
NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Ketersediaan listrik yang andal dan rendah emisi menjadi salah satu faktor penting dalam memperkuat daya saing industri hilir nikel Indonesia. Selain meningkatkan nilai tambah mineral, penggunaan energi bersih dapat mendukung upaya industri memenuhi tuntutan pasar global terhadap produk yang dihasilkan melalui proses produksi berkelanjutan.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, persaingan produk di pasar global kini tidak hanya ditentukan oleh harga, mutu, dan kemampuan produksi, tetapi juga sumber energi yang digunakan dalam proses industri.
“Produk global sekarang itu akan lebih cenderung untuk mencari produk yang green energy dan green industry. Itu nilainya pasti jauh lebih tinggi ketimbang produk-produk yang dihasilkan daripada energi fosil,” ujar Bahlil sebagaimana dikutip dari laman Kementerian ESDM, Kamis (15/10/2026).
Menurut Bahlil, transisi energi harus menjadi bagian dari strategi industrialisasi nasional untuk meningkatkan daya saing produk Indonesia. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya mengandalkan ekspor bahan mentah, tetapi juga mampu menghasilkan produk olahan bernilai tambah tinggi yang kompetitif di pasar internasional.
Dalam industri nikel, kebutuhan energi menjadi aspek penting dalam pengembangan hilirisasi. Fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar dan berkelanjutan untuk menjalankan proses produksi. Keandalan pasokan listrik pun menjadi faktor penting dalam menjaga kelangsungan operasional dan mendukung peningkatan kapasitas produksi.
Namun, tantangan industri nikel tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan listrik. Sumber energi yang digunakan untuk memasok kebutuhan smelter juga memengaruhi jejak karbon produk yang dihasilkan. Karena itu, pemanfaatan energi rendah emisi menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan untuk mendukung keberlanjutan industri sekaligus memperkuat daya saing produk nikel Indonesia di pasar global.
Kebutuhan tersebut semakin relevan seiring pengembangan produk turunan nikel, mulai dari feronikel dan nickel matte hingga bahan baku baterai kendaraan listrik. Integrasi pasokan listrik yang andal dengan pengembangan energi bersih diharapkan dapat mendukung pertumbuhan industri pengolahan mineral sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Arah pengembangan energi nasional tercermin dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034. Pemerintah merencanakan penambahan kapasitas pembangkit listrik sebesar 69,5 gigawatt (GW), dengan sekitar 42,6 GW atau 61% di antaranya berasal dari energi baru dan terbarukan (EBT). Rencana tersebut membuka potensi investasi hingga Rp2.967,4 triliun.
Pemerintah juga mendorong pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 GW yang terintegrasi dengan jaringan listrik dan sistem penyimpanan energi. Selain itu, pengembangan ekosistem baterai serta pemanfaatan bioenergi melalui penerapan B50 dan E20 diarahkan untuk mengurangi impor energi sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam.
Pengembangan energi surya diproyeksikan menghasilkan penghematan sekitar Rp73,9 triliun per tahun dan membuka 5,5 juta lapangan kerja. Sementara itu, pengembangan bioenergi berpotensi menghemat devisa hingga Rp170 triliun dan menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja.
Bahlil optimistis, integrasi hilirisasi dan transisi energi dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai negara pengekspor produk berkualitas dengan daya saing yang semakin baik di pasar internasional.
“Kalau ini mampu kita lakukan, Bapak-Ibu semua, saya yakin Indonesia menjadi salah satu negara yang patut diperhitungkan untuk ekspor yang berkualitas dan juga mampu memberikan daya saing yang baik di mata dunia,” katanya. Sinergi hilirisasi dan energi bersih diharapkan dapat mendorong transformasi industri nasional, termasuk industri nikel, dari pengolahan sumber daya alam menjadi produksi barang bernilai tambah tinggi yang didukung pasokan energi andal dan rendah emisi. (Shiddiq)









































