NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Reklamasi tambang nikel membutuhkan pembelajaran berkelanjutan, pengelolaan tanah pucuk (topsoil) yang baik, serta penerapan inovasi dan teknologi untuk mendukung keberhasilan pemulihan lingkungan setelah kegiatan penambangan berakhir.
Komite Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Maya Muchlis, mengatakan forum seperti Gelar Teknologi Reklamasi IPB University menjadi wadah bagi anggota APNI untuk memperluas jejaring, mempelajari praktik reklamasi, serta berbagi informasi mengenai tantangan pemulihan lahan pascatambang.
“Acara ini sangat bermanfaat dan juga merupakan satu wadah untuk kita bisa networking, terutama untuk para anggota APNI itu bisa banyak belajar dari forum-forum seperti ini. Terutama terkait dengan pelaksanaan reklamasi pascatambang di area nikel,” ujar Maya kepada Media Nikel indonesia (www.nikel.co.id) di sela-sela Gelar Teknologi Reklamasi Tambang IPB University, Jumat (9/10/2026).
Menurutnya, pelaksanaan reklamasi bukan hal yang mudah sehingga diperlukan ruang pembelajaran dan pertukaran informasi mengenai praktik-praktik reklamasi tambang. Melalui forum tersebut, anggota APNI diharapkan dapat memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang mendukung pelaksanaan reklamasi di lapangan.
Ia menjelaskan, salah satu hal penting dalam keberhasilan reklamasi adalah menjaga ketersediaan topsoil untuk mempersiapkan rencana pascatambang. Tanah pucuk atau tanah penutup tersebut menjadi faktor penting dalam menentukan kualitas reklamasi di area pertambangan.
“Yang menjadi poin paling penting adalah bagaimana kita menjaga keberadaan topsoil untuk mempersiapkan rencana pascatambang. Karena tentunya topsoil atau tanah penutup ini menjadi faktor yang sangat penting untuk menentukan keberhasilan reklamasi di area pertambangan,” katanya.
Ia menambahkan, curah hujan yang cukup tinggi di Indonesia menjadi tantangan dalam menjaga tanah pucuk. Apabila tidak dikelola, ditumpuk, dan disimpan dengan baik, topsoil berisiko hilang. Kondisi tersebut dapat mengurangi ketersediaan tanah pucuk saat dibutuhkan untuk kegiatan reklamasi dan pada akhirnya menurunkan kualitas pemulihan lahan.
Selain pengelolaan topsoil, Maya menekankan pentingnya komitmen perusahaan untuk tidak hanya memenuhi ketentuan peraturan, tetapi juga melampaui kewajiban tersebut melalui pendekatan beyond compliance. Komitmen tersebut diperlukan untuk mendorong pelaksanaan reklamasi yang lebih baik.
Selain itu, ia mengatakan, rencana pascatambang khususnya di sektor pertambangan nikel, membutuhkan anggaran yang besar. Karena itu, perusahaan perlu menerapkan inovasi dan teknologi yang tepat guna dan tepat sasaran agar biaya produksi dapat ditekan sekaligus kualitas reklamasi ditingkatkan.
“Saya kira sangat penting untuk bisa melihat komitmen dari perusahaan untuk bukan hanya sekadar memenuhi peraturan, tetapi juga bisa melakukan beyond compliance atau melebihi daripada peraturan. Karena kalau kita lihat kebanyakan rencana pascatambang itu membutuhkan budget yang sangat besar, terutama untuk pascatambang nikel, maka dibutuhkan inovasi dan penerapan teknologi yang tepat guna dan tepat sasaran, sehingga bisa mengurangi cost produksi dan juga bisa meningkatkan kualitas daripada reklamasi,” jelas Maya. Ke depan, APNI akan terus mendukung para penambang nikel dalam menjaga kualitas lingkungan setelah kegiatan penambangan berakhir. Maya berharap anggota APNI terus berpartisipasi dalam forum pembelajaran, berdiskusi, dan bertukar pengetahuan untuk mendukung peningkatan praktik reklamasi tambang nikel. (Tubagus)










































