Beranda Berita Nasional Muchtazar: Tak Cukup Sekadar Patuh, Industri Nikel harus Buktikan Komitmen ESG

Muchtazar: Tak Cukup Sekadar Patuh, Industri Nikel harus Buktikan Komitmen ESG

123
0
Head of Sustainability of Nickel Industries Limited, Muchtazar (Foto: MNI/Fi Yun)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Industri nikel Indonesia dituntut memperkuat implementasi environment, social, and governance (ESG) di tengah meningkatnya sorotan publik. Perusahaan tidak lagi cukup hanya memenuhi ketentuan regulasi, tetapi harus menunjukkan komitmen nyata melalui pengelolaan lingkungan, pemberdayaan masyarakat, transparansi, serta upaya menekan emisi karbon guna memperkuat daya saing.

Head of Sustainability of Nickel Industries Limited, Muchtazar, mengatakan, perkembangan industri nikel selama sekitar 15 tahun terakhir berlangsung pesat sehingga menjadi sorotan publik, mulai dari pemerintah hingga masyarakat internasional. Kondisi ini menuntut perusahaan untuk menunjukkan kinerja ESG yang semakin baik, bukan sekadar memenuhi ketentuan regulasi.

“Kita tidak cukup hanya memenuhi persyaratan dalam peraturan. Perusahaan harus melangkah lebih jauh dengan memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat dan meningkatkan kualitas implementasi ESG,” kata Muchtazar, di Jakarta, Selasa (23/6/2026).

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah IKLAN-OK-International-Critical-Minerals-Summit-Indonesia-2026-1024x341.jpg

Maka dari itu, pelaku industri harus memiliki tanggung jawab moral untuk membuktikan bahwa praktik pertambangan nikel di Indonesia dapat dilakukan secara lebih bertanggung jawab melalui rehabilitasi lahan, konservasi lingkungan, serta pengelolaan sosial yang lebih baik.

“Saya pikir, kita memiliki tanggung jawab, tanggung moral untuk menunjukkan bahwa kita bisa lebih baik terutama dalam hal rehabilitasi, konservasi, kita harus menunjukkan bahwa usaha rehabilitasi kita berjalan dengan baik, dan lebih penting,” ujarnya.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah IKLAN-online-DTI-1024x341.jpg

Selain itu, transparansi dalam proses produksi juga menjadi aspek penting mengingat nikel merupakan salah satu mineral strategis dalam mendukung transisi energi global, khususnya sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

“Tidak masuk akal apabila nikel digunakan untuk baterai kendaraan listrik dan mendukung transisi energi, tetapi diproduksi dengan emisi karbon yang tinggi. Karena itu, kami terus berupaya menurunkan intensitas karbon dari proses produksi setiap tahun,” pungkasnya.

Sebelumnya, hanya terdapat beberapa perusahaan yang beroperasi, kini terdapat ratusan perusahaan tambang maupun fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) yang menjadi bagian dari program hilirisasi mineral nasional. Industri nikel Indonesia masih menghadapi berbagai persepsi negatif di pasar global. Produk nikel Indonesia kerap dikaitkan dengan isu lingkungan maupun sosial yang memengaruhi citra industri di mata konsumen internasional. (Fi Yun)

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah IKLAN-OK-Indomachinary-11-13-Agustus-1024x341.jpg