

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Pengembangan ekonomi hijau menjadi salah satu peluang bagi Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya di dalam negeri. Pengembangan ekonomi hijau juga menjadi salah satu fokus dalam arah pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam Asta Cita 2 Presiden Prabowo Subianto, yang mencakup upaya mewujudkan swasembada pangan, energi, dan air, serta pengembangan ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pengembangan ekonomi hijau perlu didukung oleh ketersediaan energi yang bersih dan andal. Pemanfaatan energi berbasis tenaga surya dan sistem penyimpanan baterai menjadi salah satu upaya untuk menekan emisi sekaligus mempercepat pencapaian target emisi nasional.

“Tentu kalau listrik berbasis pada solar panel dan baterai storage system, tentunya emisinya kan nol. Jadi kita menurunkan target daripada angka emisi mendekati nol di 2060, ini bisa maju 10-15 tahun. Ini yang tentu menjadi PR bagi kita semua,” ujar Airlangga dalam keterangan resmi yang dikutip redaksi, Kamis (1/10/2026).
Airlangga menjelaskan, keandalan dan keterjangkauan energi menjadi prasyarat penting untuk mendukung investasi bernilai tambah tinggi. Kebutuhan listrik Indonesia diproyeksikan mencapai 700–800 terawatt-hour (TWh) pada 2030, sementara pemerintah mendorong peningkatan kapasitas pembangkit hingga 100 gigawatt peak dalam beberapa tahun ke depan.

Peluang pengembangan ekonomi hijau turut didukung oleh kekayaan sumber daya mineral strategis Indonesia, seperti nikel, timah, bauksit, tembaga, emas, dan batu bara. Hilirisasi yang ditopang energi bersih, andal, dan terjangkau akan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. Pengembangan ekosistem kendaraan listrik juga menjadi salah satu sektor yang memiliki potensi nilai tambah sebesar 67 kali lipat dengan permintaan mencapai USD5,91 triliun pada 2045.
“Jadi inilah the golden moment sebetulnya buat Indonesia untuk bisa dikembangkan. Dan di lain itu juga kita memiliki pasir silika yang jumlahnya besar, dan ini bisa mendorong untuk kita mempunyai tuan rumah untuk solar panel,” tambah Airlangga.

Pengembangan ekosistem kendaraan listrik dan hilirisasi mineral strategis turut membuka peluang bagi Indonesia untuk menjadi bagian penting dalam diversifikasi rantai pasok mineral kritis global. Hal ini tercermin dari minat berbagai negara seperti Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Kanada untuk bekerja sama dengan Indonesia di bidang mineral kritis.
Airlangga juga menekankan peluang Indonesia dalam pengembangan energi bersih, termasuk melalui pemanfaatan sumber daya pasir silika yang dinilai dapat mendukung pengembangan industri panel surya di dalam negeri.
“Jadi ini twin engine antara green energy dan digital development, dan ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk menjadi tuan rumah energi di negeri sendiri,” pungkasnya. (Tubagus)












































