Beranda Berita International Akibat Gangguan El Nino, Rantai Pasok Nikel dan Tembaga Berpotensi Terancam

Akibat Gangguan El Nino, Rantai Pasok Nikel dan Tembaga Berpotensi Terancam

Ilustrasi kekeringan akibat El Nino. (Dok. Istimewa

NIKEL.CO.ID, JAKARTA – El Nino, sebuah pola iklim alami di mana suhu permukaan laut di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik tropis meningkat setidaknya 0,5°C di atas rata-rata. Peningkatan suhu ini berpotensi mengganggu produksi nikel dan tembaga hingga awal tahun 2027.

Menurut BMI, sebuah berusahaan Fitch Solutions, kondisi ini memicu kekeringan, banjir, dan kekurangan pasokan listrik yang mengancam wilayah-wilayah pertambangan utama. Akibatnya, sektor pertambangan, fasilitas peleburan (smelter), serta pelabuhan dan infrastruktur transportasi diperkirakan akan terdampak. Cuaca ekstrem akan membatasi tingkat produksi dan meningkatkan volatilitas dari sisi pasokan akibat gangguan yang disebabkan oleh faktor cuaca tersebut.

Dari laporan Mining.com, dikutip Jumat (30/10/2026), disebutkan dalam pembaruan bulan Oktober 2026, Climate Prediction Center, sebuah institusi di bawah National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA CPC) Amerika Serikat menyatakan bahwa kondisi El Nino yang kuat hingga sangat kuat kemungkinan akan terus berlanjut hingga periode Januari–Maret 2027.

Terdapat probabilitas sebesar 83% bahwa fenomena yang terjadi selama periode Oktober–Desember 2026 akan melampaui intensitas Dibanding tahun-tahun sebelumnya yang tercatat sejak tahun 1950.

Untuk saat ini, BMI memperkirakan bahwa risiko struktural dari sisi penawaran—seperti kendala operasional, penurunan kadar bijih, dan ketidakpastian kebijakan—akan memberikan dampak yang lebih besar dibandingkan gangguan yang disebabkan oleh El Nino itu sendiri.

Pasar tembaga dan nikel diperkirakan akan menjadi yang paling terdampak, mengingat pusat-pusat produksi utamanya terletak tepat di jalur yang paling rentan terhadap perubahan pola cuaca ini.

Mengingat sebagian besar operasi pertambangan tembaga berlokasi di Amerika Latin, risiko banjir—terutama di Chili dan Peru—dapat mengganggu produksi serta transportasi logam vital tersebut, sehingga semakin memperketat pasokannya.

Di Afrika, ancaman yang muncul justru sebaliknya. Kondisi yang lebih kering di Zambia dan Republik Demokratik Kongo dapat menurunkan produksi listrik tenaga air, yang memicu krisis listrik serta meningkatkan biaya operasional bagi pabrik peleburan tembaga yang sangat bergantung pada energi.

Untuk nikel, situasinya tidak jauh berbeda. Fenomena El Nino diperkirakan akan menimbulkan risiko operasional dalam jangka pendek di Indonesia, karena keterbatasan air akibat kekeringan dapat berdampak pada produksi nikel—meskipun risiko ini nantinya akan mereda seiring dengan kembalinya musim hujan.

Pada bulan September 2026, akibat kekurangan air, Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) mengonfirmasi bahwa sejumlah pabrik peleburan nikel telah mengurangi tingkat produksi. Berita sebelumnya mengindikasikan bahwa sekitar 100.000 ton produksi nickel pig iron (NPI) berpotensi terdampak oleh kondisi ini.

Gangguan apa pun yang disebabkan oleh cuaca tahun ini hingga awal 2027 kemungkinan akan lebih menguntungkan bagi tembaga, sementara surplus persediaan nikel yang cukup besar dapat membatasi potensi kenaikan harganya, kecuali jika terjadi gangguan operasional yang berkepanjangan. BMI menyatakan bahwa kedua pasar tersebut kemungkinan akan tetap berada dalam kondisi surplus moderat pada tahun 2026.

Dampak terhadap produksi serta cakupannya dapat bervariasi, bergantung pada wilayah tempat operasi pertambangan berada.

Tim Risiko Negara (ESG) BMI memperkirakan bahwa peningkatan risiko kekeringan akan menjadi dampak utama dari fenomena El Nino pada periode 2026–2027. Kekurangan pasokan listrik kemungkinan besar akan terjadi di negara-negara yang bauran kelistrikannya didominasi oleh tenaga air (hidroelektrik).

Sektor aluminium di China dapat menghadapi pembatasan produksi karena ketergantungannya pada tenaga air di wilayah-wilayah penghasil tertentu. Sementara itu, risiko curah hujan tinggi pada operasi litium di Amerika Latin dapat menghambat proses produksi serta peningkatan skala proyek.

Negara-negara yang kurang dari 20% pasokan listriknya dihasilkan dari tenaga air—termasuk Meksiko dan Afrika Selatan—menghadapi risiko yang berbeda. BMI memperkirakan bahwa kendala pada kapasitas puncak listrik, alih-alih pemadaman listrik secara luas, merupakan konsekuensi yang lebih mungkin terjadi. Seiring dengan semakin intensifnya pasar global untuk mendapatkan pasokan mineral kritis, fenomena El Nino bisa menjadi tantangan tambahan yang harus diatasi oleh berbagai negara demi mengamankan rantai pasok. (Momon)