Beranda Berita Nasional Dewan Energi Nasional Dorong Hilirisasi Nikel untuk Perkuat Ketahanan Energi Indonesia

Dewan Energi Nasional Dorong Hilirisasi Nikel untuk Perkuat Ketahanan Energi Indonesia

Anggota Pemangku Kepentingan Industri (Koordinator) Dewan Energi Nasional (DEN) RI, Satya Widya Yudha. (Foto: MNI/Lili Handayani)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Anggota Pemangku Kepentingan Industri (Koordinator) Dewan Energi Nasional (DEN) RI, Satya Widya Yudha, menegaskan bahwa Indonesia perlu mengoptimalkan potensi nikel melalui penguatan hilirisasi dan pengembangan industri baterai berbasis nikel. 

Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Indonesia memiliki posisi strategis sebagai salah satu negara dengan sumber daya dan industri nikel terbesar di dunia. Potensi tersebut perlu dimanfaatkan melalui pengembangan industri hilir, bukan hanya mengandalkan produksi bahan mentah.

Menurut Satya, arah kebijakan Indonesia dalam pengelolaan nikel sudah jelas, yakni mendorong peningkatan nilai tambah melalui program hilirisasi mineral. Kebijakan tersebut juga sejalan dengan fokus pemerintah dalam memperkuat hilirisasi di berbagai sektor.

“Nikel kita termasuk tiga besar di dunia. Strategi Indonesia sudah jelas bahwa kita menginginkan nilai tambah daripada nikel. Maka program hilirisasi daripada mineral itu menjadi tujuan kita ke depan,” ujar Satya, kepada nikel.co.id, usai menghadiri Energy Leadership and Business Conference 2026 bertema Empowering Leaders, Enabling Zero Emission, di Jakarta, Jumat (30/10/2026).

Ia menjelaskan, hilirisasi tidak hanya diterapkan pada sektor energi dan mineral, tetapi juga mencakup sektor pertanian dan perikanan. Melalui proses tersebut, sumber daya yang dimiliki Indonesia diharapkan dapat menghasilkan nilai ekonomi lebih besar di dalam negeri.

“Jadi jelas banget bahwa hilirisasi daripada mineral kita itu menjadi program utama. Dan hilirisasi itu tidak cuma di energi, di agrikultur, di perikanan,” katanya.

Secara khusus, Satya menilai, potensi nikel perlu diarahkan untuk memperkuat pengembangan sistem baterai berbasis nikel. 

Menurutnya, Indonesia sebaiknya memanfaatkan keunggulan sumber daya yang dimiliki untuk membangun industri baterai dengan basis mineral tersebut.

Ia mencontohkan pengembangan baterai berbasis litium besi fosfat atau Lithium Ferro-Phosphate (LFP)’yang dikembangkan sejumlah negara. Namun, Indonesia dinilai tidak harus mengikuti pilihan teknologi negara lain apabila memiliki kekuatan pada komoditas nikel.

“Maka, (industri) kita nikel, kita harus punya strategi mengembangkan baterai sistem yang memang bisa berbasis nikel. Jadi kita enggak usah mencontoh negara lain yang mengembangkan Lithium Iron Phosphate, LFP,” ungkapnya.

Satya menegaskan, pengembangan industri berbasis nikel perlu bertumpu pada potensi dan keunggulan yang dimiliki Indonesia. 

Dengan demikian, peningkatan nilai tambah dapat dinikmati di dalam negeri sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai industri baterai dan energi. “Kalau memang kita punya kekuatan di nikel, itu sebagai salah satu contoh. Maka saya tetap menganggap apa yang kita miliki itu yang kita kembangkan, nilai tambahnya ada di kita,” tutupnya. (Lili Handayani)