Beranda Berita Nasional Industri Metalurgi Dorong Efisiensi Energi dan Teknologi Hijau

Industri Metalurgi Dorong Efisiensi Energi dan Teknologi Hijau

111
0
Para pembicara GIFA Indonesia dan METEC Indonesia 2026 (Foto: Dok GIFA Indonesia)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Industri metalurgi Indonesia terus mendorong transformasi menuju proses produksi yang lebih efisien, rendah karbon, dan berbasis teknologi digital. Perkembangan tersebut mengemuka dalam penyelenggaraan GIFA Indonesia dan METEC Indonesia 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran.

Pameran yang berlangsung pada 9-12 September 2026 itu mempertemukan 260 perusahaan dari 20 negara serta lebih dari 6.000 pengunjung profesional. Agenda yang digelar bersamaan dengan Mining Indonesia tersebut membahas sejumlah isu, mulai dari dekarbonisasi, efisiensi energi, smart factory, kecerdasan buatan (artificial intellegence/AI), hingga ekonomi sirkular.

Dr. Sri Raharno dari Kelompok Keahlian Perancangan dan Produksi Mesin, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (ITB), mengatakan, industri metalurgi dan pengecoran logam Indonesia menghadapi tuntutan untuk bertransformasi seiring meningkatnya kebutuhan pasar global terhadap produk dengan jejak karbon lebih rendah.

“Pasar global mulai menuntut produk logam dengan jejak karbon yang lebih rendah dan transparansi kinerja lingkungan yang lebih baik,” kata Sri dalam keterangan resminya, Jakarta, Selasa (29/9/2026).

Menurut dia, tantangan industri saat ini mencakup pembangunan industri yang rendah karbon, hemat energi, terdigitalisasi, dan berbasis ekonomi sirkular. Transformasi tersebut juga membutuhkan sumber daya manusia yang menguasai teknologi metalurgi dan digital.

“Keberhasilan transformasi inilah yang akan menentukan daya saing industri nasional dalam rantai pasok manufaktur global pada dekade mendatang,” ujarnya.

Kebutuhan terhadap teknologi hemat energi juga terlihat dari solusi yang ditawarkan peserta pameran. Perusahaan teknologi asal Austria, qoncept Technology GmbH, memperkenalkan perangkat lunak berbasis AI yang menghubungkan mesin produksi konvensional dengan sistem digital untuk meningkatkan efisiensi energi.

Head of Sales and Business Development of qoncept Technology GmbH, Dr. Stefan Griesser mengatakan sistem tersebut dapat menganalisis data produksi untuk melihat pengaruh bahan baku terhadap konsumsi energi dan emisi karbon.

“Sistem perangkat lunak kami mampu mempelajari data produksi secara mandiri untuk menganalisis bagaimana bahan baku memengaruhi efisiensi energi dan jejak CO2, lalu mengoptimalkannya secara menyeluruh,” katanya.

Sementara itu, Managing Director of Indaid Thermal Engineers Private Limited, Narayanan Dandapani, mengatakan, efisiensi energi menjadi perhatian penting dalam pengoperasian tungku industri. Perusahaannya menawarkan teknologi regenerative burners yang diklaim dapat menekan konsumsi bahan bakar.

“Alat ini dapat memangkas sekitar 25% hingga 45% konsumsi bahan bakar,” ujar Narayanan.

Pada kesempatan tersebut, Managing Director of Messe Düsseldorf Asia, Lars Wismer, mengatakan, perkembangan tersebut menunjukkan kebutuhan kolaborasi antara pemilik smelter, pabrik pengecoran, pengolah aluminium, dan penyedia teknologi untuk meningkatkan produktivitas serta kualitas produksi.

“Pemilik smelter, pabrik pengecoran, pengolah aluminium, dan penyedia teknologi mengatasi tantangan untuk meningkatkan produktivitas, standar mutu, dan penciptaan nilai tambah di sektor hilir, sekaligus menilai tingkat operasional mereka terhadap standar global,” kata Wismer.

Selain efisiensi energi dan digitalisasi, industri aluminium menjadi salah satu fokus baru dalam penyelenggaraan tahun ini. Pengembangan tersebut diarahkan untuk memperkuat keterhubungan antara proses peleburan dan pemaduan dengan industri hilir, termasuk fabrikasi dan daur ulang.

Country General Manager of PT Pamerindo Indonesia, Lia Indriasari, mengatakan, pameran tersebut menjadi sarana untuk mempertemukan produsen lokal dengan perkembangan teknologi global.

“Melalui GIFA dan METEC Indonesia 2026, kami menghubungkan produsen lokal dengan inovasi global dalam otomatisasi dan metalurgi hijau,” kata Lia.

Dari sisi pelaku industri, General Superintendent Mill Metallurgy of PT Freeport Indonesia, Yopi Mandra Komara, menilai, pameran tersebut memberikan kesempatan bagi industri untuk mengeksplorasi teknologi dan solusi peningkatan produktivitas.

“GIFA dan METEC Indonesia yang diselenggarakan bersama Mining Indonesia memberikan platform berharga untuk terhubung dengan mitra, mengeksplorasi teknologi baru, dan mengidentifikasi solusi guna meningkatkan produktivitas serta kapasitas tonase,” ujarnya.

Penyelenggara memastikan GIFA Indonesia dan METEC Indonesia kembali digelar di JIExpo Kemayoran pada September 2028. Penyelenggaraan berikutnya akan melanjutkan fokus terhadap perkembangan teknologi pengecoran logam, metalurgi, efisiensi energi, digitalisasi, serta penguatan rantai nilai industri. (Shiddiq)