
NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Realisasi investasi industri hilirisasi Indonesia mencapai lebih dari US$29 miliar sepanjang Januari–September 2026. Nilai tersebut tumbuh 11,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan berkontribusi sebesar 31,2% terhadap total investasi nasional.
Director of Mineral and Coal Downstream Industry Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Rizwan Aryadi Ramdan, menyampaikan bahwa sektor mineral masih menjadi kontributor utama investasi hilirisasi, khususnya nikel dan bauksit.
Hal tersebut disampaikan Rizwan saat membuka The 5th Nickel Producers, Processors and Buyers Conference yang diselenggarakan Petromindo di Shangri-La Hotel, Jakarta, Rabu (4/11/2026).
“Untuk industri hilir, realisasi investasi pada Januari hingga September mencapai lebih dari US$29 miliar. Angka tersebut tumbuh 11,3% dibandingkan tahun sebelumnya,” ujar Rizwan.
Dia menjelaskan, nilai investasi hilirisasi tersebut merupakan bagian dari total investasi nasional yang mencapai sekitar US$96 miliar pada Januari–September 2026. Realisasi itu setara dengan sekitar 75% dari target investasi tahun ini dan meningkat 7,3% secara tahunan.
Menurut Rizwan, industri mineral, terutama nikel dan bauksit, masih menjadi penggerak utama dalam investasi sektor hilirisasi. Perkembangan tersebut menunjukkan posisi strategis industri pengolahan mineral dalam mendorong investasi nasional.
“Sektor mineral masih menjadi kontributor utama, khususnya nikel dan bauksit,” katanya.
Dari sisi persebaran wilayah, sebanyak 78% investasi hilirisasi direalisasikan di luar Pulau Jawa. Lokasi investasi tersebut dinilai memiliki kedekatan dengan sumber bahan baku sehingga mendukung pengembangan industri pengolahan di daerah penghasil mineral.
“Sebanyak 78% investasi direalisasikan di luar Pulau Jawa, yang lokasinya lebih dekat dengan sumber bahan baku,” jelas Rizwan.
Sementara itu, investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) menyumbang hampir 75% dari total investasi hilirisasi. Hong Kong dan Singapura menjadi investor utama dalam realisasi investasi tersebut.
“Sementara itu, investasi asing langsung menyumbang hampir 75%, dengan Hong Kong dan Singapura sebagai investor utama,” ujarnya.
Rizwan menambahkan, secara keseluruhan investasi nasional pada Januari–September 2026 telah mencapai sekitar US$96 miliar. Investasi tersebut juga menghasilkan lebih dari 2 juta lapangan kerja bagi masyarakat Indonesia.
Dia menyebutkan, industri logam dasar mencatatkan investasi sebesar US$16 miliar. Selain Jakarta dan Jawa Barat, Sulawesi Tengah dan Maluku Utara juga menjadi tujuan utama investasi, sejalan dengan berkembangnya industri hilir berbasis sumber daya mineral di kedua wilayah tersebut. (Lili Handayani)
Perkembangan cerita ini
Liputan Khusus Hilirisasi & Smelter Nikel →
- Hingga September 2026, Investasi Hilirisasi Lebih dari US$29 Miliar sedang Anda baca
- Pemerintah Akan Perkuat Hilirisasi Nikel Terintigrasi Untuk Bangun Industri Baterai Kendaraan Listrik
- Efisiensi Energi Smelter sebagai Langkah Awal Dekarbonisasi Industri Nikel
- Pemerintah Perlu Lindungi Smelter yang Sudah Beroperasi, Bukan Dorong Tambah Kapasitas Produksi
- APNI Soroti Kepastian Pasokan Bahan Baku Nikel Untuk Smelter
- Irwandy Arif: Kuota Bijih Nikel Harus Sesuai Kebutuhan Smelter
Agenda industri terdekat
- 4NovKonferensi & Pameran The 5th Nickel Producers, Processors & Buyers Conference4–5 November 2026 · Shangri-La Hotel, Jakarta
- 10Nov
- 11Nov






























