Beranda Ekonomi Hilirisasi Nikel Dinilai Mulai Ubah Struktur Ekonomi Indonesia

Hilirisasi Nikel Dinilai Mulai Ubah Struktur Ekonomi Indonesia

126
0
Ilustrasi hilirisasi nikel (Foto: Dok Ifishdeco)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Kebijakan hilirisasi nikel dinilai mulai memberikan perubahan terhadap struktur perekonomian Indonesia. Perubahan tersebut terlihat dari meningkatnya nilai tambah komoditas, penerimaan negara, serta berkembangnya industri pengolahan di dalam negeri.

Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan, perkembangan hilirisasi tercermin dari kenaikan ekspor nikel dan produk turunannya serta pertumbuhan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari komoditas nikel.

“Ini merupakan fondasi industrialisasi, tetapi belum menjadi tujuan akhir,” kata Yusuf dalam keterangannya, dikutip, Senin (5/10/2026).

Berdasarkan data semester I-2026, nilai ekspor nikel dan barang mencapai US$6,54 miliar atau sekitar Rp117,05 triliun meningkat 69,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Selain itu, peningkatan ekspor tersebut turut diikuti kenaikan PNBP, hingga 31 Agustus 2026, PNBP dari komoditas nikel tercatat mencapai Rp21 triliun, lebih dari dua kali lipat dibandingkan capaian pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp10 triliun.

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat total PNBP subsektor mineral dan batu bara mencapai Rp108 triliun hingga 31 Agustus 2026. Sementara produksi bijih nikel hingga 1 September 2026 tercatat sebesar 173,79 juta ton.

Peningkatan tersebut, menurutnya, menjadi indikasi bahwa kebijakan hilirisasi telah menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian nasional. Namun, pengolahan nikel di dalam negeri dinilai masih banyak berhenti pada produk antara.

“Perkembangan tersebut menunjukkan hilirisasi telah menciptakan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia. Namun, sebagian besar proses pengolahan masih menghasilkan produk antara, seperti nickel pig iron (NPI) dan feronikel yang digunakan dalam industri baja nirkarat,” ujarnya.

Ia menyebutkan, pengembangan hilirisasi perlu diarahkan pada pendalaman rantai produksi di dalam negeri. Dengan demikian, nilai ekonomi yang tercipta dapat semakin besar sekaligus meningkatkan keterlibatan pemasok nasional.

“Tahap berikutnya adalah memperpanjang rantai produksi hingga prekursor, katode, sel baterai, dan manufaktur akhir yang melibatkan lebih banyak pemasok dalam negeri,” ucapnya.

Sebagai contoh, salah satu pengembangan hilirisasi nikel, dilakukan PT Vale Indonesia Tbk., bagian dari Mind Id dengan melalui sejumlah proyek di Pomalaa, Morowali, dan Sorowako. Mind Id diketahui menjadi pemegang saham terbesar Vale dengan kepemilikan sekitar 34%.

Vale mengembangkan fasilitas pengolahan menggunakan teknologi high pressure acid leach (HPAL) untuk mengolah bijih nikel limonit menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP). Produk tersebut merupakan salah satu bahan antara dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik.

Ketiga proyek hilirisasi Vale tersebut memiliki kapasitas produksi gabungan sekitar 240 ribu ton MHP per tahun. Sementara itu, nilai program investasi strategis Vale di Indonesia mencapai sekitar US$7,2 miliar atau setara Rp128,87 triliun.

Di Pomalaa, Sulawesi Tenggara, fasilitas HPAL dikembangkan melalui PT Kolaka Nickel Indonesia bersama Zhejiang Huayou Cobalt dan Ford Motor Co. Nilai investasinya mencapai sekitar US$4,5 miliar atau Rp80,54 triliun.

Proyek tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi sekitar 120 ribu ton nikel dan 15 ribu ton kobalt yang terkandung dalam MHP setiap tahun. Selain itu, pembangunan smelter terintegrasi Vale di Bahodopi, Sulawesi Tengah, dan Pomalaa, Sulawesi Tenggara, telah masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN).

Proyek berbasis HPAL, katanya, membuka jalur hilirisasi yang berbeda dari pengolahan nikel yang selama ini berorientasi pada kebutuhan industri baja nirkarat.

“Selain memperluas pemanfaatan sumber daya, proyek ini juga membuka akses ke rantai pasok global yang lebih beragam. Namun, MHP tetap merupakan produk antara,” pungkasnya.

Ia menilai, kontribusi HPAL terhadap proses industrialisasi akan semakin besar apabila MHP dapat kembali diolah di Indonesia menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi, mulai dari prekursor, katoda hingga sel baterai.

Perkembangan industri pengolahan juga tercermin dari kinerja ekspor Indonesia. Sepanjang Januari-Agustus 2026, nilai ekspor industri pengolahan mencapai 159,55 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.855 triliun. Nilai tersebut tumbuh 7,87% secara tahunan.

Pada periode yang sama, total ekspor Indonesia mencapai 193,64 miliar dolar AS atau sekitar Rp3.466 triliun, meningkat 4,74% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Manfaat hilirisasi dinilai tidak cukup hanya diukur dari peningkatan nilai ekspor. Pendalaman rantai nilai dan semakin besarnya keterlibatan pelaku ekonomi lokal dinilai dapat memperluas dampak hilirisasi terhadap perekonomian nasional.

Hilirisasi, menurutnya, dapat menjadi pijakan bagi industrialisasi nasional apabila mampu memperpanjang rantai produksi, meningkatkan nilai tambah di dalam negeri, memperkuat peran industri nasional, serta memperluas kontribusi ekonomi di wilayah operasional pertambangan dan pengolahan. (Fi Yun)