
NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Sekretaris Eksekutif Dewan Energi Nasional (DEN), Septian Hario Seto, dalam Talkshow Mining Connect ke-2 bertajuk “Babak Baru Sektor Tambang Indonesia di Tengah Dinamika Global” mengatakan, tahun 2026 menjadi periode penyesuaian paradigma pengelolaan sumber daya alam mineral dan batubara di Indonesia. Perubahan tersebut dipengaruhi dinamika geopolitik global, termasuk perkembangan situasi di kawasan Timur Tengah.
Forum tersebut membahas arah pengelolaan sektor pertambangan nasional di tengah dinamika geopolitik global dan tantangan menjaga keseimbangan pasar komoditas.

“Pengelolaan sumber daya alam perlu memastikan nilai tambah dapat dinikmati di dalam negeri, keberlangsungan operasi perusahaan tambang tetap terjaga, pendapatan negara lebih berkeadilan, serta investasi dan ekonomi daerah memiliki kepastian,” paparannya, Kamis (29/10/2026).
Ia menekankan, empat faktor utama yang perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan sumber daya alam, yakni memastikan nilai tambah dinikmati di dalam negeri, menjaga keberlangsungan operasi perusahaan tambang dan mengoptimalkan cadangan, mewujudkan pendapatan negara yang lebih berkeadilan, serta memberikan kepastian investasi dan ekonomi di daerah.

Khusus untuk komoditas nikel, Seto menyoroti posisi Indonesia yang kini memproduksi sekitar dua pertiga pasokan nikel dunia. Besarnya kontribusi tersebut membuat kebijakan produksi Indonesia berpengaruh signifikan terhadap kondisi pasar nikel internasional. Menurutnya, ekspansi produksi yang tidak memperhitungkan kebutuhan pasar berpotensi menimbulkan kelebihan pasokan (oversupply) dan menekan harga nikel global.
“Indonesia kini memproduksi sekitar dua pertiga pasokan nikel dunia. Karena itu, ekspansi produksi perlu dikelola agar tidak memicu kelebihan pasokan yang dapat menekan harga di pasar global,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pasokan domestik dan kebutuhan pasar internasional. Pengelolaan produksi yang terukur diperlukan agar komoditas strategis seperti nikel dan batubara tidak mengalami penurunan harga akibat pasokan yang berlebihan.
“Pengaturan pasokan diperlukan agar Indonesia memperoleh manfaat yang optimal dari sumber daya alam yang dimiliki, sekaligus menjaga keseimbangan pasar dan stabilitas harga komoditas,” pungkasnya.

Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) turut hadir pada acara tersebut. Kehadiran APNI dalam Talkshow Mining Connect ke-2 tersebut diwakilkan oleh Wakil Sekretaris Umum APNI, Rudi Rusmadi dan Ketua Bidang Perizinan Dewan Pimpinan Pusat APNI, Ense da Cunha Solapung. Selain APNI, forum tersebut juga dihadiri Direktur Manajemen Risiko PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI), Nur Hidaya Udin; Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Ahmad Taufik; serta Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), Gita Mahyarni. (Fi Yun)


























