuplai nikel, Tesla dan BHP juga akan bekerjasama dalam pengembangan energy storage yang ramah lingkungan.

“Kenapa Tesla memilih tambang nikel di Australia Barat bukan di negara lain? Tidak ada yang tahu pasti kenapa kerjasama yang sangat strategis ini dimulai. Namun demikian, ada beberapa hal yang bisa menjadi petunjuk kenapa Tesla memilih BHP,” ujarnya lewat akun Instagram pribadinya @arcandra.tahar seperti yang dikutip pada Rabu, 28 Juli.

Dalam unggahan tersebut, Arcandra setidaknya memberikan empat alasan mengapa kerja sama itu bisa terjadi.

Pertama, tekanan dari pemegang saham agar Tesla menunjukan usaha dan berpartisipasi dalam mengurangi dampak dari perubahaan iklim. BHP adalah salah satu perusahaan tambang yang sangat peduli dengan lingkungan dan berhasil menjadi penambang nikel dengan emisi CO2 terkecil.

“Mereka punya komitmen untuk mengelola tambang yang ramah lingkungan dengan menggunakan energi terbarukan,” katannya.

Kedua, kesamaan visi antara Tesla dan BHP dalam mengatasi masalah kerusakan lingkungan akibat kegiatan bisnis yang tidak berorientasi ramah lingkungan. Tesla dan BHP berkomitmen untuk punya usaha yang berkelanjutan (sustainable) dan handal, sehingga kegiatan bisnis mereka bisa bertahan lama.

“Pandangan jauh ke depan dari kedua perusahaan ini akan saling menguatkan posisi mereka di mata investor,” ungkap dia.

Ketiga, kerjasama ini akan menaikkan nilai saham kedua perusahaan. Dapat dibayangkan bagaimana reaksi investor apabila Tesla bekerjasama dengan penambang nikel yang tidak ramah lingkungan. Tesla bisa jadi mendapatkan harga nikel yang lebih murah, tapi kalau nilai sahamnya turun maka kerugian besar bagi Tesla.

“Kata orang Minang, Tesla kalah membeli tapi menang memakai. Hal yang sama juga berlaku untuk BHP,” imbuhnya.

Disebutkan Arcandra bahwa jika BHP menjual nikel kepada perusahaan yang tidak peduli dengan lingkungan maka nilai saham BHP bisa turun.

“Inilah fenomena ke depan yang harus dihadapi perusahaan dunia yang sudah go public. Mereka harus peduli dengan lingkungan kalau tidak ingin ditinggal investor,” tegasnya.

Keempat, adanya usaha yang sungguh-sungguh dari pemerintah Australia membantu perusahaan-perusahan tambang mereka untuk berpartisipasi dalam mengurangi dampak negatif dari perubahan iklim.

“Mereka menyadari bahwa dalam jangka pendek akan ada biaya lebih yang harus dikeluarkan penambang ramah lingkungan. Tapi pemerintah hadir lewat insentif fiskal yang bisa meringankan beban perusahaan tersebut. Inilah kunci untuk membangun dunia usaha yang berkelanjutan dan andal. Tidak dipaksa melalui jalan sulit dengan peta jalan yang buram,” jelasnya.

Lebih lanjut, dia mengungkapkan bahwa tidak berpengaruhnya biaya tenaga kerja yang lebih mahal di Australia terhadap masuknya investor kesana. Paling tidak bukan sebagai faktor penentu investor berinvestasi di sana.

Investor, dikatakannya, lebih punya ketertarikan terhadap perusahaan dan peluang bisnis yang ramah lingkungan.

“Perusahaan kelas dunia sangat cerdas dalam mengumpulkan data-data yang akurat terhadap komitmen sebuah perusahaan termasuk praktek-praktek bisnis yang biasa mereka lakukan di suatu negara. Inilah zaman baru yang terbuka dan transparan,” ucap dia.

Seperti yang diketahui, beberapa waktu lalu terdengar rumor bahwa Indonesia akan masuk dalam salah satu rantai produksi Tesla, utamanya dalam hal pembuatan baterai mobil listrik, karena dianggap mempunyai cadangan nikel yang besar.

Namun, hal tersebut sampai saat ini belum terealisasi. Bahkan, Tesla dikabarkan memilih Bangalore di India sebagai salah satu pusat pengembangan Tesla di luar Amerika Serikat.

“Semoga kita diberi kemampuan untuk belajar dari kerjasama Tesla dengan BHP di Australia” tutup Arcandra Tahar.

Sumber: voi.id

Read More

Tujuh Fakta Menarik Nikel, Bahan Baku Baterai Mobil Listrik

NIKEL.CO.ID – Perusahaan mobil listrik asal Amerika Serikat, Tesla, dikabarkan meninggalkan Indonesia dan mencapai kesepakatan dengan perusahaan Australia untuk memasok nikel yang dipakai untuk pembuatan baterai.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan sumber daya bijih nikel yang melimpah. Menurut pemetaan Badan Geologi tahun 2020, Indonesia memiliki 11.887 juta ton bijih nikel dan 4.346 juta ton cadangan bijih.

Nikel adalah salah satu jenis logam yang memiliki warna putih keperakan. Logam ini merupakan hasil tambang yang berasal dari sisa makhluk hidup atau tubuhan yang telah terkubur di tanah dalam waktu yang sangat lama.

Selain fakta-fakta di atas, ternyata nikel memiliki beberapa fakta menarik yang lain. Melansir dari laman Livescience, berikut ini tujuh fakta menarik dari nikel:

1. Dinamai ‘iblis tembaga’

Penemu pertama bijih nikel adalah para penambang di Jerman pada tahun 1600-an. Mereka keliru mengira bijih nikel sebagai bijih tembaga jenis baru dan mencoba mengekstraksinya namun gagal. Karena frustasi, mereka menyebutnya sebagai menamai bijih tersebut dengan kupfernickel atau “setan tembaga” dalam mitologi Jerman.

Pada 1751, Baron Axel Fredrik Cronstedt mengganti nama kupfernickel menjadi nikel. Ia merupakan ahli kimia asal Swedia yang menemukan fakta bahwa nikel merupakan unsur baru dengan sifat yang berbeda dari tembaga.

2. Merupakan unsur terbanyak ke-2 di inti bumi

Nikel adalah unsur terbanyak ke-5 di kerak bumi. Nikel bisa ditemukan dengan konsentrasi 100 kali lipat di perut bumi. Oleh karena itulah, nikel diyakini sebagai unsur terbanyak ke-2 di inti bumi setelah besi.

3. Mempunyai peran penting dalam industri material

Nikel memiliki banyak manfaat. Umumnya digunakan sebagai lapisan luar untuk logam yang lebih lunak. Nikel banyak dijadikan pilihan dalam pembuatan super aloy (campuran logam super) karena mampu menahan suhu yang sangat tinggi.

Nikel dapat digunakan untuk memproduksi stainless steel, peralatan militer, koin, baterai, hingga komponen elektronik.

4. Terkandung dalam meteroit

Meteorit adalah batu luar angkasa yang jatuh ke bumi. Kebanyakan meteorit memiliki kandungan logam nikel-besi. Bangsa Mesir Kuno sering memanfaatkan batu meteorit kaya nikel ini untuk membuat alat-alat kecantikan. Hal tersebut dibuktikan dengan penemuan manik-manik dari meteroit pada sebuah makam berusia 5 ribu tahun di tepi barat Sungai Nil.

5. Satu dari empat unsur logam yang bersifat feromagnetik

Nikel memiliki sifat feromagnetik. Artinya, nikel dapat ditarik oleh magnet ataupun dibuat menjadi magnet. Magnet Alnico yang terbuat dari kombinasi aluminium (Al), nikel (Ni) dan kobalt (Co) adalah magnet permanen yang sangat kuat. Magnet ini mampu mempertahankan daya magnetnya bahkan ketika dipanaskan sampai bersinar merah.

6. Dapat menyebabkan alergi

Alergi nikel merupakan salah satu penyebab paling umum dari alergi kontak dermatitis. Bagi sebagian orang, bersentuhan langsung dengan logam nikel dapat mengakibatkan gatal-gatal atau ruam pada kulit. Alergi ini biasanya berkaitan dengan perhiasan yang terbuat dari emas putih.

7. Merupakan unsur penting yang diperlukan tanaman untuk hidup

Kita dapat menemukan unsur nikel dalam berbagai macam sayuran, buah-buahan, hingga kacang-kacangan. Hal ini lantaran nikel adalah unsur yang cukup penting bagi kesehatan tanaman.

Meski begitu, nikel bisa sangat berbahaya jika masuk ke dalam tubuh manusia dalam jumlah besar. Paparan nikel yang berlebihan dapat meningkatkan risiko kanker paru-paru, fibrosis dan penyakit lainnya.

Sumber: tempo.co

Read More

Indonesia Punya Sembilan Perusahaan Pendukung EV

NIKEL.CO.ID – Saat menghadiri acara Investor Daily Summit 2021 yang digelar secara virtual di Jakarta, Rabu (14/7/2021), Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan seputar kendaraan listrik. Yaitu Indonesia memiliki sembilan industri baterai yang mendukung Electric Vehicle (EV).

Dikutip dari kantor berita Antara, kesembilan perusahaan itu adalah:

  • lima perusahaan penyedia bahan baku baterai, terdiri dari: nikel murni, kobalt murni, ferro nikel, endapan hidroksida campuran, dan lain-lain
  • empat perusahaan yang memproduksi baterai.

“Dengan demikian, Indonesia mampu mendukung rantai pasokan baterai untuk kendaraan listrik mulai dari bahan baku, kilang, manufaktur sel baterai dan perakitan baterai, manufaktur kendaraan listrik atau Electric Vehichle EV), hingga daur ulang EV,” papar Menperin.

Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan, pemerintah Indonesia mendorong industri transportasi melalui Rencana Pengembangan Industri Nasional. Yang menetapkan visinya untuk menjadi pemain utama dalam industri otomotif global. Industri Alat Transportasi Menjadi Prioritas dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional 2015-2035.

Indonesia menetapkan Roadmap Pengembangan EV melalui Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 27 Tahun 2020 tentang Spesifikasi Teknis, Roadmap EV dan Perhitungan Tingkat Kandungan Lokal. Indonesia menargetkan untuk mengembangkan Industri Komponen Utama EV (Baterai, Motor Listrik dan Inverter).

Menurut Menperin, permintaan untuk EV secara global di dunia ini diperkirakan terus meningkat dan mencapai sekitar 55 juta mobil bertenaga listrik di 2040.

“Pertumbuhan itu mengarah pada peningkatan kebutuhan lithium ion (LIB) baterai dan diperkirakan pada 2030 akan ada kapasitas lebih dari 500 GWh untuk EV ini,” jelas Menperin.

Meningkatnya penggunaan baterai juga mendorong peningkatan bahan bakunya yakni nikel, kobalt, litium, dan mangan.

Agus Gumiwang Kartasasmita menilai, dalam posisi tertentu, pemilik sumber bahan baku baterai ini nantinya akan memegang peranan yang sangat penting.

Mengingat Indonesia adalah pasar penjualan dan produksi otomotif terbesar di ASEAN dalam bisnis otomotif dan diproyeksikan akan tumbuh 2 juta produksi pada 2025, maka hal itu bisa menjadi peluang untuk mengembangkan EV.

Dengan demikian, baterai akan menjadi komponen paling berharga dalam EV, yang mewakili 35 persen dari biaya pembuatan EV.

Adapun keunggulan utama dari manufaktur EV di Indonesia adalah baterai yang terbuat dari Baterai Lithium Ion berbasis nikel.

“Hal ini didukung oleh kemampuan Indonesia dalam menyediakan sumber daya karena Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar secara global,” ungkap Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita.

Sumber: suara.com

Read More

Ini 5 Produsen Nikel Terbesar RI, Siapa Jawaranya?

NIKEL.CO.ID – Indonesia dikaruniai ‘harta karun’ nikel yang sangat melimpah, bahkan cadangannya sampai miliaran ton dan merupakan negara dengan cadangan nikel terbesar dunia.

Besarnya ‘harta karun’ tambang RI ini, tak ayal bila RI bercita-cita menjadi pemain baterai kelas dunia. Pemerintah pun memulainya dengan menghentikan ekspor bijih nikel, dan mendorong investasi hilirisasi nikel.

Bahkan, sejumlah proyek pabrik (smelter) bahan baku baterai dengan nilai investasi mencapai US$ 6,25 miliar atau sekitar Rp 91 triliun (asumsi kurs Rp 14.500 per US$) pun tengah dikembangkan di Tanah Air.

Untuk menggarap proyek pabrik bahan baku baterai tersebut, setidaknya 32 juta ton bijih nikel per tahun dibutuhkan. Ini tentunya menjadi ajang penambang bijih nikel untuk berlomba-lomba meningkatkan produksi bijihnya.

Lantas, siapa saja yang akan diuntungkan dari proyek hilirisasi nikel ini? Siapa saja penambang bijih nikel terbesar di negara ini?

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), berikut daftar lima perusahaan dengan produksi bijih nikel terbesar di Indonesia saat ini:

1. PT Vale Indonesia Tbk (INCO)

PT Vale Indonesia Tbk memiliki sejumlah wilayah tambang nikel di Indonesia, antara lain:

– Blok Soroako, Kabupaten Luwu Timur (Sulawesi Selatan) dan Kabupaten Morowali (Sulawesi Tengah) dengan status operasi produksi.

– Blok Suasua, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, dengan status operasi produksi.

– Blok Pomalaa, Kabupaten Kolaka dan Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, dengan status operasi produksi.

– Blok Bahodopi, Kabupaten Morowali (Sulawesi Tengah) dan Kabupaten Luwu Timur (Sulawesi Selatan), dengan status operasi produksi.

2. PT Bintang Delapan Mineral

Memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Desa Bahomoahi, Bahomotefe, Lalampu, Lele, Dampala, Siumbatu, Bahodopi, Keurea, dan Fatufia, Kecamatan Bungku Tengah dan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, dengan status operasi produksi dan luas wilayah 21.695 Ha.

3. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)

Memiliki sejumlah wilayah tambang, antara lain:

– Pulau Maniang, Kecamatan Wundulako, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.

– Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.

– Kecamatan Lasolo, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.

– Kecamatan Asera dan Molawe, Kabupaten Konawe, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.

– Kecamatan Maba dan Maba, Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara.

4. PT Makmur Lestari Primatama

Memiliki wilayah tambang di Kecamatan Langgikima, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, dengan luas wilayah tambang 407 Ha.

5. PT Citra Silika Mallawa

Memiliki wilayah tambang di Kecamatan Lasusua, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara dengan luas wilayah 475 Ha.

Berdasarkan data dari Minerba One Data Indonesia (MODI) Kementerian ESDM yang dikutip CNBC Indonesia, hari ini, Rabu (07/07/2021), produksi Nickel Pig Iron (NPI) per hari ini mencapai 389.245,40 ton atau 43,20% dari target produksi tahun ini 901.080,00 ton.

Secara rinci, produksi Januari sebesar 68.928,02 ton, lalu naik di bulan Februari menjadi 74.801,70 ton, kembali naik di bulan Maret menjadi 77.923,55 ton. Lalu untuk bulan April turun menjari 73.371,16 ton, Mei naik jadi 80.958,03 ton, dan Juni data terakhir 12.790,99 ton.

Kemudian, produksi feronikel sebesar 760.819,92 ton atau 36,11% dari target produksi tahun ini 2.107.071,00 ton. Secara rinci, produksi bulan Januari sebesar 138.167,76 ton, kemudian naik di Februari menjadi 124.247,79 ton, dan kembali naik di Maret menjadi 141.260,31 ton. Selanjutnya di bulan April turun menjadi sebesar 135.595,81 ton, bulan Mei kembali turun menjadi 128.967,75 ton, dan bulan Juni data terakhir 91.187,25 ton.

Sementara itu, produksi nickel matte sampai saat ini mencapai 38.008,86 ton atau 48,73% dari target 78.000 ton. Secara rinci, produksi pada bulan Januari 6.088,82 ton, kemudian turun di bulan Februari menjadi 5.304,95 ton. Pada bulan Maret naik menjadi 7.703,24 ton, turun di bulan April menjadi 6.826,61 ton, Mei naik lagi jadi 7.657,30 ton, dan Juni data terakhir mencapai 4.427,95 ton.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Kementerian ESDM Sebut Pertambangan Masih Bisa Terlibat Dalam Transisi Energi

NIKEL.CO.ID – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan investasi di sektor mineral dan batu bara alias minerba masih cukup menjanjikan, di tengah tren transisi energi.

Pemerintah menilai sektor tambang masih mempunyai peranan yang cukup penting, terutama dalam mendukung pengembangan komponen pembangkit energi terbarukan.

“EBT ini masih butuh dukungan dari bahan bahan tambang,” kata Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian ESDM Agus Cahyono Adi dalam diskusi secara virtual, Selasa (6/7/2021).

Sehingga, dia meminta para pekerja sektor tambang tak perlu khawatir kehilangan pekerjaan di tengah tren ekonomi hijau. Saat ini pemerintah tengah mempelajari mitigasi atas dampak dari transisi energi ini bagi para pekerja di sektor pertambangan.

“Jadi di sini untuk teman-teman yang bergerak di perusahaan tambang jangan khawatir,” ujarnya.

Namun, penambangan secara berkelanjutan merupakan syarat mutlak bila ingin berperan dalam pengembangan EBT di Indonesia. Saat ini, penambangan nikel di Indonesia memiliki rekam jejak kotor sudah mulai menyebar di pasar internasional.

Konsultan Independen di sektor pertambangan Steven Brown sebelumnya mengatakan bahwa saat ini konsumen sangat memperhatikan isu lingkungan pada proses penambangan nikel yang merupakan salah satu bahan baku utama pembuatan baterai lithium-ion untuk kendaraan listrik (EV).

Oleh karena itu ia berharap agar Industri nikel di Indonesia dapat menerapkan kegiatan penambangan yang berkelanjutan.

“Sudah mulai dibisikan di pasar kalau nikel Indonesian adalah nikel kotor. Ini terutama dibesar-besarkan oleh produsen nikel di luar Indonesia yang menjadi kompetitor,” ujarnya.

Adapun Direktur Jenderal Minerba Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin menegaskan bahwa pemerintah sudah mengatur agar kegiatan pertambangan di Indonesia menerapkan konsep berkelanjutan. Dia menyebut tekanan dari dunia internasional terhadap komoditas nikel Indonesia terus berdatangan.

“Pertambangan kita sudah diatur agar menerapkan kaidah pertambangan yang baik. Memang ada tekanan dunia internasional,” ujarnya.

Berdasarkan data lembaga United States Geological Survey, Indonesia menduduki produsen nikel pertama. Produksi ini mengalami perlambatan produksi nikel dengan perkiraan sekitar 10,9% pada 2020. Indonesia sanggup memproduksi 853 ribu metrik ton nikel pada 2019. Jumlahnya menyusut menjadi sekitar 760 ribu metrik ton pada 2020.

Sumber: katadata.co.id

 

Read More

RI Punya Pabrik Bahan Baku Baterai, Tapi Produknya Diekspor

NIKEL.CO.ID – Indonesia setidaknya punya enam proyek pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel dengan teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL). Diperkirakan, investasi keenam proyek HPAL ini mencapai US$ US$ 6,25 miliar atau sekitar Rp 91 triliun (asumsi kurs Rp 14.500 per US$).

Produk dari smelter HPAL ini merupakan bahan baku dasar baterai kendaraan listrik, seperti Mix Sulphide Precipitate (MSP) atau Mix Hydroxide Precipitate (MHP).

Dari enam proyek HPAL tersebut, satu diantaranya telah beroperasi, yakni milik PT Halmahera Persada Lygend, anak usaha Harita Group. Berlokasi di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, HPAL ini telah beroperasi sejak diresmikan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan pada Rabu, 23 Juni 2021 lalu.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), target produksi dari HPAL di Pulau Obi ini yaitu sekitar 246 ribu ton per tahun NiSO4 dan sekitar 32 ribu ton per tahun CoSO4 dengan perkiraan kebutuhan bijih nikel sekitar 8,3 juta ton per tahun.

Namun sayangnya, produk dari smelter HPAL ini belum bisa diserap dalam negeri karena belum ada pabrik turunannya yang mampu mengolah NiSO4 dan CoSO4 ini.

Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM Sugeng Mujiyanto mengatakan, hampir semua produksi dari smelter HPAL ini masih diekspor, hanya sedikit produksi yang bisa diserap di dalam negeri.

“Hampir semua produk diekspor, hanya sebagian kecil yang diolah lebih lanjut di dalam negeri,” paparnya kepada CNBC Indonesia.

Dia pun menyayangkan produksi smelter HPAL ini masih diekspor. Menurutnya, produk ini mestinya bisa diserap di dalam negeri, sehingga hilirisasi ini bisa berkembang menjadi produk yang semakin bernilai tambah lebih tinggi lagi.

“Nah yang perlu disuarakan adalah produk smelter tersebut seharusnya diolah di dalam negeri, sehingga hilirisasi dan nilai tambah menjadi bermakna dan nyata,” tegasnya.

Akan tetapi, kewenangan tersebut menurutnya berada pada Kementerian Perindustrian.

“Namun ini kewenangan Perindustrian,” lanjutnya.

Untuk kelima proyek smelter HPAL lainnya, menurutnya ditargetkan bisa beroperasi paling telat pada 2023.

“Ada yang sudah selesai, namun terkendala biaya,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan meresmikan operasi produksi smelter HPAL di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, Rabu (23/06/2021).

Smelter HPAL ini dioperasikan oleh PT Halmahera Persada Lygend (HPL) dan diperkirakan memakan biaya mencapai lebih dari US$ 1 miliar atau sekitar Rp 14,4 triliun (asumsi kurs Rp 14.400 per US$).

Luhut mengatakan bahwa teknologi pengolahan untuk bijih nikel bisa melalui jalur RKEF (pirometalurgi) maupun HPAL (hidrometalurgi) seperti yang ada di Pulau Obi ini.

Proyek smelter nikel dengan teknologi HPAL ini akan banyak memanfaatkan bijih nikel dengan kadar yang lebih rendah (nikel limonit), yang jumlahnya sangat melimpah di Indonesia. Ini merupakan bagian dari optimasi atau peningkatan nilai tambah dari sumber daya mineral yang dimiliki Indonesia.

Proses HPAL dapat menghasilkan produk nikel kelas satu, yakni Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dengan turunannya berupa nikel sulfat (NiSO4) dan cobalt sulfat (CoSO4) yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku baterai.

Produk-produk ini bernilai tambah lebih tinggi dibandingkan dengan produk yang dihasilkan dari jalur tungku elektrik atau Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF).

“Indonesia memiliki sumber daya dan cadangan nikel serta cobalt yang cukup, didukung oleh mineral lain seperti tembaga, alumunium, dan timah yang akan menjadi modal besar untuk bermain dalam industri kendaraan listrik,” jelas Luhut, seperti dikutip dari keterangan resmi Kementerian, Rabu (23/06/2021).

PT Halmahera Persada Lygend merupakan anak usaha Harita Group. Harita mengatakan, smelter HPAL ini memiliki kapasitas produksi MHP sebesar 365 ribu ton per tahun dan merupakan bahan baku dasar baterai kendaraan listrik.

Adapun produknya berupa MHP yaitu campuran padatan hidroksida dari nikel dan cobalt. MHP merupakan produk antara dari proses pengolahan dan pemurnian nikel kadar rendah sebelum diproses lebih lanjut menjadi nikel sulfat dan kobalt sulfat. Saat ini Harita juga sedang mengembangkan fasilitas produksi lanjutan untuk menghasilkan nikel sulfat dan kobalt sulfat, yang merupakan material utama baterai kendaraan listrik.

“Halmahera Persada Lygend merupakan fasilitas pengolahan dan pemurnian bijih nikel kadar rendah (limonit) dengan teknologi hidrometalurgi yang dikenal dengan HPAL. Konstruksi HPAL dimulai pada Agustus 2018 dan siap berproduksi secara komersial. Ini menjadi pabrik HPAL pertama di Indonesia,” jelas Stevi Thomas selaku Komisaris Utama Halmahera Persada Lygend, seperti dikutip dari keterangan resmi perusahaan, Kamis (24/06/2021).

Saat ini menurutnya Harita juga sedang mengembangkan fasilitas produksi lanjutan untuk menghasilkan nikel sulfat dan kobalt sulfat, yang merupakan material utama baterai kendaraan listrik.

Harita Group merupakan pengelola Kawasan Industri Pulau Obi yang merupakan salah satu bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) yang ditetapkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam Peraturan Presiden No.109 tahun 2020 tentang Perubahan Perpres No.3 tahun 2016 tentang Percepatan Proyek Strategis Nasional.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Total 46 TKA China Tiba di Makassar, 20 Orang Belum Berizin Kerja

NIKEL.CO.ID – Stakeholder Relations Manager, Angkasa Pura I, Iwan Risdianto membenarkan adanya kedatangan puluhan tenaga kerja asing (TKA) asal Tiongkok di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar untuk membangun smelter di Kabupaten Banteang, Sulawesi Selatan

“Iya benar, mereka (TKA) kerja kontrak perusahaan untuk (membangun) smelter,” kata Iwan seperti dilansir Antara, Senin (5/7/2021).

Menurut informasi, 20 pekerja asing asal Tiongkok itu tiba di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin pada Sabtu (3/7/2021) pukul 20.10 Wita dengan menumpangi pesawat Citilink QG-426 dari Jakarta. Mereka selanjutnya akan bekerja di PT Huadi Nikel untuk membangun smelter di Kabupaten Bantaeng.

Setiba di bandara, mereka langsung dibawa pihak perusahaan. Para TKA tersebut sudah dikarantina dan menjalani pemeriksaan swab atau usap PCR di Jakarta, sebelum tiba di Sulsel.

Secara terpisah, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sulsel Andi Darmawan Bintang juga membenarkan tentang kedatangan 20 orang TKA asal Tiongkok di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.

Sejauh ini, total tercatat 46 TKA asal Tiongkok telah memasuki Sulsel, termasuk 20 orang yang datang pada Sabtu (3/7/2021), sembilan orang pada 29 Juni, dan 17 orang pada 1 Juli.

“Dua puluh orang pekerja asing yang datang itu rombongan ketiga, totalnya sudah 46 orang,” sebutnya.

Sumber: detik.com

Read More

Proyek Bahan Baku Baterai RI Jadi Ancaman Dunia, kok Bisa?

NIKEL.CO.ID – Saat dunia berbondong-bondong melakukan transisi energi dari fosil ke energi terbarukan, dunia diramal akan mengalami kekurangan pasokan mineral seperti seperti nikel, lithium, dan kobalt.

Pemakaian kendaraan listrik terus digencarkan dunia sehingga permintaan untuk baterai kendaraan listrik diprediksi akan melonjak. Sejumlah analis menilai peningkatan kebutuhan baterai ini berpotensi membuat kekurangan pasokan bahan baku mineral.

Melansir Reuters, harga lithium yang tinggi telah gagal memacu adanya investasi kapasitas baru karena harga kontrak jangka panjangnya lebih rendah, sementara masalah pasokan kobalt adalah sebagian besar merupakan produk sampingan dari tembaga, ini berarti keputusan investasi didasarkan pada harga tembaga.

Selain itu, kebutuhan nikel bakal dipenuhi dari proyek-proyek baru yang akan segera hadir di Indonesia dan memiliki cadangan nikel terbesar di dunia. Dengan demikian, kemungkinan kekurangan pasokan secara signifikan baru akan terjadi menjelang akhir dekade ini.

Berikut sejumlah komoditas mineral yang berpotensi kekurangan pasokan.

Lithium

Baterai kendaraan listrik dapat menggunakan lithium karbonat atau lithium hidroksida, tetapi industri biasanya berbicara tentang lithium karbonat setara (LCE, lithium carbonate equivalent) yang mengandung keduanya.

Berdasarkan Benchmark Mineral Intelligence (BMI), dikutip dari Reuters, harga LCE di pasar spot telah naik di atas US$ 12.000 per ton atau setara Rp 172 juta (kurs Rp 14.300/US$), dua kali lipat dari level yang terlihat pada November tahun lalu dan tertinggi sejak Januari 2019.

Level tersebut cukup tinggi untuk mendorong investasi meningkatkan kapasitas, tetapi kontrak tahunan atau jangka panjang yang ditandatangani pada kuartal terakhir tahun 2020 lalu, dengan harga yang lebih rendah, menjadi penghalang.

George Miller dari BMI memperkirakan defisit LCE sebesar 25.000 ton tahun ini dan memperkirakan komoditas mineral ini akan mengalami defisit akut mulai tahun 2022.

“Kecuali kita melihat investasi yang signifikan dan segera ke dalam deposit lithium besar yang layak secara komersial, kekurangan ini akan meluas hingga akhir dekade ini,” kata Miller, dikutip Reuters, Jumat (02/07/2021).

Analis Roskill Information Services memperkirakan permintaan setara litium karbonat akan meningkat di atas 2 juta ton pada 2030, meningkat lebih dari 4,5 kali lipat dari 2020.

Kandungan kobalt dalam baterai juga telah berkurang secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir, tetapi penjualan EV (baterai listrik) terus melonjak, sehingga permintaan untuk logam minor diperkirakan akan meningkat secara keseluruhan.

Analis di Roskill memperkirakan permintaan kobalt akan meningkat menjadi 270.000 ton pada 2030 dari 141.000 ton tahun lalu.

Proyek High Pressure Acid Leaching (HPAL) di Indonesia disebut juga akan membantu menutupi sebagian dari kekurangan tersebut. Tetapi masalahnya, kobalt itu sebagian besar merupakan produk sampingan.

“Sulit untuk berinvestasi dalam kapasitas spesifik kobalt karena merupakan produk sampingan. Tidak ada mekanisme di mana pasokan dapat bereaksi terhadap permintaan dan harga,” kata George Heppel, konsultan di CRU International.

“Jika kita melihat ke pertengahan 2020-an, kita benar-benar bisa melakukannya dengan Katanga (tambang) lain,” imbuhnya.

Glencore mengharapkan tambang Katanga di Republik Demokratik Kongo memproduksi 30.000 ton kobalt tahun ini.

CRU memperkirakan permintaan kobalt dari kendaraan listrik mencapai lebih dari 120.000 ton, atau hampir 45% dari total, pada tahun 2025 dibandingkan dengan hampir 39.000 ton, atau 27%, pada tahun 2020.

Nasib Pasokan Nikel

Berikutnya adalah kekahwatiran mengenai pasokan nikel. Namun kekhawatiran tentang pasokan nikel untuk bahan baku baterai mereda setelah produsen nickel pig iron (NPI) China Tsingshan Holding Group mengatakan akan mengubah NPI menjadi nickel matte, yang dapat digunakan untuk membuat bahan kimia untuk baterai.

“Sekarang ada proyek dengan total 300.000 ton per tahun untuk mengubah NPI menjadi produk yang dapat diubah menjadi sulfat untuk baterai,” kata analis Macquarie Jim Lennon.

Menurutnya, nikel itu berada di ambang super siklus. Bakal ada oversupply hingga setidaknya pertengahan 2020-an.

Lennon juga memperkirakan proyek High Pressure Acid Leaching (HPAL) di Indonesia akan menghasilkan antara 400.000-600.000 ton nikel per tahun untuk sebagian besar dekade ini.

Pasokan nikel global diperkirakan sekitar 2,6 juta ton tahun ini. Dari jumlah itu, sekitar dua pertiganya akan digunakan untuk stainless steel, sebagian besar di China, sementara konsumsi kendaraan listrik kurang dari 10%.

Tsingshan mengatakan pada bulan Maret akan memasok 100.000 ton nickel matte kepada pelanggan.

“Ada operator lain di Indonesia yang bisa mengikuti Tsingshan,” kata analis BoA Securities Michael Widmer, yang memperkirakan pasokan NPI berkontribusi pada surplus pada 2024 dan 2025.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Jadi Produsen Terbesar di Dunia! Ini 5 Wilayah Tambang Nikel di Indonesia

Indonesia dikenal sebagai produsen nikel terbesar di dunia. Pada tahun 2020, diperkirakan Indonesia menyumbang sekitar 30 persen produksi nikel dunia

NIKEL.CO.ID – Indonesia dikenal sebagai produsen nikel terbesar di dunia. Bahkan, pada tahun 2020 lalu, diperkirakan Indonesia menyumbang sekitar 30 persen produksi nikel dunia atau setara dengan 760 ribu ton dengan jumlah cadangan total mencapai 174 juta ton. Indonesia pun berada di posisi pertama sebagai raja nikel dunia bahkan memiliki selisih yang cukup jauh dengan peringkat kedua, yaitu Filipina.

Dilansir dari berbagai sumber, AKURAT.CO mengumpulkan lokasi produksi nikel terbesar di dunia.

1. Morowali

Morowali yang berada di Provinsi Sulawesi Tengah disebut sebagai pemilik kandungan nikel terbesar di Indonesia. Pertambangan nikel di daerah ini ada di sejumlah wilayah, mulai dari Bahadopi, Bungku Pesisir, Petasia Timur hingga Bungku Timur.

2. Kolaka

Kolaka disebut sebagai area produsen nikel terbesar kedua di Indonesia. Wilayah yang ada di Sulawesi Tenggara ini memiliki luas wilayah lebih dari 3,2 ribu kilometer persegi. Produksi nikel yang ada di provinsi yang didominasi oleh gunung dan lereng ini terdapat di Kecamatan Pomalaa dan Latambaga. Sedangkan perusahaan yang mengoperasikan tambang nikel di daerah ini adalah PT Aneka Tambang.

3. Luwu Timur

Dengan luas wilayah sekitar 6,9 ribu kilometer persegi, Kabupaten Luwu Timur yang ada di Sulawesi Selatan ini juga dikenal sebagai salah satu produsen nikel terbesar di Indonesia. Wilayah Malili dan Nuha menjadi area terbesar yang dijadikan sebagai lokasi pertambangan nikel utama. Bahkan, perusahaan tambang yang ada di Luwu Timur adalah perusahaan tambang terbesar di dunia, yaitu Vale Indonesia.

4. Halmahera Timur

Pertambangan yang ada di Halmahera Timur ini disebut sebagai salah satu yang paling lengkap. Pasalnya, wilayah penghasil nikel yang ada di Kecamatan Maba dan Wasilei ini tidak hanya mengambil bijih nikel tetapi juga terdapat pabrik smelter yang kemudian akan diolah menjadi logam yang bisa dimanfaatkan. Maka tak heran jika pertambangan yang ada di Provinsi Maluku Utara ini menjadi salah satu sumber penghasilan utama bagi masyarakat sekitarnya.

5. Pulau Gag

Pulau Gag adalah salah satu gugusan dalam Kepulauan Raja Ampat. Berada di Papua Barat, pertambangan nikel yang ada di wilayah ini dioperasikan oleh anak dari PT Aneka Tambang yaitu PT Gag Nikel. Namun, kini pertambangan yang dilakukan di wilayah ini hanya digunakan untuk pengambilan sampel di Tanah Air.

Meningkatnya produksi mobil listrik di dunia menjadikan Indonesia sebagai salah satu sasaran investasi pabrik nikel dunia. Bahkan, beberapa waktu lalu, salah satu perusahaan mobil listrik dunia, Tesla, sempat menyatakan akan melakukan investasi pembangunan pabrik baterai mobil listrik di Indonesia.

Sumber: akurat.co

Read More

Pengusaha Singapura Lakukan Transaksi Nikel Bodong, Raup SGD 1 Miliar

NIKEL.CO.ID – Dunia bisnis Singapura dan dunia baru-baru ini dihebohkan dengan kasus pengusaha Ng Yu Zhi yang diduga mengumpulkan 1 miliar dolar Singapura untuk perdagangan nikel yang sebenarnya tidak ada. Pengamat mengatakan, dengan kelas uang yang berkembang di negara kota, ini adalah pelajaran bagi investor untuk melakukan uji tuntas yang ekstensif.

Seperti dilansir dari South China Morning Post, tiga bulan lalu, nama Ng Yu Zhi tidak diketahui oleh kebanyakan warga Singapura. Kemudian, pengusaha berusia 34 tahun itu dituduh melakukan penipuan perdagangan nikel senilai 744,5 juta dolar AS. Jaksa menuduh uang itu mungkin memicu gaya hidup mewah Ng. Diketahui, dia tinggal di rumah tiga lantai di lokasi eksklusif dan memiliki satu-satunya supercar Pagani Huayra dengan harga lebih dari 7 juta dolar Singapura.

Sementara itu, menurut pemberitaan Reuters, jaksa Singapura mengajukan 13 tuntutan tambahan terhadap Ng, yang juga mantan direktur pelaksana Envy Global Trading (EGT) dan perusahaan yang tidak aktif, Envy Asset Management. Menurut lembar dakwaan, Ng dituding menipu sembilan individu dan tiga entitas perusahaan sekitar 63,6 juta dolar AS sehubungan dengan kontrak nikel EGT yang tidak ada.

Pihak berwenang juga menuduh dia melakukan ‘pelanggaran kriminal kepercayaan dengan secara tidak jujur ​​menyalahgunakan’ sejumlah setidaknya 201,2 juta dolar Singapura di rekening bank DBS EGT antara Agustus 2020 hingga Februari 2021 saat menjabat sebagai direktur perusahaan. DBS menolak berkomentar tentang kasus ini, tetapi mengatakan pihaknya mempertahankan sistem dan kontrol yang kuat untuk mengidentifikasi dan melaporkan transaksi yang mencurigakan.

Di antara korbannya yang baru disebutkan adalah Pek Siok Lan, yang terdaftar sebagai penasihat umum di situs web Temasek. Dia diduga ditipu untuk memberikan 5,5 juta dolar Singapura kepada Envy Global Trading untuk empat perjanjian pembelian piutang antara Oktober 2020 hingga Januari 2021, demikian menurut laporan Channel News Asia.

Korban lainnya adalah pengacara Sunil Sudheesan, yang diduga ditipu dalam pengaturan yang melibatkan lebih dari 1 juta dolar Singapura antara Oktober 2020 hingga Januari 2021. Dokumen pengadilan mengatakan, Sudheesan ditipu oleh Ng untuk percaya bahwa dia membeli sebagian dari total piutang yang akan diterima Envy Global Trading dari sebuah perusahaan bernama Raffemet atas penjualan briket nikel.

Ng pertama kali didakwa pada bulan Maret lalu atas tuduhan penipuan. Dia menjalankan Envy Global Trading dan Envy Asset Management, mengumpulkan uang dari investor untuk membeli nikel dan diduga menipu investor untuk membeli sebagian piutang dari penjualan melalui kontrak berjangka. Investor dijanjikan pengembalian yang bervariasi, rata-rata 15 persen setiap tiga bulan, demikian kata pihak kepolisian dalam sebuah pernyataan.

Otoritas Moneter Singapura menandai perusahaan-perusahaan Ng ke Departemen Urusan Komersial pada November 2020. Dia dibebaskan dengan jaminan sebesar 1,5 juta dolar Singapura dan akan kembali ke pengadilan untuk permohonan peninjauan kembali pada bulan depan. Jika terbukti melakukan kecurangan, Ng menghadapi ancaman penjara hingga 10 tahun per dakwaan dan denda. Untuk setiap tuduhan penipuan perdagangan, dia bisa dipenjara hingga tujuh tahun, didenda hingga 15.000 dolar Singapura, atau keduanya.

Sumber: kursrupiah.net

Read More