Beranda Tambang Wartawan Energi dan Tambang Dorong ESG Inklusif, WMI Berdayakan Difabel

Wartawan Energi dan Tambang Dorong ESG Inklusif, WMI Berdayakan Difabel

77
0
Sebagian wartawan peliput berita pertambangan dan energi, yang tergabung dalam WMI, mengadakan kegiatan sosial berupa pemberdayaan penyandang disabilitas dengan pelatihan budi daya ikan air tawar di Bogor (Foto: WMI)

NIKEL.CO.ID, BOGOR – Peran wartawan yang selama ini meliput sektor energi dan pertambangan tidak hanya berkaitan dengan pemberitaan mengenai produksi, investasi, dan kebijakan industri. Melalui kegiatan sosial, insan pers juga dapat menjadi bagian dari upaya mendorong praktik environmental, social, governance (ESG) yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat.

Hal tersebut tercermin dalam kegiatan HUT Ke-9 Wartawan Mancing Indonesia (WMI) melalui program WMI Peduli di Pemancingan Ayam Jago, Kota Bogor, Jawa Barat, Sabtu (26/9/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan pelatihan budi daya ikan air tawar bagi 42 perwakilan penyandang disabilitas dari komunitas Disabled Motorcycle Community (DMC) Jabodetabek.

Program ini mengusung pemberdayaan ekonomi sebagai salah satu fokus utama. Penyandang disabilitas tidak hanya menerima bantuan, tetapi memperoleh pengetahuan dan praktik budi daya ikan yang diharapkan dapat dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi produktif.

Ketua Pelaksana HUT Ke-9 WMI, Rama Julian Saputra, mengatakan, keterlibatan wartawan dalam kegiatan sosial merupakan bagian dari upaya memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat.

“Melalui momentum HUT Ke-9 WMI tahun 2026, kami menginisiasi program pemberdayaan penyandang disabilitas dari komunitas DMC Jabodetabek melalui budi daya ikan air tawar sebagai bentuk pengabdian nyata untuk bangsa,” ujar Rama.

Menurut dia, kegiatan tersebut juga menjadi ruang kolaborasi antara insan pers, korporasi dan komunitas penyandang disabilitas. Model tersebut diharapkan dapat dikembangkan di daerah lain sekaligus meningkatkan perhatian publik terhadap potensi penyandang disabilitas.

Dalam konteks ESG, keterlibatan wartawan energi dan pertambangan memiliki posisi strategis karena sektor tersebut berinteraksi langsung dengan masyarakat dan komunitas di berbagai wilayah operasi. Pemberitaan tidak hanya dapat mengawal aspek bisnis dan lingkungan, tetapi juga mengangkat bagaimana program sosial perusahaan memberikan dampak kepada masyarakat.

Dukungan korporasi terhadap kegiatan WMI menjadi salah satu bentuk kolaborasi tersebut. Sejumlah perusahaan energi, pertambangan, jasa penunjang energi, dan BUMN tercatat mendukung rangkaian kegiatan HUT Ke-9 WMI.

Perwakilan PetroChina, Wasis, mengapresiasi program pemberdayaan yang diberikan kepada komunitas difabel.

“Saya melihat ada komunitas difabel yang sangat luar biasa bisa kumpul di sini dan diberikan edukasi pelatihan keterampilan budi daya ikan air tawar untuk menciptakan ekonomi mandiri,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan DMC, Frengky Widagdo, mengatakan, pelatihan tersebut memberikan pengetahuan yang dapat dikembangkan oleh anggota komunitas.

“Kami dapat ilmu berkat diberikan teori dan praktik pelatihan budi daya ikan air tawar. Ilmu yang bermanfaat ini akan kami praktikkan nanti untuk belajar dan kami bisa menciptakan ekonomi mandiri,” kata Frengky.

Selain pelatihan, WMI memberikan santunan kepada 30 anak yatim dan piatu. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan fun fishing yang melibatkan wartawan, perwakilan korporasi, penyandang disabilitas, anak yatim serta pekerja lokal.

Ketua WMI dan panitia kegiatan menempatkan kolaborasi tersebut sebagai bagian dari upaya agar keberadaan komunitas wartawan tidak berhenti pada aktivitas jurnalistik, tetapi juga memberikan kontribusi sosial.

“Kami berharap kehadiran WMI bisa memberikan manfaat, khususnya kepada anggota, umumnya kepada masyarakat, dan WMI hadir bersama untuk membangun bangsa dan NKRI, bersama mitra, korporasi, serta pemerintah,” kata Rama.

Bagi wartawan energi dan pertambangan, kegiatan seperti ini juga menjadi ruang untuk memperluas perspektif pemberitaan ESG. Isu sosial tidak semata-mata dilihat dari besaran bantuan perusahaan, tetapi dari sejauh mana kolaborasi yang dibangun mampu membuka akses keterampilan, meningkatkan kapasitas masyarakat, dan menciptakan peluang kemandirian ekonomi.

Dengan demikian, pers dapat menjalankan fungsi informasinya sekaligus mempertemukan kepentingan industri, komunitas dan masyarakat dalam membicarakan keberlanjutan yang lebih inklusif. (Shiddiq)