Beranda Berita Nasional DSI Dorong Transparansi Perdagangan Komoditas untuk Tingkatkan Nilai Ekspor Indonesia

DSI Dorong Transparansi Perdagangan Komoditas untuk Tingkatkan Nilai Ekspor Indonesia

69
0
Presiden Direktur PT Danantara Sumberdaya Indonesia, Luke Thomas Mahony (Foto: MNI/Li Han)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Digitalisasi dan transparansi perdagangan komoditas menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kredibilitas transaksi serta memperkuat nilai komoditas Indonesia di pasar internasional. Melalui integrasi data fisik, finansial, dan komersial, sistem tersebut diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh terhadap perjalanan komoditas sejak dari tambang hingga diterima pembeli.

Presiden Direktur PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), Luke Thomas Mahony, mengatakan, nilai suatu komoditas tidak hanya ditentukan oleh harga ketika masih berada di dalam tanah, tetapi juga melalui berbagai tahapan produksi, pengolahan, pengangkutan, hingga mencapai pasar tujuan. Setiap komoditas memiliki perjalanan fisik, finansial, dan data yang saling berkaitan. Ketiga aspek tersebut perlu membentuk informasi yang konsisten dan dapat dipercaya.

“Setiap komoditas memiliki perjalanan fisik, perjalanan finansial, dan perjalanan data. Semakin ke depan, perjalanan-perjalanan ini harus menceritakan kisah yang dapat dipercaya dan konsisten,” kata Luke dalam acara Coaltrans (CT) Asia 2026 & ICMMS Indonesia 2026, di Jimbaran, Bali, Senin (28/9/2026).

Proses penciptaan nilai komoditas, dijelaskan, dimulai dari potensi geologis di dalam tanah, kemudian melalui kegiatan penambangan, pembiayaan, pengangkutan, pengujian kualitas, hingga pengiriman ke pasar internasional.

Selain itu, ia menuturkan, pengembangan DSI tidak dimaksudkan untuk mengganggu mekanisme ekspor Indonesia maupun hubungan komersial antara eksportir dan pembeli. Aktivitas negosiasi kontrak, kesepakatan spesifikasi, penentuan harga, pengiriman komoditas, serta pembayaran tetap berlangsung antara pihak-pihak yang melakukan transaksi.

“Mereka akan bernegosiasi dengan kontrak, setuju dengan spesifikasi harga, dan mengurus pergerakan komoditas, dan pengiriman dana akan tetap berlaku antara kedua-duanya. Kami tidak ingin menambahkan tekanan yang tidak perlu pada hubungan itu. Apa yang kami lakukan adalah memperkenalkan kelihatan yang lebih besar di sekitar transaksi,” tuturnya.

Melalui penghubungan berbagai informasi tersebut, DSI diharapkan dapat membantu memahami keseluruhan proses komersial sekaligus mengidentifikasi potensi ketidaksesuaian penjualan dan harga transfer.

Namun, ia menekankan, perbedaan harga transaksi dengan indeks acuan tidak serta-merta menunjukkan adanya masalah. Harga komoditas dipengaruhi berbagai faktor, antara lain kandungan kalori calorific value (CV), kadar abu (ash), sulfur, lokasi, merek atau spesifikasi produk, waktu transaksi, hubungan komersial, serta ketentuan kredit.

“Pertanyaannya bukan apakah harga Anda berbeda dari indeks, melainkan apakah kita bisa memahami dan menjelaskan mengapa harga itu berbeda,” ujarnya.

Sementara itu, menurutnya, transparansi juga memiliki nilai ekonomi karena dapat meningkatkan kepercayaan pembeli terhadap kualitas produk, dokumen, dan keabsahan transaksi. Kepercayaan tersebut menjadi penting dalam membangun reputasi Indonesia sebagai pemasok komoditas yang memiliki kredibilitas tinggi.

“Transparansi menciptakan kredibilitas, kredibilitas menciptakan kepercayaan, dan kepercayaan menciptakan nilai,” pungkasnya.

Transparansi bukan berarti seluruh transaksi harus memiliki harga yang sama dengan indeks acuan. Transparansi justru memungkinkan setiap perbedaan harga dijelaskan berdasarkan faktor komersial yang relevan.

Peningkatan visibilitas pasar juga dapat memberikan manfaat praktis bagi pelaku usaha, khususnya eksportir dan penjual komoditas. Informasi mengenai perubahan kebutuhan pasar, tren negara tujuan, dan hubungan harga dapat menjadi bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan komersial.

Maka dari itu, data yang digunakan untuk memperkuat pengawasan transaksi juga berpotensi menjadi sumber intelijen pasar bagi industri. DSI, katanya, berada pada persimpangan antara kebutuhan transparansi pemerintah dan realitas perdagangan internasional. Posisi tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat bagi kedua pihak.

Pemerintah dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai kondisi perdagangan komoditas Indonesia di pasar internasional. Di sisi lain, pelaku industri dapat memperoleh informasi pasar yang relevan untuk mendukung pengambilan keputusan. (Fi Yun)