


NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) hadir sebagai panelis dalam acara Coaltrans (CT) Asia 2026 & International Critical Minerals and Metals Summit (ICMMS) Indonesia 2026 yang mempertemukan para pemangku kepentingan dari sektor pertambangan, mineral, dan industri terkait.
Dalam forum tersebut, APNI turut menyoroti perkembangan industri nikel Indonesia, mulai dari investasi, penerimaan royalti, hingga perubahan kebutuhan pasar global yang semakin menekankan aspek keberlanjutan dan standar environmental, social, and governance (ESG).
Sekretaris Umum APNI, Meidy Katrin Lengkey, mengatakan, perkembangan industri terlihat dari bertambahnya fasilitas pengolahan dan pemurnian nikel, termasuk fasilitas yang menghasilkan produk seperti nickel pig iron (NPI) dan mixed hydroxide precipitate (MHP).

Perkembangan tersebut dinilai menjadi bagian dari proses hilirisasi nikel Indonesia yang selama beberapa tahun terakhir terus berkembang. Namun, APNI menekankan bahwa keberhasilan industri nikel tidak lagi cukup diukur berdasarkan besarnya volume produksi dan investasi.
“Keberhasilan dunia nikel datang dari pemerintah. Mereka membuat investasi dan pemasaran. Tapi sekarang kita menjangkau lebih banyak, bukan hanya di Indonesia,” kata Meidy, di Bali, Selasa (29/9/2026).
Selain sekretaris umumnya, APNI juga mengutus Rudy Rusmadi (Wakil Sekretaris Umum APNI) dan Djoko Widajatno Soewanto (Dewan Penasihat APNI) pada acara yang digelar di Intercontinental Bali Resort, Jimbaran itu.

Dalam sesi diskusi bertajuk “Indonesia as a Global Market Maker” juga dihadiri Jerome Baudelet (CEO Eramet Indonesia), Mikhail Zeldovich (Advisor Lohum Cleantech), Daniel Simanjuntak (Director General for Economic Affairs and Development Cooperation Ministry of Foreign Affairs of The Republic of Indonesia), dan Pjotr Gainullin (Advisory Board Member Singapore Mining Club).
CT Asia 2026 & ICMMS Indonesia 2026 menjadi salah satu ruang bagi pelaku industri untuk membahas perkembangan sektor pertambangan dan mineral, termasuk tantangan yang dihadapi industri nikel Indonesia dalam menghadapi perubahan pasar global.

Agenda tersebut dilaksanakan pada 27-30 September 2026. Program dimulai dengan lokakarya bersama pada 28 September, yang membahas energi dan transisi, termasuk biaya energi, batu bara captive, permintaan batu bara Asia, serta persinggungan antara batu bara, mineral kritis, dan modal.
Acara tersebut menargetkan lebih dari 450 peserta, 75 pembicara, 150 perusahaan, dan delegasi dari lebih dari 30 negara, dengan sekitar 60 persen peserta berasal dari kalangan eksekutif senior. Selain sesi konferensi, peserta juga akan mendapatkan kesempatan mengikuti closed-door roundtable yang mempertemukan investor, bankir, pelaku industri, dan pemangku kepentingan strategis. (Fi Yun)






































