


NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Penguatan industri dan perluasan akses perdagangan menjadi fokus dalam pembukaan Indonesian Furniture Industry and Handicraft Association (Iffina)+ 2026, interzum Jakarta, dan International Hardware Fair Indonesia, di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) – Pantai Indah Kapuk (PIK) 2, Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Pameran tersebut menjadi ajang pertemuan industri mebel dan kerajinan Indonesia dengan desainer, manufaktur, pembeli internasional, pemerintah, asosiasi, serta pemangku kepentingan perdagangan. Selain memperkenalkan produk, kegiatan ini diarahkan untuk membuka peluang transaksi, memperluas jaringan bisnis, dan meningkatkan penetrasi produk Indonesia di pasar global.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, melalui pesan video yang diputar dalam acara pembukaan, mengatakan, pameran seperti Iffina penting dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

Menurut Airlangga, perluasan pasar dan hubungan langsung dengan pembeli internasional dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan ekspor pada pasar tertentu.
Ia menuturkan, industri pengolahan memberikan kontribusi 18,5% terhadap perekonomian nasional. Industri furnitur juga disebut mencatat pertumbuhan 11,82%. Kinerja perdagangan furnitur Indonesia juga disebut telah mencatat surplus sejak 2021.
Pada tahun sebelumnya, nilai ekspor furnitur Indonesia mencapai sekitar US$2,2 miliar, sementara impor sekitar US$1,9 miliar, sehingga menghasilkan surplus sekitar US$473 juta. Amerika Serikat menjadi salah satu pasar utama produk furnitur Indonesia, sekitar 60% ekspor furnitur Indonesia terserap di pasar Amerika Serikat.

Untuk memperkuat industri sekaligus meningkatkan kinerja perdagangan, pemerintah memberikan sejumlah dukungan kepada sektor furnitur. Dukungan tersebut antara lain berupa insentif fiskal, akses pembiayaan bagi industri padat karya, program restrukturisasi mesin dan peralatan, serta fasilitasi promosi ekspor.
Pemerintah juga mendorong peningkatan nilai tambah produk di dalam negeri melalui penguatan standar produk dan penerapan Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK). Langkah tersebut menjadi penting karena struktur industri nasional masih didominasi industri kecil dan menengah yang menghadapi tantangan dalam teknologi, produktivitas, pembiayaan, serta pemenuhan standar dan regulasi di negara tujuan ekspor.
Penyelenggaraan pameran tersebut diharapkan dapat mempertemukan pelaku industri nasional dengan pembeli internasional, memperluas jaringan perdagangan, membuka peluang transaksi, serta mendorong peningkatan ekspor produk mebel dan kerajinan Indonesia.

Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian, Edy Priyopambudi, mengatakan, Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan industri mebel karena didukung ketersediaan bahan baku serta basis industri yang tersebar di berbagai daerah.
Salah satu kekuatan tersebut adalah rotan. Menurut Edym lebih dari 80% pasokan rotan dunia berasal dari Indonesia. Keunggulan bahan baku harus diikuti dengan peningkatan nilai tambah melalui pengembangan produk jadi, sehingga Indonesia tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan baku dalam rantai perdagangan global.
Karena itu, kolaborasi antara desainer, merek, dan manufaktur perlu diperkuat agar menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah sekaligus memenuhi kebutuhan pasar internasional.

Pemerintah, lanjutnya, mendorong modernisasi mesin, digitalisasi proses produksi, peningkatan keterampilan sumber daya manusia, serta penguatan sentra industri mebel, termasuk Jepara dan Cirebon.
Jaminan pasokan bahan baku yang legal dan berkelanjutan juga menjadi bagian penting dalam penguatan industri. Selain itu, pelaku usaha didorong memanfaatkan berbagai fasilitas dan preferensi perdagangan yang telah diperoleh Indonesia.
Dari sisi tenaga kerja, industri mebel disebut memiliki kontribusi besar terhadap penyerapan tenaga kerja. Ia menyebut sektor tersebut menyerap sekitar 960 ribu tenaga kerja, yang sebagian besar berada pada usaha kecil dan menengah padat karya.
Dari sisi perdagangan, pasar furnitur global masih memberikan peluang ekspansi bagi Indonesia. Ia menyebut, nilai pasar furnitur dunia diperkirakan mencapai sekitar US$736 miliar pada 2025 dan berpotensi melampaui US$1,1 triliun pada periode mendatang.
Setelah rangkaian sambutan, pembukaan pameran ditandai dengan pemberian apresiasi kepada pemerintah dan prosesi pemotongan pita yang diikuti sejumlah pejabat pemerintah, perwakilan Kadin Indonesia, asosiasi, dan penyelenggara. (Shiddiq)






































