Beranda Berita Nasional Ekspor Industri Pengolahan Naik 6,62%, Aktivitas Manufaktur Kembali Ekspansi

Ekspor Industri Pengolahan Naik 6,62%, Aktivitas Manufaktur Kembali Ekspansi

86
0
Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Rosan Roelani (kiri) bersama Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto (kanan) (Foto: Humas Kemenko Perekonomian)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Aktivitas industri pengolahan Indonesia menunjukkan penguatan sepanjang Januari–Agustus 2026. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekspor industri pengolahan sebesar 6,62% yang menjadi kontributor utama pertumbuhan ekspor dan mencerminkan berlanjutnya penguatan hilirisasi.

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan, perkembangan tersebut menunjukkan kondisi perekonomian Indonesia tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global yang masih berlangsung. Terjaganya inflasi, kembali ekspansifnya sektor manufaktur, serta pertumbuhan ekspor menjadi sejumlah indikator yang menunjukkan kondisi fundamental perekonomian Indonesia tetap kuat di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian.

“Ke depan, pemerintah akan terus memperkuat sinergi kebijakan untuk menjaga daya beli masyarakat, mendorong investasi dan aktivitas industri, serta meningkatkan daya saing dan nilai tambah produk Indonesia,” ujar Menko Airlangga dalam siaran pers yang diterima redaksi, Jumat (2/10/2026).

Pertumbuhan ekspor juga tercatat pada sejumlah komoditas. Ekspor besi dan baja tumbuh 4,88% menjadi US$19,18 miliar, minyak sawit mentah atau CPO naik 6,57% menjadi US$17,75 miliar, sedangkan ekspor batu bara meningkat 4,31% menjadi US$16,58 miliar sepanjang Januari hingga Agustus 2026.

Sementara itu, aktivitas manufaktur Indonesia kembali berada di zona ekspansi pada September 2026. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur tercatat 52,4, meningkat dari 49,8 pada Agustus 2026 dan menjadi perbaikan terkuat sejak Februari 2026.

Perbaikan tersebut ditandai dengan meningkatnya pesanan baru dan produksi. Pesanan ekspor juga mencatat pertumbuhan tercepat sejak Mei 2022, sementara lapangan kerja, pembelian input, dan persediaan turut meningkat.

Dari sisi kebutuhan industri, impor bahan baku dan penolong pada Januari hingga Agustus 2026 mencapai US$133,38 miliar, sedangkan impor barang modal sebesar US$36,74 miliar. Kedua kelompok tersebut menyumbang 91,3% dari total impor Indonesia.

Selain itu, impor mesin dan peralatan mekanis tumbuh 15,26% secara tahunan, sementara impor mesin dan peralatan listrik meningkat 22,94%. Peningkatan tersebut turut menunjukkan adanya kebutuhan terhadap mesin dan peralatan untuk mendukung aktivitas industri.

Pada periode Januari hingga Agustus 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar US$7,25 miliar. Surplus tersebut ditopang neraca perdagangan nonmigas yang mencapai US$28,54 miliar, sementara sektor migas mencatat defisit sebesar US$21,29 miliar. (Tubagus)