Beranda Tambang Mind Id Ungkap 95% Material Tambang Belum Dimanfaatkan, Dorong Ekonomi Sirkular

Mind Id Ungkap 95% Material Tambang Belum Dimanfaatkan, Dorong Ekonomi Sirkular

87
0
Direktur Strategi Hilirisasi dan Operasi Hilir Mind Id, Achmad Ardianto (Foto: MNI/Shiddiq)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Sebagian besar material yang diangkat dari kegiatan pertambangan masih belum dimanfaatkan secara optimal. Dari satu ton bijih tambang, material yang diambil dan dimanfaatkan disebut hanya sekitar 1%-10%. Kenyataan itu diungkapkan PT Mineral Industri Indonesia (Mind Id).

Direktur Strategi Hilirisasi dan Operasi Hilir Mind Id, Achmad Ardianto, mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya peluang untuk meningkatkan recovery dan nilai tambah mineral dalam kegiatan pertambangan.

“Bisa kita katakan 95% dari material yang kita angkat dari gunung, bumi, itu kita kembalikan ke bumi dan tidak kita manfaatkan,” ujar Ardianto dalam Annual Business Meeting 2026 di J.W. Marriott Hotel, Jakarta, Senin (21/9/2026).

Menurut dia, material yang dikembalikan ke bumi tersebut masih berpotensi mengandung mineral logam dan nonlogam yang dapat diekstraksi. Pemanfaatan material tersebut dinilai dapat meningkatkan nilai tambah sekaligus mengurangi limbah dari aktivitas pertambangan.

“Sesungguhnya di 99% tersebut masih banyak sekali mineral logam dan non-logam yang bisa kita ekstrak, kita manfaatkan, kita tingkatkan nilai tambahnya sehingga mempunyai manfaat dan makna yang lebih besar bagi bangsa negara,” katanya.

Dia mengatakan, peningkatan recovery menjadi isu strategis bagi industri pertambangan, terutama di tengah dorongan penerapan konsep zero waste dan ekonomi sirkular. Karenanya, industri pertambangan perlu bertransformasi dari pola ekonomi linear menuju sistem yang memungkinkan material hasil tambang dimanfaatkan secara lebih maksimal. Upaya tersebut juga harus berjalan seiring dengan penerapan prinsip environment, social, and governance (ESG).

“Industri pertambangan yang kita kelola itu sarat dengan sensitivitas, sehingga tanggung jawab yang kita lakukan di lokasi penambangan itu benar-benar dilakukan secara hati-hati dan berorientasi kepada ESG,” ujarnya mengingatkan.

Selain pemanfaatan material, Mind Id juga mendorong penggunaan energi yang lebih bersih dalam operasional pertambangan. Salah satu contohnya, konversi dump truck yang sebelumnya menggunakan bahan bakar minyak menjadi kendaraan listrik. Elektrifikasi peralatan tambang perlu terus dikembangkan sehingga penggunaan energi terbarukan dapat semakin meningkat dalam kegiatan operasional.

Dalam kesempatan yang sama, dia menyoroti pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan energy storage system (ESS) sebagai bagian dari transisi energi di sektor pertambangan. Pengembangan energi baru terbarukan (EBT) dan industri pertambangan memiliki keterkaitan yang erat karena berbagai komponen pembangkit energi bersih juga membutuhkan bahan baku mineral.

“PLTS yang dibuat itu hampir semua materinya merupakan bahan tambang, silikonnya, aluminiumnya, timahnya, tembaganya, besinya, semua itu merupakan bahan tambang yang kita butuhkan untuk menghasilkan renewable energy yang lebih bersih, lebih hijau,” singkapnya.

Oleh sebab itu, dia menilai, transformasi industri pertambangan dan pengembangan EBT perlu berjalan beriringan. Forum bisnis dan kolaborasi antarpelaku industri dinilai penting untuk menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan di sektor pertambangan. Ia berharap industri pertambangan ke depan dapat semakin menerapkan prinsip ekonomi sirkular, dengan memaksimalkan pemanfaatan material, mengurangi limbah, serta meningkatkan penggunaan energi terbarukan.

“Diharapkan industri pertambangan adalah industri yang lebih hijau, lebih ekonomi sirkular, tidak linier, dan benar-benar menjadi andalan bagi pembangunan bangsa ini di masa depan,” ujarnya. (Shiddiq)