

NIKEL.CO.ID, OFFENBACH, JERMAN — Sekretaris Umum Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Meidy Katrin Lengkey, didapuk menjadi panelis pada International Stainless & Special Steel Conference 2026 yang berlangsung di Capitol Theater Offenbach, Offenbach am Main, Jerman, pada 22–24 September 2026.
Dengan tema “Energizing Stainless Market Growth with Strategic Development”, penyelenggara mempertemukan para pelaku industri baja nirkarat (stainless steel) dan baja khusus (special steel) dari berbagai negara yang mencakup pemasok bahan baku, produsen baja, distributor, perusahaan pengolahan hingga pengguna akhir.
Dalam agenda diskusi panel itu, Sekum APNI menjadi salah satu panelis bersama Filipe Costa (CEO Cronimet Envirotec GmbH), Barry Jackson (Anglo American); dan Mark Selby (Chairman, CEO & Director Canada Nickel Company Inc.).

Dalam diskusi tersebut, Meidy menyampaikan pandangan mengenai dinamika industri nikel, struktur biaya produksi, perkembangan pasar, kepatuhan industri, serta semakin pentingnya penerapan prinsip environmental, social, and governance (ESG) dalam rantai pasok nikel dan stainless steel.
Perkembangan industri nikel, menurut dia, perlu dilihat secara menyeluruh dengan mempertimbangkan kapasitas produksi, kebutuhan pasar, struktur biaya, serta karakteristik masing-masing negara. Kondisi industri di setiap negara tidak selalu sama. Karena itu, kebijakan dan standar yang diterapkan perlu mempertimbangkan kondisi pasar dan struktur industri masing-masing.
Dalam sesi diskusi, Meidy juga menyinggung tingkat harga nikel dan kaitannya dengan keekonomian industri di Indonesia.
“Untuk Indonesia, US$18.000 sudah cukup bagi kami. Untuk Indonesia, US$18.500 sudah lebih dari cukup bagi kami,” ujarnya dalam diskusi tersebut.
Dia juga menyinggung perkembangan pasar baru serta dampaknya terhadap industri nikel dan stainless steel. Terbukanya pasar baru perlu diikuti dengan pemahaman terhadap struktur biaya produksi dan kondisi pasokan bahan baku.

Pembahasan mengenai biaya produksi dan harga nikel menjadi semakin relevan bagi Indonesia seiring dengan perubahan kebijakan produksi dan tata kelola komoditas nikel. Pemerintah Indonesia pada 2026 juga melakukan penyesuaian kebijakan produksi melalui mekanisme RKAB, sementara kebutuhan bahan baku industri pengolahan domestik tetap menjadi salah satu perhatian utama.
Selain aspek ekonomi dan pasar, Meidy menyoroti perkembangan praktik keberlanjutan dalam industri nikel. Menurutnya, pemerintah telah memberikan penghargaan terhadap praktik-praktik terbaik, termasuk di bidang lingkungan, sementara pembahasan mengenai ESG semakin mendapatkan perhatian dalam industri mineral dan logam.
“Pemerintah juga sudah mengeluarkan penghargaan praktik terbaik, penghargaan lingkungan, dan lain sebagainya. Tapi beralih ke ESG, mungkin saya ingin menunjukkannya kepada Anda,” ujarnya.
Isu ESG memang semakin terkait dengan akses pasar bagi produk nikel Indonesia. Sebelumnya, dia juga menyampaikan, meningkatnya persyaratan ESG di berbagai pasar dapat berdampak terhadap biaya produksi industri nikel, baik di sektor pertambangan maupun pengolahan.
APNI pada 2026 telah menggelar 2nd APNI ESG Forum dengan tema “Shaping Indonesia ESG Standard: From Compliance to Global Market Recognition”. Forum tersebut membahas antara lain pengembangan standar ESG yang sesuai dengan kondisi Indonesia, pengakuan pasar global, serta penerapan prinsip keberlanjutan dalam sektor mineral kritis.

International Stainless & Special Steel Conference 2026 menjadi forum bagi para pelaku industri untuk membahas perkembangan pasar, kebijakan perdagangan, geopolitik, bahan baku, carbon border adjustment mechanism (CBAM), serta peluang pertumbuhan baru bagi stainless steel dan nickel alloys.
Penyelenggara menyebut konferensi tersebut secara khusus diarahkan untuk membahas peluang pasar baru bagi stainless steel dan nickel alloys, penguatan permintaan, serta pertumbuhan industri dalam jangka panjang.
Kehadiran APNI dalam forum internasional tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat komunikasi dan pertukaran informasi mengenai perkembangan industri nikel Indonesia dengan para pelaku industri stainless steel dan special steel global.
Bagi Indonesia, forum semacam ini juga menjadi ruang untuk menyampaikan perspektif industri nasional terkait ketersediaan bahan baku, keekonomian pertambangan dan pengolahan nikel, perkembangan pasar, serta penerapan standar keberlanjutan yang semakin menjadi bagian dari rantai pasok global. (Shiddiq/Tubagus)








































