

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Besarnya cadangan dan produksi nikel tidak lagi cukup menjadi modal untuk memenangkan persaingan industri mineral global. Pemerintah menilai penerapan prinsip keberlanjutan atau environment, social, and governance (ESG) serta keterlacakan rantai pasok semakin menentukan daya saing nikel Indonesia.
Direktur Jenderal (Dirjen) Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Tri Winarno, mengatakan, pasar mineral global kini semakin kritis dalam menilai proses produksi, bukan hanya asal komoditas.
“Pasar tidak hanya bertanya dari mana mineral berasal, tetapi juga bagaimana mineral itu ditambang, diproses, dan apakah rantai pasoknya memiliki standar keberlanjutan,” ujar Tri, di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (10/9/2026).


Menurut dia, tuntutan terhadap standar ESG menjadi salah satu tantangan yang harus diantisipasi industri nikel Indonesia. Hal ini penting karena nikel telah menjadi mineral strategis untuk mendukung kendaraan listrik, baterai, perangkat elektronik, dan industri teknologi tinggi. Indonesia sendiri memiliki posisi sangat besar dalam pasar nikel global, dengan kontribusi sekitar 60–65% terhadap pasokan dunia. Namun, dominasi tersebut harus dibarengi dengan peningkatan kualitas tata kelola pertambangan.
Dirjen Minerba itu menyebut sejumlah tantangan yang dihadapi industri mineral Indonesia, antara lain cuaca ekstrem, hambatan logistik antarpulau, dinamika perdagangan global, kebutuhan pembiayaan, standar ESG, kualitas cadangan, eksplorasi, serta kesiapan energi dan infrastruktur.
“Daya saing Indonesia tidak hanya dibangun melalui keunggulan sumber daya. Kita harus memperkuat dengan eksplorasi, efisiensi logistik, traceability, cost cutting, dan lain sebagainya,” kata doktor teknik pertambangan dari Freiberg Technische Universitat Bergakademie, Jerman ini.


Traceability atau keterlacakan menjadi semakin penting karena konsumen dan industri global membutuhkan kepastian mengenai asal bahan baku serta proses produksinya. Bagi industri nikel, kemampuan menunjukkan rantai pasok yang transparan dan memenuhi standar keberlanjutan akan menjadi bagian dari daya saing.
Karena itu, pengembangan industri nikel Indonesia tidak hanya membutuhkan investasi dan teknologi pengolahan, tetapi juga tata kelola yang mampu memenuhi tuntutan pasar global. Dia menegaskan, transformasi industri mineral harus diarahkan untuk menghasilkan manfaat yang lebih besar bagi Indonesia. Dengan begitu, keunggulan sumber daya nikel dapat berjalan beriringan dengan tuntutan keberlanjutan dan daya saing industri nasional.
“Mineral strategis, seperti nikel, tembaga, bauksit, dan timah, menjadi bagian penting dalam mendukung transformasi pada saat ini,” ujarnya. (Shiddiq)












































