Beranda Berita Nasional Energi Rendah Karbon Dinilai Penting untuk Perkuat Daya Saing Nikel Indonesia

Energi Rendah Karbon Dinilai Penting untuk Perkuat Daya Saing Nikel Indonesia

152
0
Head of Sustainability of Nickel Industries Limited, Muchtazar (Foto: MNI/Fi Yun)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Industri nikel membutuhkan pasokan energi yang tidak hanya andal dan kompetitif, tetapi juga memiliki jejak karbon rendah. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga daya saing produk nikel di tengah meningkatnya tuntutan pasar global terhadap produk yang lebih ramah lingkungan.

Head of Sustainability of Nickel Industries Limited, Muchtazar, mengatakan, kebutuhan terhadap energi rendah karbon semakin penting karena nikel merupakan salah satu komoditas yang berperan dalam mendukung transisi energi global. Penggunaan energi dengan emisi karbon tinggi justru dapat mengurangi daya saing produk nikel.

“Kita berkomunikasi dengan pembeli bahwa kita membutuhkan kekuatan yang kompetitif, tentu saja pertama, dan kedua, memiliki jejak karbon yang lebih rendah dari sumber-sumber konvensional atau sumber-sumber bahan bakar fosil,” kata Muchtazar pada Nickel Power Forum dalam acara MKI Electricity Connect 2026, di ICE BSD City, Serpong, Tangerang, Banten, Rabu (23/9/2026).

Ia menjelaskan, tantangan tersebut semakin relevan karena kondisi pasar nikel dalam dua tahun terakhir menunjukkan adanya kelebihan pasokan. Situasi itu membuat produsen harus mampu menjaga daya saing dari berbagai aspek, termasuk biaya produksi, ketahanan pasokan, hingga keberlanjutan.

“Dalam dua tahun terakhir, penjualan nikel adalah penjualan yang kompetitif ke pasar. Kita menjual lebih banyak daripada yang diperlukan oleh pasar,” ujarnya.

Kondisi bahan baku yang oversupply, menurutnya, membuat produsen nikel perlu meningkatkan efisiensi agar tetap kompetitif di tengah tekanan pasar. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah menekan biaya energi sekaligus mengurangi emisi karbon dalam proses produksi. Dukungan terhadap transisi energi di sektor industri yang membutuhkan energi dalam jumlah besar dinilai dapat menjadi bagian penting dalam menjaga daya saing produk nikel.

“Produk perlu kompetitif dalam segala kondisi, dalam kondisi biaya, ketahanan, dan keberlanjutan,” ucapnya.

Selain itu, penerapan energi rendah karbon dinilai dapat membuka peluang pasar yang lebih luas bagi produk nikel Indonesia. Produk dengan jejak karbon lebih rendah berpotensi memiliki nilai tambah di tengah meningkatnya perhatian konsumen dan industri global terhadap aspek keberlanjutan.

“Jika ada produk nikel A, lalu ada produk nikel B dengan harga dan kualitas yang sama, maka faktor keberlanjutan akan menjadi pembeda. Penjual maupun pelanggan akan mempertimbangkan produk yang memiliki jejak karbon lebih rendah,” pungkasnya.

Pengurangan emisi karbon, katanya, tidak hanya berkaitan dengan aspek lingkungan, tetapi juga dapat menjadi faktor dalam memperluas akses pasar di luar Asia, termasuk Eropa dan Amerika. Karena itu, transisi menuju penggunaan energi yang lebih rendah karbon pada industri nikel dinilai perlu dilakukan secara bertahap dengan tetap memperhatikan aspek biaya dan keandalan pasokan energi.

Langkah tersebut pun diharapkan dapat membantu produsen menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan daya saing produk nikel di pasar global yang semakin mempertimbangkan faktor keberlanjutan. (Fi Yun)